Agrikultura
Not a member yet
    249 research outputs found

    Potensi Minyak Atsiri Biji Adas dalam Menginduksi Resistensi Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) terhadap Penyakit Antraknosa (Colletotrichum acutatum J. H. Simmonds)

    Full text link
    Induksi resistensi adalah strategi untuk meningkatkan ketahanan tanaman dengan mengaktifkan mekanisme pertahanan tanaman sehingga dapat mencegah infeksi patogen dari awal pertumbuhan tanaman. Minyak atsiri biji adas adalah salah satu agen penginduksi resistensi yang dapat meningkatkan ketahanan tanaman. Kandungan senyawa utama dalam minyak atsiri biji adas dilaporkan dapat merangsang produksi metabolit sekunder seperti fenolik dan flavonoid yang memiliki sifat antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan minyak atsiri biji adas sebagai agen penginduksi resistensi pada tanaman cabai, menelusuri cara aplikasi yang optimal guna menekan penyakit antraknosa serta mengidentifikasi perbedaan kandungan metabolit sekunder seperti fenolik dan flavonoid pada daun cabai setelah diinduksi. Penelitian dilakukan dari bulan Desember 2023 hingga Maret 2024 di Laboratorium Fitopatologi dan rumah kaca Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, serta Laboratorium Aplikasi Kimia dan Pelayanan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran. Metode percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan enam perlakuan dan lima ulangan yaitu kontrol tidak diinokulasi, kontrol yang diinokulasi, perendaman benih, penyemprotan bibit, kombinasi perendaman benih dan penyemprotan bibit serta fungisida M-Bion 1/48 MZ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi antara perendaman benih dan penyemprotan bibit dengan minyak atsiri biji adas efektif meningkatkan ketahanan tanaman cabai terhadap penyakit antraknosa. Perlakuan kombinasi berhasil mengurangi perkembangan total penyakit antraknosa (AUDPC) pada daun cabai sebesar 29,75% dan menekan penyakit antraknosa pada buah cabai sebesar 45,75%. Hasil juga menunjukkan kandungan total fenolik dan flavonoid tertinggi pada perlakuan kombinasi antara perendaman benih dan pemyemprotan bibit dengan minyak atsiri biji adas masing-masing sebesar 0,87% dan 0,56%. Dengan demikian, perlakuan induksi resistensi menggunakan minyak atsiri biji adas memiliki potensi signifikan dalam pengendalian penyakit antraknosa pada tanaman cabai

    Tipe Puru dan Serangga yang Berasosiasi pada Puru Daun Mangga (Mangifera indica L.) Varietas Gedong Gincu di Desa Karyamukti, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang

    Full text link
    Serangga pembentuk puru merupakan hama potensial yang dapat menurunkan hasil panen mangga dengan menghambat pertumbuhan bunga dan pembentukan buah pada tanaman. Informasi terkait serangga pembentuk puru serta parasitoidnya di Indonesia masih terbatas sehingga penting dipelajari jenis serta keragamannya dalam mendukung usaha pengendaliannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari jenis-jenis puru dan mengidentifikasi serangga pembentuk puru serta parasitoidnya yang berasosiasi pada puru daun mangga. Penelitian dilakukan dari bulan September 2022 hingga bulan April 2023 di Desa Karyamukti, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang.Pemeliharaan sampel daun mangga bergejala puru dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Proteksi Tanaman, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Identifikasi morfologi serangga dilakukan di Laboratorium Hama Tanaman, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Sampel daun bergejala puru diambil secara purposive sampling pada 50 pohon mangga varietas Gedong Gincu kemudian dilakukan identifikasi morfologi pada serangga yang muncul dari daun bergejala puru tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puru daun mangga yang ditemukan dapat dibedakan menjadi lima bentuk yaitu pustulate, low-doughnut, bell-shaped, conical, dan circular-blister. Serangga yang berasosiasi di dalamnya terkonfirmasi secara morfologi ada yang berperan sebagai pembentuk gejala puru yaitu Procontarinia robusta, beberapa parasitoid yaitu Chrysonotomyia sp., Pediobius sp., Mangostigmus sp., Eurytoma sp.1, Euryotoma sp.2, Platygaster sp., Eupelmus sp., dan Pteromalidae sp.1, serta satu serangga inquilines yaitu Phlaeothripidae sp.1. Hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi penting terhadap pengetahuan dasar tentang pola serangan serangga di tanaman mangga dan merupakan data dasar untuk penerapan pengendalian hama

    Efek Pemberian Jakaba terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.) pada Tanah Organosol

    Full text link
    Sawi hijau (Brassica juncea L.) termasuk sayuran yang disukai masyarakat. Permasalahan yang muncul pada Budidaya sawi hijau penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan, Harga pupuk yang mahal dan penggunaan tanah organosol yang bersifat asam. Adanya upaya untuk rehabilitasi lahan diperlukan adanya pupuk alternatif yang salah satunya adalah dengan pupuk jakaba yaitu pupuk organik cair hasil fermentasi yang mengandung jamur menguntungkan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh dosis jakaba terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sawi hijau. Penelitian dilakukan pada lahan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh pada bulan Juli sampai dengan September 2023. Percobaan menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diuji adalah 100% pupuk anorganik (P1), 30 ml/l jakaba (P2), dan 40 ml/l jakaba (P3). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak enam kali sehingga seluruhnya terdapat 18 petakan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antar perlakuan pada variabel pengamatan panjang daun, tinggi tanaman, dan bobot segar tanaman. Akan tetapi sayangnya tidak ditemukan adanya perbedaan yang nyata pada variabel jumlah daun dan lebar daun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi jakaba belum dapat bersaing dengan aplikasi pupuk anorganik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi sawi hijau. Perlakuan yang paling baik dalam mendukung pertumbuhan dan produksi sawi hijau adalah perlakuan 100% pupuk anorganik. Pemberian jakaba 30 ml/l dan jakaba 40 ml/l belum memberikan efek terhadap pertumbuhan dan produksi sawi sebaik perlakuan pemberian 100% pupuk anorganik

    Analisis Daya Saing Usahatani Cabai Jawa (Piper retrofractum Vahl.) di Provinsi Lampung

    Full text link
    Cabai jawa (Piper retrofractum) merupakan tanaman asli Indonesia yang sering disebut juga cabai jamu, memiliki peran penting dalam sektor pertanian dan industri herbal. Tanaman ini terkenal karena buahnya yang memiliki rasa pedas dan khasiat kesehatan, serta digunakan sebagai bahan baku obat tradisional dan produk farmasi. Mengingat potensi ekonomi dan kesehatannya, penting untuk menganalisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap pengembangan usahatani cabai jawa di Provinsi Lampung. Penelitian ini bertujuan menganalisis daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap input-output usahatani cabai jawa di Provinsi Lampung. Metode penelitian yang digunakan ialah survei yang dilakukan di tiga desa berbeda yaitu Desa Sukoharjo III Barat, Kabupaten Pringsewu, Desa Bandar Rejo, Kabupaten Lampung Selatan, dan Desa Bandar Jaya Barat, Kabupaten Lampung Tengah. Responden ditetapkan menggunakan metode purposive sampling dengan total 18 petani cabai Jawa. Data penelitian diperoleh dari bulan September hingga November 2023. Metode analisis yang digunakan ialah metode Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani cabai jawa di Provinsi Lampung sudah berdaya saing karena memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif dengan nilai Private Cost Ratio sebesar 0,41 dan nilai Domestic Resources Cost Ratio sebesar 0,23. Kebijakan pemerintah yang ada berdampak negatif terhadap usahatani cabai jawa di Provinsi Lampung karena menyebabkan petani membayar biaya input tradable lebih mahal dengan keuntungan yang diterima masih jauh lebih rendah daripada yang seharusnya

    Dampak Lingkungan dan Keberlanjutan Peternakan Ayam Ras Pedaging Pola Kemitraan

    Full text link
    Usaha peternakan ayam ras pedaging adalah usaha agribisnis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena meningkatnya jumlah penduduk akan mendorong meningkatnya kebutuhan akan pangan yang bersumber dari protein hewani. Perkembangan ini pada sisi lain juga memunculkan beberapa permasalahan seperti dampak lingkungan dan risiko usaha yang dapat mengancam keberlanjutan usaha tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis dampak lingkungan usaha peternakan ayam ras pedaging, (2) mengetahui persepsi masyarakat terhadap dampak lingkungan yang dihasilkan usaha peternakan ayam ras pedaging, dan (3) menganalisis keberlanjutan dan atribut sensitif dalam usaha peternakan ayam ras pedaging. Responden penelitian ini terdiri dari masyarakat yang bermukim di sekitar usaha peternakan ayam ras pedaging dan peternak ayam ras pedaging dengan pola kemitraan. Responden masyarakat ditentukan dengan metode purposive sampling dengan kriteria bermukim di sekitar lingkungan peternakan dalam radius 500 m dan terpilih sebanyak 20 responden dari 4 kecamatan di Kota Tarakan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis pohon masalah, deksriptif persentase dan Multidimensional Scalling dengan teknik pendekatan Rap-USAP, analisis sensitif (Leverage analysis), Monte Carlo, nilai stress dan nilai koefisien determinasi (R2). Hasil penelitian menunjukkan dampak lingkungan yang ditimbulkan adalah pencemaran udara dan tanah, persepsi masyarakat menunjukkan ketidaknyamanan terhadap pada bau tidak sedap, lalat dan kerusakan jalan sekitar peternakan. Usaha peternakan berdasarkan dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan teknologi cukup berkelanjutan, kecuali dimensi kelembagaan menunjukkan kategori kurang berkelanjutan

    Dinamika Persaingan Biji Lada Utuh Indonesia di Pasar Dunia

    Full text link
    Produksi dan luas tanam lada Indonesia merupakan yang terbesar dibandingkan negara pesaing lainnya, namun nilai ekspornya hanya menduduki peringkat ketiga pada tahun 2020. Lebih lanjut, produktivitas lada nasional masih di bawah produktivitas lada dunia. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat dan dinamika persaingan biji lada utuh Indonesia untuk mempertahankan posisinya di negara eksportir lainnya dan negara tujuan yang berpotensi meningkatkan ekspor. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari UN Comtrade berupa data time series tahun 2006-2020. Data diolah menggunakan metode Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Dynamic Revealed Comparative Advantage (DRCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya saing biji lada utuh Indonesia kuat dan berhasil direstrukturisasi pada periode 2018-2020. Biji lada utuh Indonesia juga berdaya saing kuat di sepuluh negara tujuan, dan persaingan tertinggi ada di Taipei (Other Asia Nes/OAS). Selain itu, berdasarkan dinamika daya saing, Jepang merupakan negara tujuan yang paling sering berada di posisi rising star. Indonesia perlu meningkatkan kontinuitas dan kualitas untuk menurunkan kadar aflatoksin serta melakukan hilirisasi untuk meningkatkan posisi daya saing biji lada utuh di negara tujuan

    Analisis Preferensi Konsumen terhadap Atribut Beras di Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung

    Full text link
    Penyediaan beras di pasaran dengan bermacam-macam atribut akan mempengaruhi keputusan beli konsumen, karena konsumen akan membeli beras yang sesuai dengan preferensinya. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik konsumen, preferensi dan keinginan konsumen dalam pembelian beras. Desain penelitian yang diterapkan adalah desain kuantitatif dengan teknik penelitian survei. Sampel penelitian ini sebanyak 100 konsumen rumah tangga di Kecamatan Cibeunying Kidul yang menerima bantuan sosial. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis konjoin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara atribut-atribut beras dengan preferensi konsumen. Beras yang menjadi preferensi konsumen adalah beras curah, kualitas beras yang medium, beras bersih, pulen, derajat keputihan dengan warna putih susu, daya tahan satu bulan, dan dengan harga yang berkisar pada Rp 9.000-9.500/kg. Atribut beras yang paling dipertimbangkan responden di Kecamatan Cibeunying Kidul adalah atribut kualitas. Urutan atribut dari yang paling dipertimbangkan adalah kualitas, harga beras curah, kepulenan, kebersihan, daya tahan, harga beras kemasan, jenis beras, dan yang terakhir derajat warna putih

    Efisiensi Teknis Usahatani Jamur Tiram Putih di Kabupaten Bandung Barat

    Full text link
    Permintaan jamur tiram putih pada saat ini meningkat setiap tahunnya karena merupakan komoditas yang sedang digemari oleh masyarakat. Namun, permintaan yang meningkat ini tidak didukung oleh produksi yang tergolong masih fluktuatif sehingga ada ketergantungan pada impor. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan faktor input yang berpengaruh terhadap produksi, mengukur tingkat efisiensi teknis, dan menentukan faktor inefisiensi teknis usahatani jamur tiram putih. Petani sampel berjumlah 80 orang dan dipilih dengan menggunakan metode simple random sampling. Metode analisis data yang digunakan adalah fungsi produksi Cobb-Douglass Stochastic Frontier dan menggunakan aplikasi Frontier 4.1. Hasil penelitian menunjukkan dari enam variabel input yang diduga berpengaruh terhadap produksi, hanya terdapat empat variabel yang berpengaruh signifikan yaitu penggunaan bibit, jumlah dedak, kualitas dan kuantitas serbuk gergaji, dan jumlah tenaga kerja. Efisiensi teknis pada penelitian ini memperlihatkan enam tingkatan efisiensi teknis. Berdasarkan hasil ditemukan bahwa efisiensi teknis terbesar terdapat pada kisaran 0,71 – 0,80, sedangkan secara keseluruhan rata-rata nilai efisiensi teknisnya sebesar 0,768. Artinya, petani jamur tiram putih di Kabupaten Bandung Barat telah mencapai efisiensi teknis. Meskipun nilai rata-rata efisiensi teknis tidak lebih dari 0,8, petani masih memiliki kesempatan untuk meningkatkan nilai efisiensi teknis dengan memerhatikan kualitas input yang digunakan, salah satunya bibit dan serbuk gergaji. Dari tiga variabel yang diduga menjadi penyebab inefisiensi teknis, hanya variabel pengalaman yang berpengaruh signifikan sebesar 0,931

    Efikasi Asap Cair dari Kayu Akasia (Acacia crassicarpa) dan Kayu Jelutung (Dyera costulata) terhadap Jamur Schizophyllum commune Fries

    Full text link
    Kerusakan kayu yang disebabkan oleh jamur merupakan masalah serius karena menurunkan kualitas kayu. Pengawetan kayu menggunakan bahan kimia sintetis selama ini menimbulkan dampak terhadap lingkungan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat antijamur asap cair dari kayu akasia (Acacia crassicarpa) dan kayu jelutung (Dyera costulata) dalam menghambat pertumbuhan jamur S. commune yang dilaksanakan secara vitro. Asap cair dari kayu akasia diperoleh dari pembakaran secara konvensional tanpa pengontrolan suhu, sementara asap cair dari kayu jelutung diproduksi melalui proses pirolisis pada suhu 400°C. Penelitian ini terdiri dari dua set percobaan berdasarkan jenis asap cair yang digunakan. Setiap percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari lima perlakuan, yaitu perlakuan kontrol (0%, tanpa asap cair), dan empat konsentrasi asap cair dengan konsentrasi 1,0; 2,0; 3,0 dan 4,0 %, v/v. Percobaan dilaksanakan dengan metode pengujian makanan beracun secara in vitro menggunakan media potato dextrose agar (PDA) sebagai media pertumbuhan jamur S. commune. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asap cair dari kayu akasia tidak mampu menghambat pertumbuhan jamur sampai konsentrasi tertinggi, sementara asap cair dari kayu jelutung memiliki aktivitas antijamur dan telah mempu menghambat pertumbuhan jamur S. commune secara maksimal (100%) pada konsentrasi 2%

    Biologi Predator Eocanthecona furcellata Wolff (Hemiptera: Pentatomidae) dengan Mangsa Ulat Grayak Spodoptera frugiperda J. E. Smith di Laboratorium

    Full text link
    Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan utama di Provinsi Riau. Budidaya kelapa sawit tidak terlepas dari serangan hama ulat api, Setora nitens. Pengendalian hama ini umumnya menggunakan insektisida sintetik sehingga diperlukan alternatif pengendalian dengan menggunakan musuh alami seperti predator Eocanthecona furcellata Wolff. Akan tetapi, pengaplikasiannya memerlukan jumlah predator yang banyak, sehingga perlu dilakukan upaya perbanyakan yang menemukan kendala dalam ketersediaan mangsa sebagai bahan makanannya. Mangsa alternatif yang dapat digunakan adalah Spodoptera frugiperda J. E. Smith. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data biologi E. furcellata yang diberi mangsa larva S. frugiperda. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hama Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Riau. Penelitian ini menggunakan metode observasi yakni mengamati perkembangan E. furcellata pada 100 sampel pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan keperidian E. furcellata mencapai 85,77 telur/imago dan persentase telur menetas sebesar 86,20%. Stadia nimfa terdiri dari lima instar dengan periode waktu nimfa 18,69 hari. Jumlah keturunan betina lebih banyak dari jantan dengan persentase sex ratio kelamin jantan: betina yakni 42,65%: 57,35%. Lama hidup imago betina lebih panjang dibandingkan dengan imago jantan yakni 26,05 hari dan 23,93 hari. Siklus hidup predator E. furcellata selama 49,43 hari. Larva S. frugiperda dapat digunakan sebagai mangsa alternatif dalam perbanyakan predator Eo. Furcellata

    231

    full texts

    249

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agrikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇