Agrikultura
Not a member yet
    249 research outputs found

    Atensi Pelaku Usaha Hortikultura terhadap Teknologi Pembiayaan

    Full text link
    Teknologi pembiayaan merupakan salah satu alternatif sumber pembiayaan yang dapat diakses oleh pelaku usaha. Namun demikian, pelaku usaha masih belum familiar dengan teknologi pembiayaan sehingga atensi terhadap teknologi pembiayaan rendah dan lebih memilih mengakses pada sumber informal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi atensi pelaku usaha hortikultura terhadap teknologi pembiayaan. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Cianjur pada bulan Agustus-November 2022. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode survei. Sampel ditentukan dengan teknik stratified random sampling dengan ukuran sampel 68 yang meliputi 4 penyedia input pertanian, 50 petani, 10 pengolah hasil pertanian, dan 4 pemasar hasil pertanian. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel usia, pengalaman usaha, dan kemudahan mengakses teknologi pembiayaan berpengaruh signifikan terhadap atensi pelaku usaha hortikultura terhadap teknologi pembiayaan

    Cekaman Genangan dan Pemberian Pupuk N, P, K terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jewawut (Setaria italica L) di Inceptisols

    Full text link
    Genangan merupakan salah satu stress abiotik yang dapat memengaruhi hasil panen tergantung frekuensi dan luasnya genangan, serta jenis tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan interaksi cekaman genangan dan pemberian pupuk N, P, K terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jewawut di Inceptisols. Penelitian dilaksanakan di greenhouse Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman pada bulan April sampai Desember 2020. Penelitian ini menggunakan percobaan faktorial yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor perlakuan, yaitu empat taraf dosis pupuk N, P, K (N, P, K = 25%, 50%, 75%, 100%) dan empat taraf tingkat genangan (tanpa genangan, genangan 1 – 2 cm, genangan 2 – 3 cm, genangan 4 – 5 cm) dan diulang sebanyak tiga kali. Variabel pengamatan terdiri dari tinggi tanaman, luas daun, bukaan stomata, kerapatan stomata, umur berbunga, umur panen, panjang malai, bobot malai, bobot basah tanaman, bobot kering tanaman. Terdapat interaksi antara perlakuan dosis pupuk N, P, K dengan tingkat genangan pada variabel luas daun, bukaan dan kerapatan stomata. Perlakuan tingkat genangan secara mandiri mempengaruhi variabel tinggi tanaman, bobot basah dan bobot kering tanaman, serta karakter hasil yaitu umur berbunga, umur panen, panjang dan bobot malai. Cekaman genangan menyebabkan terjadinya penurunan pada karakter pertumbuhan, fisiologis maupun karakter hasil pada tanaman jewawut. Penurunan terbesar terjadi pada karakter bobot basah tanaman (81,6%), bobot kering tanaman (80,1%), dan bobot malai (89,6%)

    Hubungan Kekerabatan Genetik Rambutan (Nephelium lappaceum L.) Berdasarkan Lima Marka RAPD (Random Amplified Polimorphic DNA)

    Full text link
    Rambutan (Nephelium lappaceum L.) merupakan salah satu tanaman tropis Indonesia yang mempunyai banyak potensi ekonomi sebagai upaya diversitas buah-buahan. Pelestarian plasma nutfah rambutan perlu dilakukan lebih lanjut baik secara kualitas maupun kuantitas. Metode RAPD digunakan untuk memperoleh informasi mengenai keragaman genetik antar jenis tanaman rambutan. Penelitian dilakukan menggunakan metode RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) dengan 20 primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seleksi 20 primer menghasilkan 5 primer terbaik yaitu (OPD 2, OPD 5, OPD 6, OPD 10, OPD 12), pada ukuran 50-2000 bp dengan total 48 pita (42 pita polimorfik dan 6 pita monomorfik). Tingkat polimorfisme keragaman antar jenis rambutan sebesar 86,24%. Hasil uji dendogram UPGMA menunjukkan adanya keragaman genetik yang tergolong tinggi pada rambutan. Terbentuk dua klaster utama dengan tingkat kesamaan antara 56-77%. Rambutan jenis Rapiah berkerabat dekat dengan Sibatuk Ganal sebesar 77%

    Pemberian Mikoriza dan Biostimulan Ekstrak Rumput Laut terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung di Rasau Jaya, Kalimantan Barat

    Full text link
    Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, merupakan salah satu sentra jagung di Provinsi Kalimantan Barat. Sebagian besar jagung ditanam di lahan gambut dengan produktivitas masih tergolong rendah, rata-rata 3,8 ton/ha. Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat kesuburan tanah. Untuk meningkatkan kesuburan tanah pada lahan gambut perlu dilakukan penambahan pupuk hayati. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesuburan tanah gambut melalui pemberian mikoriza dan biostimulan ekstrak rumput laut terhadap pertumbuhan dan produktivitas dua varietas jagung di Rasau Jaya. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor yaitu pupuk hayati dan/atau biostimulan serta varietas jagung yang diulang sebanyak lima kali. Faktor pertama adalah pupuk hayati berupa mikoriza (Gloumus, Aucolaspora, dan Gigaspora) (T1), biostimulan ekstrak rumput laut (T2), kombinasi mikoriza dan ekstrak rumput laut (T3), dan kontrol (T0). Faktor kedua adalah varietas jagung Sukmaraga (V1) dan Bisi 22 (V2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mikoriza dengan biostimulan ekstrak rumput laut berpengaruh terhadap tinggi tanaman, bobot tongkol, bobot biji per tongkol, dan bobot panen kering pipilan jagung di lahan gambut. Mikoriza dengan biostimulan ekstrak rumput laut dapat memberikan peningkatan bobot panen kering pipilan sebesar 62,85% pada varietas Sukmaraga dan 56,42% pada varietas Bisi 22 di lahan gambut

    Deteksi dan Identifikasi Begomovirus pada Tembakau yang Ditanam Tumpang Sari dengan Tanaman Cabai

    Full text link
    Beragam spesies Begomovirus telah dilaporkan di berbagai daerah di Indonesia. Gejala penyakit mosaik menguning akibat infeksi Begomovirus telah dilaporkan pada berbagai tanaman budidaya di Bengkulu antara lain cabai, mentimun, labu, melon, pepaya, dan gulma. Tanaman tembakau banyak ditanam sebagai tanaman pinggir di lahan budidaya cabai. Berdasarkan pengamatan di lahan budidaya cabai di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu ditemukan tembakau bergejala keriting dan mosaik kuning. Tujuan penelitian ini adalah mendeteksi dan mengidentifikasi Begomovirus penyebab penyakit mosaik menguning tembakau di Bengkulu. Deteksi dan identifikasi virus dilakukan dengan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) menggunakan primer universal yang mengkode transcriptional activator protein (TrAp) dan replication-associated protein (Rep) dengan target fragmen ± 900 pb. Hasil amplifikasi PCR menunjukkan adanya pita target ± 900 pb pada sampel daun tembakau. Produk PCR kemudian dikirim ke First Base, Malaysia untuk dilakukan sikuensing. Begomovirus yang menginfeksi tembakau  menunjukkan homologi 99% dengan isolat Pepper Yellow Leaf Curl Indonesia Virus (PYLCIV) pada cabai di Bali (nomor aksesi LC381263). Hasil identifikasi ini merupakan laporan pertama infeksi PYLCV pada tanaman tembakau di Bengkulu

    Efek Formulasi Andrometa terhadap Leptocorisa acuta Thunberg

    Full text link
    Leptocorisa acuta menyerang tanaman padi pada fase generatif dengan cara mengisap bulir hingga menjadi hampa. Serangan L. acuta dapat memengaruhi kualiatas gabah dan beras bahkan dapat menurunkan produksi tanaman padi. Beberapa metode pengendalian telah dilakukan oleh petani, antara lain penggunaan pestisida kimia. Namun demikian, penggunaan pestisida sintetik di kalangan petani cenderung menambah dosis dan frekuensi aplikasi yang lebih banyak. Berdasarkan hal tersebut maka dibutuhkan alternatif pengendalian yang ramah lingkungan untuk pengendalian hama tersebut. Salah satu pengendalian yang ramah lingkungan yaitu pemanfaatan ekstrak tanaman Andropahgus paniculata (sambiloto) dan cendawan entomopatogen Metarhizium anisopliae yang bertujuan agar dapat bereaksi cepat dalam mengendalikan L. acuta. Kedua agen pengendali hama tersebut dibuat dalam satu formulasi yang disebut Andrometa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formulasi Andrometa terhadap hama L. acuta pada tanaman padi. Penelitian ini terdiri atas lima perlakuan formulasi Andrometa yaitu Formulasi 1 (2 g ekstrak A. paniculata + 5 g biakan massal M. Anisopliae), Formulasi 2 (3 g ekstrak A. paniculata + 7,5 g biakan massal M. Anisopliae), Formulasi 3 (4 g ekstrak A. paniculata + 10 g biakan massal M. Anisopliae), Formulasi 4 (5 g ekstrak A. paniculata + 12,5 g biakan massal  M. Anisopliae), dan Formulasi 5 (6 g ekstrak A. paniculata + 15 g biakan massal M. Anisopliae) serta satu perlakuan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan dengan formulasi Andrometa efektif dalam membunuh L. acuta dan jumlah hari yang dibutuhkan formulasi dalam mematikan L. acuta yang terbaik didapatkan pada Formulasi 5 yaitu 3 hari setelah aplikasi

    Karakteristik Pertumbuhan Tanaman dan Gugur Buah Keprok ‘JOP’ pada Umur Tanaman Berbeda

    Full text link
    ‘JOP’ (jeruk Orange Parahyangan) merupakan salah satu varietas jeruk keprok (Citrus reticulata Blanco) dengan ciri utama adalah berwarna jingga pada kulit dan daging buahnya, sementara jeruk lokal umumnya berwarna kuning. Ciri lain dari keprok 'JOP’ yaitu menghasilkan banyak buah walaupun tanaman masih muda. Hal tersebut mengakibatkan tanaman akan menjadi lemah dan dapat mati pada siklus pertumbuhan berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik pertumbuhan keprok ’JOP’ dan persentase gugur buah pada umur tanaman berbeda. Penelitian dilakukan di sentra produksi keprok ‘JOP’, Cisarua-Lembang, yang terletak pada ketinggian tempat 1.150 m dpl. Bahan penelitian yang digunakan adalah keprok ‘JOP’ umur satu setengah tahun dan tiga tahun setelah tanam (1,5 TST dan 3 TST), masing-masing terdiri dari 10 tanaman. Setiap tanaman terdiri atas tiga sampel, sehingga total terdapat  30 sampel per umur tanaman. Analisis data menggunakan statistika deskriptif taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jeruk keprok 'JOP' 1,5 TST (8,1 daun) menghasilkan jumlah daun per tunas yang lebih sedikit dibandingkan dengan 3 TST (11,5 daun). Persentase gugur buah pada jeruk keprok 'JOP' 1,5 TST (74,6%) lebih tinggi dibandingkan dengan 3 TST (14,4%). Adapun untuk pertumbuhan reproduktif, jumlah bunga mencapai 13,6 (1,5 TST) dan 10,1 (3 TST), sedangkan fruit set pada tanaman 1,5 TST dan 3 TST adalah 19,6% dan 13,5%

    Kandungan Sulforaphane pada Microgreens Kubis Bunga (Brassica oleracea var. botrytis L.) yang Ditanam dalam Berbagai Media Tanam dengan Tambahan Air Kelapa

    Full text link
    Microgreens menjadi inovasi baru dalam pertanian di perkotaan. Kubis bunga ialah salah satu tanaman sayur yang dapat dibudidayakan secara microgreens. Microgreens kubis bunga mengandung sulforaphane yang merupakan senyawa golongan isothiocyanate, yang berpotensi sebagai anti kanker. Konsentrasi senyawa ini dapat berubah sesuai kondisi lingkungan tumbuh, seperti media tanam dan ketersediaan nutrisi. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan interaksi terbaik antara media tanam dan nutrisi terbaik untuk meningkatkan kandungan sulforaphane pada microgreens kubis bunga. Penelitian dilaksanakan pada Agustus hingga Desember 2021. Penelitian dirancang secara faktorial yang disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap. Faktor pertama yakni jenis media tanam (rockwool, cocopeat, kertas tisu dan vermiculite), faktor kedua yakni pemberian nutrisi (tanpa pemberian nutrisi tambahan dan pemberian air kelapa). Hasil percobaan menunjukkan adanya interaksi antara media tanam cocopeat dan air kelapa yang dapat meningkatkan kandungan sulforaphane pada microgreens kubis bunga. Media tanam cocopeat dan vermiculite menunjukan respon terbaik terhadap tinggi microgreens kubis bunga

    Tingkat Mitigasi Rumah Tangga Petani Padi Sawah Terdampak Banjir di Provinsi Jawa Barat

    Full text link
    Pemanasan global telah memberikan dampak pada pertanian, salah satunya peningkatan intensitas banjir khususnya di daerah aliran sungai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat mitigasi rumah tangga petani padi sawah yang terdampak banjir dilihat dari perspektif sosial ekonomi, sosiologi, dan spasial di daerah aliran sungai citanduy. Data diperoleh melalui survey terhadap 306 orang responden petani yang tersebar di lokasi studi yang dipilih dengan teknik proportional random sampling, serta melalui wawancara mendalam yang dilakukan dengan para informan kunci yang terdiri dari ketua kelompok tani, tokoh masyarakat, dan perwakilan pemerintah setempat. Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat mitigasi rumah tangga petani termasuk kategori sedang (3,29), yang dipengaruhi oleh tingkat ketinggian lokasi pemukiman. Semakin rendah elevasi, maka semakin tinggi tingkat mitigasinya. Para petani lebih mementingkan mitigasi non struktural (3,04) dibandingkan dengan mitigasi struktural (3,16). Penelitian ini menyarankan kolaborasi dari berbagai pihak terkait dari mulai kelompok tani hingga ke pemangku kebijakan dalam merancang, mengembangkan, dan menerapkan upaya-upaya mitigasi baik stuktural maupun non struktural.

    Potensi Bahan Organik Cair Berbasis Limbah Bonggol Pisang Terhadap Pertumbuhan Teh (Camellia sinensis (L) O. Kuntze)

    Full text link
    Tersedianya unsur hara dan air yang cukup merupakan salah satu syarat untuk keberhasilan kegiatan pembibitan dalam perbanyakan tanaman teh. Pertumbuhan bibit yang baik ditandai dengan seimbangnya pertumbuhan perakaran dan batang dengan daun. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi dan interval pemberian bahan organik cair (BOC) bonggol pisang dalam meningkatkan pertumbuhan bibit teh serta untuk mendapatkan informasi konsentrasi dan interval BOC bonggol pisang yang memberikan pengaruh terbaik untuk pertumbuhan bibit teh. Percobaan dilaksanakan pada bulan Desember 2021 sampai Maret 2022 di Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang berada pada ketinggian ±1.350 m dpl. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan sembilan kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali. Perlakuan yang diuji yaitu pupuk urea sebagai kontrol, dan kombinasi konsentrasi BOC bonggol pisang (10%, 20%, 30% dan 40%) dengan interval pemberian BOC (7 dan 14 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian BOC bonggol pisang pada konsentrasi 40% dengan interval 7 hari sekali (28,60 cm) memberikan pengaruh lebih baik untuk variabel panjang akar (12 MSP) dibandingkan dengan pemberian pupuk anorganik urea (19,88 cm).  Pemberian BOC bonggol pisang konsentrasi 10 – 40% yang dikombinasikan dengan interval aplikasi 7 hari dan 14 hari dapat menjadi alternatif pemupukan organik pada pembibitan setek teh klon GMB 7 yang berumur delapan bulan

    231

    full texts

    249

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Agrikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇