Agrikultura
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
Perbandingan Struktur Anatomi dan Kadar Klorofil antara Daun Terinfeksi dan Tidak Terinfeksi Penyakit Kuning pada Tanaman Lada
Deteksi awal penyakit kuning yang disebabkan oleh nematoda parasit Radopholus similis dan Meloidogyne incognita serta cendawan patogen Fusarium oxysporum dan Fusarium solani relatif sulit, tanaman dapat diduga terinfeksi setelah menampakkan gejala menguning pada bagian daun. Perubahan struktur anatomi daun lada yang terinfeksi penyakit kuning sejauh ini belum ada laporan tertulis. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan struktur anatomi daun lada yang tidak terinfeksi dan terinfeksi penyakit kuning. Penelitian ini menggunakan dua metode yaitu whole mount untuk membuat sayatan paradermal dan free-hand technique untuk membuat sayatan transversal. Pengukuran kadar klorofil menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 649 nm dan 665 nm. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kerapatan stomata dan panjang sel epidermis berbeda nyata antara tanaman lada yang terinfeksi penyakit dengan yang sehat dan tidak berbeda nyata pada karakter indeks stomata, tebal kutikula atas dan bawah, tebal epidermis atas dan bawah, tebal bunga karang, tebal palisade, panjang dan lebar sel stomata, panjang dan lebar sel penjaga, lebar sel epidermis, tebal hipodermis atas dan bawah, tebal daun, luas daun, dan kadar klorofil. Daun tanaman lada terinfeksi memiliki stomata lebih rapat dan panjang sel epidermis lebih pendek dibandingkan dengan daun pada tanaman tidak terinfeksi
Analisis Pendapatan dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Jagung Hibrida: Sebuah Kasus di Kabupaten Soppeng
Jagung hibrida merupakan komoditas yang penting dibudidayakan karena permintaannya terus meningkat. Kabupaten Soppeng di Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah yang sebagian besar lahannya digunakan untuk berusahatani jagung hibrida. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis besar pendapatan yang diterima oleh petani jagung hibrida, dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi jagung hibrida. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Baringeng Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng pada Januari – Februari 2022. Metode yang digunakan adalah survai dengan melakukan wawancara berdasarkan kuesioner. Penentuan sampel menggunakan Simple Random Sampling dengan jumlan petani responden sebanyak 43 orang. Analisis data yang digunakan adalah analisis pendapatan dan analisis fungsi produksi Cobb-Douglass. Diketahui rata-rata produksi jagung hibrida di lokasi penelitian sebesar 5.656 kg/ha dengan penerimaan Rp 22.624.000/ha dan total biaya sebesar Rp 9.518.641/ha. Rata-rata pendapatan yang diperoleh petani sebesar Rp 13.105.359/ha. Hasil analisis fungsi produksi cobb-douglass, diperoleh hasil bahwa seluruh variabel bebas yang diuji berpengaruh secara simultan terhadap variabel terikat. Secara parsial variabel yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi jagung hibrida diantaranya variabel luas lahan, benih, pupuk urea, dan pupuk NPK
Efektivitas Dosis dan Waktu Aplikasi Pupuk Kompos Trico-Glio untuk Pengendalian Penyakit Layu Fusarium (Fusarium sp.) pada Tanaman Cabai Merah (Capsicum annum L.)
Fusarium sp. merupakan salah satu patogen tular tanah penyebab penyakit pada tanaman cabai merah yang dapat menimbulkan kerugian hingga 80%. Salah satu alternatif pengendalian yang dapat dilakukan yaitu menggunakan pupuk kompos yang mengandung agens antagonis Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis dan waktu aplikasi pupuk kompos Trico-Glio (formulasi dengan bahan aktif Trichoderma sp. dan Gliocladium sp.) dalam mengendalikan penyakit layu fusarium (Fusarium sp.) pada tanaman cabai merah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama yaitu dosis kompos Trico-Glio yang terdiri dari 5 taraf yaitu 0, 25, 50, 75, dan 100 g/tanaman dan faktor kedua waktu aplikasi terdiri dari 2 taraf yaitu 7 dan 14 hari sebelum tanam, sehingga terdapat 10 kombinasi perlakuan dan diulang 4 kali. Setiap unit perlakuan terdiri dari 4 tanaman sampel, maka diperoleh 160 unit percobaan. Peubah yang diamati meliputi masa inkubasi, insidensi penyakit, dan kepadatan populasi awal dan akhir mikroba (cendawan patogen dan agens antagonis). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi antara dosis dan waktu aplikasi pupuk kompos Trico-Glio terhadap masa inkubasi, insidensi penyakit, panjang diskolorasi xylem dan kepadatan populasi awal dan akhir mikroba. Namun secara mandiri dosis pupuk kompos Trico-Glio berpengaruh nyata terhadap semua peubah, sedangkan waktu aplikasi tidak berpengaruh nyata. Perlakuan 100 g/tanaman dari pupuk kompos Trico-Glio memperlihatkan hasil yang paling baik dalam mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman cabai merah
Assessing Soil Degradation Status under Different Types of Agricultural Land (Case Study: Jatisrono Sub-district, Wonogiri District, Indonesia)
Kecamatan Jatisrono berada di wilayah perbukitan yang menjadikan lahannya rentan terhadap erosi serta aktivitas lahan. Kondisi ini dapat mempengaruhi produksi biomassa dan menyebabkan kerusakan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status kerusakan tanah, mengkaji faktor penentu kerusakan tanah, serta memberikan rekomendasi pengelolaan tanah di Kecamatan Jatisrono. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2022 pada 36 titik yang mewakili setiap satuan peta lahan (SPL) di Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Parameter pengamatan lahan kering dan lahan basah mengadopsi dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 150 Tahun 2000. Lahan kering meliputi parameter ketebaan solum, kebatuan permukaan, tekstur, bobot volume, porositas, permeabilitas, pH (H2O), daya hantar listrik, potensial redoks, dan jumlah mikroba. Lahan basah meliputi parameter kandungan pirit, kedalaman air tanah dangkal, pH (H2O), daya hantar listrik, dan jumlah mikroba. Metode yang digunakan adalah survei dan deskriptif eksploratif. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Sebanyak 12 satuan peta lahan (SPL) terdiri dari 6 SPL lahan kering (kebun dan tegalan) serta 6 SPL lahan basah (sawah). Hasil penelitian menunjukkan pertanian lahan kering memiliki tingkat kerusakan tanah rusak ringan serta rusak sedang sedangkan lahan basah memiliki tingkat kerusakan tanah tidak rusak serta rusak ringan. Kerusakan tanah lahan kering sangat dipengaruhi oleh kemiringan lereng sedangkan kerusakan tanah lahan basah sangat dipengaruhi oleh jenis tanah. Faktor penentu kerusakan tanah lahan kering adalah bobot volume, porositas, dan permeabilitas tanah. Faktor penentu kerusakan tanah lahan basah adalah pH H2O tanah. Strategi pengelolaan kerusakan tanah lahan kering dengan meningkatkan bahan organik tanah. Strategi pengelolaan kerusakan tanah lahan basah dengan perbaikan irigasi
Efek Pemberian Kalsium Eksogen terhadap Kualitas dan Hasil Tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum L.) di Bawah Cekaman Genangan
Tembakau (Nicotiana tabacum L.) merupakan komoditas tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekomonis tinggi. Kendala utama dalam budidaya tanaman tembakau adalah tingkat kerentanannya yang cukup tinggi terhadap kondisi genangan, sehingga mampu menurunkan kualitas serta produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aplikasi kalsium eksogen (CaNO3) pada tanaman tembakau yang diberi cekaman genangan pada umur tanaman berbeda terhadap kualitas serta hasil tembakau. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Mei 2022 di PT. Tempu Rejo, Kabupaten Jember, Jawa timur. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap 2 faktor. Faktor pertama adalah penggenangan dengan menambahkan air hingga 110% kapasitas lapang pada berbagai umur tanaman tembakau (kontrol/pengairan normal, umur tanam 3 minggu, 4 minggu dan 5 minggu). Faktor kedua yaitu aplikasi kalsium eksogen dengan dosis yang berbeda (0 g, 8,5 g, 10 g dan 11,5 g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalsium eksogen yang diaplikasikan pada tanaman tembakau berdampak pada respon fisiologi serta hasil dan kualitas tanaman tembakau yang digenangan pada berbagai umur tanam. Tanaman pada umur 4 minggu menunjukkan tingkat adaptasi yang tinggi terhadap cekaman genangan. Pengaplikasian kalsium kalsium eksogen 11,5 g berpengaruh nyata terhadap respon pertumbuhan (ratio tajuk akar), respon fisilogi (klorofil dan prolin), kualitas (nikotin dan klorin) serta hasil panen tanaman tembakau yang tercekaman genangan
Pemanfaatan Limbah Padi dan Buah Kelapa untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah
Produktivitas bawang merah di Indonesia masih belum optimal. Upaya peningkatan produksi dapat dilakukan dengan penambahan bahan organik dari limbah pertanian. Pemanfaatan limbah dapat disiapkan dengan cara merendam bahan, fermentasi cair yang hasilnya dikenal dengan mikroorganisme lokal (MOL) serta pyrolysis yang menghasilkan biochar. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan air rendaman dan MOL batang padi atau sabut kelapa, serta biochar sekam atau tempurung kelapa untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen bawang merah. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 12 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji adalah pemberian biochar sekam atau tempurung kelapa pada lubang tanam, penyiraman air rendaman atau MOL batang padi atau sabut kelapa yang diaplikasikan secara tunggal dan kombinasi, kontrol dan cara petani. Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi berbagai bentuk limbah organik yang diuji mampu mendukung pertumbuhan dan hasil bawang merah. Kombinasi pemberian biochar sekam padi atau tempurung kelapa sebanyak 15 g per lubang tanam dan penyiraman MOL batang padi atau sabut kelapa sebanyak 50 ml per tanaman pada 2, 4, 6 MST menghasilkan tinggi tanaman, jumlah daun, berat berangkasan segar, serta hasil panen yang tidak berbeda secara nyata dibandingkan dengan cara petani yang menggunakan pupuk sintetik
Kejadian dan Uji Hipersensitivitas Bakteri yang Berasosiasi dengan Penyakit Busuk Batang Jagung di Sumbawa Nusa Tenggara Barat
Jagung merupakan salah satu komoditas penting yang mendukung perekonomian nasional di Indonesia, khususnya bagi masyarakat Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Keberadaan penyakit tanaman pada tanaman jagung dikhawatirkan menjadi ancaman terhadap produktivitas jagung di NTB. Salah satu penyakit yang dapat mengakibatkan kerugian hasil yang tinggi pada tanaman jagung adalah penyakit busuk batang yang dilaporkan disebabkan oleh patogen bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kejadian penyakit dan menguji hipersensitivitas bakteri yang berasosiasi dengan penyakit busuk batang pada tanaman jagung di Kabupaten Sumbawa. Observasi di lapangan dilakukan di Kabupaten Sumbawa NTB sementara percobaan laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Karantina Tumbuhan Sumbawa dan Laboratorium Bioteknologi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, pada rentang waktu dari Februari hingga April 2023. Hasil survei lapangan menunjukkan bahwa gejala penyakit busuk batang ditemukan pada 13 lokasi pertanaman jagung di Kabupaten Sumbawa termasuk Kecamatan Moyo Hulu, Utan, Labangka, Labuhan Badas, Unter Iwes dan Potatano dengan kejadian penyakit yang masih rendah. Hasil uji Gram menunjukkan 13 isolat yang diperoleh adalah Gram negatif yang merupakan karakteristik umum bakteri patogen. Hasil uji hipersensitivitas pada daun tembakau menunjukkan gejala positif untuk 13 isolat bakteri tersebut
Pengaruh Aplikasi Bacillus sp. dan Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit
Salah satu upaya untuk mewujudkan pertanaman kelapa sawit secara berkelanjutan adalah dengan penggunaan bakteri menguntungkan dan pupuk organik berbahan baku tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh bakteri Bacillus sp. dan TKKS terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran dari bulan Februari sampai dengan Agustus 2022. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan sembilan perlakuan yang diulang tiga kali dan setiap unit percobaan terdiri atas dua tanaman. Perlakuan yang diuji meliputi aplikasi A = 12,5 g pupuk NPK, B = 25 ml Bacillus sp., C = 150 g kompos TKKS, D = 25 ml Bacillus sp. + 100 g kompos TKKS, E = 25 ml Bacillus sp. + 150 g kompos TKKS, F = 25 ml Bacillus sp. + 200 g kompos TKKS, G = 35 ml Bacillus sp. + 100 g kompos TKKS, H = 35 ml Bacillus sp. + 150 g kompos TKKS, dan I = 35 ml Bacillus sp. + 200 g kompos TKKS per tanaman pada bibit kelapa sawit yang ditanam pada polybag. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian 25 mL Bacillus sp. yang diberikan bersamaan dengan aplikasi 150 g – 200 g kompos TKKS per tanaman di pembibitan awal (pre nursery) dan awal pembibitan utama (main nursery) menghasilkan kandungan klorofil daun bibit kelapa sawit tertinggi. Pemberian bakteri menguntungkan Bacillus sp. dan TKKS secara tunggal atau kombinasi berpengaruh sama baiknya dengan pupuk NPK terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit
Analisis Efektivitas Diseminasi Inovasi Pertanian Komoditas Bawang Merah (Studi Kasus: Tiga Daerah Sentra Produksi Bawang Merah di Indonesia)
Pada tahun 2021, produksi bawang merah di Indonesia mencapai 2.004,59 ribu ton. Bawang merah memiliki banyak khasiat bagi kesehatan manusia, tetapi petani belum memanfaatkan sepenuhnya inovasi pertanian. Adopsi inovasi dan teknologi pertanian komoditas bawang merah memiliki peran yang sangat penting untuk meningkatkan produktivitas bawang merah, kesejahteraan dan ketahanan pangan khususnya bagi petani di daerah tempat pelaksanaan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak penyebarluasan inovasi pertanian komoditas bawang merah yang diaplikasikan di tiga daerah sentra produksi bawang merah (Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Barat). Metode penelitian yang digunakan bersifat kombinasi, yaitu metode kuantitatif yang dianalisis menggunakan structural equation modeling - partial least square (SEM-PLS) dan metode kualitatif yang dianalisis melalui studi pustaka dan wawancara. Responden penelitian sebanyak 93 orang petani bawang merah di tiga lokasi penelitian. Variabel penelitian terdiri dari variabel independen yaitu sumber, pesan, saluran, dan penerima, sedangkan variabel dependen yaitu output dan dampak awal. Temuan penelitian menyatakan bahwa variabel output secara langsung berpengaruh signifikan terhadap variabel dampak awal. Variabel pesan dan penerima memiliki pengaruh langsung dan signifikan terhadap variabel output. Sementara itu, variabel pesan dan penerima secara tidak langsung berpengaruh signifikan terhadap variabel dampak awal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keunggulan teknologi, kesesuaian teknologi dengan kebutuhan, pendidikan informal, kapasitas petani, tingkat adopsi, dan peningkatan produktivitas usaha tani mampu meningkatkan pendapatan dan ketahanan petani responden serta mampu mempercepat difusi inovasi teknologi pertanian ke petani komoditas bawang merah
Chemical and Biological Properties of Potted-Soil for Strawberry Cultivation
Strawberries in tropical West Java are cultivated intensively in potted soil but the substrate condition received less attention. The objective of this descriptive research was to evaluate the chemical and macronutrient profile in potted-soils for strawberry cultivation, and to determine beneficial microbes’ population in root-free bulk soil and rhizosphere of potted-strawberry. The soil samples collected from 12-months and one-month-old potted strawberry; both contained Inceptisols soil order with 10 t/ha and 25 t/ha manure respectively. The proximate analysis was performed using Association of Official Analytical Chemists Method. The microbial enumeration was performed by Serial Dilution Plate Method in specific medium. The results showed that potted soils were not saline, but slightly acid, low in organic carbon and high in cation exchange capacity. The soil reactions were suitable for strawberry but the electrical conductivity was too low for strawberry growth. The potted soils have low to very low carbon to nitrogen ratio, but high in total nitrogen and very high in potential P2O5 and K2O. The population of phosphate-solubilizing bacteria, nitrogen-fixing Azotobacter, total bacteria and total fungi in old potted soil were low; but its counts were increased in manure-treated potted soil. The ratios of bulk soil to rhizosphere microbial count were only 1.0-1.25. The study verified that the doses of organic matter should be increased, while decreasing the chemical fertilizer level