1,721,026 research outputs found
Hubungan Antara Kepatuhan Mengikuti Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) BPJS dengan Stabilitas Gula Darah pada Penderita Diabetes Melitus di Puskesmas Babat Kabupaten Lamongan
The stability of blood sugar plays an important role in the management of diabetes. Diabetes blood sugar level is determined by adherence to the four pillars of Management DM. This is facilitated by the government through PROLANIS managed by BPJS. The purpose of the study was to determine the relationship between adherence to follow PROLANIS with stability of blood sugar in people with diabetes. The research design was correlational cross sectional analytic quantitative non-experimental approach. The sampling of this research used total sampling with 82 participants that was member of PROLANIS at Public Health Center of Babat Lamongan. Datas were collected using a questionnaire dietary compliance, Baecke, MMAS-8 and the medical records of patients. Statistical test results using alternative fisher exact test showed p = 0.000 <α (0.05) which means there was a significant relationship between adherence follow PROLANIS with the stability of blood sugar. This shows that the higher level of compliance has better stability of blood sugar. Based on the four pillars of PROLANIS majority of people with diabetes do not adhere to education (61%), physical activity (56%), and treatment (52.3%), while the majority of people with diabetes adhere to a diet (90.2%). The conclusion is that there was a relationship between compliance with follow PROLANIS blood sugar stability so that it can be used as a reference for people with diabetes to improve compliance with the 4 pillars PROLANIS management of DM in order to have a stable blood sugar
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
GAMBARAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) PERAWAT DALAM MERAWAT PASIEN HIV/AIDS DI RSUD TUGUREJO
Alat Pelindung Diri (APD) adalah alat yang digunakan seseorang dalam melakukan
pekerjan untuk melindungi diri dari sumber bahaya yang berasal dari pekerjaan. APD
merupakan komponen utama Personal Precaution yang digunakan perawat sebagai
kewaspadaan standar (Standard Precaution) dalam melakukan tindakan keperawatan.
APD penting bagi perawat yang melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan
penyakit berbahaya dan menular, antara lain penyakit HIV/AIDS. Penelitian ini
menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan metode survey. Sampel penelitian
menggunakan total sampling dengan jumlah 79 perawat di Ruang Penyakit Dalam.
Pengambilan data menggunakan kuisioner yang meliputi pengetahuan, sikap dan
perilaku. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan perawat tinggi dengan
persentase 73,5%, sikap positif dengan persentase 63,3% dan perilaku baik dengan
persentase 78,5%.
Kata kunci: Alat Pelindung Diri (APD), Perawat, HIV/AID
HUBUNGAN ANTARA NILAI VOLUME EKSPIRASI PAKSA DETIK PERTAMA DENGAN KUALITAS TIDUR PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)
Oxygenation and sleep are human basic needs that hold important role for quality of life on COPD patients. Breathing disturbance and bad quality of sleep lead to meaningful decreasement of life quality. Staging in COPD defined by FEV1 examination. The aim of this study was to find out the relation beetween forced expiratory volume on 1st second to sleep quality of COPD patients. The research design was correlational cross sectional analytic quantitative non-experimental approach. Purpossive sampling method were used with 98 participants of COPD patients in RSUD dr.Moewardi. Datas were collected using PSQI questionnaire. Result showed group with most respondents were at age of >65 years old, male, work as labourer, smoked for 16-20 years, also severe from COPD for 1-3 years. Most of the respondents has FEV1 value α (0.05) which means there was no relation beetween forced expiratory volume on 1st second to sleep quality. Patient with lower FEV1 were not defined for having bad quality of sleep and so on the contrary. Symptoms of FEV1 in each stage are not significantly related to sleep quality assessment. Next research are expected to discuss more about objective assessment of breathing problem while sleep in COPD patients
RESPON PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERINFEKSI HIV/AIDS DI RUMAH SAKIT PANTI WILASA CITARUM SEMARANG
ICN (International Council Of Nurse) 2005 melaporkan bahwa estimasi sekitar 19-35 % semua kematian pegawai kesehatan pemerintah di Afrika disebabkan oleh HIV/AIDS dan di negara lain juga para perawat menolak merawat penderita AIDS yang sudah mendekati ajal. Di Indonesia data ini tidak tersedia dengan baik, perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan adalah kategori orang – orang yang rentan yaitu orang – orang yang karena lingkup pekerjaan sehingga rentan terhadap penularan HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien terinfeksi HIV/AIDS. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Populasi adalah perawat yang bekerja diruangan perawatan (bangsal) penyakit dalam di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang dan pernah merawat pasien yang terinfeksi HIV/AIDS. Sampel dilakukan secara purposive. Teknik pengambilan data dengan wawancara mendalam. Respon emosional perawat biasa saja (tidak takut, tidak cemas), kasihan cemas, takut dan was-was. Respon ansietas perawat bentuknya tidak sampai mengganggu pekerjaan dan sebaliknya tingkat kewaspadaan mereka meningkat, gelisah, gugup dan kurang maksimal dalam melakukan pekerjaan sedangkan tingkat ansietas ringan dan sedang. Respon prilaku/sikap perawat di dahului dengan mempersiapkan diri dengan memakai alat pelindung diri (protap) dan berdo,a, ikut mensuport, melakukan tugas dengan baik dan hati-hati, tidak membedakan, empati, berusaha tetap tenang, tetap konsentrasi dan tetap waspada. Respon-respon yang muncul pada perawat masih dalam rentang respon yang adaptif dan belum mengarah ke respon mal adaptif.
Kata Kunci : Respon perawat, Asuhan keperawatan, Pasien HIV/AID
KEPATUHAN PERAWAT DALAM PENERAPAN KEWASPADAAN UNIVERSAL DI RUMAH SAKIT DOKTER KARIADI SEMARANG TAHUN 2013
Kewaspadaan universal merupakan strategi yang direkomendasikan Centers for Desease Control and Prevention sebagai upaya pencegahan infeksi dan penularan penyakit pada tenaga kesehatan. Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang, kepatuhan penerapan Kewaspadaan Universal/Standar pada petugas masih belum optimal, dilaporkan adanya kasus kecelakaan tertusuk jarum suntik yang terjadi selama periode Januari sampai dengan Mei 2013 ada 7 kejadian.Penelitian ini bertujuan untuk kepatuhan perawat dalam penerapan kewaspadaan universal di RS Dr. Kariadi semarang. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah perawat pelaksana yang bekerja di ruangan yang beresiko tertular penyakit infeksi. Jumlah sampel yang digunakan 95orang yang terdiri dari masing-masing ruang rawat inap, diambil dengan menggunakan teknik propotionate stratified random sampling. Data dikumpulkan dengan metode kuisioner, kemudian dilakukan analisa data dengan distribusi frekuensi dan uji chi square, dengan tingkat kemaknaan p 0.05. Kesimpulan dalam penelitian ini didapatkan hubungan antara pengetahuan dan pelatihan dan ketersediaan sarana. Sedangkan beban kerja tidak menunjukkan hubungan dalam kepatuhan penerapan kewaspadaan universal. Peningkatkan pengetahuan, pelatihan dan ketersediaan sarana yang lebih lengkap dalam menerapkan KU di rumah sakit perlu lebih ditingkatkan
Peningkatan Pengetahuan dan Kesadaran Masyarakat Terhadap Deteksi Dini Penyakit Deabetes Melitus dan Hipertensi
Diabetes melitus dan hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang insidensinya semakin meningkat. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), terdapat 10.267.100 kasus diabetes di Indonesia pada tahun 2017. Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan angka prevalensi hipertensi secara nasional (25,8%), jika dibanding hasil riskesdas tahun 2007 (31,7/1000) menunjukkan adanya penurunan angka prevalensi, namun hal ini tetap perlu di waspadai mengingat hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit degeneratif antara lain penyakit jantung, stroke dan penyakit pembuluh darah lainnya. Upaya pengendalian faktor risiko PTM yang telah dilakukan berupa promosi Perilaku Bersih dan Sehat, deteksi dini, serta pengendalian masalah tembakau. Maka dari itu perlu diadakan adanya program peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini penyakit diabetes mellitus dan hipertensi bersama dengan mitra kerja KKN di Desa Kandeman, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang dengan cara melakukan pemeriksaan tekanan darah dan gula darah sewaktu. Penyakit diabetes melitus dan hipertensi erat kaitannya dengan pola makan. Pola makan masyarakat yang sering mengonsimsi makanan manis dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya diabetes melitus. Begitu pula dengan faktor risiko terjadinya hipertensi. Konsumsi makanan yang tinggi kadar garam jika tidak dikurangi sejak dini dapat menyebabkan hipertensi. Oleh sebab itu terdapat pada Pesan Gizi Seimbang (PGS) yaitu mengurangi asupan gula, minyak dan garam, sehingga dapat mencegah faktor risiko penyakit Diabetes Melitus dan Hipertensi. Berdasarkan hasil dari program kerja terkait dengan gizi pada penyakit hipertensi dan diabetes melitus yaitu pola makan masyarakat Desa Kandeman, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang dapat mempengaruhi faktor risiko terjadinya penyakit diabetes melitus dan hipertensi. Kesimpulan yang di dapat dari masyarakat terkait diet pada penyakit hipertensi yaitu masyarakat mengakui bahwa jika melakukan syarat - syarat diet sangat sulit dan ribet contohnya yaitu saat memasak makanan tidak dapat mengurangi kadar natrium yang digunakan sebelum masakan terasa asin dan gurih
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
