136 research outputs found
Upaya Meningkatkan Kemampuan Kepemimpinan Transformasional Kepala Ruang di RSI Sultan Agung Semarang.
Penerapan kepemimpinan transformasional merupakan kepemimpinan yang mampu memunculkan rasa bangga dan kepercayaan bawahan, menginspirasi dan memotivasi bawahan, merangsang kreativitas dan inovasi bawahan, memperlakukan setiap bawahan secara individual serta selalu melatih dan memberi pengarahan kepada bawahan melalui karakteristik idealized influence,inspirational motivation, intelectual stimulation, individual consideration. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pelatihan kepemimpinan transformasional terhadap penerapan kepemimpinan transformasional kepala ruang. Penelitian dilakukan di RSI Sultan Agung Semarang terhadap 16 perawat sebagai kepala ruang dan 39 perawat pelaksana.
Penelitian ini menggunakan desain pra eksperimen (pre-experimental designs) dengan bentuk one group pretest-posttes design. Hasil penelitian menunjukan peningkatan bermakna pada penerapan kepemimpinan transformasional sesudah mendapatkan pelatihan kepemimpinan transformasional (p value : 0.000). Kesimpulannya, pelatihan kepemimpinan transformasional berpengaruh terhadap penerapan kepemimpinan transformasional kepala ruang diRumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.
Kata kunci : Pelatihan, Kepemimpinan Transformasional
The Efforts to Improve the Ability of Head Room Transformational Leadership in RSI Sultan Agung Semarang
Milkhatun1; Untung Sujianto2;
Agus Santoso3
1Students of Master of Nursing University of Diponegoro [email protected]
2,3 Lecturer in Nursing, University of Diponegoro in Semarang
Abstract
Implementation of transformational leadership is leadership that can bring a sense of pride and trust of follower, inspire and motivate to follower, stimulate creativity and innovation of follower, treat of each follower individually as well as always train and provide guidance to follower through characteristic idealized influence, inspirational motivation, intelectual stimulation, individual consideration. This study is aimed to analyze the effect of transformational leadership training toward implementation of head room transformational leadership. The study was involve 16 nurses as head room in RSI Sultan Agung Semarang and 39 nurses.
The study was conducted using a designed a pre-experimental (pre-experimental designs) with form one group pretest-posttest design. Results of the study showed a significant increase in the implementation of transformational leadership after getting transformational leadership training (p value: 0.000). In conclusion transformational leadership training bring affect in the implementation of head room transformational leadership in RSI Sultan Agung Semaran
Hubungan Antara Kepatuhan Mengikuti Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) BPJS dengan Stabilitas Gula Darah pada Penderita Diabetes Melitus di Puskesmas Babat Kabupaten Lamongan
The stability of blood sugar plays an important role in the management of diabetes. Diabetes blood sugar level is determined by adherence to the four pillars of Management DM. This is facilitated by the government through PROLANIS managed by BPJS. The purpose of the study was to determine the relationship between adherence to follow PROLANIS with stability of blood sugar in people with diabetes. The research design was correlational cross sectional analytic quantitative non-experimental approach. The sampling of this research used total sampling with 82 participants that was member of PROLANIS at Public Health Center of Babat Lamongan. Datas were collected using a questionnaire dietary compliance, Baecke, MMAS-8 and the medical records of patients. Statistical test results using alternative fisher exact test showed p = 0.000 <α (0.05) which means there was a significant relationship between adherence follow PROLANIS with the stability of blood sugar. This shows that the higher level of compliance has better stability of blood sugar. Based on the four pillars of PROLANIS majority of people with diabetes do not adhere to education (61%), physical activity (56%), and treatment (52.3%), while the majority of people with diabetes adhere to a diet (90.2%). The conclusion is that there was a relationship between compliance with follow PROLANIS blood sugar stability so that it can be used as a reference for people with diabetes to improve compliance with the 4 pillars PROLANIS management of DM in order to have a stable blood sugar
GAMBARAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) PERAWAT DALAM MERAWAT PASIEN HIV/AIDS DI RSUD TUGUREJO
Alat Pelindung Diri (APD) adalah alat yang digunakan seseorang dalam melakukan
pekerjan untuk melindungi diri dari sumber bahaya yang berasal dari pekerjaan. APD
merupakan komponen utama Personal Precaution yang digunakan perawat sebagai
kewaspadaan standar (Standard Precaution) dalam melakukan tindakan keperawatan.
APD penting bagi perawat yang melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan
penyakit berbahaya dan menular, antara lain penyakit HIV/AIDS. Penelitian ini
menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan metode survey. Sampel penelitian
menggunakan total sampling dengan jumlah 79 perawat di Ruang Penyakit Dalam.
Pengambilan data menggunakan kuisioner yang meliputi pengetahuan, sikap dan
perilaku. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan perawat tinggi dengan
persentase 73,5%, sikap positif dengan persentase 63,3% dan perilaku baik dengan
persentase 78,5%.
Kata kunci: Alat Pelindung Diri (APD), Perawat, HIV/AID
HUBUNGAN ANTARA NILAI VOLUME EKSPIRASI PAKSA DETIK PERTAMA DENGAN KUALITAS TIDUR PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)
Oxygenation and sleep are human basic needs that hold important role for quality of life on COPD patients. Breathing disturbance and bad quality of sleep lead to meaningful decreasement of life quality. Staging in COPD defined by FEV1 examination. The aim of this study was to find out the relation beetween forced expiratory volume on 1st second to sleep quality of COPD patients. The research design was correlational cross sectional analytic quantitative non-experimental approach. Purpossive sampling method were used with 98 participants of COPD patients in RSUD dr.Moewardi. Datas were collected using PSQI questionnaire. Result showed group with most respondents were at age of >65 years old, male, work as labourer, smoked for 16-20 years, also severe from COPD for 1-3 years. Most of the respondents has FEV1 value α (0.05) which means there was no relation beetween forced expiratory volume on 1st second to sleep quality. Patient with lower FEV1 were not defined for having bad quality of sleep and so on the contrary. Symptoms of FEV1 in each stage are not significantly related to sleep quality assessment. Next research are expected to discuss more about objective assessment of breathing problem while sleep in COPD patients
Analisa Pengaruh Kepuasan Kerja Dosen Tetap Program Studi Kebidanan Semarang Tahun 2005
Background : A changing of Nursing Education Institution into Midwifery Education Institution has made a major impact due to lecturers. Its impact is on both internal and external aspect which caused incomplete learning-teaching process, non maximum attendance of lecturers and decreasing activities of lecturers On the past three years there's been a decreasing number in graduation and interests. The research aims is to identify and analyze factors which influencing the perception of the task satisfaction of lecturers on Midwifery Study Program of Health Politechnic SemarangMethod: The study is an explanatory research with a survey research method using a cross sectional approach. The research samples are all of lecturers in Midwifery Study Program of Health Politechnic Semarang on November 2005 (34 persons). Data were gathered through questioner (quantitative), analyzing in univariate, bivariate and multivariate. A indepth interview (qualitative) were also conducted on 3 responders.Result: The result of the research showing an influence between rank, amount of training followed and the sum of subject taught to a task satisfaction of lecturers stays well on work, head office, colleague, promotion nor compensation. Meanwhile rank and education do notinfluence task satisfaction of lecturers stays well on work, head office colleague, promotion nor compensation. A free” variables that become a predictor of task satisfaction in work are sum of training and subjects taught, a working satisfaction of head office is training, a satisfaction of colleague are sum of training, a satisfaction of promotion is education and a satisfactory of compensation is education. The most significant factors that influence a working satisfactory Is sum of training followed. In general responder satisfaction is lower (71%). A task satisfaction consists of satisfaction due to compensation lower (71%), a satisfaction due to head office lower (67.7%), a satisfaction due to task lower (67.7%), a satisfaction due to colleague lower (61.3%) and satisfactory of promotion higher (54:8%)Keyword: Task satisfaction, Lecturer, Midwifery, Trainin
RESPON PERAWAT DALAM MELAKSANAKAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERINFEKSI HIV/AIDS DI RUMAH SAKIT PANTI WILASA CITARUM SEMARANG
ICN (International Council Of Nurse) 2005 melaporkan bahwa estimasi sekitar 19-35 % semua kematian pegawai kesehatan pemerintah di Afrika disebabkan oleh HIV/AIDS dan di negara lain juga para perawat menolak merawat penderita AIDS yang sudah mendekati ajal. Di Indonesia data ini tidak tersedia dengan baik, perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan adalah kategori orang – orang yang rentan yaitu orang – orang yang karena lingkup pekerjaan sehingga rentan terhadap penularan HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien terinfeksi HIV/AIDS. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Populasi adalah perawat yang bekerja diruangan perawatan (bangsal) penyakit dalam di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang dan pernah merawat pasien yang terinfeksi HIV/AIDS. Sampel dilakukan secara purposive. Teknik pengambilan data dengan wawancara mendalam. Respon emosional perawat biasa saja (tidak takut, tidak cemas), kasihan cemas, takut dan was-was. Respon ansietas perawat bentuknya tidak sampai mengganggu pekerjaan dan sebaliknya tingkat kewaspadaan mereka meningkat, gelisah, gugup dan kurang maksimal dalam melakukan pekerjaan sedangkan tingkat ansietas ringan dan sedang. Respon prilaku/sikap perawat di dahului dengan mempersiapkan diri dengan memakai alat pelindung diri (protap) dan berdo,a, ikut mensuport, melakukan tugas dengan baik dan hati-hati, tidak membedakan, empati, berusaha tetap tenang, tetap konsentrasi dan tetap waspada. Respon-respon yang muncul pada perawat masih dalam rentang respon yang adaptif dan belum mengarah ke respon mal adaptif.
Kata Kunci : Respon perawat, Asuhan keperawatan, Pasien HIV/AID
KEPATUHAN PERAWAT DALAM PENERAPAN KEWASPADAAN UNIVERSAL DI RUMAH SAKIT DOKTER KARIADI SEMARANG TAHUN 2013
Kewaspadaan universal merupakan strategi yang direkomendasikan Centers for Desease Control and Prevention sebagai upaya pencegahan infeksi dan penularan penyakit pada tenaga kesehatan. Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang, kepatuhan penerapan Kewaspadaan Universal/Standar pada petugas masih belum optimal, dilaporkan adanya kasus kecelakaan tertusuk jarum suntik yang terjadi selama periode Januari sampai dengan Mei 2013 ada 7 kejadian.Penelitian ini bertujuan untuk kepatuhan perawat dalam penerapan kewaspadaan universal di RS Dr. Kariadi semarang. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah perawat pelaksana yang bekerja di ruangan yang beresiko tertular penyakit infeksi. Jumlah sampel yang digunakan 95orang yang terdiri dari masing-masing ruang rawat inap, diambil dengan menggunakan teknik propotionate stratified random sampling. Data dikumpulkan dengan metode kuisioner, kemudian dilakukan analisa data dengan distribusi frekuensi dan uji chi square, dengan tingkat kemaknaan p 0.05. Kesimpulan dalam penelitian ini didapatkan hubungan antara pengetahuan dan pelatihan dan ketersediaan sarana. Sedangkan beban kerja tidak menunjukkan hubungan dalam kepatuhan penerapan kewaspadaan universal. Peningkatkan pengetahuan, pelatihan dan ketersediaan sarana yang lebih lengkap dalam menerapkan KU di rumah sakit perlu lebih ditingkatkan
Peningkatan Pengetahuan dan Kesadaran Masyarakat Terhadap Deteksi Dini Penyakit Deabetes Melitus dan Hipertensi
Diabetes melitus dan hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang insidensinya semakin meningkat. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), terdapat 10.267.100 kasus diabetes di Indonesia pada tahun 2017. Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan angka prevalensi hipertensi secara nasional (25,8%), jika dibanding hasil riskesdas tahun 2007 (31,7/1000) menunjukkan adanya penurunan angka prevalensi, namun hal ini tetap perlu di waspadai mengingat hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyakit degeneratif antara lain penyakit jantung, stroke dan penyakit pembuluh darah lainnya. Upaya pengendalian faktor risiko PTM yang telah dilakukan berupa promosi Perilaku Bersih dan Sehat, deteksi dini, serta pengendalian masalah tembakau. Maka dari itu perlu diadakan adanya program peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini penyakit diabetes mellitus dan hipertensi bersama dengan mitra kerja KKN di Desa Kandeman, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang dengan cara melakukan pemeriksaan tekanan darah dan gula darah sewaktu. Penyakit diabetes melitus dan hipertensi erat kaitannya dengan pola makan. Pola makan masyarakat yang sering mengonsimsi makanan manis dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya diabetes melitus. Begitu pula dengan faktor risiko terjadinya hipertensi. Konsumsi makanan yang tinggi kadar garam jika tidak dikurangi sejak dini dapat menyebabkan hipertensi. Oleh sebab itu terdapat pada Pesan Gizi Seimbang (PGS) yaitu mengurangi asupan gula, minyak dan garam, sehingga dapat mencegah faktor risiko penyakit Diabetes Melitus dan Hipertensi. Berdasarkan hasil dari program kerja terkait dengan gizi pada penyakit hipertensi dan diabetes melitus yaitu pola makan masyarakat Desa Kandeman, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang dapat mempengaruhi faktor risiko terjadinya penyakit diabetes melitus dan hipertensi. Kesimpulan yang di dapat dari masyarakat terkait diet pada penyakit hipertensi yaitu masyarakat mengakui bahwa jika melakukan syarat - syarat diet sangat sulit dan ribet contohnya yaitu saat memasak makanan tidak dapat mengurangi kadar natrium yang digunakan sebelum masakan terasa asin dan gurih
Hubungan Mutu Pelayanan Keperawatan dan Perilaku Caring Perawat dengan Kepuasan Pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan dan Umum di Rawat Inap Kelas III RSUD Sunan Kalijaga Kabupaten Demak
Universitas Diponegoro
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
Konsentrasi Administrasi Rumah Sakit
2017
ABSTRAK
Siwi Bagus Ajiningrat
Hubungan Mutu Pelayanan Keperawatan dan Perilaku Caring Perawat dengan Kepuasan
Pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan dan Umum di Rawat Inap Kelas
III RSUD Sunan Kalijaga Kabupaten Demak
xvi + 128 halaman + 30 tabel + 8 lampiran
Banyak faktor yang diduga mempengaruhi perbedaan tingkat kepuasan pasien BPJS
dan pasien umum di rawat inap kelas III di RSUD Sunan Kalijaga Kabupaten Demak,
diantaranya mutu pelayanan keperawatan dan perilaku caring perawat. Kenyataan bahwa mutu
pelayanan keperawatan di rumah sakit seperti itu akibat dari perilaku caring perawat sehingga
berdampak kepada ketidakpuasan pasien.
Jenis penelitian adalah kuantitatif, pendekatan cross sectional. Responden 120 orang,
pasien BPJS kesehatan 100 orang, pasien umum 20 orang. Analisis data dengan analisis
independent t test.
Hasil penelitian, pasien BPJS kesehatan umur 59-65 tahun 22,0%, perempuan 52,%,
pendidikan SMP 38,0%, sebagai petani 34,0%, menikah 80,0%, mutu pelayanan keperawatan
kategori cukup 62,0% dan baik 38,0%, perilaku caring perawat kategori cukup 17,0% dan baik
83,0%, kepuasan kategori cukup 11,0% dan baik 89,0% Pasien umum umur 45-51 tahun
45,0%, laki-laki 55,%, pendidikan SMA 60,0%, bekerja swasta 80,0%, menikah 100,0%. mutu
pelayanan keperawatan kategori cukup 5,0%, baik 95,0%. perilaku caring perawat umum
kategori baik 100,0%, kepuasan kategori baik 100,0%. Tidak ada perbedaan mutu pelayanan
keperawatan pada pasien BPJS kesehatan dan umum (α=0,094). Tidak ada perbedaan perilaku
caring perawat pada pasien BPJS kesehatan dan umum (α=0,129). Ada perbedaan kepuasan
pada pasien BPJS kesehatan dan umum (t hitung =2,635, α=0,012). Tidak ada hubungan mutu
pelayanan Keperawatan terhadap kepuasan pada pasien BPJS kesehatan dan umum
(α=0,173). Ada hubungan perilaku caring perawat terhadap kepuasan pada pasien BPJS
kesehatan dan umum (α = 0,049)
Agar RSUD lebih mendorong meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan perilaku
caring perawat dengan cara selalu memberikan pembinaan teknis, pendidikan pelatihan dan
mengoptimalkan tugas dan peran dalam bidang keperawatan.
Kata kunci
: Mutu Pelayanan Keperawatan, Perilaku Caring Perawat, Kepuasan Pasien
Kepustakaan : 60 (1990-2010)Diponegoro University
Faculty of Public Health
Master’s Study Program in Public Health
Majoring in Hospital Administration
2017
ABSTRACT
Siwi Bagus Ajiningrat
The Relationship of the Quality of Nursing Service and Nurse’s Caring Behaviours with
Patients’ Satisfaction of Health Social Insurance Agency and General at Inpatient
Installation of Class III at the Public Hospital of Sunan Kalijaga in Demak Regency
xvi + 128 pages + 30 tables + 8 appendices
Some factors suspected influencing the differences of patients’ satisfaction levels of
Health Social Insurance Agency (HSIA) and General at inpatient installation of Class III at the
Sunan Kalijaga Public Hospital in Demak Regency were a quality of nursing services and
nurse’s caring behaviours. In fact, low quality of nursing services was due to nurse’s caring
behaviours in which it led to patients’ dissatisfaction.
This was a quantitative study using cross-sectional approach. Number of respondents
were 120 persons which consisted of 100 HSIA patients and 20 general patients. Data were
analysed using an Independent t test.
The results of this research showed that among HSIA patients, a proportion of age 59-65
years old was 22.0%, a proportion of female was 52.0%, as many as 38.0% graduated from
Junior High School, 34.0% of the respondents worked as a farmworker, 80.0% of the
participants had got married, as many as 62.0% of the respondents had fairly good quality of
nursing services and the rest was good (38.0%), as many as 17.0% of the respondents had
fairly good nurse’s caring behaviours and the rest was good 83.0%), and as many as 11.0%
were fairly satisfied and the rest was satisfied 89.0%. In contrast, among general patients, a
proportion of age 45-51 years old was 45.0%, a proportion of male was 55.0%, as many as
60.0% graduated from Senior High School, 80.0% of the respondents worked as in private
sectors, 100.0% of the participants had got married, as many as 5.0% of the respondents had
fairly good quality of nursing services and the rest was good (95.0%), all of the respondents
(100.0%) had good nurse’s caring behaviours, and all of the respondents (100.0%) were
satisfied. There was no difference in the quality of nursing services between HSIA and general
patients (p=0.094). There was no difference in the nurse’s caring behaviours between HSIA and
general patients (p=0.129). There was any difference in satisfaction between HSIA and general
patients (t=2.635; p=0.012). There was no significant relationship between the quality of nursing
services and satisfaction of HSIA and general patients (p=0.173). There was no significant
relationship between the nurse’s caring behaviours and satisfaction of HSIA and general
patients (p=0.049).
The public hospital needs to improve the quality of nursing services and the nurse’s caring
behaviours by providing a technical guidance, education, training, and optimising tasks and
roles in nursing.
Keywords : Quality Of Nursing Services, Nurse’s Caring Behaviours, Patients’ Satisfaction
Bibliography: 60 (1990-2010
NYERI DAN KEMAMPUAN AKTIVITAS PADA PASIEN KANKER KOLOREKTAL MENJALANI KEMOTERAPI
ABSTRAK
Nyeri pada kanker merupakan gejala yang sering dirasakan oleh pasien kanker. Penyebab nyeri antara lain penekanan sel kanker pada jaringan, terapi, dan infeksi. Nyeri dapat mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga kualitas hidup pasien menurun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara nyeri dan kemampuan aktivitas pada pasien kanker kolorektal. Desain penelitian yang digunakan yaitucross sectional. Subyek penelitian sebanyak 48 pasien kanker kolorektal dengan kemoterapi ditentukan dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan Numeric rating Scale (NRS) dan KATZ Index. Analisis data yang digunakan yaitu uji pearson prooduct moment. Nilai rata-rata nyeri yaitu 4,58 SD 1,29. Nilai rata-rata kemampuan aktivitas yaitu 4,40 SD 1,20. Hubungan antara nyeri dan aktivitas didapatkan koefisien korelasi -0,581 dan p =0,000. Ada hubungan antara nyeri dan kemampuan aktivitas pada pasien kanker kolorektal yang menjalani kemoterapi. Perlu adanya peningkatanmanajemen nyeri pada pasien kanker sehingga aktivitas tidak terganggu.
ABSTRACT
Cancer pain is a common symptom experienced by cancer patients. The causes of cancer painare suppresion of cancer tissue, therapy, and infection. Pain can interfere with activity daily living so patient quality of life decreases. Objective of this study wasto analyze association between pain and activity of colorectal cancer. A cross-sectional study was used in this study.Subject of the study consisted of 48colorectal patients with chemotherapy specified using simple random sampling technique. Data were obtained through numerik rating scale (NRS) for pain and KATZ index for activity. Data analysis used pearson prooduct moment. Mean of pain was 4,58 SD 1,29. Mean of activity was 4,40 SD 1,20. Association between pain and activity showed score of correlation coefficient -0,581 and p=0.000. There was association between pain and activity of colorectal cancer. There is a need to improve cancer pain management so activity is not disrupted
- …
