1,722,479 research outputs found
Unjuk Rasa Terhadap Kenaikan Harga Bbm Sebagai Tindak Pidana Penghasutan / oleh Suharno
abstrak (A) Nama : Suharno; NIM: 205040194 (B) Judul Skripsi : Unjuk Rasa Terhadap Kenaikan Harga Bbm Sebagai Tindak Pidana Penghasutan (C) Halaman : vii + 89 + 4 daftar pustaka + lampiran; 2011 (D) Kata Kunci : Unjuk rasa, penghasutan (E) Isi : Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. Kebebasan mengeluarkan pendapat membawa konsekuensi positif dan negatif. Konsekuensi positifnya adalah terwujudnya suatu negara demokrasi dan konsekuensi negatifnya jika mengeluarkan pendapat itu disalahgunakan dengan tujuan untuk mengganggu ketertiban dan keamanan umum, menghasut orang lain untuk melakukan suatu perbuatan yang dilarang atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, hal ini sebagaimana dalam tindak pidana penghasutan Nomor 2336/Pid.B.2008/PN.JKT.PST. Permasalahan dalam penelitian ini adalah mengapa perbuatan Terdakwa (Sekjen KBI) yang mengumpulkan massa untuk berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM yang ditugaskan oleh Ketua KBI dianggap sebagai tindak pidana penghasutan? dan bagaimana proses penegakkan hukumnya terhadap Terdakwa yang melakukan tindak pidana penghasutan? Metode penelitian dalam penulisan ini yaitu metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan secara kualitatif. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa perbuatan Terdakwa Sekjen KBI dianggap sebagai tindak pidana penghasutan (delik formil), namun dalam dakwaannya Jaksa Penuntut Umum mengarahkan pada delik materil. Sehingga didasarkan pada delik materil tersebut pertemuan di Wisma PKBI dan pertemuan-pertemuan lain yang membahas perihal aksi demonstrasi besar-besaran menolak kenaikan harga BBM yang berakhir rusuh dianggap sebagai kelanjutan dari pertemuan antara Terdakwa dan peserta aksi demonstrasi di Wisma PKBI. Selian itu, fakta perbuatan Terdakwa di persidangan juga sudah terpenuhi unsur-unsurnya sebagai tindak pidana penghasutan. Terdakwa juga dikenakan Pasal 55 KUHP karena telah menganjurkan untuk menyerang barikade aparat kepolisian yang sedang menjaga aksi demo di depan Istana Negara. Proses hukum terhadap Terdakwa telah sesuai KUHAP yaitu dengan proses penangkapan, penyidikan, penyelidikan dan penuntutan. Hendaknya hakim lebih cermat dalam menanganai delik penghasutan yang diajukan JPU, karena dalam kasus ini adalah delik formil yang diarahkan menjadi delik materil. (F)Daftar acuan : 46 (1945-2011) (G)Dosen Pembimbing : DR. Etty Utju Ruhayati, S.H., M.H. (H) Penulis : Suharn
The role of vitamin A in nutritional anaemia : a study in pregnant women in West Java, Indonesia
Nutritional anaemia affects 50-70% of pregnant women in the developing world where vitamin A deficiency is also a problem. Since previous studies have indicated that vitamin A deficiency can be involved in the aetiology of nutritional anaemia, the role of vitamin A deficiency in nutritional anaemia in pregnant women has been investigated in West Java, Indonesia. Of the 318 normal pregnant women examined in a cross-sectional study, 49% were anaemic and, according to multiple criteria, 43% had iron-deficiency anaemia, 22% had iron-deficient erythropoiesis, and 7% were iron depleted. Based on serum retinol values, 2.5% of the women were vitamin A deficient and 31 % had marginal vitamin A status. After adjustment for gestational stage, parity and subdistrict, serum retinol concentrations were significantly positively associated ( p <0.01) with haemoglobin concentrations, haematocrit, and serum iron concentrations. In order to test whether the anaemia observed would respond to improvement in vitamin A supply, a randomised, double-masked, placebo-controlled field trial was carried out in which anaemic pregnant women in the same area were supplemented with vitamin A and iron. The women (n=251), aged 17-35 years, parity 0-4, gestation 16-24 weeks, and haemoglobin between 80 and 109 g/L were randomly allocated to four groups: vitamin A (2.4 mg retinol) and placebo iron tablets; iron (60 mg elemental iron) and placebo vitamin A; vitamin A and iron; or both placebos, all daily for 8 weeks. Maximum response in haemoglobin was achieved with both vitamin A and iron supplementation (12.78 g/L, 95% CI 10.86 to 14.70), with one-third of the response attributable to vitamin A (3.68 g/L, 2.03 to 5.33) and two-thirds to iron (7.71 g/L, 5.97 to 9.45). After supplementation, the proportion of women who became non-anaemic was 35% in the vitamin-A-supplemented group, 68% in the iron-supplemented group, 97% in the group supplemented with both, and 16% in the placebo group. In a subgroup (n=104) of the women in the intervention study, the intake of food and nutrients was also measured. The median daily intake of vitamin A, including provitamin A, was 1023 (10th and 90th percentiles; 65, 1914) μg retinol equivalent (RE). About 24% of the women had intakes below the daily intake of vitamin A recommended for pregnant women in Indonesia (700 μg RE). The suboptimal vitamin A status associated with nutritional anaemia suggests that measures to combat anaemia in pregnant women should involve improvement not only of iron status but also of vitamin A status
THE RESERVOIR OF THE RENDINGAN-ULUBELUWAYPANAS GEOTHERMAL SYSTEM
The Rendingan-Ulubelu-Waypanas (RUW) geothermal system, is dominated by products of Quaternary and Tertiary volcanism (the Tanggamus volcanism) consisting mainly of andesitic lavas and pyroclastics. Thermal manifestations occur over a distance of more than 15 km within the Ulubelu graben and southwest of Mt. Waypanas. Six exploration wells encountered temperatures from 50 to 220 oC and penetrated rocks that mostly also occur at the surface. Microearthquake epicenters were determined using a random
analysis method as velocity structures are not known. Gravity data were interpreted using ‘iterative
forward modeling’ and deconvolution methods and gave consistent results. Ground magnetic data revealed the effects of deeper bodies. The Mt. Rendingan pyroclastics and andesite lavas, Mt. Kukusan basaltic andesite lavas and Mt. Kabawok pyroclastics are normally magnetised.
The magnetic interpretation, together with results from the mapping of surface manifestations, microearthquake study and previous Schlumberger resistivity surveys, show that the RUW geothermal system is a single unit, covering an area of about 150 km2. Measured well temperatures and pressures, hydrothermal mineralogy, and the thermal characteristics of fluids trapped in inclusions indicate that in the central part of the system, perched meteoric water and steam condensate occurs above 250 m
depth (450 m a.s.l.). Between about 250 m and 550 m depth (450 m and 150 m a.s.l.) the reservoir contains vapor with two phases occurring from about 600 m to 800 m depth (100 m a.s.l. to 100 m b.s.l.). Alkali chloride water with a near neutral pH and a low concentration of dissolved carbon
dioxide occurs below 800 m depth (100 m b.s.l.). A pronounced temperature reversal in well UBL1 indicates an inflow of cooler water at about 700 m depth; this is probably meteoric water descending a fault zone. Convection occurs below 800 m depth, consistent with the presence here of high permeability indicating minerals (i.e. adularia and albite). The dimensions of the RUW geothermal
system have changed spatially and temporally during its life, but the sequence, chronology and directions of the changes are incompletely known
STUDI KOMPARATIF SULUKAN WAYANG GOLEK CEPAK SAJIAN SAWIJOYO DAN SUHARNO
STUDI KOMPARATIF SULUKAN WAYANG GOLEK CEPAK
SAJIAN SAWIJOYO DAN SUHARNO oleh Sarjono Goro Saputro, 2015,
132 halaman, Skripsi S-1, Program Studi Seni Pedalangan, Jurusan Pedalangan,
Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Surakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perbedaan dan persamaan
tentang sulukan Wayang Golek Cepak Pemalang dan Wayang Golek
Cepak Tegal dengan menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan
antropologi, yaitu pendekatan yang menekankan pada hasil budaya,
khususnya yang berhubungan dengan bentuk sajian dan bentuk
sulukanWayang Golek Cepak Pemalang dan Wayang Golek Cepak Tegal.
Hasil penelitian menyatakan bahwa perbedaan sulukan yang terdapat
pada Wayang Golek Cepak sajian Sawijoyo dan Wayang Golek Cepak
sajian Suharno yaitu penggunaan cakepan sulukan. Wayang golek cepak
sajian Sawijoyo tidak terdapat cakepan sulukan yang mengambil dari
cakepan sulukan wayang kulit purwa, sedangkan pada wayang golek cepak
sajian Suharno terdapat percampuran dengan cakepan sulukan dari wayang
kulit purwa, hal ini terlihat dari sulukan pathet nem ageng yang mengambil
2 baris dari cakepan sulukan wayang kulit purwa, dengan kalimat sri tinon
ing pasewakan dan busana sutra maneka warna, kemudian pada pathet nem
wantah serta sulukan yang digunakan untuk adegan pertapan. Perbedaan
yang lainnya terdapat pada penggarapan notasi umpak yang tidak sama
antara sajian Sawijoyo dan sajian Suharno.
Persamaan yang terdapat pada sulukan wayang golek cepak sajian
Sawijoyo dan wayang golek cepak sajian Suharno secara umum terdapat
pada fungsi sulukan, pemakaian umpak pada nada akhir dari sulukan,
penggunaaan nada tinggi yang ditemukan pada setiap sulukan,
penggunaan laras gamelan yang sama dan penggunaan pathetan yang sama
yaitu pathet nem, pathet barang dan pathet manyura.
Setelah mendapatkan hasil penelitian diharapkan bisa mempermudah
dalam proses pembelajaran sulukan wayang golek bagi generasi muda
yang ingin mempelajari wayang golek cepak, serta mengetahui perbedaan
dan persamaan yang menjadi ciri khas wayang golek cepa
- …
