49 research outputs found
Analisa Pengaruh Cu2+ pada Penentuan Fe dengan Pereduksi Asam Askorbat Menggunakan Metode Spektrofotometer UV-Vis
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan seberapa besar konsentrasi Cu2+ mulai mengganggu analisis Fe dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Analisis tersebut dilakukan dengan menambahkan dengan sengaja ion Cu2+ ke dalam kompleks Fe(II)-fenantrolin yang telah diketahui panjang gelombang maksimumnya, kemudian diukur persen recovery, standar deviasi relatif (RSD), dan koefisien variasi (CV). Sugiarso dkk. (2019) melakukan penelitian yang membuktikan bahwa asam askorbat baik dalam mereduksi karena memiliki pH optimum 4,5; waktu optimum 15 menit dalam konsentrasi 5 ppm; memiliki persen recovery sebesar 98,068%, tetapi asam askorbat tidak dilakukan uji gangguan oleh ion Cu2+. Hasil penelitian diperoleh bahwa panjang gelombang maksimum kompleks Fe(II)-fenantrolin 510 nm, standar deviasi relatif didapat sebesar 4,13 ppt, sedangkan CV sebesar 0,413% di mana harga tersebut berada dalam kategori baik, serta konsentrasi ion Cu2+ mulai mengganggu pada 0,8 ppm dengan persen recovery sebesar 94,53%
Analisis residu pestisida karbamat jenis karbamil dan karbofuran pada biji kedelai pasca panen
Analisa Pengaruh Cu2+ pada Penentuan Fe dengan Pereduksi Asam Askorbat Menggunakan Metode Spektrofotometer UV-Vis
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan seberapa besar konsentrasi Cu2+ mulai mengganggu analisis Fe dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Analisis tersebut dilakukan dengan menambahkan dengan sengaja ion Cu2+ ke dalam kompleks Fe(II)-fenantrolin yang telah diketahui panjang gelombang maksimumnya, kemudian diukur persen recovery, standar deviasi relatif (RSD), dan koefisien variasi (CV). Sugiarso dkk. (2019) melakukan penelitian yang membuktikan bahwa asam askorbat baik dalam mereduksi karena memiliki pH optimum 4,5; waktu optimum 15 menit dalam konsentrasi 5 ppm; memiliki persen recovery sebesar 98,068%, tetapi asam askorbat tidak dilakukan uji gangguan oleh ion Cu2+. Hasil penelitian diperoleh bahwa panjang gelombang maksimum kompleks Fe(II)-fenantrolin 510 nm, standar deviasi relatif didapat sebesar 4,13 ppt, sedangkan CV sebesar 0,413% di mana harga tersebut berada dalam kategori baik, serta konsentrasi ion Cu2+ mulai mengganggu pada 0,8 ppm dengan persen recovery sebesar 94,53%
Penentuan Kadar Mineral Seng (Zn) dan Fosfor (P) dalam Nugget Ikan Gabus (Channa Striata) - Rumput Laut Merah (Eucheuma Spinosum)
Penelitian tentang pengaruh variasi komposisi daging ikan gabus dan rumput laut merah terhadap kandungan mineral Zn dan kandungan mineral P dalam nugget ikan gabus-rumput laut merah telah dilakukan. Komposisi ikan gabus sebagai bahan utama pembuatan nugget divariasikan menurun dari 95% hingga 75%, sedangkan rumput laut sebagai bahan pengganti tepung divariasikan meningkat dari 5% hingga 25%, dengan interval penurunan dan kenaikan yang sama, yaitu sebesar 5%. Untuk penentuan kadar mineral Zn, setiap sampel didestruksi menggunakan campuran asam HNO3-H2O2; kemudian dianalisa menggunakan instrumen Flame AAS. Sedangkan untuk penentuan kadar mineral P, setiap sampel didestruksi menggunakan campuran asam H2SO4-H2O2, kemudian dianalisa menggunakan instrumen spektrofotometer UV-Vis dengan pengompleks ammonium molibdo-vanadat. Pengukuran absorbansi sampel pada 213,85 nm menghasilkan kadar Zn dalam nugget sebesar 40,4829 mg/kg hingga 87,6723 mg/kg dan pengukuran absorbansi sampel pada 390 nm menghasilkan kadar mineral P sebesar 1638,350 mg/kg hingga 4464,533 mg/kg. Penambahan rumput laut dan pengurangan daging ikan gabus menyebabkan kadar mineral Zn meningkat, tetapi kadar mineral P menurun. Kadar maksimum mineral Zn dalam nugget diperoleh pada komposisi (75% : 25%), sedangkan kadar maksimum mineral P diperoleh pada komposisi (95% : 5%).Kata KunciChanna striata; Eucheuma spinosum; fosfor; nugget ikan; seng
Analisis Pengaruh Ion Zn (II) pada Penentuan Fe3+ dengan Pengompleks 1,10-fenantrolin pada Ph Optimum Menggunakan Spektrofotometer Uv-vis
Penelitian tentang analisis pengaruh ion Zn(II) pada penentuan Fe3+ dengan pengompleks 1,10-fenantrolin pada pH optimum telah dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Kompleks Fe(III) fenantrolin mempunyai panjang gelombang maksimum 363 nm dengan absorbansi sebesar 0,468. Koefisien korelasi (r) yang diperoleh pada kurva kalibrasi adalah 0,9986. Hasil analisis menunjukkan bahwa ion Zn(II) dapat mempengaruhi kompleks Fe(III) fenantrolin pada konsentrasi 0,2 ppm Zn2+ dengan menurunkan absorbansi dan % recovery 77,86%
Studi Gangguan Mg(II) dalam Analisa Besi(II) dengan Pengompleks O-fenantrolin Menggunakan Spektrofotometri UV-Vis
Pada penelitian ini telah dilakukan studi gangguan ion Mg(II) terhadap analisa besi dengan pengompleks o-fenantrolin pada pH 4,5 secara spektrofotometri UV-tampak. Penelitian dilakukan dengan mereduksi Besi (III) menjadi Besi (II) menggunakan natrium tiosulfat, kemudian dikomplekskan dengan o-fenantrolin pada kondisi pH 4,5. Kompleks diukur panjang gelombang maksimumnya menggunakan spektrofotometer UV-Vis, selanjutnya dibuat kurva kalibrasi, dan diuji pengaruh ion Mg(II) terhadap analisa besi. Hasil menunjukkan bahwa ion Mg(II) mulai mengganggu analisa besi pada konsentrasi 0,04 ppm dengan persen (%) recovery sebesar 90,99% dengan Relatif Standar Deviasi (RSD) 2,24 ppt dan Koefisien Variasi (CV) 0,224%
Perbandingan Kadar Fe(II) dalam Tablet Penambah Darah secara Spektrofotometri UV-Vis yang Dipreparasi Menggunakan Metode Destruksi Basah dan Destruksi Kering
Telah dilakukan penelitian mengenai analisa perbandingan kadar Fe(II) dalam tablet penambah darah dengan metode destruksi basah dan destruksi kering. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui metode destruksi yang lebih efektif untuk analisa kadar Fe dalam tablet penambah darah. Tablet penambah darah yang digunakan adalah tablet S. Pengukuran kadar Fe(II) dilakukan dengan mereaksikan tablet penambah darah S dengan agen pengompleks 1,10-fenantrolin dan diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Panjang gelombang maksimum yang didapatkan adalah 509 nm dan nilai regresi (r2) pada kurva kalibrasi adalah 0,9953. Tablet penambah darah dipreparasi menggunakan destruksi basah dan destruksi kering. Hasil pengukuran kadar Fe(II) dengan metode destruksi basah adalah 99,6 mg dengan persentase Fe terukur sebesar 23,7% (237142,86 ppm), sedangkan kadar Fe(II) dengan metode destruksi kering adalah 26,69 mg dengan persentase Fe terukur sebesar 6,36% (63547,62 ppm). Hasil pengukuran tersebut menunjukkan bahwa destruksi basah lebih efektif untuk analisa kadar Fe(II) dalam tablet penambah darah
Studi Gangguan Ag(I) dalam Analisa Besi dengan Pengompleks 1,10-Fenantrolin pada PH 4,5 secara Spektrofotometri UV-Vis
Analisa besi ini dilakukan dengan menggunakan pereduksi natrium tiosulfat dan pengompleks 1,10-fenantrolin pada pH 4,5 secara spektrofotometri UV-Vis. Kompleks yang dihasilkan yaitu Fe(II)-1,10-fenantrolin yang berwarna merah-jingga memberikan serapan di daerah sinar tampak pada panjang gelombang maksimum 507 nm dan dapat diganggu oleh adanya ion Ag+ dengan cara menurunkan absorbansi. Ion Ag+ dipilih sebagai ion pengganggu dalam analisa besi ini karena perak dapat membentuk kompleks dengan 1,10-fenantrolin sehingga terjadi kompetisi antara perak dan besi untuk membentuk kompleks dengan 1,10-fenantrolin. Kompetisi ini dapat mempengaruhi nilai absorbansi. Penambahan ion Ag+ mulai mengganggu analisa penentuan besi pada penambahan 0,03 ppm dengan persen recovery sebesar 92,88 %; RSD sebesar 3,645 ppt; dan CV sebesar 0,364 %
