1,721,221 research outputs found
Cover Komposisi Musik Black And White Koreografer I Gusti Ngurah Sudibya
Abstrak
Rua Bineda adalah dua buah kata dalam kehidupan orang Bali yang berarti dua yang berbeda. Dua hal yang berbeda ini adalah suatu keadaan di mana keduanya tidak dapat dipisahkan tetapi berjalan seiring dengan perjalanan waktu. Keadaan ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yakni, adanya perbedaan waktu siang dan malam, pebedaan tingkah laku baik dan buruk, perbedaan lefel tinggi dan rendah, perbedaan kedudukan atasan dan bawahan, ada kiri dan kanan serta masih banyak hal lain yang dapat kita liha dalam kehidupan lita sehari-hari.
Hal serupa juga dusampaikan dalam buku Ensiklopedi Tari Bali bahwa dalam filsafat Rua Bineda yang diteraplan di dalam lakon-lakon bebarongan di Bali. Barong di Bali dianggap sebagai pihak yang baik dan Rangda dianggap sebagai pihak yang buruk atau jahat. Konsep dualism tetap hidup dalam pertunjukan barong, bahkan terdapat juga pada semua jenis lakon di Bali (Bandem, 1983:30)
Demikian juga rua bineda yang ditulis oleh Ida Bagus Darmika, bahwa konsep rua bineda ini merupakan keyakinan masyarakat bahwa, walaupun merupakan dua unsure yang selalu berbeda namun jika dihayati maka perbedaan tersebut sebenarnya proses penciptaan yang tujuannyauntuk mencapai kebahagiaan di mana keselarasan dan keseimbangan akan dapat terwujud dalam kehidupan di dunia ini. Ajaran ini berpean bahwa laki-perempuan, baik-buruk, mati-hidup neraka-surga, senang-susah, siang-malam, matahari-bulan bersama munculnya pergi dan dating. Jika tidak muncul keburukan maka waktu itu pula kebaikan akan menyertai, jika muncul kebaikan, maka bersama itu pula keburukan akan muncul sebab baik dan buruk itu tak terpisahkan (Moksartham Jagaddhita, 1995: 98).
Hal trsebutlah yang melatar belakangi garapan tari Blak & White karya I Gsusti Ngurah Sudibya, maka saya ketika diminta menggarap musik sebagai iringannya, tersirat dengan istilah lanang-wadon. Oleh karena itu, saya menginspirsaikan musik yang digarap cukup membutuhkan dua orang dan dua alat yang berbeda kultur budayanya. Di dalam kesempatan ini menggunakan kendang dan biola
KUALITAS TANAH PADA LAHAN YANG TERKENA DAMPAK LUAPAN AIR LAUT
Budidaya pertanian di lahan pesisir pantai di Desa Kepanjen Kabupaten Jember sudah lama dilakukan dan terus mengalami perluasan. Akan
tetapi banyak permasalahan yang timbul sehingga menyebabkan lahan tersebut menjadi tidak produktif lagi. Lahan pesisir Desa Kepanjen
Kecamatan Gumukmas pada tahun 2001 masih berproduksi dengan maksimal yang bisa digunakan untuk budidaya tanaman pangan
ataupun hortikultura, akan tetapi setelah rusaknya kelep penahan air laut maka lahan tersebut tidak mampu berproduksi dengan maksimal.
Lahan pertanian milik warga yang seluas kurang lebih 800 hektar menjadi tidak bisa berproduksi kembali. Diduga karena luapan air laut
yang banyak mengandung unsur Na yang membuat lahan tersebut menjadi salin. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mempelajari
kualitas tanah pada lahan yang terkena luapan air laut selama 13 tahun tersebut apakah kualitas tanahnya mendukung untuk produksi
tanaman pangan atau hortikultura. Penentuan kualitas tanah dilakukan dengan metode Pryncipal Component Analysis (PCA). Penentuan
jenis tanaman pangan yang sesuai dicocokan dengan menggunakan buku kesesuaian lahan FAO tahun 1983. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kualitas tanah pada lokasi penelitian berada pada katogori sedang – baik. Akan tetapi karena salinitas yang tinggi menyebabkan
kesesuaian lahan untuk tanaman pangan (Padi) pada lahan tersebut menjadi tidak sesuai (N)
IDENTIFIKASI KOEFISIEN LIMPASAN PERMUKAAN DI SUB DAS SUCO KECAMATAN
Perubahan penggunaan lahan telah menimbulkan terjadinya dampak negatif terhadap sumberdaya lahan dan air yang terjadi pada wilayah
Daerah Aliran Sungai (DAS). Alih guna lahan pada wilayah DAS mempengaruhi kondisi hidrologi DAS seperti erosi, degradasi lahan,
banjir, dan meningkatnya koefisien limpasan permukaan. Limpasan permukaan merupakan penyebab terjadinya erosi. Berbagai studi
mengemukakan bahwa limpasan permukaan digunakan untuk menghitung besarnya laju limpasan permukaan yang terjadi dengan
memperhatikan sifat-sifat fisik tanah. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi besarnya koefisien limpasan permukaan
tanah yang terjadi di sub DAS Suco kecamatan Mumbulsari, Jember. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar dalam pengelolaan
lahan berkelanjutan untuk mengurangi terjadinya erosi tanah. Satuan lahan digunakan sebagai satuan pemetaan utama. Satuan lahan ini
diperoleh dari hasil tumpang tindih dari dua peta: penggunaan lahan dan kemiringan lahan. Limpasan permukaan diidentifikasi dengan
metode Cook, sedangkan untuk sub DAS secara keseluruhan, koefisien limpasan permukaan dihitung dengan menggabungkan nilai-nilai
dari semua satuan lahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai koefisien limpasan permukaan beragam, mulai dari 0,0105
sampai 0,2575, sedangkan untuk limpasan permukaan secara keseluruhan adalah 62%. Berdasarkan nilai-nilai koefisien dan hasil survey
lapangan, disarankan bahwa diperlukan tindakan konservasi untuk perencanaan penggunaan lahan di daerah penelitian
PENILAIAN TINGKAT KEKRTITISAN LAHAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)
DAS bomo mempunyai permasalahan yang cukup komplek dimulai dari curah hujan yang tinggi, sering terjadinya longsor, tata guna
lahan yang kurang baik dan tidak adanya tindakan konservasi yang baik pada daerah DAS bomo, sehingga mengakibatkan DAS bomo
memiliki potensi terjadinya degradasi lahan yang cukup tinggi dibandingkan DAS lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat
kekritisan lahan di DAS Bomo. Penelitian dilaksanakan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bomo yang meliputi Kecamatan Songgon dan
Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi. Penilaian tingkat kekritisan lahan meliputi analsisa data biofisik lahan dari hasil pengamatan di
lapangan dan analisis tingkat kekritisan lahan yang dilakukan dengan metode skoring Selanjutnya diklasifikasi berdasarkan jumlah hasil kali
bobot dan skor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAS Bomo memiliki tingkat kekritisan yang terbagi kedalam 3 kelas, yaitu tidak
kritis, potensi kritis, dan agak kritis. Sebagian besar DAS Bomo bagian hulu berupa lahan tidak kritis yaitu sebesar 667,212 Ha atau
60,35%, sedangkan lahan potensial kritis yaitu sebesar 21,926 Ha atau 1,98 % dengan faktor pembatas utama yaitu tingkat kelerengannya
dengan nilai berkisar 24 - 45% lereng dan lahan agak kritis yaitu sebesar 416,439 Ha atau 37,67 % dari total luas wilayah pengamatan
dengan faktor pembatas utama yaitu tipe penggunaan lahan
STUDI FAKTOR PENYEBAB KERUSAKAN TANAH DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)
DAS Bomo berpotensi mengalami kerusakan tanah apabila tidak segera dilakukan konservasi dan penanganan yang baik. Kerusakan tanah
akan berakibat rusaknya sifat-sifat dasar tanah baik sifat fisik, kimia, dan biologi tanahnya, sehingga dapat mengganggu terhadap proses
produksi biomassa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab kerusakan tanah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bomo
Kabupaten Banyuwangi. Status kerusakan tanah berdasarkan pada pedoman kriteria status kerusakan tanah yang mengacu pada Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup No.150 Tahun 2000. Metode skoring dilakukan dengan mempertimbangkan frekuensi relatif tanah yang
tergolong rusak dalam suatu poligon. Hasil skoring status kerusakan tanah menunjukkan bahwa wilayah DAS Bomo bagian hulu tergolong
rusak ringan (R.I) dengan faktor pembatas yang berbeda-beda. Daerah yang tergolong status kerusakan tanah ringan dengan faktor pembatas
komposisi fraksi (R.I: f) seluas 51,61 Ha atau sekitar 4,67%. Daerah yang tergolong status kerusakan tanah ringan dengan faktor pembatas
porositas (R.I: v) seluas 15,86 Ha atau sekitar 1,43%. Daerah yang tergolong status kerusakan tanah ringan dengan faktor pembatas
permeabilitas (R.I: p) seluas 22,69 Ha atau sekitar 2,05%. Daerah yang tergolong status kerusakan tanah ringan dengan faktor pembatas
komposisi fraksi, dan permeabilitas (R.I: f, p) seluas 906,19 Ha atau sekitar 81,97%. Daerah yang tergolong status kerusakan tanah ringan
dengan faktor pembatas komposisi fraksi, porositas, dan permeabilitas (R.I: f, v, p) seluas 109,23 Ha atau sekitar 9,88
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Alat Permainan Tradisional Berbahan Bambu Sebagai Ide Kreatif Perancangan Bentuk instalasi Bambu
Tujuan penulisan ini adalah meneliti alat-alat permainan tradisional berbahan bambu sebagai ide kreatif
perancangan bentuk instalasi bambu. Alat permainan tradisional anak-anak berbahan bambu masih
digunakan sampai sekarang diantaranta, Engrang (tajog), Dagongan, Bedil Jepret, Rakku Alu, dan lain
sebagainya. Selain itu kebudayaan agraris Indonesia mengimplementasikan bahan bambu marasuk pada
fungsi guna kehidupan sehari-hari. Namun demikian sangat jarang ditemukan rancangan instalasi bambu
yang khusus menjadi bagian gerak tari. Permasalahan dalam penelitian adalah kenapa perlu di rancang
bentuk instalasi bambu sebagai bagian gerak, kemudian bagaimana proses konsep perancangan bentuk
instalasi bambu menjadi bagian bentuk koreo pertunjukan? Beberapa teori yang dijadikan landasan
penciptaan karya senirupa berbasis bambu antara lain: Menggunakan teori Graeme Sullivan dalam
menentukan praktik seni rupa sebagai penelitian, (2005), metode penciptaan MAL dalam merancang,
serta inter-komunikasi subyek dengan sumber utama I Gusti Ngurah Sudibya (koreografer). Mengasilkan
beberapa rancangan bentuk-bentuk visual kreatif bermedium bambu sebagia bagian subyek bentuk koreo
pertunjukan.
Kata Kunci: Alat Permainan Tradisional, Kreatif, visua
- …
