1,720,960 research outputs found
Simulasi Pengaruh Variasi Laju Bahan Bakar Tempurung Kelapa terhadap Efisiensi Termal Sistem Pembangkit Organic Rankine Cycle
Organic Rankine Cycle (ORC) merupakan siklus termal pada sistem pembangkit listrik yang memanfaatkan fluida kerja organik dengan titik didih rendah. Simulasi sistem ORC dilakukan untuk mengetahui performa dari sistem pembangkit listrik dalam kondisi kerja tertentu. Tujuan dari simulasi ini adalah mengetahui efisiensi termal sistem ORC dengan menggunakan bahan bakar biomasa tempurung kelapa, menganalisis hubungan laju bahan bakar dan suhu evaporator terhadap efisiensi termal serta merekomendasikan biomassa yang mampu bekerja secara optimum untuk sistem ORC. Fluida kerja yang digunakan adalah R134a. Simulasi dilakukan dengan variasi laju bahan bakar, laju aliran air, perbedaan suhu turbin, dan suhu kondensasi. Variasi laju bahan bakar yang dilakukan adalah 5 kg/jam, 7.5 kg/jam, dan 10 kg/jam, laju aliran air 1 lpm, 2 lpm, dan 3 lpm, perbedaan suhu turbin 15oC, 20oC, 25oC, dan 30oC serta suhu kondensasi 20oC, 25oC, dan 30oC. Efisiensi termal optimum didapatkan dengan nilai 13.4% pada saat laju massa bahan bakar 10 kg/jam dengan perbedaan suhu turbin 30oC dan suhu kondensasi 30 oC
Pengujian dan Analisis Desain Evaporator Dilengkapi dengan Phase Change Material (PCM) Berbahan Etilen Glikol.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan penghematan energi dari mini
chiller dengan menggunakan evaporator dilengkapi etilen glikol sebagai cool
thermal energy storage. Etilen glikol bekerja dengan prinsip penyimpanan kalor
sensibel yaitu memanfaatkan kapasitas termal dan perubahan suhu selama proses
dan penyimpanan kalor. Pengujian etilen glikol dilakukan dengan cara mematikan
kompresor ketika suhu air dalam sistem pendingin konstan dan dinyalakan
kembali ketika suhu air berubah dengan delta suhu sekitar 2 oC. Pengujian
performasi evaporator dengan etilen glikol pada mini chiller dilakukan dengan
variasi tekanan dan laju aliran air. Variasi tekanan setelah needle valve diatur dari
1.4 bar, 1.8 bar dan 2.4 bar serta variasi laju aliran air dingin diatur dari 1 l/menit,
2 l/menit dan 3 l/menit. Persentase penghematan energi oleh evaporator dengan
etilen glikol pada semua variasi tekanan relatif sama berkisar antara 16 % sampai
dengan 28 %. Persentase penghematan terbesar pada tekanan setelah needle valve
1.4 bar, 1.8 bar, dan 2.4 bar ditunjukan pada laju aliran air sebesar 1 l/menit yaitu
sebesar 17.86 %, 19.25 % dan 28.81 %. Pada variasi tekanan setelah needle valve
1.4 bar COP rata-rata yang dihasilkan sebesar 2.30 sampai 2.40. Pada variasi
tekanan setelah needle valve 1.8 bar COP rata-rata yang dihasilkan sebesar 2.26
sampai 2.62. Pada variasi tekanan setelah needle valve 2.4 bar COP rata-rata yang
dihasilkan sebesar 2.46 sampai 3.07
Simulasi Potensi Energi Termal pada Penggunaan Tempurung Kelapa sebagai Sumber Energi Model Organic Rankine Cycle
Pemilihan fluida kerja dalam sistem pembangkit Organic Rankine Cylce (ORC)
akan mempengaruhi kinerja dari ORC dan efisiensi termal kerja sistem. Tujuan dari
penelitian ini adalah simulasi untuk mencari fluida kerja yang optimal pada sistem ORC
berbahan bakar tempurung kelapa dan kondisi kerjanya, serta rekomendasi penggunaan
software general dalam proses simulasi seperti EES. Fluida kerja yang disimulasikan
adalah R-134a dan R-414B pada tekanan kerja 10 bar, fluida kerja R-404A dan R-407C
pada tekanan kerja 15 bar, dan fluida kerja R-410A pada tekanan kerja 21 bar. Simulasi
dilakukan dengan dua software, yaitu software Cycle Tempo dan EES dengan logika
pemrograman interpolasi, dan properti fluida kerja didapat dari software REFPROP.
Variasi kondisi simulasi adalah suhu masuk turbin, perbedaan suhu turbin, suhu
kondensasi, dan laju aliran air pemanas. Hasil simulasi baik dengan software Cycle Tempo
dan EES didapat bahwa efisiensi tertinggi dan daya tertinggi dicapai oleh fluida kerja
R-404A yaitu efisiensi termal diatas 7 %. Kondisi ini dicapai pada suhu masuk turbin
60 ˚C, perbedaan suhu turbin 15 ˚C, suhu kondensasi 25 ˚C, serta laju aliran air pemanas
3 lpm. Nilai rata-rata koefesien koherensi pada kedua simulasi yang dilakukan adalah
0.9465 atau tingkat kesetaraan hasilnya adalah 94.65 %
Pengaruh Fotoperiodisme dan Media Tanam terhadap Inisiasi Pembungaan Bawang Merah (Allium ascalonicum) di Mini Plant Factory.
Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki suhu lebih dari 18oC
dengan lama penyinaran matahari rata-rata di bawah 12 jam sehingga
menyebabkan produktivitas bakal bunga bawang merah di Indonesia rendah.
Mini plant factory merupakan sistem manipulasi lingkungan terkendali yang
dapat menyediakan lingkungan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh fotoperiodisme menggunakan
cahaya buatan serta dan media tanam terhadap inisiasi pembungaan bawang
merah. Perlakuan yang digunakan adalah lama penyinaran dan warna LED.
Bawang merah dibagi menjadi tiga kelompok lama penyinaran, yaitu 12 jam,
16 jam, dan 20 jam dan kemudian dibagi lagi menjadi dua kelompok warna
LED, yaitu growth LED dan white LED. Bawang merah ditanam pada dua
kelompok media tanam yang berbeda, yaitu tanah dan sekam mentah (media
tanam A) serta tanah, cocopeat, dan arang sekam (media tanam B). Mini plant
factory mampu memanipulasi lingkungan dengan kisaran suhu 16oC hingga
18oC dengan kelembaban udara 73% sampai 34 HST, namun pada saat
perlakuan stress suhu ruangan rata-rata tidak sesuai karena adanya panas dari
udara luar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penyinaran dan warna
LED berbeda nyata terhadap inisiasi pembungaan sedangkan media tanam
tidak berbeda nyata. Bakal bunga tanaman dengan perlakuan lama penyinaran
20 jam yang disinari growth LED berjumlah 60 buah dengan persentase
pembungaan 100%. Perlakuan lainnya adalah tanaman dengan perlakuan
lama penyinaran 16 jam yang disinari white LED memiliki persentase 100%,
namun bakal bunga yang dihasilkan berjumlah 40 buah. Berdasarkan hasil
penelitian, tanaman perlakuan growth LED dengan lama penyinaran 20 jam
merupakan perlakuan paling optimum dalam meningkatkan produktivitas
bakal bunga bawang merah
Kajian Pemanfaatan Asap Cair Tempurung Kelapa sebagai Bahan Koagulan Lateks dalam Pengolahan Ribbed Smoked Sheet (RSS) dan Pengurang Bau Busuk Bahan Olahan Karet
Ribbed Smoked Sheet (RSS) adalah salah satu jenis produk olahan karet alam yang berasal dari lateks/getah tanaman karet Hevea brasiliensis yang diolah secara teknik mekanis dan kimiawi dengan pengeringan menggunakan rumah asap serta mutunya memenuhi standard The Green Book dan konsisten. Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh petani karet adalah rendahnya mutu sit yang dihasilkan karena bahan pembeku yang digunakan tidak dapat mencegah pertumbuhan bakteri yang merusak protein sehingga nilai plastisitas PRI (Plasticity Retention Index) menjadi rendah. Bahan baku yang diperoleh dari kelompok tani mempunyai tingkat kontaminasi yang tinggi karena bahan dasar yang digunakan sebagai bahan pembekunya bermacam-macam. Pada kebun inti bahan pembeku yang biasa digunakan adalah asam format (asam semut), sedangkan bahan pembeku yang biasa digunakan oleh para petani adalah air perasan buah-buahan, tawas dan pupuk TSP. Kerusakan serta degradasi protein pada karet akibat bahan baku yang kurang baik juga dapat menyebabkan terbentuknya gas amoniak (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S) yang menimbulkan bau busuk menyengat pada bahan olahan karet sejak dari kebun sampai di pabrik karet. Asap cair merupakan suatu hasil kondensasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran secara langsung maupun tidak langsung dari bahan-bahan yang banyak mengandung lignin, selulosa, hemiselulosa serta senyawa karbon lainnya. Kandungan kimia yang terdapat di dalam asap cair diantaranya adalah fenol, asam dan karbonil. Komponen-komponen tersebut berpotensi sebagai alternatif bahan koagulan pengganti asam semut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan asap cair tempurung kelapa sebagai bahan koagulan lateks dalam pengolahan karet RSS serta pengurang bau tak sedap/busuk pada bahan olahan karet dalam pengolahan karet alam. Hasil yang diharapkan adalah untuk mengetahui pemanfaatan dan cara penggunaanya dalam proses pengolahan yang lebih efisien serta memenuhi standar karet sit yang sesuai dengan permintaan pasar
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
