1,721,136 research outputs found

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Pengembangan tes beserta penyelidikan, validitas dan realiobilitas secara empiris

    No full text
    viii, 136 hlm.: 25 c

    Metodologi Penelitian : Pendidikan Biologi dan Pendidikan Sains Pada Umumnya

    No full text
    viii, 185 hlm.: 23 c

    Biometri 1

    No full text
    73 p.; 30 cm

    Pengukuran Keterampilan Proses Sains Pola Divergen Dalam Mata Pelajaran Biologi SMA di Provinsi DIY dan Jawa Tengah

    No full text
    Penelitian ini bertujuan mengetahui penguasaan berpikir pola divergen keterampilan proses sains mata pelajaran Biologi SMA, meliputi keterampilan dasar, keterampilan mengolah, dan keterampilan melakukan investigasi. Penelitian melalui dua tahapan, yakni tahap pengembangan instrumen—yang disertai uji coba untuk memperoleh bukti empiris, dan tahap pengukuran. Penyusunan instrumen didahului dengan penyusunan abstract continuum berupa rumusan learning continuum keterampilan proses sains untuk rujukan penyusunan kisi-kisi item pengukur kemampuan berpikir divergen. Learning continuum, kisi-kisi item, dan itemnya ditelaah melalui focus group discusion. Tes untuk uji coba terdiri atas enam perangkat subtes dilengkapi anchor item pada tiap subtes. Tes untuk tahap pengukuran terdiri atas empat perangkat subtes juga dilengkapi dengan anchor item pada tiap subtes. Tes untuk tahap pengukuran dikemas menggunakan item yang terbukti fit dengan model pada uji coba. Masing-masing perangkat tes memuat 20% anchor item untuk equating. Uji coba menggunakan sampel minimal 250 dan untuk tahap pengukuran menggunakan minimum 500. Data politomus tiga kategori dianalisis mengikuti Partial Credit Model dan data dikotomus dianalisis mengikuti Rasch Model menggunakan program QUEST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek dan subaspek keterampilan proses sains yang ada di dalam rumusan learning continuum tidak semuanya ada dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar dari standar isi mata pelajaran Biologi SMA. Hasil uji coba dan tahap pengukuran menunjukkan bahwa berdasarkan kriteria mean INFIT MNSQ 1,0 dan simpangan baku 0,0 tes terbukti fit dengan Pratial Credit Model untuk data politomus tiga kategori, dan tes fit dengan Rasch Model untuk data dikotomus. Berdasarkan kriteria batas terendah dan tertinggi INFIT MNSQ sebesar 0,77 dan 1,30 ada tiga dari seluruh item tes uji coba, sebanyak 126 item, tidak fit dengan Partial Credit Model untuk data politomus tiga kategori, dan ada dua dari seluruh item tes tidak fit dengan model Rasch untuk data dikotomus. Berdasarkan kriteria yang sama, seluruh item tes tahap pengukuran (85 item) fit dengan Partial Credit Model untuk data politomus tiga kategori, dan seluruh item tes fit dengan model Rasch untuk data dikotomus. Reliabilitas tes uji coba dan tes tahap pengukuran terutama untuk data politomus tiga kategori cukup baik. Pada uji coba, koefisien alpha Cronbach 0,31 dan indeks sparasi person 0,71. Pada tahap pengukuran, koefisien alpha Cronbach 0,33 dan indeks sparasi person 0,71. Reliabilitas tes uji coba dan tes tahap pengukuran untuk data dikotomus juga cukup baik. Pada uji coba, koefisien KR-20 0,45 dan indeks sparasi person 0,60. Pada tahap pengukuran, koefisien KR-20 0,42 dan indeks sparasi person 0,54. Skor keterampilan proses sains pola divergen terendah -,352 dan tertinggi +1,21 dari rentang ideal -4,0 sampai +4,0. Rata-rata skor untuk aspek keterampilan dasar -0,78, untuk aspek keterampilan mengolah/memroses +0,01, dan aspek melakukan investigasi +0,93. Dalam pola divergen, keterampilan merekam data/informasi merupakan keterampilan dasar yang tersukar, sedangkan yang termudah adalah keterampilan melakukan pengamatan. Keterampilan membuat inferensi merupakan keterampilan tersukar dalam keterampilan mengolah, sedangkan yang termudah adalah keterampilan membuat prediksi. Keterampilan melakukan investigasi menunjukkan skor terendah sampai skor tertinggi berturut-turut adalah dalam hal merancang investigasi, melaksanakan investigasi, dan melaporkan hasil investigasi. Secara keseluruhan skor testi jauh dari memuaskan. Hanya 22% testi yang berada di atas nilai tengah yang diharapkan untuk data politomus tiga kategori menurut Partial Credit Model. Presentase testi yang berada di atas nilai tengah yang diharapkan tinggal 1,17% untuk data dikotomus menurut Rasch Model. Hal tersebut menunjukkan kurve distrubusi skor testi melandai ke arah kanan. Kemungkinan besar karena peserta didik kurang dilatih melaksanakan keterampilan proses sains untuk menemukan konsep dan tidak biasa mengerjakan tes uraian nonobjektif. Skor keterampilan proses sains dengan penskalaan politomus tiga kategori menunjukkan bahwa peserta didik kelas XI IPA memiliki skor tertinggi, diikuti dengan peserta didik kelas X dan kelas XII IPA. Dari 13 SMA yang diuji hanya ada empat SMA yang menunjukkan skor terendah pada peserta didik kelas X, diikuti dengan skor kelas XII IPA sama atau lebih tiggi dari kelas XI IPA. Ketidaksiapan peserta didik kelas XII dan cara pandang mereka terhadap tes diduga sebagai faktor penyebab. Implikasi penelitian bagi peneliti bahwa rumusan learning continuum keterampilan proses sains yang sudah divalidasi melalui expert judgement dapat dibuat abstract continuum untuk melakukan pengukuran penguasaan keterampilan proses sains, baik dalam pola konvergen maupun divergen mata pelajaran IPA pada jenjang SD/MI dan SMP/MTs, mata pelajaran Biologi maupun mata pelajaran Fisika dan Kimia pada jenjang SMA/SMK SLTA, juga untuk mata kuliah rumpun IPA di perguruan tinggi. Implikasi bagi guru dapat menerapkan pengukuran keterampilan proses sains untuk dasar penyelenggaraan assessment for learning. Pengukuran keterampilan proses sains pola divergen pada tigabelas SMA tertunjuk hanya untuk mengetahui keberfungsian tes yang sudah dikembangkan, yang telah memiliki bukti empirik. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui penguasaan keterampilan proses sains dalam rangka pembandingan antar tempat maupun antar tahun dengan sampel yang representatif. Penelitian lanjutan juga dapat dilakukan untuk mengetahui keterkaitan antara penguasaan keterampilan proses sains dengan strategi pembelajaran yang dikenakan dalam mata pelajaran Biologi

    Prinsip asesmen dan evaluasi pembelajaran

    No full text
    vi, 190 hlm.: 23 c

    Biometri

    Get PDF
    corecore