254 research outputs found
PENERAPAN METODE PEER TUTORING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MENJAHIT CELANA ANAK LAKI-LAKI SISWA KELAS X BUSANA BUTIK SMK KARYA RINI SLEMAN
PENERAPAN METODE PEER TUTORING UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MENJAHIT CELANA ANAK LAKI-LAKI
SISWA KELAS X BUSANA BUTIK SMK KARYA RINI SLEMAN
Oleh :
Sri Murtini
NIM 13513247004
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode peer tutoring pada pembelajaran menjahit celana anak laki-laki mata diklat membuat busana anak siswa kelas X Busana Butik SMK Karya rini Sleman, 2) peningkatan kompetensi menjahit celana anak laki-laki menggunakan metode peer tutoring pada mata diklat membuat busana anak siswa kelas X Busana Butik SMK Karya Rini sleman.
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif dengan desain penelitian Kemmis dan Taggart yang terdiri dari dua siklus. Alur penelitian tindakan kelas terdiri dari “Perencanaan-Tindakan dan Observasi-Refleksi”. Penelitian dilaksanakan di SMK Karya Rini Sleman. Subyek penelitian ditentukan berdasarkan populasi yaitu teknik penentuan sample dengan mengambil semua anggota yang tinggal dalam satu tempat tertentu. Kelas yang diteliti kelas X Busana Butik SMK Karya Rini Sleman Program Keahlian Busana Butik yang berjumlah 22 siswa dengan nilai dibawah 75. Teknik pengumpulan data menggunakan penilaian sikap, unjuk kerja dan test multiple choise. Validitas berdasarkan Judgment Experts, seperti ahli evaluasi pembelajaran, ahli metode pembelajaran, dan ahli materi membuat busana anak. Hasil validasi menunjukkan bahwa evaluasi, metode dan materi yang digunakan sudah layak dan instrument dinyatakan sudah valid. Reliabilitas menggunakan KR-20 dan antar rater. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif.
Hasil penelitian meliputi 1) pelaksanaan pembelajaran tahap pendahuluanpembelajaran diawali dengan doa dan presensi. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, memberikan apersepsi dan membagikan joobsheet. Tahap pelaksanaan yaitu guru membagi siswa kedalam kelompok peer tutoring, menjelaskan tentang cara penyelesaian tugas menggunakan metode peer tutoring. Guru menjelaskan materi menjahit celana anak laki-laki. Siswa berdiskusi dalam mengerjakan tugas dengan kelompoknya. Guru mengamati aktivitas siswa. Selanjutnya tahap penutup guru dan siswa merangkum materi pembelajaran dan menanyakan hal-hal yang siswa kurang pahami pada guru. Guru menilai pengetahuan siswa dengan tes multiple choise.2) peningkatan pencapaian kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu sebelum dilakukan tindakan pada pra siklus 44% siswa atau 10 siswa yang belum KKM, setelah dilakukan tindakan siklus pada siklus I pencapaian kompetensi siswa meningkat 78% siswa atau 17 siswa sudah memenuhi KKM, dan setelah tindakan siklus II meningkat menjadi 90% siswa atau 20 siswa sudah memenuhi KKM. Dalam pembelajaran menjahit celana anak laki-laki dengan menggunakan metode peer tutoring dapat membantu siswa memahami materi sehingga ketuntasan belajar siswa meningkat. Uraian di atas menunjukkan bahwa penerapan metode peer tutoring dapat meningkatkan kompetensi menjahit celana anak laki-laki.
Kata kunci : Kompetensi, Menjahit Celana Anak Laki-Laki, Metode Peer Tutoring
Pengetahuan Kesejahteraan Hewan pada Mahasiswa Strata 1 di Jabodetabek
Kesejahteraan hewan merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam
pemeliharaan hewan baik hewan ternak dan hewan peliharaan lainnya. Mahasiswa
program strata 1 merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki tingkat
pengetahuan lebih dan sebagai agen perubahan, sehingga mampu menularkan
pengetahuannya pada masyarakat. Pengetahuan kesejahteraan hewan perlu
diketahui oleh mahasiswa baik sebagai pemilik hewan maupun tidak agar dapat
menularkan pengetahuannya pada masyarakat dilingkungannya. Pengetahuan
kesejahteraan hewan pada mahasiswa strata 1 di wilayah Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) belum pernah ada informasinya. Tujuan
penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan kesejahteraan hewan dari
mahasiswa strata 1 dan hubungan antara program studi mahasiswa strata 1 atau
sederajat dengan pengetahuan dalam penerapan kesejahteraan hewan pada
kalangan mahasiswa strata 1 di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Data diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan dengan Google forms selama
satu bulan dan dianalisis secara deksriptif serta di uji Chi Square. Sampel yang
berhasil dikumpulkan sebanyak 56 responden mahasiswa yang dibagi 2 kelompok
program studi yaitu eksakta yang terdiri dari sains dan teknik dan sosial yang
terdiri dari humaniora dan bisnis. Pengetahuan kesejahteraan hewan dengan skor
penilaian tertinggi pada prinsip bebas dari rasa haus dan lapar, bebas dari
ketidaknyamanan, dan bebas dari rasa sakit, terluka, dan penyakit diperoleh dari
mahasiswa program studi humaniora. Kriteria penilaian tertinggi pada prinsip
bebas dari rasa takut dan tertekan diperoleh dari mahasiswa program studi teknik,
sedangkan kriteria penilaian tertinggi pada prinsip bebas untuk mengekspresikan
perilaku alami diperoleh mahasiswa program studi bisnis. Latar belakang
pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pengetahuan
kesejahteraan hewan
Penanaman pemahaman konsep kesejahteraan hewan pada anak usia dini di tk agriananda ipb dramaga bogor sebagai salah satu cara pembentukan sikap simpati dan empati dalam upaya menekan tindak kriminalitas
Perburuan liar, penebangan hutan secara liar, bahkan pembunuhan semakin sering terjadi. Hal-hal tersebut karena kurangnya rasa simpati dan empati dari individu pelaku tindak kejahatan. Oleh karena itu, diperlukan pengubahan pola pikir dari masyarakat mengenai kesejahteraan hewan. Masyarakat yang paling tepat untuk ditanamkan pemahaman konsep kesejahteraan hewan adalah anak-anak usia dini, di mana pada usia tersebut dalam masa perkembangan dan masa pembelajaran yang aktif sehingga sangat efektif dalam menanamkan konsep kesejahteraan hewan. Penanaman pemahaman konsep kesejahteraan hewan pada anak-anak tidak hanya untuk mencegah tindakan kekerasan terhadap hewan namun juga membentuk kepribadian anak-anak menjadi lebih bertanggung jawab, menimbulkan sikap simpati dan empati sehingga dapat mencegah pembentukan jiwa egoisme yang sering menyebabkan perilaku kriminal saat dewasa nanti. Konsep kesejahteraan hewan merupakan suatu pemahaman bahwa hewan juga memiliki hak hidup yang sama dengan manusia yaitu mereka membutuhkan makanan dan minuman, tempat hidup yang layak, seperti kandang yang terlindung dari hujan dan panas, bebas dari rasa ketakutan dan tekanan, serta bebas dari rasa sakit. Anak-anak diberikan pengetahuan mengenai konsep ini, seperti jenis-jenis hewan, prilaku setiap hewan, cara hidup serta cara merawat hewan-hewan tersebut. Proses pembelajaran dibuat dengan konsep belajar sambil bermain karena pada usia anak-anak TK bermain adalah hal yang paling mereka sukai. Program ini diharapkan mampu membentuk pola pemikiran masyarakat bahwa kesejahteraan hewan itu penting demi kesejahteraan hidup manusia. Program ini juga diharapkan dapat membentuk karakter baik pada anak-anak sehingga mereka menjadi cinta makhluk hidup dan lingkungan yang ada di sekitar mereka.Dikt
Studi Seroprevalensi Avian Influenza pada Unggas Peliharaan Masyarakat di Kecamatan Lore Utara Kabupaten Poso Sulawesi Tengah.
Avian Influenza (AI) disease has a huge impact on poultry and human health. These disease caused by influenza virus type A that belongs to family of Orthomyxoviridae. These viruses have two different levels of virulence which is LPAI and HPAI. Wild waterfowls especially Anseriformes (duck, muscovy duck and geese) are the natural reservoir for avian influenza virus and shown subclinical manifestations, which does not display any clinical symptoms. The spreading pattern of AI virus is usually influenced by seasons, where the prevalence of AI was reported to be fall in the rainy seasons. The research aims to determined the seroprevalence of AI in native bird the North Lore, Poso, Central Sulawesi. A total of 22 samples serum of chicken and 23 samples of muscovy duck taken in purposive in Wuasa, Napu and Sedoa village. Samples were tested with Haemagglutination Inhibition Test (HI Test). The results showed that the percentage of positive seroprevalence in the chicken in Napu was 57% and 33% in Sedoa village, with the GMT value of each 20.57 and 20.87, while the serum of muscovy duck from three villages showed a negative result with antigen AI virus or zero seroprevalence
Karakterisasi Protein IgG Anti Escherichia coli Asal Kolostrum Sapi yang Dimikroenkapsulasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakterisasi IgG anti
Escherichia coli asal kolostrum sapi setelah dimikroenkapsulasi. Sampel yang
digunakan yaitu IgG standar, IgG hasil dialisis kolostrum (tidak
dimikroenkapsulasi, sebagai kontrol) dan IgG yang dimikroenkapsulasi dengan
penyalut alginat-kitosan. Sampel mikrokapsul IgG dibuat dengan rasio antara
alginat dan kolostrum masing-masing sebesar 80:20 (P1), 70:30 (P2) dan 60:40
(P3). Karakterisasi protein dilakukan dengan metode Sodium Dodecyl Sulphate
Polyacrilamide Gel Electroforesis (SDS PAGE). Hasil pengamatan menunjukkan
bahwa semua IgG (standar, kontrol dan sampel mikrokapsul) mempunyai pita
protein IgG dan rantai berat dengan berat molekul masing-masing berkisar antara
157.01-184.30 kDa dan 51.74-56.31 kDa. IgG hasil dialisis kolostrum dan sampel
mikrokapsul masing-masing mempunyai dua pita protein yang diidentifikasi
sebagai laktoferrin dan enzim inhibitor. Perbedaan pada rasio kolostrum dan
alginat tidak mengubah struktur protein IgG
Histopatologi Otot Paha Ayam Sentul Dengan Antibodi Maternal Anti-Myostatin.
Ayam sentul merupakan ayam lokal unggulan yang memiliki produktivitas cukup baik dan juga sebagai ayam dwiguna. Berdasarkan keunggulan ayam sentul tersebut, inisiatif untuk meningkatkan produktivitas ayam Sentul dalam menghasilkan daging yang lebih tinggitelah diambil. Salah satu upaya untuk
meningkatkan produksi daging adalah melalui manipulasi pertumbuhan otot untuk meningkatkan massa otot pada ayam sentul denganmenghambat kerja protein
myostatin melalui pemberian anti-myostatin (MSTN). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan gambaran histopatologis otot paha ayam sentul yang memiliki antibodi maternal anti-myostatin. Ayam indukan betina sebanyak 38
ekor dibagi tiga kelompok yaitu kelompok kontrol, KLH dan MSTN. Kelompok kontrol (CON) tidak diberi perlakuan, kelompok KLH disuntik dengan 1 mg
Keyhole Limpet Hemocyanin, dan kelompok MSTN disuntik dengan 1 mg MSTN
yang dikonjugasi dengan KLH, secara intramuskular. Semua ayam betina dikawinkan dengan ayam jantan, dan telur diinkubasi serta ditetaskan di mesin tetas. Tiga anak ayam dari masing-masing kelompok disembelih pada umur 12 minggu dan diambil sampel otot paha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok MSTN memiliki diameter serabut otot yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok CON dan KLH. Penelitian ini menunjukan bahwa antibodi antimyostatin
asal induk dapat meningkatkan massa otot paha ayam sentul
Deteksi Keberadaan Antibodi Anti-Escherichia coli di Dalam Serum Sapi Neonatus yang Diberi Kolostrum dengan Metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran antibodi di dalam serum sapi neonatus yang ditantang dengan Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC) K99 sebelum dan setelah pemberian kolostrum. Sebelas ekor sapi neonatus jenis Friesian Holstein (FH) yang sehat secara klinis dipelihara sejak kelahiran sampai umur satu minggu. Sapi neonatus dikelompokan menjadi dua, yaitu kelompok kolostrum (8 ekor) dan kelompok non-kolostrum (3 ekor). Umur 0-72 jam, kelompok kolostrum diberi kolostrum dengan interval 12 jam, sedangkan kelompok non-kolostrum diberi susu sapi dengan waktu yang sama seperti kelompok kolostrum. Saat berumur 12 jam, semua kelompok perlakuan ditantang dengan ETEC K99 sebanyak 5X1010 CFU yang diemulsikan di dalam alhidrogel dan diberikan secara peroral. Pengambilan sampel darah dari vena jugularis dilakukan pada umur ke-0 (kontrol), 12, 24, 48, 72, dan 168 jam untuk mengetahui keberadaan antibodi di dalam serum dengan menggunakan uji ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay) tidak langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok kolostrum, antibodi terdeteksi sejak 12 jam pemberian dengan konsentrasi tertinggi pada umur 24 jam, sedangkan pada kelompok non-kolostrum tidak terdeteksi adanya antibodi pada semua umur. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa antibodi asal kolostrum dapat terdeteksi pada sapi neonatus yang diberi kolostrum sejak 12 jam sampai satu minggu setelah pemberian. Konsentrasi antibodi terhadap E. coli tertinggi adalah pada 24 jam setelah pemberian.The aim of this research is to study the present of antibody against E. coli in the sera of neonates calf which given colostrum and challenged by enterotoxigenic Escherichia coli (ETEC) K99. Eleven neonates calves were clinically healthy kept since birth until the age of one week.This neonates calves are divided into two groups, first group is colostrums group (8 calves) and the other is non-colostrum group (3 calves). Colostrum group were given colostrum on age 0-72 hours with 12 hours interval, whereas non-colostrum group are given cow milk at the same time. Each group were challenge by ETEC K99 5X1010 CFU emulsion it in alhydrogel peroral at the 12 hours of age. Blood sample were taken from jugularis vein on age 0th, 12th, 24th, 48th, 72th, and 168th hours. The present of antibody in the sera detecting by indirect ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay Method). The result showed of the highest concentration of antibody in the sera at 24 hours of age for colostrums group, whereas no antibody against E. coli were detected for non-colostrums group . Based on the results, we concluded the concentration of antibody in colostrum can detection at 24 hours until one week after given colostrum. The highest concentration of antibody anti- E. coli in 24 hours after given colostrum
Kesejahteraan Hewan Kucing Ras pada Cattery di Wilayah Jabodetabek.
Peningkatan gaya hidup masyarakat untuk memelihara kucing ras murni,
mendorong pertumbuhan peternakan kucing atau cattery di Indonesia. Kucing ras
murni adalah kucing yang memiliki garis keturunan yang tercatat di asosiasi
internasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur implementasi
kesejahteraan kucing ras pada peternak kucing di Jabodetabek. Data didapatkan
dari sepuluh cattery yang terdiri atas lima cattery senior dan lima cattery junior
mulai Oktober sampai November 2018. Penelitian ini dilakukan dengan observasi
dan wawancara menggunakan formulir survei dan kuisioner dengan skor 1-4
berdasarkan lima prinsip kesejahteraan hewan, yaitu bebas dari lapar dan haus,
bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari sakit, cedera dan penyakit, bebas dari
rasa takut dan tertekan serta bebas mengekspresikan perilaku alamiah. Uji regresi
juga dilakukan untuk mengukur pengaruh usia dan pengerahuan cattery terhadap
kesejahteraan kucing. Hasil penelitian menunjukan implementasi kesejahteraan
kucing ras pada cattery di Jabodetabek pada kategori sedang dan baik. Sebanyak
30% cattery masuk kedalam kategori sedang dengan skor berkisar 3.45-3.48 dan
sebanyak 70% cattery masuk kedalam kategori baik dengan skor 3.57-4.00.
Implementasi pada prinsip bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit memiliki
nilai rataan terendah (3.61) dibandingkan prinsip lain. Sebanyak 30% cattery tidak
memiliki ruang isolasi untuk kucing sakit dan 10% cattery masuk pada kategori
kurang pada komponen biosekuriti. Usia cattery dan pengetahuan kesejahteraan
hewan pemilik cattery tidak berpengaruh secara signifikan terhadap implementasi
kesejahteraan kucing
Peranan Imunomodulator dalam Pembentukan Antibodi Anti H5N1 pada Sapi FH Bunting yang Divaksinasi dengan Vaksin AI H5N1 Unggas
Flu burung merupakan salah satu penyakit zoonotik yang dapat
menyebabkan kematian pada unggas maupun manusia. Imunisasi pasif melalui
pemberian IgG terapi yang dapat dilakukan pada kasus infeksi pada manusia.
Salah satu sumber IgG adalah kolostrum sapi dari induk sapi yang bisa diperoleh
dengan memanfaatkan kelebihan produksi kolostrum yang tidak dikonsumsi
semuanya oleh anak sapi. Produksi kolostrum hiperimun dapat dilakukan dengan
cara melakukan vaksinasi pada induk sapi bunting. Penelitian ini bertujuan untuk
mempelajari pengaruh pemberian imunomodulator terhadap kemampuan induk
sapi bunting yang divaksinasi menggunakan vaksin H5N1 unggas dalam
membentuk antibodi anti H5N1. Sebanyak 9 ekor induk sapi FH yang sedang
bunting trimester akhir dalam kondisi sehat secara klinis dibagi menjadi tiga
kelompok perlakuan yaitu kelompok sapi yang tidak diberi perlakuan, kelompok
sapi yang divaksinasi, serta kelompok sapi yang divaksinasi dengan pemberian
imunomodulator sebelum vaksinasi dilakukan. Vaksinasi dilakukan setelah
pemberian antigen H5N1 tanpa adjuvan sebanyak tiga kali dengan interval dua
minggu. Pengambilan sampel darah dilakukan sebanyak empat kali yaitu sebelum
vaksinasi dilakukan, dua minggu setelah vaksinasi pertama, dua minggu setelah
vaksinasi kedua, dan dua minggu setelah vaksinasi ketiga. Hasil penelitian
menunjukkan adanya perbedaan nyata pada kelompok sapi yang diberikan
imunomodulator baik dalam kemampuan kecepatan waktu pembentukan antibodi
maupun nilai titer antibodi dibandingkan dengan kelompok sapi yang tidak diberi
imunomodulator. Kesimpulan dari penelitian ini adalah imunomodulator dapat
meningkatkan kecepatan waktu pembentukan dan titer antibodi anti H5N1 pada
serum sapi yang divaksinasi menggunakan vaksin H5N1
Potensi Vaksin Aktif Rabies dalam Menginduksi Kekebalan pada Anjing di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.
Rabies adalah penyakit pada hewan yang bersifat zoonotik yang selalu berakhir dengan kematian. Vaksinasi merupakan salah satu bentuk pencegahan dan pengendalian penyakit rabies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan vaksin aktif rabies dalam menginduksi kekebalan tubuh anjing yang berada di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Vaksin rabies yang banyak digunakan di Indonesia adalah Nobivac dan Rabisin. Deteksi antibodi rabies sangat penting dilakukan untuk mengetahui efektivitas vaksinasi. Berdasarkan pengujian serologis, diperoleh data antibodi seropositif keseluruhan saat pra vaksinasi 18.60% (8 dari 43) dan pasca vaksinasi 72.1% (31 dari 43) dengan respon tanggap kebal yang berbeda di setiap desa. Tingkat cakupan keefektifan vaksinasi yang direkomendasikan oleh WHO, yaitu sebesar 70%. Anjing dengan kondisi seropositif pra vaksinasi mengindikasikan adanya paparan antigen yang berasal dari hasil vaksinasi sebelumnya. Program vaksinasi rabies di Kecamatan Cisolok menunjukkan adanya peningkatan antibodi seropositif yang signifikan. Hal tersebut disebabkan oleh penggunaan vaksin aktif rabies yang berpotensi menginduksi kekebalan anjing di kecamatan tersebut
- …
