1,720,956 research outputs found
KARAKTERISTIK KANDUNGAN DNA, RNA, PROTEIN DAN KOLESTEROL OTOT DADA (M. PECTORALIS MAJOR) DAN OTOT PAHA (M. GASTROCNEMIUS) AYAM LOKAL PEDAGING UNGGUL AKIBAT SUBSTITUSI PAKAN FERMENTASI KIAPU (PISTIA STRATIOTES L)
Penelitian terkait peningkatan mutu genetik ayam lokal telah dilakukan di Laborotorium Lapang Peternakan, Universitas Syiah Kuala untuk menghasilkan ayam lokal pedaging unggul (ALPU) yang bertujuan meningkatkan kecepatan pertumbuhan dan produksi. Keunggulan ALPU sebagai alternatif kandidat ayam pedaging karena pertumbuhan cepat dan dapat dipanen pada umur 6 minggu dengan nilai jual yang lebih menguntungkan (Yaman, 2010). Saat ini, turunan ayam ALPU terus dikembangkan dengan pendekatan genetik, produksi dan reproduksi untuk menghasilkan ayam lokal komersial dengan kemampuan produksi yang lebih optimal. Untuk itu perlu dipelajari lebih lanjut peran mekanisme pertumbuhan intraseluler kaitan fungsi pakan dengan sintesis protein pada komponen utama produksi ayam pedaging yaitu otot dada dan otot paha dalam memacu produksi ALPU. Penelitian diperlukan guna menentukan strategi lebih lanjut dalam memanfaatkan pakan fermentasi yang menggunakan materi penyusun non-konvensional seperti kiapu (Pistia stratiotes L) sehingga dapat dihasilkan pakan fermentasi yang efektif serta efisien mampu memacu sintesis protein di dalam jaringan otot dada (M. Pectoralis major) dan paha (M. Gastrocnemius) yang dapat dievaluasi melalui perubahan kandungan DNA, RNA, protein dan kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian pakan organik terhadap perubahan karakteristik seluler total DNA, RNA, protein dan kolesterol pada otot dada dan paha ALPU pada masa pertumbuhan awal. Penelitian ini bersifat eksperimental yang menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan perlakuan kontrol dan level pemberian pakan fermentasi kiapu. Materi penelitian yaitu ALPU unsex sebanyak 72 ekor, dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin dan perlakuan pakan (P0, P1 pemberian 20% pakan fermentasi kiapu dan P2 pemberian 30% pakan fermentasi kiapu). Parameter penelitian meliputi: konsumsi pakan, pertambahan berat badan, berat otot dada, berat otot paha, konversi pakan dan efisiensi pakan. Untuk parameter seluler berupa: protein intake, total protein, total kolesterol, total DNA dan total RNA di dalam otot dada dan otot paha ALPU umur 7 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jenis pakan akibat subtitusi pakan fermentasi kiapu sebanyak 20-30% tidak memberikan pengaruh negatif terhadap konsumsi pakan, pertambahan berat badan, berat otot dada, berat otot paha, konversi pakan dan efisiensi pakan. Subtitusi pakan fermentasi kiapu sebanyak 20-30% dalam pakan komersial mampu memacu berat badan ALPU sampai umur 7 minggu setara dengan pemberian 100% pakan komersial melalui peningkatan konversi dan efisiensi pakan. Selain itu jumlah protein intake dari pakan fermentasi kiapu mampu memenuhi kebutuhan ALPU jantan dan betina untuk mepertahankan berat otot serta protein otot dada dan paha pada ayam jantan dan betina ALPU sebanding dengan perlakuan 100% pakan komersial. Penggunaan 20-30% pakan fermentasi kiapu dapat mempengaruhi proses sintesis protein otot dada dan paha ayam jantan maupun ayam betina melalui perubahan total DNA dalam otot. Terdapat interaksi antara perbedaan jenis kelamin dan perbedaan pakan terhadap perubahan kadar total DNA pada otot dada. Namun perlakuan pakan fermentasi tidak mempengaruhi total kolesterol dalam otot dada dan paha ALPU jantan dan betina. Perbedaan total protein dan total DNA otot dada dan paha ALPU jantan dan betina karena perbedaan sifat pertumbuhan otot ALPU dalam merespon ketersediaan zat gizi pakan fermentasi kiapu. Fenomena ini menunjukkan bahwa regulasi sintesis protein melalui proses transkripsi dan translasi pada otot dada dan paha ALPU baik jantan maupun betina akibat pemberian pakan fermentasi kiapu dipengaruhi oleh perubahan total protein otot dan DNA otot. Selain itu pemberian pakan fermentasi kiapu juga tidak mempengaruh kandungan kolesterol baik pada daging dada maupun daging paha ALPU. Pemberian pakan mengandung 20% pakan fermentasi kiapu lebih efektif mendukung pertumbuhan seluler otot dada dan otot paha ayam ALPU betina melalui perubahan total protein dan DNA sehingga sangat layak digunakan sebagai pakan ALPU pada masa awal pertumbuhan
PENGARUH PEMBERIAN PAKAN FERMENTASI BERBASIS KIAPU (PISTIA STRATIOTES L) DAN PROBIOTIK TERHADAP PARAMETER PERTUMBUHAN DAN EKSTERIOR PERTUMBUHAN AYAM ALPU
Ayam kampung merupakan ayam yang sangat digemari dikalangan masyarakat, karena mempunyai cita rasa yang khas dan berbeda dari ayam jenis lain. Namun ayam kampung memiliki kelemahan dalam produksi sehingga perlu pengembangan yang intensif. Salah satu turunan dari proses seleksi ayam lokal adalah ayam lokal pedaging unggul (ALPU) hasil dari peningkatan mutu genetik yang telah dilakukan. Keunggulan ALPU dapat menjadi salah satu alternatif yang sangat baik sebagai penghasil daging, karena pada umur 6 minggu telah mencapai harga jual yang menjanjikan (Yaman, 2010).Kendala utama dalam pemeliharaan ALPU yaitu masih belum tersedianya pakan khusus terhadap ayam tersebut, sehingga dalam pemeliharaan masih menggunakan pakan komersil yang harganya relatif mahal. Untuk itu diperlukan pakan alternatif yang mudah didapatkan dan mengandung kandungan nutrisi seperti protein, vitamin dan mineral yang mampu meningkatkan produktifitas. Salah satunya dapat dimanfaatkan gulma air seperti kiapu yang mengandung kandungan nutrisi protein kasar 19,5%,BETN 37,0%, lemak kasar 1,3%, serat kasar 11,7% dan abu 25,6% (Diler et al., 2007).Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapangan Peternakan (LLP) Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala yang terletak di Jalan Utama Gampong Rukoh, Darussalam, Banda Aceh. Penelitian ini dilakasanakan selama 90 hari, dimulai dari 14 Februari -23 April 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan fermentasi berbasis kiapu (Pistia stratiotes L) terhadap parameter pertumbuhan dan eksterior pertumbuhan ayam ALPU.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan yaitu kontrol/tanpa pemberian pakan fermentasi (P0), pemberian 10% pakan fermentasi (P1), pemberian 20% pakan fermentasi (P2) dan pemberian 30% pakan fermentasi (P3). Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh pemberian pakan fermentasi berpengaruh nyata (
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist
We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.
Author-wise bibliometric analysis based on entropy.</p
- …
