1,720,992 research outputs found
Penelitian geolistrik detail di sepanjang saluran bekas ibukota kerajaan Mojopahit di Trowulan Mojokerto Jawa Timur
Dampak Hidrologis Pembangunan Waduk Kotapanjang terhadap Kompleks Candi Muara Takus di Riau
Intisari
Perusahaan Listrik Negara (PLN) membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kotopanjang Riau dengan membendung Sungai Kampar di Muara Lahat luas genangan direncanakan 124 km2 pada elevasi 85 meter (dpal). Pembangunan waduk ini memindahkan penduduk sejumlah 4.886 KK dari daerah genangan di samping itu genangan tersebut akan menenggelamkan sebagian dari area situs Candi Muara Takus.
Tujuan penelitian ini adalah (1) mempelajari dampak genangan terhadap bangunan candi(2) mencari alternatif untuk nrenanggulangi dampak yang terjadi. Metode survai, observasi lapangan dan pendugaan geolistrik digunakan dalam penelitian ini. Analisis data dilakukan diskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 3 dampak hidrologis terhadap situs muara takus. (1) pada elevasi genangan 85 meter dpal akan menimbulkan air kapiler yang melernbabkan bangunan candi yang dibuat dari batubata. (2) air kapiler akan melembekkan lempung di bawah candi dan dasar candi akan melosok ke dalam tanah lempung (3) pada elevasi muka air waduk antara 83 in dpal dan 80 In dpal tebing sebelah barat yang berupa pasir kerikil dan pragmen batu akan mudah lepas dan longsor
Monitoring The Seawater Intrusion Into Coastal Aquifer Using Geo-Electrical Sounding : A Case Study Of The Northern-Coastal Area Of Central Java, Indonesia
ABSTRACT
The aims of this study are : (1) to investigate whether there is seawater intrusion into the coastal-aquifer of the northern-coast of Central Java, (2) to study the seawater intrusion movement along the corresponding coastal area, particularly from the district of Brebes to the district of Kendal.
To achieve the above goals, geo-electrical sounding technique was applied, hence by producing cross-sections of resistivity values which are perpendicular to the coast-line. The measurements were conducted in 1989 and 1996, each of wich included eleven locations which were at the same spot. Resistivity shown in the cross-section is the resistivity of the rock composition and the water in the aquifer. In this case, saline water has resistivity less than 1 ohm meter.
The result shows that in 1989, among the eleven measured locations, there was only one location indicated interface between fresh water and saline seawater. This was at the cross section number 5 obtained in Pentalang. In 1996, there were 6 locations indicated the occurrence of interface. Connate saline water was detected at every cross section with various depth.
Kata Kunci.: seawater - coastalaquifer - geo-electrica
Sistem Akuifer Di Lereng Gunungapi Merapi Bagian Timur Dan Tenggara : Studi Kasus di Kompleks Mataair Sungsang Boyolali Jawa Tengah
Mataair-mataair di lereng Gunungapi Merapi yang merupakan sabuk mataair (spring belt) dalam era "kebutuhan air bersih yang tidak tercemar" menjadi incaran Perusahaan Air Minum (PAM) dan juga Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Pengambilan air langsung dari mataair ternyata sering menimbulkan konflik kepentingan dengan petani pengguna air untuk pengairan. Banyak anjuran supaya penganibilan air tidak langsung dari mataair melainkan dengan mengebor dari akuifer.
Tujuan dari penelitian sistem akuifer di sekitar mataair ini untuk mengetahui sistem akuifer sebagai dasar untuk menentukan lokasi pengeboran airtanah yang dapat digunakan untuk air bersih tanpa mengurangi debit air dari mataair.
Metode penelitian menggunakan pendugaan geolistrik tahanan jenis (resistivity geoelectric), pengukuran debit mata air, dan pengamatan geologi dan topografi disekitar mata air.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa mataair-mataair di daerah penelitian merupakan mataair artesis yang keluar dari akuifer tertekan. Pemunculan mataair dari akuifer dapat diakibatkan oleh dua sebab, yaitu i) karena akuifer tertekan rerpotong oleh depresi seperti mataair Cokrotulung dan Sigedang(ii) karena akuifer tertekan oleh lapisan lempung seperti mataair Sungsang dan Nepen. Dengan diketahuinya sistem akuifer ini dapat ditentukan bahwa di daerah antara sampai S-3 dan antara S-7 sampai S-8 depot dibor sedalam 50 meter untuk mendapatkan sumur artesis.
Key Word:Akuifer, Gunung Merapi, Mata ai
Pengaruh chekdam dan penambangan pasir terhadap morfologi sungai Senowo Kabupaten Magelang Jawa Tengah
SISTEM AKUIFER DI LERENG GUNUNGAPI MERAPI BAGIAN TIMUR 0DAN TENGGARA (STUDI KASUS DI KOMPLEKS MATAAIR SUNGSANG BOYOLALI JAWA TENGAH)
ABSTRAK Mataair-mataair di lereng Gunungapi Merapi yang merupakan sabuk mataair (spring belt) dalam era "kebutuhan air bersih yang tidak tercemar" menjadi incaran Perusahaan Air Minum (PAM) dan juga Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Pengambilan air langsung dari mataair ternyata sering menimbulkan konflik kepentingan petani pengguna air untuk pengairan. Banyak anjuran supaya pengambilan air tidak langsung dari mataair melainkan dengan mengebor dari akuifer. Tujuan dari penelitian sistem akuifer di sekitar mataair ini untuk mengetahui sistem akuifer sebagai dasar untuk menentukan lokasi pengeboran airtanah yang dapat digunakan untuk air bersih tanpa mengurangi debit air dari mataair. Metode penelitian menggunakan pendugaan geolistrik tahanan jenis (resistivity geoelectric), pengukuran mataair, dan pengamatan geologi dan topografi di sekitar mataair. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa mataair-mataair di daerah penelitian merupakan akuifer artesis yang keluar dari akuifer tertekan. Pemunculan mataair dari akuifer dapat diakibatkan oleh sebab, yaitu i) karena akuifer tertekan terpotong oleh depresi seperti mataair Cokrotulung dan Sigedang, (ii) karena akuifer tertekan oleh lapisan lempung seperti mataair Sungsang dan Nepen. Dengan diketahuinya sistem akuifer ini dapat ditentukan bahwa daerah antara S-2 sampai S-3 dan antara S-7 sampai S-8 dapat dibor sedalam 5 meter untuk mendapatkan sumur artesis
Dampak Hidrologis Pembangunan Waduk Kotapanjang terhadap Kompleks Candi Muara Takus di Riau
Perusahaan Listrik Negara (PLN) membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kotopanjang Riau dengan membendung Sungai Kampar di Muara Lahat luas genangan direncanakan 124 km2 pada elevasi 85 meter (dpal). Pembangunan waduk ini memindahkan penduduk sejumlah 4.886 KK dari daerah genangan di samping itu genangan tersebut akan menenggelamkan sebagian dari area situs Candi Muara Takus.
Tujuan penelitian ini adalah (1) mempelajari dampak genangan terhadap bangunan candi; (2) mencari alternatif untuk nrenanggulangi dampak yang terjadi. Metode survai, observasi lapangan dan pendugaan geolistrik digunakan dalam penelitian ini. Analisis data dilakukan diskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 3 dampak hidrologis terhadap situs muara takus. (1) pada elevasi genangan 85 meter dpal akan menimbulkan air kapiler yang melernbabkan bangunan candi yang dibuat dari batubata. (2) air kapiler akan melembekkan lempung di bawah candi dan dasar candi akan melosok ke dalam tanah lempung (3) pada elevasi muka air waduk antara 83 in dpal dan 80 In dpal tebing sebelah barat yang berupa pasir kerikil dan pragmen batu akan mudah lepas dan longsor
Potensi dan pemanfaatan air di bekas galian penambangan Timah ( Kolong ) sebagai Sumber Air Domestik di Sekitar Airgegas Pulau Bangka
INTISARI
Di Pulau Bangka banyak didapatkan galian bekas penambangan timah yang ditinggalkan oleh PN Timah yang diisi oleh air hujan. Di satu pihak genangan bekas galian tambang timah menimbulkan pemandangan yang kurang baik, narnun di sisi lain genangan tersebut dapat digunakan untuk sumber penyediaan air minum bagi daerah Pulau Bangka. Penyediaan air dari Palau Bangka sebagian tergaraung dari sungaisungai kecil dan sebagian dari air tanah. Jurnlah dan kesinambungan air dari sumber air tersebut sangat terbatas, sehingga di maim kemarau banyak dialami kekurangan air. Berdasarkan survai airtanah menggunakan geotistrik dan data pengeboran, serta data geologi, ternyata Pulau Bangka mernang tidak mendukung daerah itu sebagai akifer yang balk, walaupun curah hujan di daerah yang bersangkutan cukup tinggi. Kekurangan air tersebut dapat dicukupi dari air kolong yang banyak didapatkan di pulau itu. Reklamasi di pulau tersebut akan mernerlukan beaya yang besar. Dengan sudah tersedianya kolong-kolong tersebut sebagai sumber air, rnaka beaya untuk menggali tanah dan beaya-beaya lain dalam membuat reservoir tidak perlu dikeluarkan
lag
- …
