1,720,980 research outputs found
BEBERAPA FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI KEJAIMAN STROKE BERULANG (Studi Kasus di RS Dr. Kariadi Semarang)
Background : Stroke is the third ranking cause of death, with an overall mortality rate of 18 — 37% for the first stroke and of 62% for subsequent stroke. The incidence for recurrent stroke was different, it was approximately 25% people survive from stroke and it will become recurrent stroke for 5 years later. Recurrent stroke related to their own risk factors, especially if they are not treated well. The purpose of this research is to obtain risk factors that related to recurrent stroke.
Method : Case control study. The case were patients treated in Dr. Kariadi hospital with recurrent stroke based on their health history, the neurological examination and Head CT scan examination that administered from June to July 2004, while control was that the patients suffered from first stroke. The sample of case and control were 50 patients each, it was taken by consequtive sampling.
Result : Risk factors were independently related to recurrent stroke were systolic blood pressure, diastolic blood pressure, a pointed blood glucose level, the blood glucose level 2 hours post-prandial, heart diseases, and regularility treatment. Multivariate analysis showed that risk factors related to recurrent stroke : systolic blood pressure > 140 mmHg (OR = 7,04; 95% CI = 2,101 — 23,628), a pointed blood glucose level > 200 mg/dl (OR = 5,56; 95% CI = 1,437 — 21,546), heart diseases (OR = 4,62; 95% CI = 1,239 — 17,295), and irregularility treatment (OR = 4,39; 95% CI = 1,623 — 11,886).
Conclusion : There were four risk factors related to recurrent stroke, i.e systolic blood pressure > 140 mmHg, a pointed blood glucose level > 200 mg/dl, abnormality heart, and irregularly treatment.
Suggestion : participate the treatment program regularly and giving information of risk factors of the recurrent stroke and its management.
Latar Belakang : Stroke merupakan penyebab ketnatian terbesar ketiga dengan laju mortalitas 18-37% untuk stroke pertama, dan 62% untuk stroke bend ang. Insiden stroke berulang berbeda-beda, diperkirakan 25% orang yang sembub dari stroke pertama akan mendapatkan stroke berulang dalam kurun waktu 5 tahun. Terjadinya stroke berulang berkaitan dengan faktor risiko yang dipunyai oleh penderita, terutama bila faktor risiko yang ada tidak ditanggulangi dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stroke berulang.
Metode : Rancangan penelitian kasus kontrol. Kasus adalab penderita yang berobat di RS Dr. Kariadi Semarang yang didiagnosis sebagai stroke berulang berdasarkan riwayat penyakit, perneriksaan neeurologi dan perneriksaan Head CT Scan yang tercatat dalam rekam medis, periode Juni-Juli 2004, sedangkan kontrol adalah penderita stroke yang didiagnosis belurn/tidak mengalami stroke berulang. Jumlah kasus dan kontrol masing-masing 50 orang , diambil secara consecutive sampling. Analisis data dengan X2 untuk uji bivariat dan regresi ganda logistik untuk uji multivariat.
'Iasi! • Faktor risiko yang secara mandiri berhubungan adalah tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, kadar gula darah sewaktu, kadar gula darah 2 jam post-prandial, kelainan jantung, dan keteraturan berobat. Analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian stroke berulang adalah tekanan darah sistolik 140 mmHg (OR = 7,04; 95% CI = 2,101 — 23,628), kadar gula darah sewaktu > 200 mg/d1 (OR = 5,56; 95% CI = 1,437 — 21,546) kelainan jantung (OR = 4,62; 95% CI = 1,239 — 17,295), dan ketidak teraturan berobat (OR = 4,39; 95% CI = 1,623 — 11,886).
Simpulan : Terdapat 4 faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian stroke berulang yaitu tekanan darah sistolik 140 mmHg, kadar gula darah sewaktu > 200 rng/dl, kelainan jantung, dan ketidak teraturan berobat.
Saran : Perlu dilakukan pengobatan secara rutin, dan pemberian informasi tentang faktor risiko stroke berulang serta cara pengandaliannya
BEBERAPA FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN STROKE BERULANG (STUDI KASUS DI RS DR. KARIADI SEMARANG)
1
BEBERAPA FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN STROKE
BERULANG (STUDI KASUS DI RS DR. KARIADI SEMARANG)
Yuliaji Siswanto
ABSTRACT
Background : Stroke is the third ranking cause of death, with an overall mortality rate
of 18 – 37% for the first stroke and of 62% for subsequent stroke. The incidence for
recurrent stroke was different, it was approximately 25% people survive from stroke and
it will become recurrent stroke for 5 years later. Recurrent stroke related to their own
risk factors, especially if they are not treated well. The purpose of this research is to
obtain risk factors that related to recurrent stroke.
Method : Case control study. The case were patients treated in Dr. Kariadi hospital with
recurrent stroke based on their health history, the neurological examination and Head CT
scan examination that administered from June to July 2004, while control was that the
patients suffered from first stroke. The sample of case and control were 50 patients each,
it was taken by consequtive sampling.
Result : Risk factors were independently related to recurrent stroke were systolic blood
pressure, diastolic blood pressure, a pointed blood glucose level, the blood glucose level
2 hours post-prandial, heart diseases, and regularility treatment. Multivariate analysis
showed that risk factors related to recurrent stroke : systolic blood pressure ≥ 140 mmHg
(OR = 7,04; 95% CI = 2,101 – 23,628), a pointed blood glucose level > 200 mg/dl (OR
= 5,56; 95% CI = 1,437 – 21,546), heart diseases (OR = 4,62; 95% CI = 1,239 – 17,295),
and irregularility treatment (OR = 4,39; 95% CI = 1,623 – 11,886).
Conclusion : There were four risk factors related to recurrent stroke, i.e systolic blood
pressure ≥ 140 mmHg, a pointed blood glucose level > 200 mg/dl, abnormality heart,
and irregularly treatment.
Suggestion : participate the treatment program regularly and giving information of risk
factors of the recurrent stroke and its management.
Key word : risk factors, recurrent stroke
ABSTRAK
Latar Belakang : Stroke merupakan penyebab kematian terbesar ketiga dengan laju
mortalitas 18-37% untuk stroke pertama, dan 62% untuk stroke berulang. Insiden stroke
berulang berbeda-beda, diperkirakan 25% orang yang sembuh dari stroke pertama akan
mendapatkan stroke berulang dalam kurun waktu 5 tahun. Terjadinya stroke berulang
berkaitan dengan faktor risiko yang dipunyai oleh penderita, terutama bila faktor risiko
yang ada tidak ditanggulangi dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stroke berulang.
Metode : Rancangan penelitian kasus kontrol. Kasus adalah penderita yang berobat di
RS Dr. Kariadi Semarang yang didiagnosis sebagai stroke berulang berdasarkan riwayat
penyakit, pemeriksaan neurologi dan pemeriksaan Head CT Scan yang tercatat dalam
rekam medis, periode Juni-Juli 2004, sedangkan kontrol adalah penderita stroke yang
didiagnosis belum/tidak mengalami stroke berulang. Jumlah kasus dan kontrol masingmasing
50 orang , diambil secara consecutive sampling. Analisis data dengan X2 untuk
uji bivariat dan regresi ganda logistik untuk uji multivariat.
Hasil : Faktor risiko yang secara mandiri berhubungan adalah tekanan darah sistolik,
tekanan darah diastolik, kadar gula darah sewaktu, kadar gula darah 2 jam post-prandial,
kelainan jantung, dan keteraturan berobat. Analisis multivariat menunjukkan bahwa
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
2
faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian stroke berulang adalah tekanan darah
sistolik ³ 140 mmHg (OR = 7,04; 95% CI = 2,101 – 23,628), kadar gula darah sewaktu
> 200 mg/dl (OR = 5,56; 95% CI = 1,437 – 21,546) kelainan jantung (OR = 4,62; 95%
CI = 1,239 – 17,295), dan ketidak teraturan berobat (OR = 4,39; 95% CI = 1,623 –
11,886).
Simpulan : Terdapat 4 faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian stroke berulang
yaitu tekanan darah sistolik ³ 140 mmHg, kadar gula darah sewaktu > 200 mg/dl,
kelainan jantung, dan ketidak teraturan berobat.
Saran : Perlu dilakukan pengobatan secara rutin, dan pemberian informasi tentang
faktor risiko stroke berulang serta cara pengandaliannya.
Kata Kunci : Faktor Risiko, Stroke Berulang
PENDAHULUAN
Stroke menduduki urutan
ketiga terbesar penyebab kematian
setelah penyakit jantung dan kanker,
dengan laju mortalitas 18% sampai
37% untuk stroke pertama dan 62%
untuk stroke berulang1,2 Pada kasus
yang tidak meninggal dapat terjadi
beberapa kemungkinan seperti Stroke
Berulang (Recurrent Stroke),
Dementia, dan Depresi. Stroke
berulang merupakan suatu hal yang
mengkhawatirkan pasien stroke karena
dapat memperburuk keadaan dan
meningkatkan biaya perawatan2.
Diperkirakan 25% orang yang sembuh
dari stroke yang pertama akan
mendapatkan stroke berulang dalam
kurun waktu 5 tahun3. hasil penelitian
epidemiologis menunjukkan bahwa
terjadinya risiko kematian pada 5
tahun pasca-stroke adalah 45 – 61%
dan terjadinya stroke berulang 25 –
37%4. Menurut studi Framingham,
insiden stroke berulang dalam kurun
waktu 4 tahun pada pria 42% dan
wanita 24%5 Makmur dkk. (2002)
mendapatkan kejadian stroke
berulang 29,52%, yang paling sering
terjadi pada usia 60-69 tahun (36,5%),
dan pada kurun waktu 1-5 tahun
(78,37%) dengan faktor risiko utama
adalah hipertensi (92,7%) dan
dislipidemia (34,2%)2.
Faktor-faktor risiko stroke
berulang belum didefinisikan dengan
jelas, tetapi tampaknya hampir sama
dengan faktor primer penyebab
stroke6. Mengutip penulis asing,
Widiastuti (1992) menyatakan bahwa
faktor risiko stroke berlaku juga pada
kejadian stroke berulang, dan beberapa
studi menyatakan bahwa pengendalian
faktor risiko dapat menurunkan angka
kejadian stroke berulang7.
Risiko tinggi stroke berulang
berhubungan dengan tekanan darah
tinggi, penyakit katup jantung dan
gagal jantung kongestif, fibrilasi
atrium, hasil CT scan yang abnormal
dan riwayat penyakit diabetes mellitus.
Berdasarkan studi di Oxfordshire
Community Stroke Project, risiko
stroke berulang tidak berhubungan
dengan umur, jenis kelamin, tipe
patologi stroke, dan riwayat penyakit
jantung atau fibrilasi atrium
sebelumnya tidak berhubungan secara
pasti dengan stroke berulang, dalam
kurun waktu 30 hari sampai tahuntahun
pertama8.
Seseorang yang pernah
terserang stroke mempunyai
kecenderungan lebih besar akan
mengalami serangan stroke berulang,
terutama bila faktor risiko yang ada
tidak ditanggulangi dengan baik.
Karena itu perlu diupayakan prevensi
sekunder yang meliputi gaya hidup
sehat dan pengendalian faktor risiko,
yang bertujuan mencegah berulangnya
serangan stroke pada seseorang yang
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
3
sebelumnya pernah terserang stroke.
Dengan pertimbangan hal-hal di atas
perlu dilakukan penelitian tentang
beberapa faktor risiko yang
mempengaruhi kejadian stroke
berulang, meliputi faktor risiko yang
dapat diubah dan tidak dapat diubah.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan
penelitian analitik observasional
dengan menggunakan rancangan kasus
kontrol. Subyek penelitian diperoleh
dari semua penderita stroke yang
berobat (berkunjung) di RS Dr.
Kariadi Semarang. Besar sampel
dihitung dengan menggunakan
formula studi kasus kontrol tidak
berpasangan9. Bila diasumsikan
bahwa perkiraan proporsi efek pada
kontrol sebesar 37%4 dan perkiraan
odds ratio sebesar 3,18 pada faktor
risiko diabetes mellitus10. Sedangkan
nilai kemaknaan sebesar 0,05 dan
power sebesar 80%, maka diperoleh
jumlah sampel minimal sebesar 49,
kemudian dibulatkan menjadi 50.
Kasus adalah penderita stroke
berulang periode Juni – Juli 2004, di
mana subyek penelitian tersebut harus
memenuhi kriteria sebagai berikut :
· (1) defisit neurologik yang berbeda
dari stroke pertama; (2) kejadian
yang meliputi daerah anatomi atau
daerah pembuluh darah yang
berbeda dengan stroke pertama,
apabila terjadi pada tempat yang
sama harus lebih dari 22 hari; (3)
kejadian mempunyai tipe atau sub
tipe stroke yang berbeda dengan
stroke pertama10,11,12.
· Dilakukan pemeriksaan darah
(kadar gula darah, kadar kolesterol
darah) dan pemeriksaan jantung.
Kontrol adalah penderita stroke
periode Juni – Juli 2004, di mana
subyek penelitian tersebut harus
memenuhi kriteria sebagai berikut :
· Dilakukan pemeriksaan darah
(kadar gula darah, kadar kolesterol
darah) dan pemeriksaan jantung.
Sampel diambil dengan
perbandingan (kasus : kontrol) 1 : 1,
menggunakan metode consecutive
sampling, yaitu semua subyek yang
datang pada hari / tanggal selama
periode Juni-Juli 2004 dan memenuhi
kriteria ditetapkan sebagai kelompok
kasus dan kontrol dalam penelitian
sampai jumlah subyek diperlukan
terpenuhi13.
Data sekunder dikumpulkan dari
rekam medis mengenai riwayat
penyakit, hasil pemeriksaan neurologi,
hasil pemeriksaan laboratotium (kadar
gula darah, kadar kolesterol darah,
kadar trigliserida darah), hasil
pemeriksaan tekanan darah, dan hasil
EKG selama pemeriksaan (kontrol)
sejak sebelum serangan stroke pertama
hingga serangan selanjutnya. Data
primer dikumpulkan dengan
melakukan wawancara kepada
penderita atau keluarganya.
Analisis data dilakukan dengan
menggunakan program SPSS for
windows versi 10.0. Untuk melihat
adanya hubungan antara dua variabel
dilakukan analisis dengan
menggunakan uji chi square.
Pengaruh beberapa variabel terhadap
kejadian stroke berulang diuji dengan
regresi ganda logistik menggunakan
metode backward stepwise
(conditional) .
HASIL
Hubungan Antara Faktor Risiko
dengan Kejadian Stroke Berulang.
Hasil analisis statistik bivariat
hubungan antara variabel bebas
dengan kejadian stroke berulang dapat
dilihat pada tabel 1 sebagai berikut :
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
4
Tabel 1 : Hubungan Antara Faktor Risiko dengan Kejadian Stroke Berulang.
No. Variabel
Kasus Kontrol
(n=50 p OR 95% CI
)
(%) (n=50
)
(%)
1. Umur
· ³ 60 th
· < 60 th
28
22
56,0
44,0
26
24
52,0
48,0
0,68
1,17
0,53 - 2,58
2. Jenis kelamin
· Laki-laki
· Perempuan
32
18
64,0
36,0
30
20
60,0
40,0
0,68
1,18
0,52 - 2,66
3. Riwayat stroke
· Ada riwayat
· Tidak ada riwayat
6
44
12,0
88,0
3
47
6,0
94,0
0,29
2,14
0,50 - 9,06
4. Tekanan darah sistolik
· ³ 140 mmHg
· < 140 mmHg
45
5
90,0
10,0
31
19
62,0
38,0
0,002
5,52
1,86 - 16,34
5. Tekanan darah diastolik
· ³ 90 mmHg
· < 90 mmHg
42
8
84,0
16,0
31
19
62,0
38,0
0,02
3,22
1,24 - 8,29
6. Kadar gula darah sewaktu
· > 200 mg/dl
· £ 200 mg/dl
14
36
28,0
72,0
6
44
12,0
88,0
0,08
2,85
0,99 - 8,17
7. Kadar gula darah puasa
· > 140 mg/dl
· £ 140 mg/dl
15
35
30,0
70,0
7
43
14,0
86,0
0,09
2,63
0,96 - 7,17
8. Kadar gula darah 2 jam pp
· > 200 mg/dl
· £ 200 mg/dl
13
37
26,0
74,0
5
45
10,0
90,0
0,06
3,16
1,03 - 9,68
9. Kadar kolesterol total
· ³ 200 mg/dl
· < 200 mg/dl
34
16
68,0
32,0
30
20
60,0
40,0
0,53
1,42
0,62 - 3,21
10. Kadar trigliserida
· ³ 200 mg/dl
· < 200 mg/dl
18
32
36,0
64,0
13
37
26,0
74,0
0,38
1,60
0,68 - 3,76
11. Pemeriksaan jantung
· Ada kelainan
· Tidak ada kelainan
14
36
28,0
72,0
6
44
10,0
90,0
0,08
2,85
0,99 - 8,17
12. Kebiasaan merokok
· Merokok
· Tidak merokok
23
27
46,0
54,0
20
30
40,0
60,0
0,68
1,28
0,57 - 2,82
13. Aktivitas fisik
· Rutin
· Tidak pernah/tidak rutin
9
41
18,0
81,0
14
36
28,0
72,0
0,34
1,77
0,68 - 4,57
14. Keteraturan berobat/kontrol
· Teratur
· Tidak teratur
11
39
22,0
78,0
26
24
52,0
48,0
0,004
3,84
1,61 - 9,16
Berdasarkan uji statistik chisquare
pada tingkat kepercayaan 95%
dan df=1 seperti ditampilkan pada
tabel 1 di atas, dapat dilihat bahwa :
terdapat hubungan yang bermakna
secara statistik antara tekanan darah
sistolik ³ 140 mmHg (p = 0,002; 95%
CI : 1,862 – 16,344), tekanan darah
diastolik ³ 90 mmHg (p = 0,02; 95%
CI : 1,248 - 8,299), kadar gula darah 2
jam pp > 200 mg/dl (p = 0 ,06; 95%
CI : 1,032 - 9,685), dan ketidak
teraturan berobat/kontrol (p = 0,004;
95% CI : 1,610 - 9,161) terhadap
kejadian stroke berulang.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
5
Tidak didapatkan hubungan
yang bermakna secara statistik antara
variabel umur, jenis kelamin, riwayat
stroke pada keluarga, kadar gula darah
sewaktu, kadar gula darah puasa,
kadar kolesterol total dalam darah ³
200 mg/dl, kadar trigliserida darah ³
200 mg/dl, kelainan jantung,
kebiasaan merokok, dan aktivitas fisik
yang tidak rutin.
Pengaruh Beberapa Faktor Risiko
Dengan Kejadian Stroke Berulang
Variabel-variabel yang terpilih
menjadi kandidat dalam analisis
multivariat adalah : tekanan darah
sistolik ³ 140 mmHg, tekanan darah
diastolik ³ 90 mmHg, kadar gula
darah sewaktu > 200 mg/dl, kadar gula
darah puasa > 140 mg/dl, kadar gula
darah 2 jam pp > 200 mg/dl, kelainan
jantung, aktivitas fisik tidak rutin, dan
ketidak teraturan berobat.
Selanjutnya analisis multivariat
menunjukkan bahwa ada empat
variabel yang patut dipertahankan
secara statistik (p<0,05) yaitu tekanan
darah sistolik, kadar gula darah
sewaktu, adanya kelainan jantung, dan
ketidak teraturan berobat untuk
dijadikan model regresi. Data
selengkapnya pada tabel 2 sebagai
berikut:
Tabel 2 : Variabel-variabel yang Terpilih Dalam Model Analisis Multivariat
No. Variabel terpilih dalam
model
B Wald Nilai p Exp(B) 95% CI
1. Tekanan darah sistolik ³
140 mmHg
1,95 10,00 0,002 7,04 2,10 - 23,62
2. Kadar gula darah
sewaktu > 200 mg/dl
1,71 6,17 0,013 5,56 1,43 – 21,54
3. Kelainan jantung 1,53 5,19 0,023 4,62 1,23 - 17,29
4. Ketidak teraturan
berobat
1,48 8,48 0,004 4,39 1,62 - 11,88
Dari hasil perhitungan model
persamaan regresi logistik didapatkan
nilai p = 0,9747. Hal ini berarti bahwa
seorang penderita stroke yang
mempunyai tekanan darah sistolik ³
140 mmHg, kadar gula darah sewaktu
> 200 mg/dl, mempunyai kelainan
jantung, dan tidak teratur dalam
berobat, akan mempunyai probabilitas
atau berisiko terjadi stroke berulang
sebesar 97,47%.
PEMBAHASAN
Karakteristik Subyek
Berdasarkan distribusi kasus
menurut kelompok umur didapatkan
persentase terbesar pada umur 50 – 59
tahun yaitu sebesar 46% (23 kasus).
Hal ini dapat dihubungkan dengan
tingkat surviveable-nya, bahwa
semakin tua seseorang mengalami
serangan stroke maka outcome
fungsional dan survivalnya makin
buruk14.
Pada penelitian ini kejadian
stroke berulang lebih banyak terjadi
pada laki-laki, tetapi tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara jenis
kelamin dengan kejadian stroke
berulang2,10. Seperti halnya pada studi
di Malmo Sweden yang mendapatkan
bahwa laki-laki mempunyai risiko
lebih tinggi (1,2 : 1) untuk terjadi
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
6
stroke berulang dibandingkan
wanita15.
Risiko terjadinya stroke
berulang pada subyek yang
mempunyai riwayat stroke pada
keluarga didapatkan sebesar 2,136 kali
dibandingkan dengan subyek yang
tidak mempunyai riwayat stroke pada
keluarga. Hal ini sesuai dengan
penelitian Liao, dkk. (1997) yang
mendapatkan bahwa seseorang yang
mempunyai riwayat keluarga stroke
positif akan mempunyai risiko lebih
tinggi untuk mendapat stroke
dibandingkan dengan yang
mempunyai riwayat keluarga stroke
negatif16.
Faktor Risiko Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Stroke Berulang .
Peluang terjadinya stroke
berulang berdasarkan faktor risiko
tunggal lebih kecil bila dibandingkan
dengan kombinasi faktor risiko, hal ini
menunjukkan bahwa stroke berulang
merupakan penyakit yang mempunyai
banyak penyebab (multifactorial
causes). Semakin banyak faktor risiko
yang dipunyai, makin tinggi
kemungkinan mendapatkan stroke
berulang. Faktor risiko stroke yang
dipunyai harus ditanggulangi dengan
baik, karena penanganan yang tepat
dari faktor risiko tersebut sangat
penting untuk prevensi sekunder. Pada
kelompok risiko tinggi, setelah terjadi
serangan stroke seharusnya menjadi
target penanganan secara kontinyu
untuk mencegah terjadinya stroke
berulang17.
Tekanan darah sistolik ³ 140
mmHg dalam penelitian ini
merupakan variabel yang paling
berpengaruh untuk terjadinya stroke
berulang, baik secara mandiri maupun
bersama-sama (OR=7,04). Hipertensi
menyebabkan gangguan kemampuan
autoregulasi pembuluh darah otak
sehingga pada tekanan darah yang
sama aliran darah ke otak pada
penderita hipertensi sudah berkurang
dibandingkan penderita
normotensi18,19. Penderita dengan
tekanan darah tinggi dan adanya
gambaran CT Scan kepala yang
abnormal atau adanya diabetes
mellitus akan meningkatkan kejadian
stroke berulang10. Tekanan darah
diastolik ³ 90 mmHg secara mandiri
memiliki kemaknaan hubungan
dengan kejadian stroke berulang
meskipun tidak sekuat tekanan darah
sistolik. Bertambahnya usia diikuti
dengan peningkatan tekanan sistolik
yang terus terjadi sampai dengan usia
80 tahun, sedangkan peningkatan
tekanan diastolik mencapai puncak
pada usia 55 tahun kemudian mendatar
bahkan cenderung menurun. Keadaan
ini terjadi akibat perubahan struktural
jantung dan pembuluh darah pada
menua. Kekakuan dinding pembuluh
aorta menyebabkan berkurangnya
kemampuan absorbsi terhadap tekanan
yang terjadi pada fase sistol dan
kemampuan untuk mengembalikan
tekanan diastolik (dyastolic
recoiling)18.
Kadar gula darah sewaktu >
200 mg/dl memberikan pengaruh yang
bermakna terhadap kejadian stroke
berulang dengan risiko sebesar 5,56
kali. Tinginya kadar gula darah dalam
tubuh secara patologis berperan dalam
peningkatan konsentrasi glikoprotein,
yang merupakan pencetus atau faktor
risiko dari beberapa penyakit vaskuler.
Selain itu, adanya perubahan produksi
protasiklin dan penurunan aktivitas
plasminogen dalam pembuluh darah
dapat merangsang terjadinya trombus.
Diabetes mellitus akan mempercepat
terjadinya aterosklerosis pembuluh
darah kecil maupun besar di seluruh
tubuh termasuk di otak, yang
merupakan salah satu organ sasaran
diabetes mellitus. Kadar glukosa darah
yang tinggi pada saat stroke akan
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
7
memperbesar kemungkinan meluasnya
area infark karena terbentuknya asam
laktat akibat metabolisme glukosa
secara anaerobik yang merusak
jaringan otak20.
Adanya pengaruh antara
diabetes mellitus dengan kejadian
stroke berulang juga dibuktikan oleh
beberapa penelitian sebelumnya.
Penelitian Husni & Laksmawati
menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan yang bermakna antara
kedua kelompok SNH ulang dan
kontrol (p = 0,001)10. Lai, dkk
melaporkan bahwa selain faktor risiko
hipertensi, diabetes mellitus
merupakan faktor risiko kuat untuk
terjadinya stroke berulang21. Begitu
juga hasil studi kohort yang dilakukan
oleh Hankey, dkk menunjukkan bahwa
pasien dengan diabetes mellitus pada
saat stroke pertama mempunyai risiko
2,1 kali lebih tinggi untuk terjadinya
stroke berulang dibandingkan dengan
pasien stroke yang tidak menderita
diabetes mellitus11.
Risiko untuk terjadinya stroke
berulang pada penderita stroke dengan
kelainan jantung sebesar 4,62 kali
dibandingkan dengan penderita stroke
tanpa kelainan jantung. Menurut
Broderick, dkk (1992), kelainan
jantung yang sering berhubungan
dengan stroke berulang adalah
aterosklerosis, disritmia jantung
khususnya fibrilasi atrium, penyakit
jantung iskemik, infark miokard, dan
gagal jantung, kelainan-kelainan
jantung tersebut dapat ditampilkan
dalam gambaran EKG22. Moroney,
dkk. (1998) melaporkan bahwa
fibrilasi atrium merupakan prediktor
bebas terjadinya stroke berulang
dengan risiko 2,2 kali setelah
disesuaikan dengan variabel
demografi12. Lai, dkk. (1994)
mengemukakan bahwa penderita
stroke dengan disertai kelainan
jantung berupa fibrilasi atrium akan
meningkatkan kejadian stroke
berulang 1,9 kali pada usia dan jenis
kelamin yang sama21.
Ketidakteraturan berobat
memberikan peluang untuk terjadinya
stroke berulang sebesar 4,39 kali
dibandingkan dengan penderita stroke
yang teratur berobat. Seorang
penderita stroke yang mau melakukan
kontrol dan minum obat secara teratur
akan terhindar dari serangan stroke
berulang. Kontrol yang dilakukan
secara teratur bertujuan untuk
mendeteksi secara dini apabila terjadi
peningkatan faktor risiko, sehinga bisa
dilakukan penanganan dan pengobatan
segera. Lai, dkk. (1994) menyatakan
bahwa dengan pengendalian faktor
risiko baik terhadap hipertensi,
kelainan jantung, dan diabetes mellitus
dapat menurunkan kejadian stroke
berulang21.
Obat antiplatelet bermanfaat
untuk mencegah terjadinya clot dan
merupakan obat pilihan untuk
mencegah terjadinya stroke trombotik.
Obat-obat dengan khasiat antiplatelet
seperti aspirin, tiklopidin, dipiridamol,
silostasol, dan klopidogrel dibutuhkan
untuk mengobati dan mencegah
stroke20. Aspirin lebih sering dipakai
untuk pengobatan pada pencegahan
stroke primer maupun sekunder23.
Banyak studi sebelumnya yang
terbukti bahwa penggunaan aspirin
mengurangi kejadian stroke berulang
hingga kira-kira 25%24. Pada
penelitian tiklopidin dapat
menurunkan 21% risiko relatif
terjadinya stroke berulang dalam 3
tahun pemberian. Sementara itu
klopidogrel lebih efektif dibanding
dengan aspirin dalam menurunkan
risiko stroke iskemik, infark miokard,
kematian karena faktor vaskuler pada
pasien dengan penyakit
aterotrombotik, atau untuk mencegah
terjadinya stroke sekunder23,25.
PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com
8
Faktor Risiko Yang Tidak
Berhubungan Dengan Kejadian
Stroke Berulang.
Dari penelitian yang dilakukan
didapatkan hasil kadar kolesterol tidak
berhubungan dengan kejadian stroke
berulang, demikian juga dengan kadar
triglis
HUBUNGAN ANTARA KONDISI SANITASI RUMAH DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PADA MURID SDN BANDARHARDJO 02-04 KELURAHAN TANJUNG MAS KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTAMADIA SEMARANG TAHUN 1999
Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang juga menghadapi masih tingginya prebalensi penyakit infeksi, terutama yang berkaitan dengan kondisi lingkungan yang belum baik. Salah satunya banyak terjadi pada anak usia sekolah adalah kecacingan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antar kondisi sanitasi lingkungan rumah dengan kejadian kecacingan pada murid SD N Bandarhardjo 02-04 Kelurahan TanjungMas Kecamatan Semarang Urara kotamadia Semarang.
Penelitian ini merupakan penelitian survei eksplanatori dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah murid SD Bandarhardjo 02-04 Kelurahan TanjungMas khususnya kelas 4 dan 5. sampel yang diambil 100 anak terdiri dari 50 anak kelas 4 dan 50 anak kelas 5.
hasil penelitian adalah angka kecacingan sebesar 30,93% dengan angka kejadian cacing gelang 5,2%, cacing cambuk sebesar 29,9% dan cacing tambang tidak ditemukan dalam pemeriksaan tinja 0%. kondisi sanitasi lingkungan rumah ?baik? sebesar 22,7%, ?cukup? sebesar 57,7% dan ?buruk? 19,6%. hasil analisa statistik dengan menggunakah uji Chi Square menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara kondisi sanitasi lingkungan rumah dengan kejadian kecacingan.
Untuk menurunkan angka kejadian pada murid SD Bandarhardjo perlu dilakukan pemeriksaan berkala dan penanaman kebiasaan hidup sehat melalui kegiatan-kegiatan di sekolah.
Kata Kunci: KEJADIAN KECACINGA
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN GIZI IBU, RIWAYAT PEMBERIAN MP-ASI DAN STATUS EKONOMI DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI DESA NGAJARAN KECAMATAN TUNTANG KABUPATEN SEMARANG
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita
(dibawah lima tahun) akibat kurangnya asupan gizi yang bersifat kronik. Menurut
World Health Organizational (WHO), Indonesia masuk kedalam negara ketiga
dengan kejadian tertinggi Asia Tenggara sebesar 27,7%. Pengetahuan gizi ibu,
pemberian asi eksklusif, pemberian MP-ASI, status ekonomi, sanitasi, asupan gizi,,
penyakit infeksi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi stunting pada
balita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan
Gizi Ibu, riwayat pemberian MP-ASI dan Status Ekonomi dengan kejadian stunting
pada balita di Desa Ngajaran Kecamatan Tuntang
Metode : Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan desain
case control. Populasi dalam penelitian ini adalah balita berusia 24-59 bulan di Desa
Ngajaran Kecamatan Tuntang. Teknis sampling yang digunakan dalam penelitian ini
adalah simple random sampling sejumlah 88 balita terdiri 22 sampel kasus dan 66
sampel kontrol. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner dan data sekunder.
Analisis data menggunakan uji chi square
Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan p =
0,053, OR = 2,968 (CI 95% 1,099 – 8,021), riwayat pemberian mp-asi p = 0,004, OR
= 4.929 (1.743 – 13.936) dan status ekonomi p = 0,047, OR = 0,327 (CI 95% 0,120 –
0,890) dengan kejadian stunting pada balita di Desa Ngajaran Kecamatan Tuntang
Kabupaten Semarang
Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan pelayanan kesehatan melakukan
sosialisasi tentang pentingnya pengetahuan gizi, pemberian MP-ASI pada usia 6
bulan kepada orang tua yang memiliki balit
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI ANAK DI SD N KEMAMBANG 02 KECAMATAN BANYUBIRU KABUPATEN SEMARANG
Status gizi dianggap menghawatirkan apabila berkisar 20,0-29,0%,
serta sangat parah jika mencapai ≥30%. Pada 2013 prevalensi di Indonesia mencapai
19,6%. Kecukupan gizi dapat mempengaruhi kesehatan dan produktivitas. Indonesia
mengalami masalah gizi ganda, yaitu masalah gizi kurang dan masalah gizi lebih.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan
Status Gizi Anak Di SD N Kemambang 02
Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan
cross sectional, dengan 50 subjek anak SD kelas 1-3 di SD N Kemambang 02.
Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Cara pengumpulan data
dengan pengukuran langsung dan pengisian kuesioner.
Hasil: Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji
chi-square. Hasil penelitian menunjukkan (52%) ibu memiliki pendidikan tinggi,
(42%) ibu memiliki pengetahuan gizi yang baik, (64%) ibu tidak bekerja, (88%) anak
tidak memiliki riwayat penyakit infeksi, (72%) keluarga berpendapatan rendah. Dari
50 anak (52%) memiliki status gizi normal, (48%) anak dalam kategori gizi tidak
normal. Faktor yang berhubungan dengan status gizi adalah pendidikan ibu
(P=0,005), pengetahuan gizi ibu (P= 0,000) dan pekerjaan ibu (P 0,004). Faktor-
faktor yang tidak berhubungan dengan status gizi adalah riwayat penyakit (P=1,000)
dan pendapatan keluarga (P=1,000). Simpulan penelitian, variabel yang berhubungan
dengan status gizi adalah pendidikan ibu, pegetahuan gizi ibu dan pekerjaan ibu
GAMBARAN DETERMINAN LINGKUNGAN FISIK YANG BERISIKO TERHADAP KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI DESA BERGAS KIDUL, KABUPATEN SEMARANG
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh
virus dengue melalui vektor nyamuk aedes aegypti yang dapat menyebabkan
kematian. Saat ini larva aedes aegypti mampu bertahan di air tercemar seperti
selokan dan air di barang bekas sehingga faktor lingkungan berperan penting
terhadap kejadian DBD. Penelitian ini bertujuan menggambarkan determinan
lingkungan fisik yang berisiko terhadap kejadian DBD di Desa Bergas Kidul.
Metode: Desain penelitian ini deskriptif kategorik dengan pendekatan cross
sectional. Sampel yang digunakan 96 rumah yang dipilih secara acak dengan
cluster random sampling. Instrumen penelitian ini adalah lembar checklist dan
lembar observasi. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis univariat
yang disajikan dengan distribusi frekuensi.
Hasil: Rumah responden dengan kelembaban udara tidak memenuhi syarat
optimum sebanyak 94,8%, tetapi 52,1% rumah responden masih memiliki suhu
udara memenuhi syarat optimum, 53,1% rumah responden tidak memiliki kawat
kasa, 50% masih memiliki barang bekas disekitarnya, dan 69,8% rumah
responden tidak berpotensi DBD berdasarkan keberadaan jentik nyamuk.
Simpulan: Hampir semua rumah responden memiliki kelembaban udara tidak
memenuhi syarat optimum, tetapi dengan suhu udara yang masih memenuhi
syarat optimum. Mayoritas responden tidak memiliki kawat kasa, masih
ditemukan barang bekas di lingkungan tersebut, dan masih terdapat jentik nyamuk
di beberapa TPA sehingga keadaan tersebut berisiko untuk terjadinya penularan
DBD
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEPIL 2 KABUPATEN WONOSOBO
Kasus stunting di Kabupaten Wonosobo meningkat pada tahun
2021 sebesar 32.5% dibandingkan pada tahun 2020 sebesar 27.17%. Wilayah
kerja Puskesmas Kepil 02 menjadi daerah binaan Dinas Kesehatan Kabupaten
Wonosobo. Pemilihan variabel didasarkan pada fenomena di tempat penelitian
melalui studi pendahuluan.
Metode : Metode penelitian analitik observasional dengan desain penelitian case
control. Jumlah sampel 61 terdiri dari 31 sampel kasus dan 31 sampel kontrol
dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data primer menggunakan
laporan tahunan Puskesmas dan data sekunder melalui wawancara dan observasi
responden. Data dianalisis menggunakan uji univariat dan bivariat.
Hasil : Hasil penelitian berdasarkan analisis bivariat yang berhubungan dengan
kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kepil 02 adalah riwayat
BBLR p=0.00 (OR=14.778 ; 95%CI= 3.679-59.499). Riwayat penyakit infeksi
p=0.023 (OR=5.167 ; 95%CI= 1.006-76.097). Ketersediaan jamban p=0.018
(OR=3.657 ; 95%CI= 1.220-10.962). SPAL p=0.02 (OR=2.192 ; 95%CI= 1.651-
2.911). Pengolahan sampah p=0.02 (OR=2.192 ; 95%CI= 1.651-2.911). Yang
ttidak berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja
Puskesmas Kepil 02 adalah keadaan fisik SAB p=0.554 (OR=2.069 ; 95%CI=
0.178-24.075). Riwayat ASI eksklusif p=0.374 (OR=1.705 ; 95%CI= 0.523-
5.554). Kelengkapan imunisasi p=0.554 (OR=2.069 ; 95%CI= 0.178-24.075).
Simpulan dan Saran: Variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting pada
balita adalah riwayat BBLR, riwayat penyakit infeksi, ketersediaan jamban, SPAL
dan pengolahan sampah. Saran untu
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG PERILAKU MEROKOK PADA MAHASISWA DI HIPMAPAS
Latar Belakang: Merokok merupakan perilaku yang berbahaya bagi kesehatan. Tetapi masih banyak orang yang melakukannya. Seharusnya mereka yang berada di lingkungan akademi lebih mengerti mengenai informasi bahaya merokok. Jika sebagaimana banyak studi telah membuktikan bahwa pengetahuan merokok secara efektif mendorong menghentikan merokok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang perilaku merokok pada mahasiswa di HIPMAPAS.
Metode: Penelitian ini menggunakan deskriptif dengan metode pendekatan survey. Populasi yang digunakan dari seluruh mahasiswa yang tergabung di dalam grup HIPMAPAS dengan jumlah 240 orang. Sampel yang digunakan berjumlah 68 responden yang diambil secara purposive. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisis data menggunakan analisis univariat.
Hasil: Penelitian ini menunjukan tingkat pengetahuan perilaku merokok pada mahasiswa di HIPMAPAS dalam kategori kurang sebanyak 3 responden (4.4%), kategori baik sebanyak 25 responden (36,8%), sedangkan kategori cukup sebanyak 40 responden (58.8%).
Kesimpulan: Diharapkan mahasiswa harus mencarikan informasi tentang merokok, sehingga pengetahuan mahasiswa menjadi lebih baik, jika pengetahuan mahasiswa baik akan mempengaruhi tingkat pengetahuan mahasiswa tentang merokok.
Kata Kunci: Pengetahuan, Merokok, Mahasiswa
- …
