6 research outputs found
ANALISIS KINERJA STRUKTUR PADA GEDUNG CIBIS EIGHT CIBIS PARK CILANDAK DENGAN RESPON SPEKTRUM MENGGUNAKAN SOFTWARE ETABS V 20.2
Gedung Cibis Eight Cilandak merupakan gedung bertingkat yang berada di Jalan Raya Tahi Bonar Simatuppang nomor 2 kawasan perkantoran Cibis Park, Cilandak, Jakarta Selatan. Gedung ini terdiri dari 7 lantai tipikal dan atap dengan elevasi 32 m, memiliki kategori resiko II. Sebuah gedung harus memiliki kinerja yang optimal termasuk dalam menahan beban gempa sehingga keselamatan penghuni di dalamnya lebih terjamin. Analisis respon spektrum adalah salah satu metode yang umum digunakan dalam menganalisis beban gempa untuk mengetahui kinerja bangunan berdasarkan nilai simpangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui level kinerja struktur dan simpangan antar tingkat. Berdasarkan hasil analisis respon spektrum secara keseluruhan nilai simpangan antar tingkat berada di bawah simpangan antar tingkat izin, dengan nilai simpangan atap arah x sebesar 0,0598 m dan 0,0554 m pada arah y serta nilai rasio simpangan total maksimum arah x sebesar 0,0019 dan 0,0017 pada arah y. Berdasarkan ATC-40, Level kinerja struktur Gedung Cibis Eight Cilandak berada pada level kinerja Immediate Occupancy (IO), dengan dampak sedikit kerusakan struktural yang terjadi. Karakteristik dan kapasitas sistem penahan gaya vertikal dan lateral pada struktur masih sama dengan kondisi dimana gempa belum terjadi, sehingga bangunan aman dan dapat langsung dipakai
PENGARUH PENGGUNAAN STYROFOAM DAN KAWAT BENDRAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON RINGAN
Beton merupakan material yang banyak digunakan untuk struktur. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengurangi berat jenis beton yaitu dengan menggunakan agregat ringan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan kawat bendrat pada beton ringan. Beton ringan merupakan salah satu jenis beton dengan berat volume dibawah 1850 kg/m3 . Agar beton menjadi ringan, penambahan styrofoam dilakukan pada campuran beton. Beton yang semakin ringan maka kekuatan yang dimiliki akan semakin rendah, untuk itu dilakukan penambahan serat pada beton segar. Berkaitan dengan hal tersebut, dilakukan penelitian bersifat eksperimen di Laboratorium membuat beton menggunakan kawat bendrat sebesar 1% dari jumlah semen dengan penambahan styrofoam 10%, 30%, dan 50% dari volume agregat kasar terhadap kuat tekan beton. Pengujian dilakukan pada umur beton 14 hari dan 28 hari menggunakan benda uji berbentuk silinder 15 cm x 30 cm. Dari hasil penelitian, didapat hasil kuat tekan pada umur beton 14 hari dan 28 hari untuk beton normal sebesar 29.47 MPa dan 32.75 MPa. Pada beton serat nilai kuat menurun menjadi 26.93 MPa dan 29.53 MPa. Untuk kuat tekan beton serat dengan penambahan styrofoam 10%, 30% ,dan 50% pada 14 hari didapat 28.47 MPa, 22.37 MPa, dan 13.76 MPa. Sementara pada umur beton 28 hari didapat 31.85 MPa, 26.30 MPa, dan 15.44 MPa. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin banyak penambahan styrofoam kuat tekan akan semakin menurun. Kuat tekan beton maksimum diperoleh pada beton variasi penambahan styrofoam 10%, akan tetapi pada variasi tersebut tidak dikategorikan sebagai beton ringan. Beton ringan pada penelitian ini diperoleh pada penambahan styrofoam 50% dengan berat volume 1839.62 kg/m3 .Kata Kunci : pengaruh, styrofoam, kawat bendrat, kuat tekan, beton ringa
ANALISIS KUAT TEKAN DAN KUAT TARIK BELAH PADA BETON BUSA DENGAN PEMAKAIAN PASIR ABU BATU SEBAGAI AGRERAT HALUS
Beton busa merupakan salah satu inovasi baru yang dikategorikan ke dalam beton ringan yang mempunyai berat jenis rendah yang semakin banyak digunakan dalam dunia konstruksi di Indonesia. Beton busa tersusun atas bahan – bahan agregat halus,semen,air dan foam agent. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kuat tekan dan kuat tarik belah dari beton busa dengan variasi foam agent yang digunakan dan juga pengaruh dari agregat halus yang digunakan yaitu pasir abu batu. Pengujian kuat tekan beton dilakukan untuk mengetahui seberapa baik kualitas beton dalam menahan tekanan atau beban yang akan dipikul. Pengujian kuat tarik belah beton bertujuan untuk mengevaluasi ketahanan geser dan rambatan dari komponen struktur beton. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium karena bersifat eksperimen, variasi foam agent yang digunakan adalah 15% dan 30% dari jumlah semen per m³, pengujian dilakukan pada umur beton 14 hari, 28 hari dan 35 hari menggunakan benda uji silinder 15 cm x 30 cm. Dari hasil penelitian di dapat Rata – rata kuat tekan berturut – turut menurut umur beton 14 hari, 28 hari dan 35 hari adalah : 23.13 Mpa, 26.25 Mpa, dan 27.78 Mpa (tanpa foam agent), 17.54 Mpa, 20.29 Mpa, dan 21.91 Mpa (foam agent 15%), 13.44 Mpa, 15.11 Mpa dan 16.69 Mpa (foam agent 30%). Rata – rata kuat tarik belah berturut – turut menurut umur beton 14 hari, 28 hari dan 35 hari adalah : 3.62 Mpa, 4.09 Mpa, dan 4.32 Mpa (tanpa foam agent), 2.93 Mpa, 3.34 Mpa, dan 3.59 Mpa (foam agent 15%), 2.02 Mpa, 2.42 Mpa dan 2.66 Mpa (foam agent 30%). Kesimpulan dari hasil penelitian yaitu semakin banyak variasi foam agent yang dicampurkan semakin rendah kuat tekan dan tarik belah beton busa. Pada penelitian ini yang termasuk ke dalam beton ringan adalah beton busa dengan variasi foam agent 15% dan 30% dengan berat volume maksimum masing – masing 1735.85 kg/m³ dan 1298.11 kg/m³
ANALISIS BIAYA DAN WAKTU PROYEK APARTEMEN GATEWAY PARK JATI CEMPAKA DENGAN METODE NILAI HASIL
Perencanaan pengendalian waktu dan biaya merupakan bagian dari struktur manajemen proyek konstruksi secara keseluruhan. Pengendalian proyek diperlukan agar pekerjaan tetap berjalan sesuai rencana dalam batas waktu, biaya dan mutu yang ditetapkan pada rencana awal. Analisis dilakukan pada proyek Apartemen Gateway Park Jati Cempaka, Bekasi.Dengan analisis konsep Nilai Hasil dapat diketahui hubungan antara apa yang sesungguhnya telah dicapai secara fisik terhadap jumlah anggaran yang telah dikeluarkan. Ada tiga indikator dasar yang menjadi acuan dalam menganalisis kinerja dari proyek berdasarkan konsep Nilai Hasil,yaitu BCWS, BCWP, dan ACWP. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis biaya dan waktu pekerjaan pada Proyek Apartemen Gateway Park Jati Cempaka ini adalah:Mengetahui penyimpangan terhadap waktu pada Proyek Apartemen Gateway Park Jati Cempaka.Mengetahui penyimpangan terhadap biaya pada Proyek Apartemen Gateway Park Jati Cempaka.Mengetahui pengendalian biaya pada Proyek Apartemen Gateway Park Jati Cempaka.Mengetahui indeks kinerja biaya dan waktu pada Proyek Apartemen Gateway Park Jati Cempaka Dari hasil perhituangan Schedule Varians (SV) pada minggu pertama sampai Minggu ke 24 (dua puluh empat) menunjukan angka negatif,yang artinya pelaksanaan proyek lebih lambat dibandingkan Schedule yang direncanakan.Dari hasil perhitungan Cost Varians (CV) pada Minggu ke 2 dan Minggu ke 3 menunjukan angka negatif yang artinya proyek menelan anggaran lebih besar dari rencana awal sementara pada Minggu ke 4 dan Minggu ke 5 menunjukan angka positif yang artinya penggunaan biaya proyek lebih kecil dari anggaran dan pada Minggu ke 6 sampai dengan Minggu ke 24 proyek kembali menelan anggaran biaya lebih besar dari rencana awal proyek. Hasil perhitungan Schedule Performance Index (SPI) pada minggu pertama sampai dengan Minggu ke 24 sebesar 0,95 yang menunjukan proyek mengalami keterlambatan.Hasil perhitungan Cost Performance Index (CPI) pada minggu pertama sampai dengan Minggu ke 24 sebesar 1,00 menunjukan bahwa pelaksanaan proyek dilapangan sesuai dengan rencana anggaran biaya
PEMANFAATAN BOTTOM ASH PEMBAKARAN PLTSA SEBAGAI SUBSITUSI PASIR PENYUSUN PAVING BLOCK
Waste management in Indonesia poses a significant challenge, and to address this issue, the government has established waste-to-energy plants (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah - PLTSa) in Bantar Gebang that generate bottom ash waste. This study focuses on utilizing bottom ash as a substitute for fine aggregate in the production of concrete paving blocks. The research aims to analyze the compressive strength, abrasion, and absorption properties of the paving blocks with various mixtures of bottom ash (0%, 10%, 30%, 50%, 60%, 80%, and 100%) at a curing age of 28 days. The results indicate that the use of bottom ash as a substitute for fine aggregate increases the compressive strength of the paving blocks. The mixture with 100% bottom ash exhibits the highest compressive strength due to the high content of calcium oxide and silicon dioxide, similar to cement content. However, the replacement of up to 50% of fine aggregate with bottom ash leads to an increase in abrasion values, indicating reduced abrasion resistance. On the other hand, paving mixtures containing 60% to 100% bottom ash show improved abrasion resistance compared to lower percentages. Absorption tests reveal that mixtures containing 10% to 100% bottom ash exhibit higher absorption values compared to the control sample without bottom ash, attributed to the high absorption capacity of bottom ash compared to sand. In conclusion, this study highlights that bottom ash from PLTSa can be effectively used as a substitute material in the production of paving blocks, leading to enhanced compressive strength and abrasion resistance. However, careful consideration of the percentage of substitution is essential to ensure compliance with the quality standards. This innovative approach has the potential to contribute to the reduction of negative impacts from PLTSa waste and offer a sustainable solution to waste management in Indonesia, promoting environmental conservation and improving infrastructure quality in the long run
PEMANFAATAN BOTTOM ASH PEMBAKARAN PLTSA SEBAGAI SUBSITUSI PASIR PENYUSUN PAVING BLOCK
Waste management in Indonesia poses a significant challenge, and to address this issue, the government has established waste-to-energy plants (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah - PLTSa) in Bantar Gebang that generate bottom ash waste. This study focuses on utilizing bottom ash as a substitute for fine aggregate in the production of concrete paving blocks. The research aims to analyze the compressive strength, abrasion, and absorption properties of the paving blocks with various mixtures of bottom ash (0%, 10%, 30%, 50%, 60%, 80%, and 100%) at a curing age of 28 days. The results indicate that the use of bottom ash as a substitute for fine aggregate increases the compressive strength of the paving blocks. The mixture with 100% bottom ash exhibits the highest compressive strength due to the high content of calcium oxide and silicon dioxide, similar to cement content. However, the replacement of up to 50% of fine aggregate with bottom ash leads to an increase in abrasion values, indicating reduced abrasion resistance. On the other hand, paving mixtures containing 60% to 100% bottom ash show improved abrasion resistance compared to lower percentages. Absorption tests reveal that mixtures containing 10% to 100% bottom ash exhibit higher absorption values compared to the control sample without bottom ash, attributed to the high absorption capacity of bottom ash compared to sand. In conclusion, this study highlights that bottom ash from PLTSa can be effectively used as a substitute material in the production of paving blocks, leading to enhanced compressive strength and abrasion resistance. However, careful consideration of the percentage of substitution is essential to ensure compliance with the quality standards. This innovative approach has the potential to contribute to the reduction of negative impacts from PLTSa waste and offer a sustainable solution to waste management in Indonesia, promoting environmental conservation and improving infrastructure quality in the long run
