226 research outputs found
PERANAN SYAFRUDDIN PRAWIRANEGARA DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI MASA PDRI 1948-1949
ABSTRAKPihak Belanda diwakili oleh Dr.L.J.Beel menyatakan bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Perjanjian Renville. Sehingga melakukan Agresi Militer II (operasi gagak) ini terjadi pada 19 Desember 1948 pukul 05.30 dengan melakukan penyerangan terhadap ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia di Yogyakarta saat itu. Maka penulisan artikel jurnal ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis empat permasalahan pokok yaitu : (1) Latar Belakang Berdirinya PDRI; (2) PDRI: Antara Mandat dan Kecerdasan Syafruddin Prawiranegara; (3) Perjalanan Singkat PDRI; dan (4)Akhir dari PDRI. Pendekatan dalam penulisan menggunakan cara deskriptif analitis sumber, verifikasi (kritik sumber), interpretasi dan penulisan sejarah. Hasil dari penulisan ini menunjukkan bahwa (1) Latar belakang PDRI atas dasar menyelamatkan dan mempertahankan proklamasi yang telah diperjuangkan oleh segenap bangsa Indonesia. (2) PDRI : antara mandat dan kecerdasan Syafruddin Prawiranegara mesti bergerilya dituntut memiliki mobilitas yang tinggi dengan berpindah-pindah kedudukannya dalam menghindari serangan lawan sehingga pengambilan keputusan mesti cepat dan tepat. (3) Perjalanan singkat PDRI yang krusial ini menarik simpati dunia luar sehingga dewan keamanan PBB mengeluarkan resolusi pada 28 Januari 1949. (4) Akhir dari PDRI ditandai Perjanjian Roem-Roijen kemudian pada penyerahan mandat dari PDRI ke Moh.Hatta pada tanggal 14 Juli 1949.Kata Kunci: Syafruddin Prawiranegara, Gerilya, Eksistensi IndonesiaABSTRACTThe Dutch side Dr.LJBeel stated that the Netherlands was no longer bound by the Renville Agreement. So that the second military aggression (operation crow) occurred on December 19, 1948 at 05.30 by attacking the capital city of the Unitary State of the Republic of Indonesia in Yogyakarta at that time. So the writing of this journal article aims to describe and analyze four main problems, namely: (1) Background to the Establishment of PDRI; (2) PDRI: The Mandate and Intelligence of Syafruddin Prawiranegara; (3) PDRI Short Trip; and (4) End of PDRI. The approach in writing uses descriptive analytical sources, verification (source criticism), interpretation and historical writing. The results of this paper indicate that (1) The background of the PDRI on the basis of saving and defending the proclamation that has been fought for by the entire Indonesian nation. (2) PDRI: between the mandate and intelligence of Syafruddin Prawiranegara, guerrillas are required to have high mobility by moving from position to position in avoiding opponent attacks so that decision making must be fast and precise. (3) This crucial short trip of PDRI attracted the sympathy of the outside world so that the UN security council issued a resolution on January 28, 1949. (4) The end of PDRI was marked by the Roem-Roijen Agreement and then the handing over of the mandate from PDRI to Moh.Hatta on July 14, 1949.Keywords: Syafruddin Prawiranegara, Guerrilla, Indonesian Existenc
The Influence of the Implementation of Unconscious Mind Program to Students' Mathematics Learning Achievement
Pemodelan Matematika SEIRS pada Penyebaran Covid-19 dengan Penerapan Protokol Kesehatan (Studi Kasus di Kabupaten Bulukumba)
Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengkonstruksi model SEIRS pada penyebaran Covid-19 di Kabupaten Bulukumba dengan mempertimbangkan penerapan protocol kesehatan. Analisis model menggunakan matriks next generasi untuk memperoleh bilangan reproduksi dasar dan kestabilan dari titik ekuilibrium model. Hasil simulasi menunjukkan bahwa penerapan protocol kesehatan yang efektif, yaitu lebih dari 21%, akan dapat menghambat laju penularan Covid-19 di Kabupaten Bulukumba
MODEL SEIR PADA PENULARAN HEPATITIS B
Penyakit Hepatitis B dapat ditafsirkan dengan persamaan matematika. Paper ini membahas pemodelan matematika pada penularan Hepatitis B dengan membagi kelompok populasi menjadi empat bagian yaitu Suspectible, Exposed, Infected dan Recovered (SEIR). Model matematika yang digunakan pada penularan Hepatitis B adalah model SEIR dengan mengasumsikan bahwa laju kelahiran dan kematian adalah sama. Model SEIR yang digunakan juga memperhatikan faktor vaksinasi, imigrasi dan emigrasi yang terjadi pada populasi. Hasil yang diperoleh pada pemodelan SEIR adalah persamaan matematika yang merupakan system persamaan differensial biasa tidak linear berdimensi empat (4-D). Sistem persamaan tersebut kemudian disederhanakan menjadi sistem persamaan differnsial tidak linear tiga dimensi (3-D). Sistem dapat disederhanakan karena asumsi bahwa populasi yang telah sembuh dari Hepatitis B menjadi kebal dan tidak lagi terinfeksi penyakit tersebut.</p
- …
