1,721,013 research outputs found

    Kontribusi K.H. Imam Shonhaji dalam pengembangan pesantren Sukamiskin Tahun 1966-2009

    Get PDF
    Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang telah ada sejak lama. Peran pondok pesantren sebagai institusi keagamaan, tidak lepas dari sosok kyai di pondok pesantren tersebut dalam mengembangkan dan melestarikan tradisi dan nilai-nilai di lingkungan masyarakat. Salah satunya Pesantren Sukamiskin yang berdiri sejak abad ke-19 didirikan oleh Muhammad bin Alqo. Salah satu pemimpin dari Pesantren Sukamiskin ialah K.H Imam Shonhaji. K.H Imam Sonhaji merupakan pemimpin keempat yang meneruskan kepemimpinan dari K.H R Achmad Haedar. Pada tahun 1966 K.H Imam Shonhaji mulai menginjakan kaki di Sukamiskin sebagai santri. Berdasarkan uraian di atas, terdapat rumusan masalah sebagai berikut: pertama, bagaimana biografi K.H Imam Shonhaji? Kedua, bagaimana kontribusi K.H. Imam Shonhaji dalam pengembangan Pesantren Sukamiskin tahun 1966-2009?. Sebagai hasil dari penelitian ini, K.H Imam Shonhaji bernama lengkap Imam Shonhaji yang mempunyai nama asli Atang, ia dilahirkan di Subang pada tanggal 18 April 1943. K.H Imam Shonhaji merupakan anak ketiga dari pasangan H.Muhyiddin dan Hj Nuraenah. Selanjutnya dalam rentang waktu lima tahun tepatnya tahun 1961-1966 K.H Imam Shonhaji mampu menamatkan tingkat tsanawiyah. Pada tahun 1975 K.H R. Ahmad Haedar menikahkan putri pertamanya yaitu Hj Maemunah Haedar kepada Imam Shonhaji, dan diangkat menjadi pimpinan Pesantren Sukamiskin. Kegiatan di pesantren yang dilakukan oleh K.H Imam Shonhaji ialah mengajar ngaji para santri. Sedangkan untuk kontribusi K.H Imam Shonhaji yaitu memimpin Pesantren Sukamiskin, menjadi Rois Syuriah di NU, ketua FKPP kota bandung, mendirikan pesantren, mendirikan sekolah formal di Pesantren Sukamiskin serta menjadi dewan syuro di Partai Kebangkitan Bangsa. Untuk bidang keagamaan K.H. Imam Shonhaji sering mengisi dakwah dan pengajian di sekitar lingkungan rumah, sedangkan dalam bidang sosial kegiatan yang dilaksanakan ialah adanya santri raksa moral, santri raksa desa, santri nyaah ka kolot, santri raksa usaha, santri raksa pangan

    PERAN SANTRI DALAM OPTIMASI GERAKAN MAGRIB MENGAJI DI PONDOK ASH-SHONHAJI SUKAMISKIN, KOTA BANDUNG

    Get PDF
    Mengaji merupakan salah satu aktivitas ibadah dan kearifan lokal masyarakat Indonesia. Menurunnya minat mengaji pada anak-anak disebabkan faktor minat anak, pergeseran pola asuh, kontrol sosial, teman bermain, perkembangan IT dan lingkungan belajar. Tahun 2015, sebanyak 54% muslim Indonesia terkategori buta huruf al-Qurân. Pemerintah Kota Bandung meresmikan Gerakan Magrib Mengaji sebagai langkah strategis untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang bernuansa religius. Pelaksanaan Gerakan Magrib Mengaji memerlukan dukungan sumber daya manusia. Santri sebagai sosok yang lahir dari pesantren sebagai sumber daya manusia yang membumikan dan mengimplementasikan nilai-nilai al-Qurân. Berawal dari landasan pemikiran tersebut, penelitian ini bertujuan mendekripsikan peran santri dalam optimasi Gerakan Magrib Mengaji di Pondok Ash-Shonhaji Sukamiskin, Kota Bandung. Penelitian dilakukan di Pondok Ash-Shonhaji dengan salah satu subjek penelitiannya ialah santri yang menjadi pengajar dalam Gerakan Magrib Mengaji. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Analisis data yang diterapkan ialah analisis data model Miles dan Huberman dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa santri memiliki peran yang penting dalam optimasi Gerakan Magrib Mengaji di Pondok Ash-Shonhaji Sukamikin, Kota Bandung. Santri berperan sebagai motivator untuk dirinya sendiri dan orang lain. Santri berperan sebagai perencana (planner), dan pelaksana (organizer) Gerakan Magrib Mengaji yang diaktualisasikan dalam berbagai program kegiatan. Dalam perannya sebagai pelaksana, santri juga berperan sebagai pengajar/pendidik yang mentransferkan ilmu pengetahuan, nilai dan norma kepada santri didikannya. Santri berperan sebagai pembimbing yang mendiagnosa kesulitan dan permasalahan santri didikannya dalam mengaji serta menguatkan hubungan antara santri pengajar dengan santri didikannya. Santri berperan sebagai penilai (evaluator) yang memberikan pertimbangan atas tingkat keberhasilan kegiatan pengajian berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Reciting al-Qurân is one of the worshipping activities and local wisdom of Indonesian. The decrease of reciting al-Qurân interest on children due to factors as children interest, parenting style shifting, social control, playmate, information and technology development, and learning environment. In 2015, 54% of muslim in Indonesia are categorized as al-Qurân illiterate. Bandung City Government initiate the Gerakan Magrib Mengaji as a strategy to revive the religious local wisdom values. The implementation of Gerakan Magrib Mengaji needs human resources support. Santri, who learns in the pesantren, is the one who spread the al-Qurân in the world as and implement it as well. Based on that rationale, this research describes the role of santri in the optimization of Gerakan Magrib Mengaji in Pondok Ash-Shonhaji Sukamiskin, Bandung City. This research is done at Pondok Ash-Shonhaji with santri who teaches in Gerakan Magrib Mengaji as the subject of this research. This research used qualitative approach with descriptive method. This research uses Miles and Huberman data analysis model and it uses observation, interview, and documentation as data collecting technique. This research shows that santri has important role in in the optimization of Gerakan Magrib Mengaji in Pondok Ash-Shonhaji Sukamiskin, Bandung City. Santri has a role to motivate their selves and others. They have roles as the planner and organizer on Gerakan Magrib Mengaji which is actualized as various programs. As the organizer, santri also has a role to teach or educate and pass the knowledge, value, and norm to their students.Santri has a role to guide and diagnose difficulties and problems of their students on reciting al-Qurân as well as strengthen the connection between them. Santri also has a role as the evaluator who gives the consideration for categorizing the reciting al-Qurân achievement based on the criteria given

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore