64 research outputs found

    Pengaruh Suplementasi Fitase, Seng Oksida (ZnO) dan Tembaga Sulfat (CuSo4) Terhadap Performans Ayam Broiler (The Effect of Suplementation Phytase, Zinc Oxide and Cupric Sulfate on Broiler Performance)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi suplemen pakan berupa fitase, seng oksida dan tembaga sulfat yang menghasilkan performans broiler paling baik. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap sembilan perlakuan dan empat ulangan. Setiap unit percobaan terdiri atas delapan ekor broiler berumur satu hari (doc). Ransum perlakuan adalah R1(ransum kontrol positif); R2 (ransum kontrol negatif); R3 (R2 + 132,7 ppm ZnO); R4 (R2 + 286,16 ppm CuSO4); R5 (R2 + 132,7 ppm ZnO + 286,16 ppm CuSO4 ); R6 (R2 +  Fitase 1000 FTU/kg); R7 (R2 +  Fitase 1000 FTU/kg + 132,7 ppm ZnO); R8 (R2 + Fitase 1000 FTU/kg + 286,16 ppm CuSO4);  R9 (R2 + Fitase 1000 FTU/kg +  132,7 ppm ZnO  + 286,16 ppm CuSO4 ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi fitase, seng oksida dan tembaga sulfat pada ransum tidak mempengaruhi konsumsi. Kombinasi fitase 1000 FTU/kg, ZnO (132,7 ppm) dan CuSO4 (286,16 ppm) efektif dalam meningkatkan bobot badan akhir, pertambahan bobot badan dan konversi ransum ayam broiler.Kata Kunci : fitase, ZnO, CuSO4, performans, broile

    Peningkatan Kualitas Nutrisi Duckweed Melalui Fermentasi Menggunakan Trichoderma harzianum

    Get PDF
    Jumlah inokulum dan waktu fermentasi merupakan faktor penentu keberhasilan proses fermentasi dalam memperbaiki  kandungan nutrien duckweed.  Tujuan penelitian adalah untuk memperbaiki kandungan nutrien duckweed melalui penentuan jumlah inokulum dan waktu selama proses fermentasi.  Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial  3x4 dengan ulangan dua kali.  Faktor pertama  jumlah inokulum Trichoderma harzianum (1. 107 ,  2.107 ,dan 3.107  spora per 100 gram substrat) dan faktor kedua waktu fermentasi (24, 48, 72, dan 96  jam).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi dengan jumlah inokulum 3.107 spora per 100 gram substrat dan waktu 24 jam berhasil memperbaiki kandungan nutrien duckweed.  Hal demikian ditunjukkan dengan peningkatan kandungan protein kasar substrat dari 18,19% menjadi 19,07% dan penurunan kandungan serat kasar substrat dari 15,1% menjadi 3,6%. Kata Kunci :   inokulum, waktu fermentasi,  duckweed,  Trichoderma harzianum

    Pengaruh Suplementasi Fitase, Zing Oksida, dan Cupric Sulfat terhadap Penampilan Ayam Broiler

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi fitase, zinc oksid, dan cupric sulfat yang menghasilkan penampilan ayam broiler paling baik. Dua ratus delapan puluh delapan ekor DOC (Unsexed) yang dipelihara selama 42 hari  dialokasikan ke dalam rancangan acak lengkap  dengan 9 ransum perlakuan dan diulang sebanyak 4 kali.  Kombinasi ransum perlakuan terdiri atas R1(ransum kontrol positif); R2 (ransum kontrol negatif); R3 (ransum kontrol negatif  +  132,7 ppm ZnO); R4 (ransum kontrol negatif  +  286,16 ppm CuSO4); R5 (ransum kontrol negatif  +  132,7 ppm ZnO  + 286,16 ppm CuSO4 ); R6 (ransum kontrol negatif  +  fitase 1000 FTU/Kg);  R7 (ransum kontrol negatif  +  fitase 1000 FTU/Kg  +  132,7 ppm ZnO);  R8 (ransum kontrol negatif  +  fitase 1000 FTU/Kg  +  286,16 ppm CuSO4);      R9 (ransum kontrol negatif +  fitase 1000 FTU/Kg +  132,7 ppm ZnO  + 286,16 ppm CuSO4 ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi enzim fitase, seng, dan tembaga pada ransum tidak mempengaruhi konsumsi. Kombinasi fitase 1000 FTU/kg, ZnO (132,7 ppm), dan CuSO4 (286,16 ppm) efektif dalam meningkatkan pertambahan bobot badan, dan konversi ransum ayam broiler.Kata Kunci : fitase, zinc oksid, cupric sulfat, penampilan ayam broile

    Respons Ayam Broiler yang Diberi Ransum dengan Suplementasi Fitase, Zn dan Cu (Broiler Response Feed upon Phytase, Zn, and Cu Suplementation)

    Get PDF
    Seng dan tembaga bersifat antagonis di dalam media intestinal metallothionein.  Zn mempunyai afinitas yang lebih tinggi untuk berikatan dengan histidin dan sistein, sedangkan Cu hanya berafinitas tinggi dengan histidin.  Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan interaksi antara mineral seng, tembaga, dan aktivitas alkalin fosfatase pada ayam broiler  yang  diberi ransum dengan suplementasi  fitase, Zn dan Cu.  Dua ratus delapan puluh delapan ekor DOC (Unsexed) yang dipelihara selama 42 hari, dialokasikan ke dalam rancangan acak lengkap dengan sembilan ransum perlakuan dan diulang sebanyak empat kali.  Kombinasi ransum penelitian terdiri atas: R1 (Ransum kontrol positif), R2 (Ransum kontrol negatif), R3 (R2 + 132,70 ppm ZnO), R4 (R2 + 286,16 ppm CuSO4), R5 (R2 + 132,70 ppm ZnO + 286,16 ppm CuSO4), R6 (R2 + fitase 1000 FTU/kg), R7 (R2 + fitase 1000 FTU/kg + 132,70 ppm ZnO), R8 (R2 + fitase 1000 FTU/kg + 286,16 ppm CuSO4), R9 (R2 + fitase 1000 FTU/kg + 132,70 ppm ZnO + 286,16 ppm CuSO4).  Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa suplementasi kombinasi fitase 1000 FTU/kg, ZnO 132,70 ppm, dan CuSO4 286,16 ppm dalam ransum memberikan interaksi sinergis yang ditandai dengan peningkatan kandungan Zn dalam serum dan aktivitas alkalin fosfatase. Kata kunci : seng, tembaga, aktivitas alkalin fosfatase, ayam broile

    Lo sviluppo della coscienza morale nella prima infanzia: il contributo di Grazyna Kochanska

    No full text
    Premesse teoriche: La psicologia del ‘900 ha descritto i processi di base dello sviluppo morale. La psicoanalisi, la psicologia cognitiva e quella evoluzionista hanno descritto traiettorie diverse dello sviluppo morale, sottolineando il ruolo delle interazioni e rappresentazioni precoci, della cognizione e del bisogno di connessione interindividuale. Obiettivo: È stata condotta una rassegna sul lavoro di Grazyna Kochanska relativo alle determinanti precoci della Coscienza Morale. Definendo la Coscienza Morale come un sistema autonomo di guida del bambino che si compone di tre sistemi interrelati – emotivo, comportamentale e cognitivo –, le ricerche dell’autrice inseriscono in una cornice sovraordinata i diversi aspetti della moralità infantile descritti dalle principali correnti teoriche del secolo scorso. Metodologia: Abbiamo passato in rassegna alcuni dei contributi più significativi dell’autrice, riportando i dati di maggior rilievo e illustrando quei processi che secondo l’autrice definiscono in modo integrato fasi e peculiarità dello sviluppo precoce di una Coscienza Morale. Discussione critica e conclusioni: Muovendosi all’interno di una cornice integrata, l’autrice descrive l’emergere della Coscienza Morale attraverso l’interdipendenza di emozioni, condotte e cognizione morali sia in relazione al temperamento che alla matrice di accudimento del bambino. In questo modo, la Coscienza Morale in Kochanska diviene un sistema sofisticato ad esordio precoce, che evolve progressivamente durante l’infanzia al fine di guidare il bambino nell’adattare il proprio comportamento in maniera appropriata al suo contesto.Theoretical background: 19th century psychology shed light on child morality and its main processes. Psychoanalysis, cognitive and evolutionary psychology described different moral developmental trajectories during childhood, underlining the part played by early relational interactions and representational processes, the crucial role of cognition, and the need for interindividual connectedness. Objective: Our review focuses on Grazyna Kochanska’s work on the early determinants of Moral Conscience. By describing Moral Conscience as an autonomous inner guiding system which encompasses three interrelated systems – emotional, behavioral and cognitive - Kochanska’s body of research makes it possible to consider within a coherent framework the different aspects peculiar to child’s morality described by the main psychological fields during last century. Method: We reviewed some of Kochanska’s most representative articles, summarizing relevant data and illustrating the processes that in the author’s view tie together phases and peculiarities of an early development of Moral Conscience. Critical discussion and conclusions: Within an integrated framework, the author describes the emergence of a Moral Conscience through the interplay of moral emotions, behaviors and cognitions both in relation to child’s temperament and as shaped by his early caregiving matrix. By so doing, Kochanska see Moral Conscience as a sophisticated system with early onset and evolving through infancy in order to guide the child in adjusting his behavior in a context-appropriate way

    Kandungan Lignin, Selulosa dan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen L.Minor Hasil Fermentasi Menggunakan Trichoderma harzianum dan Saccharomyces cerevisiae

    Get PDF
    Latar Belakang dan Tujuan: L. minor telah digunakan sebagai pakan ternak, mengandung nutrient sangat lengkap yaitu protein kasar (22,4%), asam amino lisin (6,9%), metionin (1,4%), dan histidin (2,7%) tetapi kandungan serat kasar (10,16%) dan lignin (17,98%) tinggi. Penggunaan L. minor pada unggas dibatasi hingga 5%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kandungan lignin, selulosa paling rendah  dan bahan ekstrak tanpa nitrogen paling tinggi L. minor hasil fermentasi dengan menggunakan Trichoderma harzianum (Th) dan Saccharomyces cerevisiae (Sc). Bahan dan Metode: Fermentasi L. minor dibagi menjadi dua tahap: I. Th (3 x 107 spora / 100 gram substrat) dengan menambahkan ZnCO3 (186 ppm) dan dl-methionine (286 ppm); II. Sc (3 x 107 spora / 100 gram substrat). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 20 unit percobaan. Perlakuan terdiri atas P1 (Fermentasi menggunakan Th selama 1 hari dilanjutkan dengan Sc selama 9 hari), P2 (Th selama 3 hari dilanjutkan dengan Sc selama 7 hari), P3 (Th selama 5 hari dilanjutkan dengan Sc selama 5 hari), P4 ( Th selama 7 hari dilanjutkan dengan Sc selama 3 hari), P5 (Th selama 9 hari dilanjutkan dengan Sc selama 1 hari) diulang empat kali. Pengaruh perlakuan dianalisis dengan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji Duncan untuk mengetahui perbedaan antara perlakuan. Hasil: Fermentasi menggunakan Th dan Sc memiliki efek yang signifikan (P <0,05) pada kandungan lignin, selulosa dan bahan ekstrak tanpa nitrogen. Waktu fermentasi paling baik adalah fermentasi dengan menggunakan Th selama 3 hari dan Sc selama 7 hari (P2) yang meningkatkan BETN (34,42%), dan menurunkan Lignin(1,25%) dan Selulosa (10,62%). Kesimpulan: Fermentasi L. minor dengan kombinasi Th selama 3 hari dan Sc selama 7 hari dengan menambahkan dl-methionine dan Zn telah menghasilkan BETN tertinggi, kandungan lignin dan selulosa terendah.Kata kunci: Kualitas nutrien L. minor,  itik, fermentasi, Trichoderma harzianum, Saccharomyces cerevisiae

    PENGARUH PENAMBAHAN MIKROKAPSUL DARI EKSTRAK LIMBAH IKAN PATIN TERHADAP AKTIVITAS ENZIM PENCERNAAN AYAM BROILER: The Effect of Adding Microcapsules of Catfish Waste Extract on the Digestive Enzyme Activity of Broiler Chickens

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan penyalut terbaik dalam proses pembuatan mikrokapsul dan dosis terbaik yang digunakannya. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) biasa dengan 10 perlakuan 3 kali ulangan. Perlakuan terdiri dari ransum tanpa mikrokapsul ekstrak limbah ikan patin fermentasi (MELIPF) dan ransum dengan penambahan mikrokapsul ekstrak limbah ikan patin fermentasi (MELIPF) dengan jenis penyalut dan dosis penggunaan yang berbeda – beda pada setiap perlakuannya. Data di analisis menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan analisis jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada hasil aktivitas enzim protease didapatkan perlakuan R5 dengan penyalut gum arab dengan dosis 1 % berbeda nyata terhadap perlakuan R2 dengan penggunaan penyalut maltodekstrin dengan dosis 1%, sedangkan pada hasil akitivitas enzim lipase perlakuan R0 tanpa penggunaan MELIPF berbeda nyata dengan R5 dengan penyalut gum arab dengan dosis 1% dan perlakuan R6 dengan penyalut gum arab dengan dosis 2 % berbeda nyata dengan perlakuan R9 dengan penggunaan penyalut gelatin dengan dosis 2%.   Kata kunci: Aktivitas enzim, Ekstrak limbah ikan patin, Fermentas

    Pengaruh Lama Pengukusan terhadap Suhu Gelatinisasi, Retensi Bahan Kering dan Energi Metabolis Tepung Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) pada Ayam Broiler

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian untuk mengetahui suhu gelatinisasi dan retensi tepung ubi jalar (Ipomoea batatas L.) pada ayam broiler akibat pengukusan dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas Non Ruminansia dan Industri Makanan Ternak Universitas Padjadjaran Jatinangor. Ubi jalar diberi empat perlakuan, yaitu tanpa pengukusan, dan pengukusan selama 15, 30, dan 45 menit.  Suhu gelatinisasi tepung umbi ubi jalar diukur menggunakan Pertens Rapid Visco Analizer. Pengukuran retensi bahan kering dan energi metabolis ransum dilakukan dengan metode koleksi total. Ayam pedaging strain Cobb sebanyak 20 ekor yang berumur 5 minggu ditempatkan pada 20 kandang individu yang terbuat dari kawat dengan ukuran 55 x 35 x 60 cm. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa suhu gelatinisasi ubi yang dikukus nyata berbeda (P0,05). Retensi bahan kering, energi metabolis (EM), dan energi metabolis terkoreksi nitrogen (EMn)  pada pengukusan selama 15 menit semuanya nyata lebih tinggi (P0,05) dari ubi jalar yang dikukus. Pengukusan selama 15 menit cukup untuk meningkatkan retensi ubi jalar.

    Empat Peristiwa Penting Di dalam Kehidupan Yusuf: Sebuah Kajian Terhadap Kecerdasan Yusuf

    Get PDF
    Abstract: Through survey of 4 major events in the life of Joseph in the book of Genesis, the author wants to state that the participation of God to Joseph include a holistic aspect. God prepared him to be the leader of Israel. God changed him to become the new Joseph having intelligence in aspects of morality as well as in intellectual, spiritual, and emotional aspects. The fourth aspects of this intelligence make him an important leader and would save his people, Israel. Through this paper, the readers also can draw important lessons from Joseph's life. Abstrak:Melalui tinjauan 4 peristiwa utama kehidupan Yusuf di dalam kitab Kejadian, penulis hendak menyatakan bahwa penyertaan Allah kepada Yusuf mencakup aspek yang holistik. Allah mempersiapkan Yusuf menjadi pemimpin bangsa Israel. Allah mengubah Yusuf yang lama menjadi Yusuf yang baru yang memiliki kecerdasan bukan hanya soal moralitas tetapi juga intelektual, spiritual, dan emosional. Keempat aspek kecerdasan ini menjadikan Yusuf sebagai seorang pemimpin penting dan akan menyelamatkan bangsanya, Israel. Melalui paper ini juga pembaca dapat menarik pelajaran penting kehidupan Yusuf
    corecore