11 research outputs found

    Hambatan Komunikasi Mamak Dengan Kemenakan Melalui Media Sosial Whatsapp

    Get PDF
    Mamak in matrilineal societies in Minangkabau hold a prominent position as the person responsible for the main family and their family of origin, including their nephews and nieces. This role is not limited to that of an uncle, but also as a leader and guardian of family heirlooms. However, this role cannot be optimally performed by mamak who live far from their homeland. Social media has become an alternative for mamak to maintain communication, preserve relationships, foster family traditions, and provide attention to their nieces and nephews. However, virtual communication poses obstacles for mamak to perform their roles optimally. This study uses descriptive qualitative research. The technique for determining informants is purposive sampling with 7 informants who are migrants. The results of the study show that the obstacles found are ineffective emotional closeness and interaction with nieces and nephews, adaptation from conventional to virtual communication makes it difficult for mamak to use social media, internet networks that are sometimes unstable, and limited internet quota costs. In this virtual communication, these obstacles affect social symbols and emotional closeness that can be interpreted and translated in direct interactions to maintain family relationships with nieces and nephews.Mamak dalam masyakat yang menganut sistem matrilineal di Minangkabau memiliki kedudukan utama sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap keluarga utama maupun keluarga asalnya, termasuk pada kemenakannya. Peran tersebut tidak hanya sebatas paman, namun juga sebagai pemimpin, penjaga harta pusaka, namun hal ini tidak dapat optimal dilakukan dalam kondisi mamak yang tinggal diperantauan karena berada jauh dari daerah asalnya. Media sosial menjadi alternative bagi mamak untuk tetap dapat berkomunikaasi, menjaga hubungan, membina tradisi keluarga dan memberikan perhatian pada kemenakan. Akan tetapi, komunikasi via virtual memiliki hambatan untuk mamak dapat menjalankan perannya dengan maksimal. Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif. Teknik penentuan informan purposive sampling dengan 7 informan perantau. Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa hambatan yang ditemukan yaitu kedekatan emosional dan interaksi dengan kemenakan yang tidak efektif, adaptasi peralihan dari komunikasi konvensional ke virtual menjadikan mamak kesulitan dalam menggunakan media sosial, jaringan internet yang kadang kala tidak lancar dan biaya kuota internet yang terbatas. Dalam komunikasi virtual ini hambatan tersebut mempengaruhi simbol-simbol sosial dan kedekatan emosional yang dapat dimaknai dan diterjemahkan dalam interksi secara langsung untuk menjaga relasi kekeluargaan dengan kemenakan.

    KUALITAS HIDUP LANSIA YANG TINGGAL DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA KOTA BENGKULU

    No full text
    Kualitas hidup lansia menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur kesejahteraan kelompok usia lanjut, terutama bagi mereka yang tinggal di panti sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kualitas hidup lansia di Panti Sosial Tresna Werdha di Kota Bengkulu. Fokus penelitian diarahkan pada empat dimensi utama kualitas hidup lansia, yaitu dimensi kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, dukungan sosial, dan lingkungan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Dengan teknik penentuan informan dilakukan secara purposive sampling sehingga diperoleh 10 informan yang terdiri atas 6 lanjut usia potensial, 2 lanjut usia non potensil dan 2 orang petugas panti. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi dengan teknik analisis data melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup lansia di Panti Sosial Tresna Werdha dilihat dari 4 dimensi yaitu dimensi kesehatan fisik lansia yang terlihat dari indikator ketergantungan atau tidaknya lansia dengan obat-obatan dan bantuan medis, keterbatasan energi lansia, mobilitas atau ruang gerak para lansia, kondisi penyakit yang lansia miliki, rasa tidak nyaman yang lansia miliki, istirahat atau tidur yang cukupnya dan pekerjaan yang mereka miliki; sedangkan dimensi kesejahteraan psikologisnya terlihat dari perasaan positif yang dimiliki, rasa harga diri, spiritual, keyakinan diri, dan kemampuan kognitifnya. Dimensi dukungan sosial terlihat dari aktivitas sosial; dan dimensi lingkungan terlihat dari indikator kondisi lingkungan yang baik, sarana prasaranya yang lengkap, kecukupan sumber finansial, terpenuhinya perawatan kesehatan dan terpenuhi kebutuhan rekreasi lansia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keberadaan panti sosial memberikan dukungan dasar yang cukup baik bagi lansia, tetapi masih diperlukan penguatan pada aspek psikologis dan sosial agar kualitas hidup lansia dapat meningkat secara menyeluruh. Kata Kunci: Kualitas Hidup, Lansia, Panti Sosial

    PERAN GANDA PEREMPUAN DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN KELUARGA (Studi Kasus Perempuan Pelaku Usaha Jagung Marning di Desa Bukit Barisan, Kecamatan Merigi, Kabupaten Kepahiang)

    No full text
    Perempuan sekarang tidak hanya memainkan peran dalam ranah domestik, tetapi juga terlibat dalam kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Perubahan sosial dan tekanan ekonomi telah mendorong perempuan untuk menjalankan peran ganda, terutama di wilayah pedesaan yang pendapatan utamanya bergantung pada sektor pertanian. Salah satu bentuk peran ganda tersebut terlihat pada perempuan pelaku usaha jagung marning di Desa Bukit Barisan, Kecamatan Merigi, Kabupaten Kepahiang. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana perempuan menjalankan peran ganda dalam rumah tangga dan usaha ekonomi, serta dampaknya terhadap pendapatan keluarga. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan tetap menjalankan tanggung jawab domestik seperti mengurus rumah, memasak, serta mendidik anak, namun secara bersamaan juga aktif dalam proses produksi, pengemasan, hingga distribusi jagung marning. Hal ini mencerminkan pelaksanaan peran (role performance) yang adaptif terhadap tuntutan ekonomi. Selain itu, ditemukan pula adanya perubahan peran (role change), di mana perempuan kini memiliki peran lebih besar dalam pengambilan keputusan rumah tangga, khususnya dalam pengelolaan keuangan. Usaha jagung marning terbukti memberikan dampak ekonomi yang signifikan, meningkatkan pendapatan keluarga dari Rp500.000–Rp1.200.000 menjadi Rp3.500.000–Rp6.000.000 per bulan. Temuan ini menunjukkan bahwa peran ganda perempuan mampu mendorong pemberdayaan ekonomi keluarga secara berkelanjutan. Kata Kunci

    DAMPAK PENGGUNAAN INSTAGRAM PADA MAHASISWA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS BENGKULU

    No full text
    Instagram adalah platform yang dapat memudahkan dalam mengambil serta melihat foto kemudian dapat dikirimkan atau dibagikan kepada orang lain. Penggunaan Instagram ini dijadikan sebagai wadah untuk mengakses semua informasi apapun yang ada dari belahan dunia manapun. Platform ini mengalahkan YouTube, TikTok, X (sebelumnya Twitter), dan LinkedIn. Instagram masih mempertahankan daya tarik yang besar di antara pengguna Gen Z. Instagram membawa dampak bagi penggunanya, baik itu dampak positif ataupun dampak negatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak penggunaan Instagram pada mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang mengambil studi kasus di lingkup FISIP UNIB dan melibatkan delapan orang informan yang dipilih secara accidental dengan unsur mahasiswa yang menggunakan Instagram minimal 5 tahun masa penggunaan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Instagram memberikan dampak, yang meliputi dampak positifnya yaitu pemanfaatan sebagai media promosi dan bisnis, yang membuka peluang usaha kecil, memberikan tambahan pendapatan, memperluas jangkauan audiens, dan memungkinkan pemanfaatan fitur-fitur yang ada untuk meningkatkan promosi bisnis. Selain itu, Instagram dapat meningkatkan kreativitas dan ekspresi diri, menjadi wadah untuk mencari dan mendapatkan informasi, serta membangun branding diri. Konten yang dilihat di Instagram juga dapat memotivasi penggunanya. Dampak negatif dari penggunaan Instagram mencakup gangguan psikologis seperti munculnya rasa cemas akibat informasi yang ada dan rasa takut terhadap pandangan orang lain terhadap postingan pribadi. Fungsi interpersonal juga dapat terganggu akibat timbulnya rasa kecanduan, perbandingan diri dengan konten yang dilihat, dan penundaan membalas pesan karena terlalu asyik scrolling. Kata Kunci: Instagram, Dampak Instagram, Mahasisw

    DUKUNGAN PENGASUH ASRAMA DALAM LAYANAN REHABILITASI SOSIAL ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA (ODGJ) DI SENTRA DHARMA GUNA BENGKULU

    No full text
    Pengasuh asrama merupakan penghubung utama antara klien ODGJ dan tim rehabilitasi seperti perawat dan pekerja sosial. Bertanggung jawab dalam kepengasuhan selama 24 jam. Selain memberikan layanan dasar dan pengawasan, pengasuh asrama juga memberikan dukungan sosial bagi klien ODGJ selama menjalani proses rehabilitasi di Sentra Dharma Guna Bengkulu. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk-bentuk dukungan sosial yang diberikan pengasuh asrama kepada klien ODGJ selama proses rehabilitasi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan 18 informan (5 pengasuh asrama, 5 klien ODGJ, 1 ketua pokja residensial, 3 pekerja sosial, 1 perawat, dan 3 satpam), serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan pengasuh asrama memberikan empat bentuk dukungan sosial sesuai teori Sarafino: (1) Dukungan emosional/penghargaan melalui kepedulian, pemahaman karakter individual, dan pemberian apresiasi; (2) Dukungan konkret/instrumental berupa bantuan langsung dalam aktivitas harian, pendampingan keterampilan, dan bantuan finansial; (3) Dukungan informasional meliputi pemberian arahan, edukasi nilai, dan penyampaian aturan asrama; dan (4) Dukungan persahabatan dengan menciptakan interaksi hangat dan relasi yang setara. Keempat bentuk dukungan ini dapat berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan psikologis, pengurangan risiko relaps, peningkatan kemandirian dan perkembangan positif klien ODGJ. Kata Kunci: Dukungan Sosial, Pengasuh Asrama, Rehabilitasi Sosial, ODG

    PENDAMPINGAN SOSIAL LANJUT USIA (LANSIA) MELALUI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) DI DESA KEBAN JATI KECAMATAN AIR NIPIS, KABUPATEN BENGKULU SELATAN

    No full text
    Pendampingan sosial melalui Program Keluarga Harapan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti keluarga miskin, anak yatim, penyandang disabilitas dan juga lanjut usia. Dalam hal ini pendampingan sosial lansia adalah upaya yang dilakukan oleh individu atau lembaga sosial untuk membantu lansia menghadapi berbagai tantangan kehidupan, baik dari aspek psikologis, sosial, maupun fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang pendampingan sosial lanjut usia (Lansia) melalui program PKH di Desa Keban Jati, Kecamatan Air Nipis, Kabupaten Bengkulu Selatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan secara deskriptif. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling yang melibatkan 13 orang informan terdiri dari 4 orang informan pendamping PKH, 1 orang Koordinator pendamping PKH dan 8 orang lansia penerima PKH. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pendampingan sosial yang dilakukan oleh pendamping PKH terhadap kelompok lanjut usia di Desa Keban Jati Kecamatan Air Nipis Kabupaten Bengkulu Selatan telah dilakukan melalui tujuh komponen utama pendampingan sosial, yaitu advokasi, fasilitasi, edukasi, pemberdayaan, pendekatan partisipatif, monitoring dan evaluasi serta jaringan kerja, namun pelaksanaan pendampingan yang dilakukan pendamping terkait 7 komponen tersebut terhadap lansia 6 di antaranya belum optimal hal ini dikarenakan beberapa hambatan yang dirasakan oleh pendamping sosial tetapi hal ini didorong oleh 1 komponen yaitu networking yang baik yang ditandai keterlibatan stakeholder yang saling bekerja sama dalam bidang kesehatan maupun pemerintah daerah dan desa. Kata Kunci : Pendampingan Sosial, Lanjut Usia, Program Keluarga Harapa

    PEMANFAATAN PROGRAM BANTUAN PANGAN NON- TUNAI (BPNT) PADA KELUARGA PENERIMA MANFAAT LANSIA (Studi Kasus pada Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Curup Timur, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu)

    No full text
    Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yakni sebuah bentuk bantuan sosial pangan yang diluncurkan oleh pemerintah dalam upaya mengatasi masalah kemiskinan yang ada di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) oleh Keluarga Penerima Manfaat (KPM) lansia di Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Curup Timur, Kabupaten Rejang Lebong. Lansia merupakan kelompok rentan yang sering mengalami keterbatasan fisik, sosial, dan ekonomi terutama lansia dengan Kartu Keluarga tunggal yang tinggal sendirian, sehingga membutuhkan dukungan dari program bantuan sosial pemerintah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari lansia penerima BPNT dengan Kartu Keluarga tunggal yang telah menerima bantuan 3-5 berjumlah 5 informan, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) 1 informan, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) 1 informan, dan pemilik e-waroeng 1 informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BPNT berperan penting dalam meringankan beban pengeluaran lansia, khususnya untuk kebutuhan pangan pokok seperti beras dan telur. Bantuan ini juga memberikan lansia fleksibilitas dalam memilih jenis pangan sesuai kebutuhan, terutama setelah kebijakan penyaluran diubah menjadi tunai. Namun, beberapa kendala masih dihadapi, seperti keterbatasan fisik lansia untuk mengambil bantuan sendiri dan ketergantungan pada bantuan pihak lain. Selain itu, belum semua lansia memahami konsep gizi seimbang dalam penggunaan dana bantuan. Meskipun demikian, secara umum program BPNT dinilai tepat sasaran dan bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan dasar lansia. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pendampingan berkelanjutan, edukasi gizi, serta kebijakan yang lebih adaptif terhadap kondisi lansia agar manfaat program dapat dirasakan secara optimal. Kata Kunci: Manfaat, Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), Lanjut Usia (Lansia)

    PERAN ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN PRESTASI ANAK TUNAWICARA DI SLB NEGERI MUSI RAWAS

    No full text
    Peran orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus merupakan hal yang penting dalam meningkatkan prestasi anak. Pemberian fasilitas untuk menunjang proses belajar, pemberian motivasi untuk memberikan dukungan kepada anak, serta pembimbing/pengajar untuk membantu anak jika mengalami kesulitan dalam proses belajar. Sekolah Luar Biasa menjadi tempat pendidikan khusus bagi anak berkebutuhan khusus seperti anak tunawicara dalam mengakses pendidikan. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan peran orang tua yang diterapkan dalam meningkatkan prestasi anak tunawicara di SLB Negeri Musi Rawas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan memilih informan secara purposive sebanyak 6 orang informan meliputi 1 orang kepala sekolah, 2 orang guru, dan 3 orang tua anak tunawicara berat. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua sangat berperan dalam pencapaian prestasi anak tunawicara melalui tiga peran utama yaitu sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing. Orang tua menyediakan sarana belajar, memberikan dukungan emosional dan motivasi, serta terlibat aktif dalam proses pembelajaran anak di rumah. Dengan keterlibatan orang tua yang optimal, anak tunawicara dapat menunjukkan prestasi baik secara akademik (meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam pembelajaran) maupun dalam prestasi non-akademik (seperti keterampilan sosial, kemandirian, dan kontrol emosi). Penelitian ini menegaskan pentingnya partisipasi aktif orang tua dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus untuk mendukung perkembangan dan pencapaian mereka secara maksimal. Kata kunci : Peran orang tua, Prestasi, Anak Tunawicar

    KEBERFUNGSIAN SOSIAL PENERIMA MANFAAT GRADUASI MANDIRI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) DI KOTA LUBUKLINGGAU

    Get PDF
    The Family Hope Program (PKH) is one of the conditional social assistance programs aimed at improving the living standards of poor families. In its implementation, there are a number of beneficiaries who have graduated independently, meaning they have stopped receiving assistance on their own initiative and ability. This study aims to analyse the social functioning of PKH beneficiaries who have graduated independently. The study focuses on economic, social, and psychological aspects of their lives post-graduation. The research method used is descriptive qualitative with a case study approach. The results of the study indicate that the majority of individuals who have graduated independently demonstrate positive social functioning, including increased economic independence, involvement in social activities, as well as increased self-confidence and motivation for self-reliance
    corecore