184 research outputs found
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR TOLAK PELURU GAYA MENYAMPING MELALUI PENGGUNAAN ALAT BANTU PEMBELAJARAN PADA PESERTA DIDIK KELAS VII C SMP NEGERI 3 KEBAKKRAMAT TAHUN PELAJARAN 2017/2018
Rendy Setiawan. K4613137. MENINGKATKAN HASIL BELAJAR TOLAK PELURU GAYA MENYAMPING MELALUI PENGGUNAAN ALAT BANTU PEMBELAJARAN PADA PESERTA DIDIK KELAS VII C SMP NEGERI 3 KEBAKKRAMAT TAHUN PELAJARAN 2017/2018, Skripsi,Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta, Juli 2018. Tujuan Penelitian ini adalah Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Tolak Peluru Gaya Menyamping Peserta Didik Kelas VII C SMP Negeri 3 Kbakkramat Tahun Pelajaran 2017/2018. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dengan tiap siklus terdiri atas 2 pertemuan. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VII C yang berjumlah 31 peserta didik. Sumber data berasal dari peserta didik, guru, dan peneliti. Teknik pengumpulan data adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi atau arsip berupa foto. Validitas data menggunakan teknik triangulasi data. Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus di analisis secara deskriptif kualitatif, menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran. Pada prasiklus, hanya 10 peserta didik yang telah tuntas atau sekitar 32,26% dan 21 siswa lainnya belum tuntas atau sekitar 67,74%. Hasil belajar pada siklus I menunjukkan peningkatan, yaitu 15 siswa tuntas atau sebesar 48,39% dan 16 siswa belum tuntas atau sebesar 51,61%. Padasiklus II, hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan dengan siswa yang telah tuntas sebanyak 24 siswa atau sekitar 77,42% dan 7 siswa masih belum tuntas atau sekitar 22,58%. Berdasarkan hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang tinggi dari praskilus kesiklus I dan dari siklus I kesiklus II. Dari hasil analisis data diatas dapat disimpulkan bahwa melalui penggunaan alat bantu pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar tolak peluru gaya menyamping pada peserta didik kelas VII C SMP Negeri 3 Kebakkramat Tahun Pelajaran 2017/2018. Kata Kunci: Hasil Belajar, Tolak Peluru Gaya Menyamping, Penggunaan Alat Bantu Pembelajaran
PENGHITUNGAN ANGGOTA KELAS OPHIUROIDEA KETIKA AIR PASANG DI ZONA INTERTIDAL PANTAI PANCUR TAMAN NASIONAL ALAS PURWO
Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) memiliki tipe habitat pantai berbatu dengan substrat berupa batuan keras dan berlubang-lubang. Pantai Pancur memiliki panjang pantai ± 1,7 km dan lebar ± 120 m serta luas area pantai mencapai ± 146.200 m² (Setiawan et al., 2013). Pada pantai tersebut Ophiuroidea ditemukan bersembunyi di dalam lubang batu yang berdiameter antara 3-5cm. Lubang batu tersebut digunakan sebagai tempat berlindung Ophiuroidea dari predator dan gelombang ombak yang besar (Turon et al.,2000). Studi pendahuluan pada pengamatan Ophiuroidea di Pantai Batu Lawang ketika air surut sulit ditemukan. Sebaliknya, Ophiuroidea dapat ditemukan dengan mudah ketika air mulai pasang dan di wilayah yang selalu tergenang. Respon kemunculan Ophiuroidea terhadap pasang berkaitan dengan perilaku makan Ophiuroidea yaitu deposit feeding, suspensi feeding dan surface film feeding (SFF) (Chartock, 1983; Oak dan Scheibling, 2005). Berdasarkan referensi tersebut perlu dilakukan penelitian terhadap konsistensi kemunculan Ophiuroidea dalam suatu plot sampel ketika pasang mulai naik. Penghitungan Ophiuroidea dilakukan beberapa kali ulangan untuk mendapatkan konsistensi jumlah individu pada satu area plot sampel. Konsistensi jumlah individu yang didapatkan dari beberapa kali pengulangan menggambarkan seberapa akurat metode penghitungan individu Ophiuroidea yang diharapkan dapat mewakili semua jumlah individu dalam plot sampel. Penghitungan Ophiuroidea yang tepat sangat penting untuk menghitung distribusi dan kepadatan spesies Ophiuroidea.
Penelitian telah dilakukan pada bulan Januari 2017. Penelitian dilakukan diPantai Pancur sebanyak lima kali pengambilan sampel. Metode yang digunakan adalah metode Purposive Sampling dengan jumlah plot sebanyak enam yang berukuran 1x1m. Pengambilan data dilakukan pada plot yang sama dengan menghitung Ophiuroidea ketika kedalaman air pasang naik dari 0-12 cm. Setiap plot diambil foto dan salah satu plot divideo sebagai dokumentasi. Sampel Ophiuroidea diambil pada pengulangan terakhir lalu dibius dengan MgCl2 0,1% dan diawetkan dengan alkohol 70 %. Data abiotik yang diukur yaitu suhu, pH, salinitas, dan substrat. Pengambilan data abiotik dilakukan pada lokasi I dan II setiap pengulangan dan komposisi substrat dicatat pada setiap plot. Selanjutnya masing-masing plot pada penelititan ini dianalisis data menggunakan uji T satu sampel dengan menggunakan standar rata-rata plot.
Hasil yang didapat adalah penghitungan Ophiuroidea di Pantai Pancur sebanyak lima kali pengulangan pada plot yang sama ketika pasang rendah didapatkan hasil tidak berbeda nyata. Penghitungan Ophiuroidea di Pantai Pancur stabil pada semua plot. Kemunculan Ophiuroidea dipicu oleh naiknya permukaan air laut oleh pasang pertama yang datang membawa nutrisi pada lapisan buihnya. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penghitungan Ophiuroidea di zona intertidal berbatu Pantai Pancur TN alas purwo memberikan jumlah yang konsisten dalam setiap plot dan tidak berbeda signifikan pada setiap pengulanga
KEANEKARAGAMAN JENIS GASTROPODA BERCANGKANG DI ZONA INTERTIDAL TANJUNG BILIK TAMAN NASIONAL BALURAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di zona intertidal Tanjung Bilik TN
Baluran memiliki kondisi lingkungan dengan suhu rata-rata 30,8ºC, salinitas 35
‰, dan pH 7,3 serta terdapat substrat pasir, pasir berlumpur, dan karang mati.
Selain itu, di Tanjung Bilik terdapat variasi komunitas yaitu lamun, makroalga,
dan mangrove sehingga ditemukannya berbagai jenis hewan khususnya
Gastropoda bercangkang. Hasil perhitungan indeks keanekaragaman jenis
Gastropoda bercangkang tergolong sedang dengan nilai 2.442 dan indeks
kesamarataan jenis tergolong rendah dengan nilai 0,718.
Jumlah jenis Gastropoda bercangkang yang ditemukan pada 120 plot di
Zona Intertidal Tanjung Bilik TN Baluran tergolong dalam 3 subkelas yang terdiri
atas 13 famili, 22 genus, dan 30 jenis. Jenis Gastropoda yang ditemukan antara
lain yaitu Nerita albicilla, Nerita signata, Turbo chrysostomus, Turbo bruneus,
Monetaria annulus, Canarium labiatum, Canarium urceus, Euchelus atratus,
Lambis lambis, Monetaria moneta, Luria Isabella Isabella, Luria cinerea , Mitra
eremitarum, Lyncina lynx, Tectus niloticus, Blasicrura interrupta, Conomurex
luhuanus, Cypraea tigris, Cymbiola vespertilio, Conus striatellus, Conus miles,
Conus ebraeus, Mauritia Arabica, Angaria delphinus, Pollia fumosa, Pollia
undosa, Astralium calcar, Menathais tuberosa, Lentigo lentiginosus, dan
Cerithium nodulosum. Jumlah total Gastropoda bercangkang yang ditemukan
sebanyak 1364 individu. Jenis yang paling banyak ditemukan adalah Nerita
albicilla yaitu 584 individu, sedangkan jenis yang paling sedikit ditemukan adalah
Cerithium nodulosum dan Pollia undosa yaitu masing-masing 2 individu
IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISTIK HABITAT LARVA Anophelessp.PADA LAGUNA DI DESA BANGSRING KECAMATAN WONGSOREJO KABUPATEN BANYUWANGI
Indonesia merupakan salah satu negara ASEAN yang sebagian besar wilayahnya masih endemik malaria. Mobilitas malaria pada suatu wilayah ditentukan dengan menggunakan Annual Parasite Insidence (API) per tahun
Penentuan Status Mutu Air Hulu Sungai Bedadung Kabupaten Jember dengan Menggunakan Makroinvertebrata Bentos sebagai Bioindikator
Sungai Bedadung merupakan sungai yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Jember. Sungai ini memiliki hulu yang terletak di Pegunungan Iyang. Air S. Bedadung dimanfaatkan oleh masyarakat untuk irigasi, mandi, cuci, dan kakus (MCK). Badan S. Bedadung juga digunakan sebagai tempat pembuangan limbah. Bermacam-macam bahan pencemar yang terkandung di dalam limbah domestik, industri, serta aliran air permukaan yang berasal dari lahan pertanian berkontribusi terhadap penurunan status mutu air sungai. Status mutu air sungai dapat diukur menggunakan parameter biologi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan menentukan komposisi famili makroinvertebrata bentos di hulu S. Bedadung; menentukan status mutu air hulu S. Bedadung berdasarkan nilai Family Biotic Index (FBI) yang ditentukan berdasarkan data komunitas makroinvertebrata bentos
Keanekaragaman Jenis belalang (Orthopiera : Caelifera ) Di Zona Rehabilitasi Resort Wonoasri Taman Nasional Meru Betiri
Belalang dalam habitatnya merupakan salah satu komponen penyusun
ekosistem teresterial. Stabilitas ekosistem mempengaruhi tingkat keanekaragaman
jenis belalang yang berada di suatu ekosistem. Ekosistem di wilayah konservasi
umumnya merupakan ekosistem yang stabil, sehingga jumlah jenis dan
kelimpahannya juga tinggi. Ekosistem di wilayah konservasi Taman Nasional Meru
Betiri mengalami gangguan yang berat akibat penebangan liar. Salah satu ekosistem
yang terganggu berada di wilayah tersebut adalah Resort Wonoasri Blok Curah
Malang. Pada saat ini tumbuhan yang tumbuh di lokasi ini terutama adalah semak
dan herba, dan tidak ditemukan banyak pohon. Kondisi ini dapat mempengaruhi
keanekaragaman dan kelimpahan belalang. Namun demikian sampai saat ini belum
ada penelitian tentang keanekaragaman belalang di lokasi ini. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui komposisi, kelimpahan dan keanekaragaman jenis belalang Ordo
Orthoptera Sub Ordo Caelifera di zona rehabilitasi Resort Wonoasri TN Meru Betiri
Dinamika Populasi Anopheles Sp. Di Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi
Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yaitu P.vivax , P. falsifarum, P. malariae, dan P. ovale. Kasus malaria di Jawa Timur salah satunya disebabkan oleh parasit P. falsifarum. Kejadian luar biasa (KLB) malaria yang terjadi di wilayah kerja puskesmas Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi (Desa Bangsring, Dusun Paras Putih), sebanyak 107 kasus pada tahun 2011. Pada tahun 2015 vektor nyamuk Anopheles sp. di Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo didominasi oleh An. sundaicus. Namun pada tahun 2016 terjadi perubahan komposisi spesies yang didominasi oleh An. indefinitus. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perubahan populasi Anopheles sp. di Bangsring Banyuwangi sehingga perlu dilakukan pengamatan dinamika populasi untuk mengetahui fluktuasi populasi Anopheles sp. di daerah tersebut. Data dinamika populasi ini penting karena dapat menjadi acuan dalam upaya penentuan strategi pengendalian vektor malaria khususnya di Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo Kabupaten Banyuwangi.
Metode penangkapan nyamuk yang digunakan adalah direct hand collection sesuai dengan prosedur WHO. Faktor abiotik yang berpengaruh dan diamati antara lain : kelembaban udara, suhu, kecepatan angin, dan curah hujan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dinamika populasi, perilaku Anopheles sp. dan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap populasi Anopheles sp. di Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo. Parameter untuk mengamati populasi Anopheles sp. adalah kelimpahan relatif, frekuensi relatif dan dominansi. Identifikasi spesies dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Jember. Anopheles sp. yang telah diidentifikasi kemudian dibuat insektarium dan dikonfirmasi ke Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga Jawa Tengah.
Populasi nyamuk Anopheles sp. tertinggi terjadi pada bulan Januari. Spesies yang paling mendominasi selama enam bulan penelitian adalah An. vagus dengan nilai kelimpahan relatif 46,89 % dan nilai dominansi 35,16 %. Nyamuk Anopheles sp. hanya ditemukan dengan metode Hinggap Ternak (HT) dan Istirahat Sekitar Kandang Ternak (ISKT). Komposisi spesies selama enam bulan penelitian terdiri dari An. vagus (50 %), An. indefinitus (39%), An. sundaicus (8%), An. subpictus (3%), An. barbirostris (0%). Puncak aktifitas tertinggi nyamuk terjadi pada pukul 18.00 – 19.00 WIB. Perilaku nyamuk Anopheles sp. cenderung eksofilik dan zoofilik
Struktur Komunitas Gastropoda DI Hulu Sungai Bedadung Kabupaten Jember
Gastropoda adalah kelompok hewan invertebrata yang bertubuh lunak dan tubuhnya dilindungi oleh cangkang. Sebagian besar kelompok hewan ini memiliki cangkang tunggal namun ada jenis Gastropoda yang tidak bercangkang. Kelompok hewan ini ditemukan hidup di darat maupun di perairan. Di perairan tawar, Gastropoda ini ditemukan hidup di kolam, danau, rawa, sungai, aliran-aliran irigasi atau selokan, parit dan anak-anak sungai. Beberapa jenis Gastropoda mampu hidup di perairan dengan aliran air tenang atau deras dengan kedalaman mulai 8 m. Gastropoda di dalam ekosistem sungai berperan sebagai herbivora, karnivora dan detritivora. Di dalam ekosistem sungai, Gastropoda juga menjadi mangsa bagi organisme lain. Burung air, itik, ikan, dan kepiting merupakan pemangsa Gastropoda. Beberapa jenis Gastropoda sungai menjadi sumber protein bagi hewan ternak seperti itik dan lele maupun manusia contohnya Filopaludina sp., Pila sp. dan Pomacea canaliculata. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi, dominansi, dan keanekaragaman jenis Gastropoda di Hulu Sungai (S) Bedadung Kabupaten Jember.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-Desember 2019. Pengambilan spesimen dilakukan di Hulu S. Bedadung yang berada di Dusun Pakel dan Dusun Krajan, Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember. Metode yang digunakan adalah Purpossive sampling. Penentuan lokasi stasiun berdasarkan perbedaan tipe penggunaan lahan seperti hutan, perkebunan kopi, persawahan dan pemukiman di sekitar Hulu S. Bedadung. Masing-masing stasiun penelitian dibagi menjadi empat stasiun. Pencuplikan spesimen Gastropoda menggunakan Surber net. Pengukuran parameter faktor abiotik air di Hulu S. Bedadung dilakukan secara in situ yang meliputi kekeruhan, suhu, pH, oksigen terlarut (Dissolved Oxygen, DO) dan tipe substrat. Identifikasi spesimen Gastropoda dan analisis
data dilakukan di Laboratorium Ekologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Jember. Di laboratorium ekologi spesimen Gastropoda dikelompokan berdasarkan kesamaan morfologinya. Deskripsi karakteristik cangkang dan identifikasi untuk menentukan nama jenis menggunakan buku Keong Air Tawar Pulau Jawa (Moluska, Gastropoda). Data jenis dan jumlah individu setiap jenis Gastropoda dianalisis untuk menentukan dominansi dan keanekaragaman. Penentuan dominansi pada komunitas Gastropoda menggunakan indeks Simpson (C) sedangkan keanekaragaman (H’) menggunakan Shannon-Wiener. Sementara data parameter faktor abiotik dari kisaran kecil dan besar selanjutnya dirata-rata untuk digunakan sebagai parameter faktor abiotik air di Hulu S. Bedadung.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Hulu S. Bedadung ditemukan tujuh jenis Gastropoda meliputi Sulcospira (S) testudinaria, Melanoides (M) tuberculata, Melanoides (M) riquerti, Tarebia (T) granifera, Thiara (Th) Scabra, Lymnaea sp. dan Filopaludina (F) javanica. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa di Hulu S. Bedadung mampu mendukung keberadaan tujuh jenis Gasropoda. Parameter faktor abiotik air di Hulu S. Bedadung yang mendukung keberadaan Gastropoda meliputi suhu yang rendah berkisar antara 18,79 °C - 26,17 °C, DO yang cukup tinggi berkisar antara 6,06 - 8,29 mg/L dan tipe substrat seperti berbatu, pasir dan lumpur. Hasil nilai indeks dominansi (C) di Hulu S. Bedadung sebesar 0,5 yang tergolong sedang. Hasil perhitungan nilai sedang ini disebabkan ada satu jenis yang mendominansi di Hulu S. Bedadung yaitu S. testudinaria yang ditunjukkan kelimpahan komunitas sebesar 1055. Nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) Gastropoda sebesar 0,8 yang tergolong rendah. Hasil perhitungan nilai rendah hal ini disebabkan oleh jumlah jenis Gastropoda yang rendah yaitu tujuh jenis yang tidak merata karena ada satu jenis yang dominan
PREFERENSI HABITAT LARVA NYAMUK Anopheles sp. DI DAERAH ENDEMIS MALARIA DI DESA BANGSRING KECAMATAN WONGSOREJO KABUPATEN BANYUWANGI
Kasus endemis malaria di Indonesia terjadi sekitar 15 juta kasus tiap
tahunnya. Salah satu daerah endemis malaria di Indonesia adalah Kecamatan
Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sisi sebelah timur daerah tersebut
terdapat beberapa lagun merupakan habitat perindukan dan perkembangbiakan larva
Anopheles. Lagun yang terdapat di pantai bangsring antara lain adalah Lagun
Kandangan, Lagun Kluwih, Lagun Loji Selatan dan Lagun Loji Utara.
Nyamuk Anopheles sebagai vektor penyakit malaria dalam
perkembangannya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi geografis, cuaca,
kelembaban, suhu dan waktu. Selain itu, tempat untuk istirahat, tempat untuk mencari
makanan, tempat untuk berkembang biak dan atau kondisi lingkungan yang kondusif
juga mempengaruhi perkembangan larva Anopheles. Oleh karena itu dilakukan
penelitian pada lagun di Desa Bangsring yaitu pengamatan preferensi habitat larva
Anopheles sebagai strategi pengendalian vertor malaria.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2015 sampai Juni 2016 di
pesisir pantai dusun Parasputih desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo Kabupaten
Banyuwangi. Pengambilan data kepadatan dan karakteristik habitat Larva Anopheles
berupa fator biotik (DO, pH, suhu dan salinitas) dan abiotik (predator, algae, protozoa
dan tanaman air) pada perairan lagun. Penelitian ini menggunakan metode road
sampling untuk mengetahui lokasi habitat positif larva Anopheles. Terdapat 4 lagun
dengan rincian lagun pertama, kedua dan ketiga masing-masing diambil satu titik.
Sedangkan lagun ke empat yang merupakan laguna terbesar diambil 3 titik.
Pengambilan sampel dilakukan pada lokasi yang banyak berkumpul tanaman air.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Larva nyamuk Anopheles lebih memilih
habitat pada perairan lagun kandangan tepatnya pada titik ke 5. Lagun kandangan
memiliki faktor lingkungan dengan salinitas rata-rata yaitu 3 o/oo, Suhu 28,2 ᴼC , pH
7,6 dan DO 29,9 mg/l. Jumlah larva paling banyak ditemukan sebanyak 444 ekor
yaitu pada Bulan Desember. Sedangkan berdasarkan pengamatan faktor biotik, larva
nyamuk Anopheles paling banyak berkumpul pada tempat yang ternaungi oleh
tumbuhan air yang mengapung seperti makroalga dan tumbuhan air yang terdapat
pada permukaan dan di tepi lagun
THE LANGUAGE STYLE IN RENDY PANDUGO’S “THE JOURNEY” ALBUM
Song lyric is created to express a person feeling either happy or sad. Every song lyric uses language style. Language style is the way the author uses their feeling to make the lyrics more meaningful. One of singer outright song in Indonesia is Rendy Pandugo. Rendy Pandugo is a new singer and a new songwriter. In his album entitled "The Journey", he uses English language to complete all the lyrics. This research aims to 1) Describe language style that is in the lyrics in album "The Journey"; 2) Explain the meaning of language style that exists in those lyrics. The songs that are used in this research are Float In The Sky, Silver Rain, Won’t Let Me Down, I Know The Answer, By My Side, I Don’t Care and Snap. The researcher uses theory from Tarigan. The analytical technique in this research is descriptive qualitative method. After analyzing the data, the researcher finds 82 data and 2 types of language style. The types of language style that are found are comparison language style and repetition language style. The comparison language styles of this research are antithesis (2), hyperbole (10), metaphor (4), personification (4), simile (4) and tautology (2). The repetition language styles of this research are anaphora (6), alliteration (7), assonance (31), epistrofa (2), epizeukis (8), simploke (1) and tautotes (1)
- …
