1,720,973 research outputs found

    DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DAN NS1 ANTIGEN UNTUK DETEKSI DINI INFEKSI AKUT VIRUS DENGUE

    No full text
    Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) disebabkan oleh infeksi virus dengue. Virus dengue merupakan virus RNA yang termasuk ke dalam famili flaviviridae , genus flavivirus dan ada 4 serotipe yang berbeda yaitu DEN1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4. Keempat serotipe terdapat di Indonesi a dengan dominasi DEN 3 dan DEN 2.   Dengue ini merupakan penyakit arbovirus endemik yang saat ini telah menjangkiti lebih dari 100 negara, baik  yang terletak di dae rah tropik maupun su btropik. WHO memperkirakan sekitar 50-100 juta ka sus infeksi virus dengue terjadi setiap tahun, menghasilkan 250.000-500.000 kasus demam berdarah dengue dan  24.000 kematian setiap tah unnya. Virus dengue ini dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegyp ti dan Aedes albopictus sebagai vektornya dengan masa inkubasi ra ta-rata 4-6 hari. Infeksi virus dangue dapat menyebabkan manifestasi kilinis yang bervariasi mulai dari asimtomatik sampai manifestasi klinis  yang berat yang mengakibatka n kematian. Demam dengue atau dengue fever merupakan manifestasi klinis yang ringan, sedangkan DBD/DHF dan  Dengue Shock Syndrome (DSS) merupakan manifestasi klinis  yang berat.  Berbagai teori yang menjelaskan patogenesis DBD dan DSS banyak bermunculan dan saling kontroversi. Pada saat ini teori yang banyak dianut adalah teori Antibody Dependent Enhancement (ADE). Menurut teori ini, infeksi sekunder yang disebabkan oleh virus dengue dengan serotipe yang berbeda dengan infeksi primer akan menimbul kan antibodi heterologous yang dibentuk pada infeksi pertama namun tidak bisa mengeliminasi virus dengue pada infeksi sekunder (bersifat subnetralisasi) bahkan antibodi tersebut bersifat opsonis asi sehingga sel target menjadi lebih mudah di infeksi oleh virus dan  menyebabkan manifestasi klinis yang lebih berat.  Saat ini telah tersedia berbagai teknik pemeriksaan untuk mendeteksi infeksi virus dengue yaitu  pemeriksaan kultur dan isolasi  virus, RT-PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction), serologi (anti dengue lgG dan lgM) dan juga pemeriksaan hematologi rutin. Kultur virus atau PCR saat ini dianggap sebagai gold standard untuk mendeteksi virus dengue, namun memiliki keterbatasan dalam hal biaya dan teknis pengerjaannya. Pemeriksaan  serologi anti dengue lgG dan lgM yang dike rjakan secara rutin di laboratorium juga  memiliki ketrbatasan yaitu tidak dapat mendeteksi infeksi dengan lebih aw al.  Saat ini telah dikembangkan suatu pemeriksaan baru terhadap antigen non struktural-1 dengue (NS1) yang  dapat mendeteksi infeksi virus dengue dengan  lebih awal bahkan pada hari pertama ons et demam

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    No full text
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    NUTRISI KEDELAI PADA OBESITAS DAN DISMETABOLIK SINDROM

    No full text
    Obesitas tidak hanya menjadi masalah estetika semata tetapi juga telah menjadi masalah kesehatan utama saat ini, hal ini disebabkan karena obesitas merupakan faktor resiko terjadinya dismetabolik sindrome seperti diabetes, hipertensi, hiperlipidemi dan penyakit jantung koroner. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 di Indonesia, menunjukan bahwa prevalensi obesitas pada wanita berusia lebih dari 15 tahun yaitu 23,8% dan pada laki-laki berusia lebih dari 15 tahun yaitu 13,9%. Sedangkan menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, 41%-50% obesitas pada wanita terjadi pada usia lebih dari 55 tahun (usia menopause) (Depkes, 2007). Obesitas terjadi karena adanya asupan energi yang lebih besar daripada energi yang digunakan sehingga terjadi penimbunan energi dalam sel adiposit dalam bentuk sel adiposit yang hipertrofi dan hiperplasi. Salah satu regulator utama yang penting dalam regulasi metabolisme dan deposisi lemak dalam sel adiposit adalah hormon estrogen (Cooke, 2004).  Sel adiposit terbukti memiliki reseptor estrogen α (ERα) dan reseptor estrogen β (ERβ) (Wook, 2008).  Efek reseptor estrogen pada sel adiposit adalah meregulasi jaringan adiposit dengan meningkatkan lipolisis dan memodulasi ekspresi gen yang meregulasi deposisi lemak di sel adiposity. Tingginya prevalensi obesitas pada wanita menopause dan pentingnya peranan estrogen dalam regulasi dan deposisi lemak pada sel adiposit viscera maupun subcutan, mendorong para peneliti melakukan berbagai percobaan untuk mencari sumber estrogen eksogen. Beberapa senyawa yang berasal dari tumbuhan yang dikenal dengan fitoestrogen, mempunyai aktifitas serupa dengan aktifitas hormon estrogen karena mempunyai struktur yang mirip dengan hormon estrogen, senyawa tersebut adalah flavon, isoflavon dan derivat comestans. Isoflavon banyak terdapat pada tanaman kacang-kacangan, terutama kedelai dan produk olahannya (Tanu 2005). Fitoestrogen dari kedelai mampu berikatan dengan reseptor estrogen, walaupun afinitasnya terhadap reseptor estrogen sangat rendah dibandingkan dengan estrogen endogen sehingga diperlukan jumlah fitoestrogen yang besar untuk memperoleh efek yang memadai seperti estrogen. (Hidayati 2003).  Pada keadaan tidak terdapatnya estrogen endogen, seperti pada hewan yang diovariektomi, isoflavon dapat bekerja melalui jalur alternatif, seperti jalur tirosin kinase, jalur mitogen-activated protein kinase, atau jalur epidermal growth factor. Isoflavon dapat mencegah penimbunan lemak dengan meghambat kerja enzim lipogenik lipoprotein lipase (Jr J.A. ford, 2006). Kedelai adalah salah satu bahan makanan sehari-hari penduduk di Asia. Rata-rata konsumsi kedelai masyarakat Indonesia menempati urutan kedua di dunia setelah Jepang, yaitu 200 gram produk kedelai atau olahannya per hari. Tingginya kandungan gizi dalam kedelai menjadikan produk kedelai dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Salah satu kandungan gizi dalam kedelai adalah isoflavon. Adanya kandungan isoflavon pada kedelai, memungkinkan konsumsi kedelai dalam jumlah tertentu dapat memberikan efek serupa dengan efek hormon estrogen endogen. (Koswara, 2006).   Key word : kedelai – isoflavon – obesitas – dismetabolik syndrom

    TINJAUAN HUKUM TERHADAP TRANSAKSI JUAL BELI BARANG MELALUI INTERNET DIHUBUNGKAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG

    No full text
    Kemajuan teknologi informasi telah mengubah pandangan manusia tentang berbagai kegiatan yang selama ini hanya dimonopoli oleh aktivitas yang bersifat fisik belaka. Teknologi informasi (information technology) memegang peran yang penting, baik di masa kini maupun masa yang akan datang. Dengan semakin meningkatnya teknologi dan informasi di Indonesia, maka transaksi jual beli barang pun yang pada awalnya bersifat konvensional perlahan-lahan beralih menjadi transaksi jual beli barang secara elaktronik yang menggunakan media internet yang dikenal dengan e-commerce. E-commerce dapat dipahami sebagai kegiatan transaksi perdagangan baik barang dan jasa melalui media elektronik yang memberikan kemudahan didalam kegiatan bertransaksi konsumen di internet. Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis akan mengkaji lebih lanjut dengan permasalahannya sebagai berikut, yaitu bagaimana kekuatan hukum transaksi jual beli barang melalui internet, kendala-kendala yang mungkin muncul didalam pelaksanaan transaksi jual beli barang melalui internet antara konsumen dan pelaku usaha, dan tindakan hukum yang dapat dilakukan apabila terjadi pelanggaran atas kesepakatan transaksi jual beli barang melalui internet. Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah Deskriptif Analitis sedangkan metode yang digunakan didalam melakukan penelitian ini adalah metode Yuridis Normatif. Tahap penelitiannya menekankan pada Studi Pustaka (Library Research) dan Studi Lapangan (Field Research) . Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi. Dan analisis yang dipergunakan adalah secara Yuridis Kualitatif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kekuatan hukum dari transaksi jual beli barang secara elektronik melalui media internet pada dasarnya mempunyai kekuatan hukum yang sama dari transaksi jual beli barang biasa, karena telah dianggap berdasarkan buku III KUH Perdata, karena telah memenuhi syarat sahnya perjanjian antara lain sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, bahwa suatu perjanjian akan sah menurut undang-undang apabila telah memenuhi syarat-syarat yang ditegaskan sebagai berikut.Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat : 1. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; 2. kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3. suatu hal tertentu; 4. suatu sebab yang halal. Tindakan hukum yang dapat dilakukan atas pelanggaran kesepakatan antara konsumen dan pelaku usaha dalam transaksi jual beli barang melalui internet setelah perjanjian (kontrak) jual beli disepakati dan ditandatangani oleh pihak pihak terkait adalah bahwa, mereka berkewajiban untuk melaksanakan butir- butir kontrak yang telah disepakati. Upaya perlindungan konsumen yang dapat dilakukan di dalam transaksi jual beli barang melalui internet adalah konsumen dapat dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dan apabila terjadi pelanggaran maka pelaku usaha harus memberikan ganti rugi kepada pelaku usaha sesuai dengan Pasal 9 UUPK

    PRE-DIABETES DAN PERAN HBA1C DALAM SKRINING DAN DIAGNOSIS AWAL DIABETES MELITUS

    No full text
    Diabetes Mellitus (DM), khususnya DM tipe 2 (DMT2) kini menjadi ancaman yang serius bagi umat manusia di dunia. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) yang dilaporkan oleh Departemen Kesehatan pada tahun 2008, menunjukkan prevalensi DM di Indonesia saat ini sebesar 5,7%. Menurut WHO pasien diabetes di Indonesia akan mengalami kenaikan dari 8,4 juta jiwa pada tahun 2000 dan menjadi sekitar 21,3 juta jiwa pada tahun 2030. Tanpa upaya pencegahan dan program pengendalian yang efektif prevalensi tersebut akan terus meningkat.             Glukosa darah merupakan rentang yang berkelanjutan (continuous spectrum). Batas kadar glukosa darah normal, prediabetes dan diabetes ditetapkan berdasar kesepakatan (arbitrary). Saat ini, diagnosis DM ditetapkan bila kadar glukosa darah puasa > 126 mg/dl atau 2 jam paska beban glukosa > 200 mg/dl. Prediabetes adalah kadar glukosa darah di atas normal tetapi masih di bawah kadar glukosa darah untuk diabetes. Diagnosis prediabetes ditegakkan bila didapatkan kadar glukosa darah puasa 100-125 mg/dl (Glukosa Puasa Terganggu = GPT),  atau 2 jam paska beban glukosa 140-199 mg/dl (Toleransi Glukosa Terganggu = TGT), atau keduanya (Homeostasis Glukosa Terganggu = HGT).             Mekanisme patofisiologi  TGT dan GPT berbeda, meskipun TGT dan GPT didasari oleh resistensi insulin, tetapi keduanya menunjukkan perbedaan tempat dimana resistensi insulin terjadi. Resistensi insulin pada penderita GPT terutama  pada jaringan hati, sedangkan sensitifitas insulin pada jaringan otot masih tetap normal. Pada TGT, sensitifitas insulin di jaringan hati tetap normal atau sedikit menurun sedangkan pada jaringan otot telah terjadi resistensi insulin.             Prediabetes meningkatkan resiko absolut menjadi DM sebesar 2-10 kali lipat, resiko terjadinya penyakit kardiovaskular pada prediabetes sama besarnya dengan DM. Berbagai keadaan tersebut lebih meyakinkan bahwa Tindakan-tindakan dan program pencegahan dini DM sangat diperlukan, antara lain melalui penanganan prediabetes. Identifikasi dan penatalaksanaan awal bagi pasien prediabetes dapat menurunkan insiden DM serta komplikasinya.              Diabetes merupakan salah satu penyakit underdiagnosed. Saat diagnosis ditegakkan sekitar 25% sudah terjadi komplikasi mikrovaskular. Manfaat HbA1c selama ini lebih banyak dikenal dalam menilai kualitas pengendalian glikemik jangka panjang dan menilai efektivitas suatu terapi, namun beberapa studi terbaru mendukung manfaat HbA1c yang semakin luas,  bukan hanya untuk pemantauan, tetapi juga bermanfaat dalam mendiagnosis ataupun skrining Diabetes Mellitus tipe-2.             Pasien DM berpotensi menderita berbagai komplikasi, meliputi penyakit makrovaskular (penyakit jantung, stroke dan penyakit pembuluh darah tepi) dan penyakit mikrovaskular (retinopati, neuropati dan nefropati). Komplikasi DM sudah dimulai sejak dini sebelum diagnosis DM ditegakkan.   Kata kunci : prediabetes, HbA1c, DM tipe

    Variations on the Author

    No full text
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Hubungan antara Kejadian Asites pada Cirrhosis Hepamtis dengan Komplikasi Spontaneous Bacterial Peritonitis

    No full text
    Cirrhosis Hepatis merupakan hasil akhir dari jejas hepatoseluler yang ireversibel dan menimbulkan fibrosis dan regenerasi nodular pada hepar. Retensi air dan garam tampak jelas sebagai manifestasi klinis pada semua kasus Cirrhosis Hepatis disebut asites. Spontaneous Bacterial Peritonitis adalah komplikasi ketiga terbesar pada pasien dengan Cirrhosis Hepatis walaupun komplikasi tersebut dapat tampakpada pasien asites karena sebab yang lain. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan adanya hubungan antara asites pada penderita Cirrhosis Hepatis dengan komplikasi Spontaneous Bacterial Peritonitis. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan data yang diambil dari rekam medis pasienasites rawat inap di Bagian Penyakit Dalam Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang pada tahun 2006 (1 Januari 1 – 31 Desember 2006). Data dianalisis dengan menggunakan Uji Chi-Square dan Uji Korelasi Kontingensi. Hasil penelitian menunjukkan, dari tabulasi silang penderita asites dengan Cirrhosis Hepatis dan komplikasi Spontaneous Bacterial Peritonitis, 48 % terdiagnosis Cirrhosis Hepatis dan 52 % non Cirrhosis. 51 % mengalami komplikasi Spontaneous Bacterial Peritonitis dengan 63 % nya terdiagnosa Cirrhosis Hepatis. Hal ini menunjukkan bahwa Komplikasi Spontaneous Bacterial Peritonitis lebih banyakmuncul pada pasien Cirrhosis Hepatis daripada dengan pasien Non-Cirrhosis Hepatis. Kesimpulan penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan antara ascites pada penderita Cirrhosis Hepatis dengan Komplikasi Spontaneous Bacterial Peritonitis dengan hasil uji Chi-Square (c2 ) = 9,066 dengan p = 0.003 (á < 0,05) dan hasil uji Korelasi Kontingensi = 0.288 dengan p = 0.003 (á < 0,05) menunjukkan keeratan yang positif. Kata Kunci : Cirrhosis Hepatis - Asites - Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    No full text
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore