1,721,229 research outputs found
SISTEM ENERGI SURYA FOTOVOLTAIK (SESF) GRID-TIED DENGAN METODE NEURAL NETWORK
Sebagian besar pasokan listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) berasal dari energi fosil yang akan habis bila digunakan
secara terus-menerus. Untuk sebisa mungkin mengurangi pemakaian energi listrik PLN pada jam beban puncak,
dimanfaatkan energi terbarukan yang paling pesat perkembangannya yaitu Sistem Energi Surya Fotovoltaik (SESF) Grid-
Tied. SESF Grid-Tied adalah sistem yang menghubungkan solar array dan baterai yang terhubung dengan beban dinamis
serta grid PLN sebagai energi cadangan sistem. Penggunaan energi cadangan dikontrol dengan metode neural network pada
saat diluar jam beban puncak yakni pada pukul 18.00 – 23.00 dengan memperhatikan nilai irradiasi, arus beban, dan SOC
baterai. Berdasarkan hasil pembelajaran metode neural network dihasilkan nilai error sebesar 7.344%. Hasil metode kontrol
ini digunakan pada SESF Grid-Tied yang lebih efektif terhadap penggunaan energy cadangan sistem
Optimasi Koordinasi Over Current Relay Pada Trafo 60 Mva 150/20 Kv Dan Penyulang 20 Kv Gumul Gardu Induk Banaran Berbasis Particle Swarm Optimization
Pada Gardu Induk Banaran Trafo 60 MVA 150/20 kV permasalahan yang
sering terjadi adalah gangguan hubung singkat. Gangguan hubung singkat
terkadang menyebabkan Penyulang Gumul 20 kV mengalami pemadaman,
sehingga pengaman incoming trafo juga terkena gangguan. Hal tersebut
dikarenakan koordinasi over current relay yang kurang selektif dalam mengisolasi
gangguan yang menyebabkan antar rele tidak overlapping (tidak tumpang tindih).
Oleh karena itu untuk meningkatkan kinerja koordinasi OCR perlu dilakukan
setting OCR yang optimal dengan menggunakan metode PSO. Tujuan penelitian
untuk mengetahui perbandingan hasil optimasi TMS pada metode PSO dengan
metode konvensional. Hasil penelitian ini diharapkan PSO menghasilkan setting
OCR yang optimal agar antar rele dapat terkoordinasi cukup selektif.
Penelitian dilakukan dua tahap percobaan, sebelum melakukan percobaan
tersebut dilakukan simulasi Etap 12.6 terlebih dahulu untuk memperoleh arus
gangguan hubung singkat pada tiap titik lokasi gangguan. Percobaan pertama
menggunakan metode konvensional, yaitu perhitungan setting OCR pada TMS dan
PSM di rele penyulang Gumul dan rele incoming trafo untuk memperoleh waktu
operasi rele. Kemudian percobaan kedua menggunakan metode PSO, yaitu mencari
TMS yang optimal pada rele penyulang untuk menghasilkan waktu operasi rele
yang minimum.
Perbandingan TMS penyulang perhitungan konvensional dan PSO
diperoleh hasil PSO memiliki TMS sebesar 0.1197 s sedangkan hasil konvensional
memiliki TMS sebesar 0.1453 s. Maka dapat dibandingkan bahwa waktu operasi
rele hasil PSO sebesar 0.2471 s lebih cepat daripada waktu operasi rele hasil
konvensional sebesar 0.300 s. Sedangkan perbandingan CTI (Coordination Time
Interval) antara konvensional dan PSO yaitu nilai CTI pada PSO sebesar 0.3529 s,
pada konvensional nilai CTI sebesar 0.300 s. Pada Jarak lokasi gangguan
mempengaruhi waktu operasi rele dan CTI. Jadi semakin panjang jarak lokasi
gangguan, semakin besar nilai waktu operasi rele dan CTI.
Hasil setting OCR menggunakan PSO menghasilkan TMS yang optimal
sebesar 0.1197 s dengan waktu operasi rele OCR penyulang cukup cepat yang
menghasilkan CTI yang semakin meningkat. Sehingga menghasilkan koordinasi
OCR antar rele penyulang dengan rele incoming dapat bekerja cukup selektif
dengan mengisolasi gangguan secara tepat
Optimasi Daya Solar Cell Menggunakan MPPT Untuk Charging Baterai VRLA (Valve Regulated Lead Acid) Melalui Synchronous Buck Converter
Berlimpahnya energi surya yang diterima wilayah Negara Indonesia, dapat menjadi solusi untuk menggantikan sumber energi listrik konvensional seperti batu bara dan energi fosil lainnya menjadi energi terbarukan. Panel surya dapat mengonversi energi matahari menjadi energi listrik. Kekurangan sumber energi dari matahari yaitu bergantung pada kondisi cuaca. MPPT merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengekstrak daya maksimum untuk mengoptimalkan produksi energi listrik Synchronous buck converter menghasilkan tegangan yang lebih rendah dari tegangan masukan dan dapat menghasilkan arus tinggi sambil meminimalkan kehilangan daya, dengan efisiensi yang cukup baik untuk mengubah tegangan dari panel surya yang sesuai untuk pengisian baterai Synchronous buck converter terdiri dari dua MOSFET daya, induktor output dan kapasitor output. Baterai yang digunakan untuk penyimpan daya yaitu baterai VRLA dengan kapasitas 12V 12Ah. baterai jenis ini mampu menghasilkan arus listrik yang stabil dan memiliki siklus pengisian yang lebih lama. Hasil pengujian yang dilakukan panel surya 50WP jenis polly crsistalline menggunakan kontrol MPPT dengan Synchronous buck converter mampu menghasilkan daya yang masuk pada baterai sebesar 9,8 Ah dengan rata rata efisiensi total sebesar 90,35% dengan rentang waktu pengisian 6 jam mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan 14.00 WIB
Efisiensi Daya Dorong Kapal Pada Mhd Propulsion Channel Tipe Hall Dengan Tipe Diagonal
Teknologi terus berkembang pesat seiring bertambahnya kemajuan zaman.
Perkembangan teknologi memberikan pengaruh yang besar dibidang industri,
transportasi maupun rumah tangga. Banyak peralatan kebutuhan sehari – hari yang
menggunakan bahan bakar fosil untuk pengoperasiannya, salah satu contohnya
pada bidang transportasi khususnya transportasi laut yaitu kapal. Kapal menggukan
bahan bakar solar sebagai penggeraknya, tentu saja suatu saat ketersedian solar
akan menipis mengingat jumlah cadangan minyak bumi terus berkurang. Oleh
sebab itu perlu adanya suatu inovasi baru berupa energi alternatif pengganti bahan
bakar solar. Magnetohidrodinamika (MHD) merupakan salah satu solusi yang
ditawarkan sebagai penggerak kapal menggantikan bahan bakar solar. MHD adalah
ilmu yang memepelajari tentang gerak dinamis dari pengahantar listrik fluida
dengan pengaruh medan magnet disekitarnya. (Agung Prayudi, 2000).
Dalam penelitian ini dilakukan perbandingan dua tipe channel yaitu tipe
Hall dan tipe Diagonal. Dengan menggunakan kapal prototype berukuran 25cm x
16cm x 6 cm dan channel berukuran 12cm x 2,5cm x 2,5cm serta magnet yang
digunakan adlah magnet Neodymium dengan ukuran 12cm x 2cm x 1 cm. Pengujian
dilakukan dengan mengubah variasi tegangan 22 V, 23 V dan 24 V. Penggunaan
driver mosfet bertujuan untuk mengatur nilai PWM sehingga mampu mengubah
nilai tegangan masukan sesuai yang diinginkan. Alat ukur yang digunakan yaitu
multimeter digital untuk mengukur nilai arus dan tegangan pada channel kapal.
Dari hasil pengujian saat kapal menggunakan channel tipe Hall ketika
tegangan masukan diperbesar maka kapal bergerak dengan kecepatan yang lebih
besar, begitupun arus dan tegangan yang dihasilkan juga meningkat. Sedangkan
saat kapal menggunakan channel tipe Diagonal ketika tegangan masukannya
diperbesar maka kecepatannya juga akan bertambah, begitu juga nilai arus dan
tegangan yang dihasilkan juga besar. Dengan kata lain nilai tegangan masukan berbanding lurus dengan daya dorong dan kecepatan kapal yang dihasilkan. Dari
kedua tipe channel tersebut tipe Hall memiliki kecepatsn yang lebih besar
dibandingkan tipe Diagonal dan juga nilai efisiensi tipe Hall lebih baik
dibandingkan tipe Diagonal
Implementasi Rangkaian Voltage-Doubler Piezoelektrik Keramik Murata 7BB35-3 Untuk Pemanenan Energi Getaran Motor Bakar
Perkembangan teknologi yang bertambah pesat serta kebutuhan energi
listrik yang terus meningkat tiap tahunnya menuntut untuk adanya peningkatan
sumber energi listrik. Namun masih banyak sumber energi yang menggunakan
sumber daya alam yang suatu hari akan habis. Maka dari itu dibutuhkan sumber
energi alternatif yang dapat dilakukan dengan menggunakan energy harvesting.
Pemanenan energi (Energy Harvesting) memanfaatkan sejumlah kecil
energi dari lingkungan untuk dijadikan sumber energi listrik. Contoh pemanenan
energi dapat menggunakan piezoelektrik yang mengubah energi getaran menjadi
listrik. Akan tetapi, pemanenan energi menggunakan piezoelektrik ini hanya
menghasilkan tegangan yang rendah, sehingga perlu adanya sistem yang dapat
meningkatkan tegangan yang dihasilkan. Salah satu sistem yang dapat meningkatkan
tegangan yaitu rangkaian voltage doubler yang dapat meningkatkan tegangan dua kali
lipat tegangan masuk sekaligus menyearahkan arus AC dari piezoelektrik.
Pada penelitian ini dilakukan menggunakan empat buah keramik
piezoelektrik serta empat buah rangkaian full-wave Villard cascade voltage doubler
(FWVC-VD). Terdapat lima pengujian pada penelitian ini yaitu pengujian
karakteristik tegangan, pengujian rangkaian, pengujian korelasi, pengujian
konfigurasi seri dan pengujian konfigurasi paralel. Pada pengujian karakteristik
tegangan bertujuan untuk mengetahui karakteristik tegangan pada keramik
piezoelektrik dan tegangan pada rangkaian serta hubungannya dengan frekuensi.
Untuk pengujian rangkaian bertujuan untuk mengetahui voltage gain dari rangkaian
FWVC-VD yang telah dirancang apabila menggunakan tegangan masuk dari
voltage regulator dan tegangan masuk dari mekanisme penggetar. Pengujian ketiga
yaitu pengujian korelasi antara RPM motor bakar dengan tegangan output bertujuan
mencari hubungan terhadap kedua variabel. Pengujian konfigurasi seri rangkaian
bertujuan untuk mengetahui penambahan tegangan ketika rangkaian FWVC-VD
dirangkai secara seri. Dan yang terakhir pengujian konfigurasi paralel bertujuan
untuk menemukan daya yang dihasilkan sistem apabila diberi beban yang
bervariasi.
Pada pengujian konfigurasi seri, sistem akan menghasilkan tegangan yang
makin tinggi apabila jumlah yang diseri bertambah banyak. Sistem semula memiliki
tegangan 2,87 V ketika tidak diseri, kemudian bernilai 5,51 V jika dua rangkaian
diseri, kemudian 7,15 V apabila tiga rangkaian diseri, dan bernilai 11,07 V apabila
keempat rangkaian diseri. Pada pengujian konfigurasi paralel, daya yang dihasilkan
akan bertambah seiring bertambahnya jumlah paralel. Pada pengujian dengan
beban 0,1 Ω daya yang dihasilkan satu rangkaian adalah 0,242 µW dan naik hingga
11,129 µW ketika keempat rangkaian diparalel. Ketika beban ditambah menjadi 0,5
Ω, daya yang dihasilkan satu rangkaian adalah 0,233 µW dan naik hingga 4,163
µW ketika keempat rangkaian diparalel. Pada pengujian dengan beban 2,2 Ω, daya
yang dihasilkan satu rangkaian adalah 0,056 µW dan naik hingga 2,5 µW ketika
keempat rangkaian diparalel. Dari percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa
rangakain FWVC-VD dapat meningkatkan tegangan, namun dibutuhkan keramik
piezoelektrik dengan jumlah yang banyak untuk dapat memanen energi secara
optimal dari sumber ini
Perancangan Maximum Power Point Tracking Untuk Keluaran Permanent Magnet Synchronous Generator Menggunakan Kendali Buck Converter Dengan Algoritma Perturb and Observe
Permanent Magnet Synchronous Generator (PMSG) merupakan salah satu
generator yang umum digunakan pada pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB)
dengan pembangkitan skala kecil. Penggerak PMSG pada penelitian ini
menggunakan motor induksi dengan cara dikopel. Keluaran PMSG merupakan listrik
3 fasa dan penelitian ini menggunakan DC-DC konverter tipe buck converter maka
dibutuhkan rectifier 3 fasa. Daya PMSG agar dapat dimaksimalkan maka dibutuhkan
Maximum Power Point Tracking (MPPT). MPPT merupakan cara untuk menemukan
daya maksimal dengan menggunakan algoritma yang diterapkan. Pada penelitian ini
menggunakan algoritma Perturb and Observe (PNO) yang diterapkan pada
mikrokontroler Arduino UNO. Tegangan keluaran PMSG berubah-ubah secara
fluktuatif bergantung pada kecepatan putar PMSG maka diperlukan DC-DC
konverter agar dapat mengontrol tegangan dan dapat menerapkan algortima PNO.
Algortima PNO melakukan perintah kerja pada saat switching MOSFET dengan
frekuensi 62,5 kHz. Switching MOSFET bergantung pada perubahan Pulse Width
Modulation (PWM) yang diatur melalui algoritma PNO. PNO menganalisa tegangan
keluaran serta daya keluaran konverter dan melakukan eksekusi pada tegangan
keluaran selanjutnya melalui perubahan PWM. Pengujian MPPT menggunakan beban
resistif dengan daya prime mover tetap. Pengujian dilakukan dengan kondisi start
duty cycle berbeda-beda untuk mengetahui kerja MPPT disaat mencari daya
maksimal
Analisa Perbandingan Pengendali Kecepatan Putar Motor Brushless Direct Current Menggunakan Kontrol Artificial Neural Network (ANN) dan Adaptive Neuro Fuzzy Inference System (ANFIS)
Pada zaman modern ini, kemajuan teknologi baik dalam industri kecil
sampai industri besar sekalipun bahkan dalam berbagai peralatan rumah tangga
semua peralatan didalamnya tidak terlepas dengan sebuah motor, tak terkecuali
pada bidang transportasi. Kendaraan yang ramah lingkungan menjadi salah satu
trending di mata kostruktor alat transportasi didunia untuk berlomba-lomba dalam
pengembangan teknologi alat transportasi, baik itu kendaraan yang beroda empat
maupun kendaraan yang beroda dua, yang berbasis teknologi hybrid ataupun
elektrik.
Motor BLDC yaitu alternatif pengganti motor DC. Motor ini adalah salah
satu jenis motor yang popularitasnya mulai naik. Seiring berkembangnya teknologi,
motor BLDC semakin mudah diproduksi dan dikendalikan. Motor BLDC cocok
digunakan pada aplikasi yang membutuhkan efisiensi tinggi, handal dan rentang
kecepatan yang lebar. (Hui yang, 2013). Motor Brushless DC (BLDC) adalah salah
satu jenis motor DC yang memiliki magnet permanen yang berada di bagian rotor
dan kumparan jangkar pada stator. Terdapat dua jenis motor BLDC jika dilihat dari
segi arah aliran fluxnya, yaitu Axial flux BLDC dan radial flux BLDC. Konstruksi
motor Brushless DC (BLDC) axial flux brushless DC pada dasarnya terdiri dari
sebuah piringan rotor yang dapat berputar dengan beberapa magnet yang menempel
di sisi luasannya dan satu lagi bagian stator yang berisi inti dengan konduktorkonduktor yang dibelitkan pada slot-slot stator sebagai pengakomodasi piringan
rotor untuk bisa berputar. (Achmad Abdul Ghoni, 2015).
Jika dilihat dari segi penilitian, didapatkan beberapa topik yang dapat
ditemui. Dari beberapa penelitian tersebut, terdapat beberapa fokus penelitian
pertama penelitian tentang rancang bangun motor brushless direct current tiga fasa
axial fluks (Reqzy, 2019). Kedua yang berkaitan dengan controller yang digunakan
untuk dapat mengendalikan motor BLDC, baik dalam aspek topologi pengendalian
dan juga desain hardware (Pina et al., 2017; Naresh et al., 2018; Tutaj et al., 2018).
Sedangkan apabila penelitian BLDC lebih difokuskan pada topik penelitian
yang erat kaitannya dengan pengendalian kecepatan motor BLDC, maka beberapa
teknik pengendalian telah banyak digunakan. Salah satunya adalah pengalikasian
artificial intellegence sebagai intellegence control pada pengendalian motor
BLDC. Diantara beberapa penelitian tersebut adalah BLDC dengan menggunakan
Fuzzy sebagai pengendaliannya (Kumari, 2018), kemudian ANFIS (Yashoda &
O., 2016), dan juga Artificial Neural Network (Muhammad Nizam, 2013).
Oleh sebab itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui performa
dari motor BLDC dengan cara membandingkan pengendalian kecepatan dari motor
BLDC menggunakan kontrol Artificial Neural Network dan kontrol Adaptive Neuro
Fuzzy Inference System. Sedangkan target dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui bagaimana peforma terbaik yang akan dinilai berdasarkan assement
sistem kendali dan juga untuk mengetahui serta mencari sistem kendali yang
memiliki respon terbaik dalam artian memiliki waktu steady state yang tercepat dan
juga dicari nilai terbaik dari parameter assement sistem kendali.
Dari beberapa hasil telah didapatkan menunjukkan bahwa pada segi
pengujian skenario 1 yaitu untuk mengetahui respon sistem dari masing – masing
sistem kendali, ANN memiliki nilai rise time rata – rata yang terbaik dibandingkan
dengan lainnya. Untuk nilai Rise time ANN memiliki performa 1,59 kali lebih baik
dibandingkan dengan kendali ANFIS dan 1,03 kali lebih baik dibandingkan dengan
Fuzzy. Ini berarti ANN memiliki respon yang lebih cepat atau peka dibandingkan
dengan sistem kendali lainnya. Namun dari sisi kecepatan agar sampai pada titik
setpoint (settling time), ANN membutuhkan waktu sebesar 0,01999 detik, untuk
Fuzzy sebesar 0,0264 detik, sedangkan untuk ANFIS membutuhkan waktu sebesar
0,03231 detik.
Apabila masing – masing sistem kendali dibandingkan dari sisi overshoot
ataupun overdamp yang terjadi, maka dapat diketahui bahwa ANFIS memiliki nilai
yang cukup kecil dibandingkan dengan Fuzzy dan ANN, atau ANFIS memiliki
performa 3,72 kali lebih baik dibandingkan Fuzzy dan 3,38 kali lebih baik
dibandingkan ANN . Namun ANFIS dan ANN memiliki selisih nilai sebesar
6,21%. Nilai tersebut dilihat dari kecilnya nilai rerata overshoot dan overdamp yang
dihasilkan serta nilai balok pada grafik yang lebih kecil dibandingkan dengan
sistem kendali yang lain.
Dengan memanfaatkan beberapa informasi yang telah disimpan pada
simulasi yang telah dilakukan (waktu simulasi, respon kecepatan, setpoint dan
error), maka dengan menggunakan persamaan 2.14, nilai dari masing – masing
sistem kendali dapat diketahui. Hasil dari assemen menggunakan standart assement
ini dapat dilihat pada Tabel 4.6. Dari Tabel 4.6 menunjukkan bahwa ANN memiliki
performa yang lebih baik dibandingkan dengan lainnya. Hal ini dapat dilihat dari
parameter MAE (keajegan atau kestabilan) sistem kendali
Isolasi dan Elusidasi Struktur Molekul Aktif dari Nudibranch Terpilih Asal Kepulauan Seribu
Penelitian ini bertujuan mengisolasi molekul aktif dari nudibranch terpilih asal Kepulauan Seribu berdasarkan metode kimia dan biologi melalui asai toksisitas terhadap embrio ikan zebra serta melakukan elusidasi struktur melalui teknik spektroskopi dan spektrometri. Sampel NN-09(Phyllidiopsis shireenae) dipilih untuk diisolasi dan dielusidasi struktur molekul aktifnya karena mempunyai nilai LC50 paling toksik (LC50 7.62μg/mL) terhadap embrio ikan zebra (Danio rerio). Elusidasi spektrum kromatografi cair-spektroskopi massa ionisasi semburan elektron NN-09 menunjukkan NN-09 mempunyai paling sedikit 5 molekul. Purifikasilapisan etil asetat dengan kromatografi cair kinerja tinggi silika normalmenghasilkan 3 fraksi utama (A2, A6, A7). Subfraksi A2(molekul7) merupakan senyawa murni berdasarkan data NMR 1H. Elusidasi spektrum NMR 1H menyimpulkan bahwa senyawa 7 memiliki paling sedikit 6 substruktur (I-VI), yaitugugus alkena trisubtitusi CHR=CR2 (I), gugus CHX-CHX-CH=CH-R (II), RCHX-CHR2 (III), CH3-CR2X (IV), gugus CHR2-CHR-CHR2 (V), dan gugus CHR2-CR3 (VI)
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
