1,720,969 research outputs found
Penerapan sistem antrian model M/M/S dan analisis kepuasan nasabah pada Bank BRI KCP Batutulis Bogor
Queuing is a problem often faced by customers at a bank. The use of queuing models can assist bank management in designing queuing systems. The purpose of this study is to analyze the performance of a queuing system and find the optimal solutions, analyzing the customer satisfaction level of bank services, and analyze customers' brand loyalty to service quality. The method used to analyze the queuing system is a queuing system model of M/M/S and standard queuing system, while to analyze the level of satisfaction with the Customer Satisfaction Index (CSI) and the Important Performace Analysis (IPA). In actual conditions, customers have an average waiting time in the system value for 55.05 minutes. Optimal solution with the use of 3-teller of Rp126 951. The level of customer satisfaction on bank service attributes are satisfied with the CSI value of 79.49% while the calculation of Importance-Performance Analysis (IPA) was obtained attributes that a top priority is to increase customer satisfaction queuing systems, performance of ATM and parking area. The results of the analysis of brand loyalty that includes a switcher, habitual buyer, satisfied buyer, liking the brand and committed buyer, BRI KCP Batutulis, Bogor showed good results up to the level of liking the brand
Analisis Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Produk Stay Assy TD pada PT BS Indonesia
Some Companies often having difficulties in Planning and Inventory, even from the start raw material inventory till becoming finished goods. In order to solve the problems, company needs a good planning so the product activity could run well consistently. The aim of this research is in order to know about Stay Assy TD Planning and Inventory Raw Material Controlling with MRP (Material Requirement Planning) and to decide the correct MRP Method as the correct lowest cost alternative. Planning and Inventory Controlling used by MRP Method for Stay Assy TD using FIFO (First In First Out) Method. With main specific raw material for assembling stay powder coating, bracket CED, washer, spring and ball bearing. Planning for material needs using MRP based on customer needs estimation in order to fill future raw material needs. The estimation using winters method. The estimation could be seen from the least MAPE (Mean Absolute Percentage of Error). By using MRP technique with PPB (part period balancing) for stay powder coating, bracket CED, Spring and ball bearing material could spend the lowest cost. And MRP Technique with EOQ (Economic Order Quantity) is used for Washer raw material
Analisis Program Pengembangan Karir melalui Talent Management pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Program pengembangan karir dapat digunakan untuk mempersiapkan kader pemimpin masa depan sehingga pada saat terjadi kebutuhan untuk mengisi posisi yang kosong maka sebuah organisasi siap dengan sumber daya dari dalam organisasi mereka sendiri. Para pegawai bertalenta yang memiliki kredibilitas tinggi yang dikembangkan dan dipertahankan akan memiliki loyalitas kuat terhadap tugas dan wewenangnya, sehingga tujuan organisasi pun dapat tercapai. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi merupakan organisasi pemerintah yang berusaha untuk mengembangkan karir pegawainya melalui talent management. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mengidentifikasi bentuk pelaksanaan program pengembangan karir melalui talent management pada kementerian tenaga kerja dan transmigrasi, (2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan program pengembangan karir melalui talent management pada kementerian tenaga kerja dan transmigrasi, (3) Memberikan rekomendasi alternatif strategi dalam pelaksanaan program pengembangan karir melalui talent management. Data penelitian yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil wawancara dengan pihak terkait dan hasil pengisian kuesioner. Data sekunder diperoleh dari berbagai literatur, buku-buku yang relevan dengan topik yang akan diteliti, hasil penelitian terdahulu, serta literatur lain yang berkaitan dengan penelitian ini. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, analisis SWOT, dan Analytical Hierarchy Process (AHP). Analisis deskriptif bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk pelaksanaan program pengembangan karir melalui talent management pada kementerian tenaga kerja dan transmigrasi. Analisis SWOT digunakan untuk mengidentifikasi kondisi internal dan eksternal organisasi sehingga diperoleh strategi alternatif pemilihan program pengembangan karir melalui talent management, serta AHP digunakan untuk menganalisis nilai prioritas dari faktor, aktor, tujuan, dan alternatif. Berdasarkan hasil analisis, pelaksanaan program pengembangan karir melalui talent management merupakan inisiatif organisasional. Faktor-faktor yang mempengaruhi program pengembangan karir melalui talent management terdiri dari integritas, sikap profesional, orientasi melayani masyarakat, pembelajaran berkesinambungan, dan kerja sama tim. Alternatif strategi pemilihan program pengembangan karir untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai terdiri dari bimbingan teknis, coaching dan mentoring, action learning, dan penugasan singkat. Bimbingan teknis dipilih sebagai prioritas pertama karena program pengembangan karir melalui talent management merupakan program baru yang masih membutuhkan pembinaan, pengarahan untuk melaksanakan tugasnya dengan lebih baik
Perancangan dan Pengukuran Kinerja Rantai Pasokan Sayuran dan Perusahaan dengan Pendekatan Analytic Network Process serta Data Envelopment Analysis (Studi Kasus : PT Saung Mirwan, Bogor)
Hortikultura merupakan salah satu komoditas pertanian yang utama di Indonesia. Salah satu produk hortikultura yang memiliki prospek di masa mendatang yaitu sayuran. Mengingat karakteristik produk pertanian yang mudah rusak, maka perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis manajemen rantai pasokan untuk sayuran. Dengan demikian kinerja rantai pasokan produk sayuran diharapkan akan meningkat sehingga dapat meningkatkan produktivitas serta daya saing produk sayuran di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mengkaji struktur rantai pasokan produk sayuran, 2) Menentukan bobot metrik pengukuran kinerja dengan Analytic Hierarchy Process dan Analytic Network Process, dan 3) Mengukur kinerja perusahaan dengan menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA). Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer didapatkan melalui wawancara dan pengisisan kuisioner oleh para Manajer di PT Saung Mirwan (Pemasaran, Kemitraan, dan Pengemasan dan Processing) dan pakar sayuran. Data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data informasi dari PT Saung Mirwan seperti gambaran umum perusahaan dan manajemen rantai pasok sayuran di perusahaan. Kuisioner diuji dengan menggunan metode pairwise comparison untuk menentukan bobot prioritas. Pengolahan data menggunakan software Microsoft Excell, Super Decisions, dan Frontier Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada analisis AHP prioritas utama pada proses bisnis terdapat pada tahap perencanaan (plan) yang mempunyai bobot sebesar 0.41620. Untuk parameter kinerja, mutu adalah prioritas utama yang mempunyai bobot sebesar 0.43822. Sedangkan untuk atribut kinerja, reliabilitas adalah prioritas utama dengan bobot sebesar 0.40017 dan untuk metrik pengukuran kinerja, prioritas utama dengan bobot sebesar 0.15759 adalah kinerja pengiriman. Pada analisis ANP yang menjadi prioritas utama adalah plan pada proses bisnis dengan bobot 0.27308, mutu pada parameter kinerja dengan bobot sebesar 0.40226, reliabilitas pada atribut kinerja dengan bobot sebesar 0.33310, dan kinerja pengiriman pada metrik pengukuran kinerja dengan bobot sebesar 0.14957. Hasil prioritas utama pada masing-masing hirarki atau jaringan adalah sama, tetapi memiliki bobot yang berbeda. Terdapat perbedaan pada hasil AHP dan hasil ANP yaitu berupa bobot masing-masing elemen dan tingkat prioritas pada cluster atribut kinerja dan metrik pengukuran kinerja. Hal ini disebabkan karena adanya hubungan timbal balik atau ketergantungan (feedback) pada ANP yang tidak terdapat pada AHP. Pada AHP level atas hanya mempengaruhi elemen-elemen yang ada pada level di bawahnya. Pada AHP level bawah tidak mempengaruhi elemen-elemen yang ada di atasnya karena bersifat hirarki sehingga penilaian hanya terpaku pada hirarki dari atas ke bawah. Sedangkan pada ANP, elemen-elemen pada level bawah dapat mempengaruhi elemen-elemen yang ada pada level di atasnya sehingga level dalam ANP disebut ii dengan cluster karena terdapat hubungan ketergantungan baik antara elemen satu dengan yang lain maupun antara cluster satu dengan yang lain. Pada ANP tidak hanya membandingkan elemen, tetapi juga membandingkan antar cluster. Analisis dengan menggunakan DEA dilakukan setelah diperoleh hasil ANP. Pengukuran kinerja PT Saung Mirwan dilakukan terhadap sepuluh komoditas sayuran yang mempunyai tingkat permintaan tertinggi dari sekitar 80 komoditas sayuran. Sepuluh sayuran tersebut yaitu : caysin, bawang bombay, tomat TW, tomat Rianto, Lettuce head, Lettuce romaine, paprika hijau, jamur champ, daun bawang, dan seledri. Hasil pengolahan data menggunakan DEA adalah tingkat efisiensi dari sepuluh komoditas tersebut. Tingkat efisiensi dari sepuluh komoditas tersebut yaitu : Lettuce head 100%, caysin 100%, tomat TW 97.27%, seledri 96.93%, bawang bombay 94.98%, daun bawang 93.10%, jamur champ 91.93%, tomat Rianto 89.38%, Lettuce romaine 89.33%, dan paprika hijau 79.28%. Hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan pada kinerja produk yang memiliki tingkat efisiensi kurang dari 100% yaitu dengan cara meningkatkan output seperti kinerja pengiriman, pemenuhan pesanan, dan kesesuaian dengan standar mutu dan meningkatkan atau menurunkan input seperti siklus pemenuhan pesanan, lead time pemenuhan pesanan, fleksibilitas pasokan, biaya SCM, siklus cash-to-cash, dan persediaan harian
Analisa Peningkatan Kinerja Pengiriman Pada Rantai Pasok Produk Susu Frisian Flag Indonesia Oleh PT YCH Indonesia
PT YCH merupakan salah satu perusahaan distribusi produk. Salah satu produk yang distribusikan oleh PT YCH Indonesia adalah Frisian Flag Indonesia (FFI). Target sasaran dari proses distribusi produk FFI yang dilakukan oleh PT YCH Indonesia ialah toko atau agen yang berada di seluruh Indonesia yang dikelompokkan ke dalam 2 (dua) kategori yaitu pasar modern seperti Giant, Hero, Alfamart, Indomart, Yogyamart, Carefour, dan pasar-pasar tradisional atau distributor. Penelitian ini bertujuan (1). Mengidentifikasi wilayah pengiriman yang sering mengalami keterlambatan; (2). Menganalisis faktor yang menjadi penghambat proses distribusi produk susu FFI dari PT YCH Indonesia ke pasar modern; (3). Menganalisis faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap proses pendistribusian produk FFI dari PT YCH Indonesia sampai ke pasar modern. Penelitian ini dilakukan di PT YCH Indonesia yang berlokasi di Jalan Raya Kalimalang KM 2 Cibitung Bekasi Jawa Barat. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dan penyebaran kuesioner kepada 130 orang responden. Pengambilan contoh responden dalam penelitian ini menggunakan metode nonprobability sampling dengan teknik judgement sampling. Data sekunder diperoleh dari dokumen perusahaan, perpustakaan, internet, dan buku-buku yang terkait dengan tema penelitian. Analisis data menggunakan analisis diagram sebab-akibat (fishbone), dan analisis Structural Equation Modeling (SEM) dengan alat pengolah data LISREL 8.50 Wilayah yang paling sering mengalami keterlambatan adalah wilayah M4 (Bandung, Bogor) dengan total keterlambatan pengiriman sebanyak 256 pengiriman dari 5.391 pengiriman yang dilakukan selama kurun waktu 5 bulan. Berdasarkan hasil analisis sebab akibat (fishbone) menunjukkan bahwa faktor yang menjadi penentu dalam proses distribusi yang dilakukan oleh PT YCH Indonesia terdiri dari beberapa faktor utama yaitu : i). Transportasi dan peralatan; ii). produk; iii). sistem informasi; iv). sumber daya manusia. Hasil analisis dengan metode Structural Equation Modeling (SEM). Besarnya pengaruh variabel laten bebas terhadap kinerja perusahaan: i). Produk (29%), ii). Sumber daya manusia (25%), iii). Transportasi dan peralatan (0,2%), iv). Sistem informasi (-13%). Berdasarkan nilai faktor muatan, besarnya indikator yang berpengaruh terhadap kinerja perusahaan: i). Kualitas produk (57%), ii). Pengiriman tepat waktu (54%), iii). Kuantitas produk (51%)
Analisis Manajemen Risiko Rantai Pasokan Minyak Akar Wangi Berbasis Industri Kecil Menengah (Studi Kasus Penyulingan Minyak Akar Wangi Garut)
Manajemen risiko rantai pasokan dalam industri kecil menengah (IKM) minyak akar wangi sangat diperlukan untuk mendapatkan keunggulan bersaing. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam penyulingan minyak akar wangi adalah kegiatan operasional, pemasaran minyak akar wangi, dan keuangan. Aspek tersebut menjadi fokus penilaian risiko penyulingan minyak akar wangi. Aspek tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas, jumlah produksi, dan harga jual minyak akar wangi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui manajemen rantai pasokan minyak akar wangi, menganalisis manajemen risiko rantai pasokan minyak akar wangi pada penyuling, dan membuat rancangan awal sistem penunjang keputusan risiko rantai pasokan. Penelitian dilakukan melalui tiga tahapan yaitu identifikasi rantai pasokan, identifikasi risiko, dan penilaian risiko. Penilaian risiko menggunakan teknik non numeric Multi Expert-Multi Criteria Decision Making (ME-MCDM), Ordered Weighteded Averaging (OWA) dan basis aturan. Jenis data adalah data primer dan sekunder dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan studi literatur. Sampel dipilih secara probability dan non probability. Sampel probability diambil dengan teknik stratified sampling dengan membagi populasi berdasarkan wilayah dan jenis anggota rantai pasokan. Teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel non probability adalah purposive sampling dan snowball sampling dengan mempertimbangkan status usaha dan keberlanjutan usaha. Alat analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis risiko. Rantai pasokan minyak akar wangi terdiri dari 5 (lima) anggota yaitu petani, pengumpul akar wangi, penyuling, pengumpul minyak akar wangi, dan eksportir. Anggota rantai pasokan dapat diklasifikasikan dalam petani, petani/penyuling (petani sekaligus penyuling atau sebaliknya), penyuling, penyuling/pengumpul minyak akar wangi (penyuling sekaligus pengumpul minyak akar wangi atau sebaliknya), pengumpul akar wangi, dan petani/penyuling/pengumpul akar wangi atau minyak akar wangi. Aliran barang dalam rantai pasokan minyak akar wangi yaitu akar wangi dari petani dijual ke pengumpul akar wangi atau penyuling untuk disuling menjadi minyak akar wangi. Selanjutnya, minyak akar wangi dijual ke pengumpul minyak atau eksportir minyak akar wangi. Aliran uang berlangsung dari eksportir ke pengumpul minyak akar wangi atau penyuling, dari penyuling ke petani. Aliran informasi berlangsung dua arah melalui jaringan telekomunikasi atau diskusi kelompok
Analisis Penerapan Teori Antrian pada Sistem Penambatan Kapal Pelabuhan PT. Pelindo II cabang Tanjung Priok
This paper describes the performance of port services to support the decision making process in order to improve the quality of care and meet future demand by determining service queuing system should be applied to the port of Tanjung Priok. Queues on the ship berthing service system due to the mismatch between planning and the actual condition. The queuing theory be applicable in every function of the port facilities and port operations. In this methodology, any time of the movement of the ship in the port area were analyzed. Ship waiting time inside and outside the port area calculated using simulation on queuing theory so that it becomes a model queue. Simulations were performed by time of arrival and length of actual service. Ending up with a boat mooring system optimum service. Based on the simulation results obtained values , ,dan is much shorter than the actual condition. Also obtained also that the utility of each pier system under 0.89 points or 89 percent. This is also supported by the value greater than realization. Potential causes of the condition are divided into three factors, namely internal factors, external factors, and weather factors. It can be concluded that the vessel berthing system of care that apply to the harbor PT. Pelindo II Tanjung Priok branches should follow the conditions of the simulation methodPenelitian ini menjelaskan tentang pehitungan kinerja pelayanan pelabuhan untuk mendukung proses pengambilan keputusan guna meningkatkan kualitas pelayanan dan memenuhi permintaan di masa mendatang dengan menentukan sistem antrian pelayanan yang seharusnya diterapkan pada pelabuhan tanjung priok. Antrian pada sistem pelayanan penambatan kapal terjadi akibat ketidaksesuaian antara perencanaan dengan perealisasiannya. Teori antrian ini diterapkan didalam setiap fungsi fasilitas pelabuhan dan kegiatan operasional pelabuhan. Dalam metodologi ini, setiap waktu dari pergerakan kapal di dalam areal pelabuhan dianalisis. Waktu tunggu kapal di dalam dan luar areal pelabuhan dihitung menggunakan metode simulasi pada teori antrian sehingga menjadi sebuah model antrian. Simulasi dilakukan berdasarkan waktu kedatangan dan lama pelayanan yang sebenarnya. Hingga akhirnya menghasilkan sistem pelayanan penambatan kapal yang optimum. Berdasarkan hasil simulasi diperoleh nilai , ,dan yang jauh lebih singkat dari kondisi pada realisasi. Selain itu diperoleh juga bahwa utilitas sistem dari setiap dermaga dibawah angka 0,89 atau 89 persen. Hal tersebut juga didukung dengan nilai yang lebih besar dibandingkan realisasi. Penyebab potensial terjadinya kondisi tersebut terbagi menjadi 3 faktor, yaitu faktor internal, faktor eksternal,dan faktor cuaca. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem pelayanan penambatan kapal yang diterapkan pada pelabuhan PT. Pelindo II cabang Tanjung Priok seharusnya mengikuti kondisi pada metode simulasi
Analisis Risiko Rantai Pasok Kakao di Indonesia dengan Metode Analytic Network Process dan Failure Mode Effect Analysis Terintegrasi
Cocoa is one of the commodities whose role is quite important to the national economy of Indonesia. Cocoa plantations are ranked fourth to earn the national income after oil palm, rubber, and coconut (Directorate General of Agriculture, 2010). The cocoa industry faces some global challenges and problems including the various risks involved in the cocoa supply chain. The purpose of this study is to identify and analyze a variety of disorders that arise at the highest risk of the cocoa supply chain in the critical unit, as well as the mitigation and design proactive strategies in dealing with risks. An integrated Analytic Network Process (ANP) and Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) is the method used to determine and analyze the highest risk in the cocoa supply chain. Risks identified in the cocoa supply chain are risk quality, production, prices, supply, environment, and transportation. Priority outcomes of members in the cocoa supply chain risk management supply chain are farmers (0.40898), with the risk of having the biggest priority is production risk (0.221). ANP weighting and integration of FMEA shows results considering risk alternatives for each member of the supply chain. The integrated FMEA result shows that the risk of production ranks first with Weighted Risk Priority Number 226.174. Risk control is done by improving the productivity and competitiveness of cocoa by providing information to farmers, provision of credit and access to affordable planting materials for farmers, providing direct access to markets, information transparency, and the provision of mechanisms to guarantee the cacao quality standards.Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional Indonesia. Kakao adalah komoditas perkebunan penyumbang devisa Indonesia peringkat keempat setelah kelapa sawit, karet, dan kelapa (Direktorat Jendral Perkebunan, 2010). Industri kakao menghadapi beberapa tantangan global dan permasalahan termasuk berbagai risiko yang terlibat dalam rantai pasok kakao. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis berbagai gangguan risiko tertinggi yang timbul pada rantai pasok kakaodi unit yang mudah mengalami gangguan serta mitigasi dan perancangan strategi proaktif dalam menangani risiko yang timbul. Metode yang digunakan untuk menentukan dan menganalisis risiko tertinggi dalam rantai pasok kakao adalah metode Integrasi Analytic Network Process (ANP) dan Failure Mode Effects Analysis (FMEA). Risiko yang teridentifikasi pada rantai pasok kakao yaitu risiko kualitas, produksi, harga, pasokan, lingkungan, transportasi. Hasil prioritas dari anggota rantai pasok komoditas kakao dalam manajemen risiko rantai pasok adalah petani (0.408), dengan risiko yang memiliki prioritas terbesar adalah risiko produksi (0.221). Pembobotan ANP dan integrasi FMEA menunjukkan hasil yang mempertimbangkan hubungan kepentingan risiko pada tiap anggota rantai pasok. Berdasarkan hasil FMEA terintegrasi, risiko produksi tetap menempati urutan pertama dengan Weighted Risk Priority Number 226.174. Pengendalian risiko dilakukan dengan upaya peningkatan produktivitas dan daya saing komoditas kakao dengan memberikan penyuluhan kepada petani, pemberian kredit dan akses bahan tanam yang terjangkau bagi petani, pemberian akses langsung terhadap pasar, informasi yang transparan, serta penyediaan mekanisme untuk penjaminan standar kualitas kakao yang berlaku
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
