1,799 research outputs found
Author passes at Greensboro home, Birmingham age-herald, May 10, 1941
(Published By Age-Herald Publishing Co.
[Clipping: "Falwell and the court", Dallas Times Herald]
Clipping from an article in the Dallas Times Herald, dated Thursday, July 9, 1981. The article is an anonymous editorial or opinion piece opposing the Rev. Jerry Falwell's influence on the appointment of Supreme Court justices. The author specifically refers to Falwell's objection to President Reagan's nomination of Sandra Day O'Connor
Series 3: Candidacy for Mayor of Los Angeles
Article from the Los Angeles Herald prints a letter to the editor regarding the effect of having two Republican candidates on the mayoral election
Excerpt of Sketches of Pennsylvania From the Commercial Herald, July 1833
A typed excerpt of an essay entitled Sketches of Pennsylvania , originally appearing in the Commercial Herald and dated July 1833. Within, the author details the dialect and ways of life of the Pennsylvania Dutch in Lancaster County.https://digitalcommons.ursinus.edu/shoemaker_documents/1168/thumbnail.jp
Indoor Lacrosse Makes a Grand Hit (December 1890)
The New York Herald published “Indoor Lacrosse Makes a Grand Hit” in 1890. The article describes the second night of the Staten Island Athletic Club’s “Monster Carnival,” held at the newly-opened Madison Square Garden. It begins with a detailed and energetic description of one of the first indoor lacrosse games, which was enthusiastically received by the crowd. Next, the article briefly describes indoor track races. The author then describes the very first indoor football game: a match between Springfield College and Yale watched by an audience of twenty-five hundred people. The final section lists the winners of the track, lacrosse, and football events. Springfield College's football team, known as "Stagg's Eleven," was comprised of W. J. Kellar, James A. Naismith (inventor of Basketball), J. P. Smith, D. W. Corbett, W. O. Black, W. H. Barton, W. C. McKee, F. N. Seerley, Amos Alonzo Stagg (the captain), A. E. Garland, and W. H. Ball. Yale fielded a team of five varsity players, two substitutes, and a group of Yale graduates. Springfield College, at this time, had less than fifty students from which to draw. Stagg was the only experienced player on the squad and found his team outsized by an average of twenty pounds per man. While Springfield College showed true courage and pride, they ultimately lost 16-10. The newspapers called Stagg’s team the “Stubby Christians” and commended them for outplaying the giants from New Haven.For more information on Amos Alonzo Stagg, see: https://springfield.as.atlas-sys.com/agents/people/66
Water for Life Strategy in Alberta: Changing Priorities in Canadian Water Policy?
Water resources are being stretched to the limit in Alberta and irrigation activities account for more than 70 percent of consumptive water use in the province. Conflicts among users and potential users may be looming. Pollution of surface water and groundwater and outbreaks of water-borne pathogens have been increasing. Freshwater systems are likely to deteriorate further with impending climate change. Following passage of the Alberta Water Act in 1999 and the Irrigation Districts Act in 2000, which allowed limited transfers of water among water users, the Alberta government issued its Water for Life Strategy in late 2003. The strategy’s principal goals include (1) evaluation of the use of economic instruments to manage water demand by 2007; (2) demonstration of best management practices by 2010; and (3) a 30 percent increase in productivity and efficiency over 2005 levels by 2015. This seems to presage a new era in water management in Alberta, but will the necessary changes in water management be forthcoming? This study examines the need for demand-based management and the constraints that make effective changes in water policy problematic. Evidence from a recent study in the St. Mary’s River Irrigation District highlights problems with water markets.Environmental Economics and Policy,
Author Ed McBain Book Signing
Author Ed McBain hosts a book signing at the Bradenton Area Convention Cente
MENUJU DEMOKRASI DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI
Proses demokrasi di Indonesia bertambah tahun bertambah warna. Pesona demokrasi membuat partisipasi
partai politik bertambah dan berkurang silih berganti. Hal menarik ketika pesona demokrasi ini dilihat dalam
pandangan bisnis, politik, dan rakyat. Dalam pandangan bisnis, pesta demokrasi banyak memberikan manfaat
pada unit bisnis kecil hingga besar. Percetakan, spanduk, televisi, radio hingga artis banyak meraup
keuntungan dari demokrasi ini. Tidak terkecuali dalam bidang teknologi informasi. Banyak sekali aplikasi
teknologi informasi yang dibangun/menunjang proses demokrasi. Produk teknologi informasi ini bisa kita sebut
edemocracy. Dalam konteks edemocracy, beberapa produk teknologi informasi diantaranya yang banyak
dipakai adalah aplikasi quick count. Aplikasi ini bisa berupa SMS gateway,WAP, ataupun Web database
application.
Dalam pandangan politik golongan (partai atau caleg), teknologi informasi digunakan sebagai alat kampanye
dan propoganda. Pengumpulan massa maupun anggota banyak dilakukan dengan menggunakan teknologi
informasi. Produk teknologi informasi yang banyak dipakai untuk kepentingan politik biasanya dalam bentuk
portal , chatting, email, blog dan juga bisa berupa aplikasi SMS gateway.
Dari pandangan rakyat, proses demokrasi yang baik akan berujung pada kesejahteraan bangsa. Dalam artian
sederhana, proses itu dapat diawali dengan memberikan hak suaranya pilkada, pemilu maupun pilpres. Peran
serta rakyat dalam memilih presiden, partai atau caleg, perlulah berdasarkan atas performa, kejujuran,dan nilai
moral yang tinggi dari individu maupun partai politik. Pertanyaannya adalah, seberapa tepat dan benar
informasi yang dimiliki rakyat sehingga rakyat mengetahui bahwa yang caleg atau partai yang dipilihnya itu
adalah sesuai dengan tujuan akhir kesejahteraan dan kemakmuran bangsa?
Dari ketiga pandangan diatas, kemunculan teknologi informasi diharapkan memberikan efek yang baik. Tapi
seperti apakah secara umum karakteristik teknologi informasi yang dapat dibangun dalam konteks edemocracy?
Bagaimana sebaiknya infrastruktur TI itu direncanakan dan dibangun sehingga data yang bernilai strategis
dikirim dan dikelola bisa tetap aman, selalu tersedia, mempunyai performa yang tinggi, serta mempunyai
ketepatan hasil analisa
MENUJU DEMOKRASI DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI
Proses demokrasi di Indonesia bertambah tahun bertambah warna. Pesona demokrasi membuat partisipasi partai politik bertambah dan berkurang silih berganti. Hal menarik ketika pesona demokrasi ini dilihat dalam pandangan bisnis, politik, dan rakyat. Dalam pandangan bisnis, pesta demokrasi banyak memberikan manfaat pada unit bisnis kecil hingga besar. Percetakan, spanduk, televisi, radio hingga artis banyak meraup keuntungan dari demokrasi ini. Tidak terkecuali dalam bidang teknologi informasi. Banyak sekali aplikasi teknologi informasi yang dibangun/menunjang proses demokrasi. Produk teknologi informasi ini bisa kita sebut edemocracy. Dalam konteks edemocracy, beberapa produk teknologi informasi diantaranya yang banyak dipakai adalah aplikasi quick count. Aplikasi ini bisa berupa SMS gateway,WAP, ataupun Web database application.Dalam pandangan politik golongan (partai atau caleg), teknologi informasi digunakan sebagai alat kampanye dan propoganda. Pengumpulan massa maupun anggota banyak dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi. Produk teknologi informasi yang banyak dipakai untuk kepentingan politik biasanya dalam bentuk portal , chatting, email, blog dan juga bisa berupa aplikasi SMS gateway. Dari pandangan rakyat, proses demokrasi yang baik akan berujung pada kesejahteraan bangsa. Dalam artian sederhana, proses itu dapat diawali dengan memberikan hak suaranya pilkada, pemilu maupun pilpres. Peran serta rakyat dalam memilih presiden, partai atau caleg, perlulah berdasarkan atas performa, kejujuran,dan nilai moral yang tinggi dari individu maupun partai politik. Pertanyaannya adalah, seberapa tepat dan benar informasi yang dimiliki rakyat sehingga rakyat mengetahui bahwa yang caleg atau partai yang dipilihnya itu adalah sesuai dengan tujuan akhir kesejahteraan dan kemakmuran bangsa? Dari ketiga pandangan diatas, kemunculan teknologi informasi diharapkan memberikan efek yang baik. Tapi seperti apakah secara umum karakteristik teknologi informasi yang dapat dibangun dalam konteks edemocracy? Bagaimana sebaiknya infrastruktur TI itu direncanakan dan dibangun sehingga data yang bernilai strategis dikirim dan dikelola bisa tetap aman, selalu tersedia, mempunyai performa yang tinggi, serta mempunyai ketepatan hasil analisa
MENUJU DEMOKRASI DENGAN TEKNOLOGI INFORMASI
Proses demokrasi di Indonesia bertambah tahun bertambah warna. Pesona demokrasi membuat partisipasi partai politik bertambah dan berkurang silih berganti. Hal menarik ketika pesona demokrasi ini dilihat dalam pandangan bisnis, politik, dan rakyat. Dalam pandangan bisnis, pesta demokrasi banyak memberikan manfaat pada unit bisnis kecil hingga besar. Percetakan, spanduk, televisi, radio hingga artis banyak meraup keuntungan dari demokrasi ini. Tidak terkecuali dalam bidang teknologi informasi. Banyak sekali aplikasi teknologi informasi yang dibangun/menunjang proses demokrasi. Produk teknologi informasi ini bisa kita sebut edemocracy. Dalam konteks edemocracy, beberapa produk teknologi informasi diantaranya yang banyak dipakai adalah aplikasi quick count. Aplikasi ini bisa berupa SMS gateway,WAP, ataupun Web database application.Dalam pandangan politik golongan (partai atau caleg), teknologi informasi digunakan sebagai alat kampanye dan propoganda. Pengumpulan massa maupun anggota banyak dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi. Produk teknologi informasi yang banyak dipakai untuk kepentingan politik biasanya dalam bentuk portal , chatting, email, blog dan juga bisa berupa aplikasi SMS gateway. Dari pandangan rakyat, proses demokrasi yang baik akan berujung pada kesejahteraan bangsa. Dalam artian sederhana, proses itu dapat diawali dengan memberikan hak suaranya pilkada, pemilu maupun pilpres. Peran serta rakyat dalam memilih presiden, partai atau caleg, perlulah berdasarkan atas performa, kejujuran,dan nilai moral yang tinggi dari individu maupun partai politik. Pertanyaannya adalah, seberapa tepat dan benar informasi yang dimiliki rakyat sehingga rakyat mengetahui bahwa yang caleg atau partai yang dipilihnya itu adalah sesuai dengan tujuan akhir kesejahteraan dan kemakmuran bangsa? Dari ketiga pandangan diatas, kemunculan teknologi informasi diharapkan memberikan efek yang baik. Tapi seperti apakah secara umum karakteristik teknologi informasi yang dapat dibangun dalam konteks edemocracy? Bagaimana sebaiknya infrastruktur TI itu direncanakan dan dibangun sehingga data yang bernilai strategis dikirim dan dikelola bisa tetap aman, selalu tersedia, mempunyai performa yang tinggi, serta mempunyai ketepatan hasil analisa
- …
