1,720,965 research outputs found

    Translator’s Strategies in Delivering The Content of Novel Entitled The Old Man and the Sea Written by Ernest Hemingway

    Full text link
    Various methods of translation support a writer in mastering the structure, form, and meaning that exist in variety works both in printed (text) and electronic (online). In translating a sentence, a writer can use several methods. The use of a method can affect the meaning of the source language. Through translation, the readers in general can distinguish texts between the original and translated texts, understand the origin of the works in the source language, for example, the work of Indonesian language which translated from English, or vice versa. The existing translation methods are divided into seven categories namely, borrowing, calque; literal; transposition / shifted; modulation; equivalent; and adaptation. The result of this research shows that there are three methods which used by the author in translating the novel written by Ernest Hemingway entitled The Old Man and the Sea which is transtlated into Lelaki Tua dan Laut. The methods are literal, equivalent, and borrowing

    Intertextuality in Antology of Poetry Essay (Research on Poetry Essay Atas Nama Cinta written by Denny JA and Poetry Essay Serat Kembang Raya written by Fatin Hamama, et al)

    Full text link
    Literature as one of the works that involve the text as a medium in delivering form and meanings. It has a role that affects other works or readers’ point of view. In the process of creating a work, an author is inseparable from his involvement with other texts which have existed before that surround them. It shows the influence of other texts that included into the result of literary text. Thus, there is no original text belongstoanauthor.Themethodusedinthisstudyisdescriptivequalitative.Thedata were analyzed by reading and identifying which determined through the relationship between the structures and the social problems of the story. The result indicates that intertextuality is established through the social conflict relationship. The stories give a portrait on how social situation and discrimination cultural conditions become a reflection of society in the era of globalization and information.     Keywords: intertextual, essay poetry, social conflic

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SALING SILANG GAGASAN DENGAN MEDIA PETA PIKIRAN DIGITAL DALAM KETERAMPILAN MENULIS TEKS ARGUMENTASI

    No full text
    terhadap fenomena yang terjadi sehingga sulit menemukan permasalahan dasar dalam menulis; mahasiswa merasa bosan dalam menulis karena kurang menyerap dan memahami informasi yang diperoleh baik dari simakan atau bacaan, dan sulit dalam mengembangkan ide yang dituangkan dalam bentuk kalimat/paragraf atau ke dalam bentuk teks yang utuh. Guna mengatasi faktor permasalahan tersebut, maka peneliti mengujicobakan model pembelajaran saling silang gagasan dengan media peta pikiran digital sebagai penawarnya. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi (1) bagaimanakah keterampilan menulis teks argumentasi mahasiswa sebelum diterapkan model pembelajaran saling silang gagasan dengan media peta pikiran digital?; (2) bagaimanakah penerapan model pembelajaran saling silang gagasan dengan media peta pikiran digital terhadap keterampilan menulis teks argumentasi?; dan (3) apakah penerapan model pembelajaran saling silang gagasan dengan media peta pikiran digital efektif dalam keterampilan menulis teks argumentasi?. Instrumen penelitian yang digunakan ialah (1) penilaian proyek yang mencakup tiga kegiatan yaitu kegiatan berdiskusi, keterampilan menulis kerangka teks melalui media peta pikiran digital, dan keterampilan menulis teks argumentasi; (2) observasi, dilaksanakan dengan tujuan mengamati aktivitas atau keterlaksanaan model pembelajaran saling silang gagasan dan media peta pikiran digital dalam keterampilan menulis teks argumentasi; dan (3) tes, bertujuan untuk menilai dan mengukur hasil belajar mahasiswa, memperoleh data dan informasi tentang prestasi hasil belajar mahasiswa pada pokok bahasan tertentu dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan angka sebagai sistem penilaiannya. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen kuasi, maka desain yang digunakan adalah metode eksperimen dengan tipe pretest, posttest control group design, yaitu pemberian pretes dan postes pada kelas eksperimen dan kontrol serta pemberian perlakuan pada kelas eksperimen. Populasi pada penelitian ini adalah enam kelas yang berjumlah 150 mahasiswa, kemudian ditetapkan sampelnya teknik purposive sampling yaitu kelas 1E dan 1F yang berjumlah 48 mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bukti bahwa penerapan model pembelajaran saling silang gagasan dengan media peta pikiran digital efektif dalam meningkatkan keterampilan menulis teks argumentasi. Hal ini dapat dibuktikan dengan perhitungan yang dilakukan secara komputerisasi dengan bantuan program Microsoft Excel 2013 dan progam SPSS 20. Hasil uji-t dari keterampilan menulis teks argumentasi adalah 0,642 > taraf signifikan 0,05. Dengan demikian, Ho ditolak (Ha diterima), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan untuk keterampilan menulis teks argumentasi antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan menggunakan model pembelajaran saling silang gagasan dan media peta pikiran digital. Kemudian, pada tes awal diketahui nilai rata-rata di kelas eksperimen yaitu 58.58 dan di kelas kontrol 51.29. Setelah diberi perlakuan kelas eksperimen menjadi sebesar 65.88 dan perlakuan di kelas kontrol menjadi sebesar 57.88. Nilai rata-rata pascates kelas eksperimen meliputi model saling silang gagasan 72.29, media peta pikiran digital 51.29, dan teks argumentasi 72.17. Berdasarkan pengujian efektivitas, terdapat perbedaan yang signifikan antara perlakuan berupa model pembelajaran saling silang gagasan dengan media peta pikiran digital yang diberikan sebanyak dua kali pada kelas eksperimen dengan kelas kontrol Aji Septiaji, 2015 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SALING SILANG GAGASAN DENGAN MEDIA PETA PIKIRAN DIGITAL DALAM KETERAMPILAN MENULIS TEKS ARGUMENTASI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu ii yang menggunakan metode ceramah. Dengan demikian, model pembelajaran saling silang gagasan dengan media peta pikiran digital dapat diterapkan pada keterampilan menulis khususnya menulis teks argumentasi

    PERAN SASTRA, INTELEKTUALITAS, DAN POPULARITAS DALAM ESAI 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH KARYA JAMAL D. RAHMAN, DKK

    No full text
    Karya sastra sebagai karya imajinatif dan monumental hingga memunculkan polemik dan kontroversi, sejatinya hanya memberikan kesan bahwa sastra ada dalam kehidupan dan akan berpengaruh pada aspek yang ada di dalamnya. Sejak lama, sastra diakui sebagai media pembangun kesadaran. Sastra diyakini memiliki fungsi hiburan dan edukasi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai media penanaman nilai-nilai yang berorientasi terhadap pengembangan kehidupan seseorang, masyarakat, dan bangsa. Sastra memiliki tuntutan bahwa karya yang diberikan harus bernilai dan memiliki tingkat keberpikiran yang sepadan sehingga diharapkan mengembangkan wawasan para pembaca. Dengan adanya sastra, masyarakat mampu menyelami berbagai fenomena yang terjadi dan bisa menghayati dengan prespektif yang berbeda. Pemikiran sastrawan dalam mengolah dan mengelola karya yang begitu apik adalah pertanda bahwa sastra tidak terlepas dari intelektualitas dan kreativitas. Namun, setelah kreativitas dipertunjukkan kemudian timbul peluang yang menuai kontroversi atau polemik maka sastra hadir dan menjelma sebagai popularitas. Setidaknya hal inilah yang terjadi pada esai 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang memunculkan hal-hal kontroversi yang akan menuai popularitas dengan tidak menghilangkan keintelektualitasan para penulisnya, seperti Puisi Esai milik Danny JA atau Novel Saman milik Ayu Utami. Intelektualitas dipahami sebagai bakat untuk mempresentasikan dan mengartikulasikan pesan, pandangan, sikap, atau filsafat kepada publik. Sedangkan, popularitas lahir karena intelektualitas yang berkembang dan mampu menembus batas antara realitas dan khayalan si pengarang dengan disertai bukti-bukti nyata yang mampu merangkul masyarakat dari sisi politik, budaya, dan agama. Dengan demikian, karya sastra yang bermutu hanya dapat diciptakan oleh seseorang yang memiliki tingkat intelektual yang memadai

    PERAN SASTRA, INTELEKTUALITAS, DAN POPULARITAS DALAM ESAI 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH KARYA JAMAL D. RAHMAN, DKK

    No full text
    Karya sastra sebagai karya imajinatif dan monumental hingga memunculkan polemik dan kontroversi, sejatinya hanya memberikan kesan bahwa sastra ada dalam kehidupan dan akan berpengaruh pada aspek yang ada di dalamnya. Sejak lama, sastra diakui sebagai media pembangun kesadaran. Sastra diyakini memiliki fungsi hiburan dan edukasi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai media penanaman nilai-nilai yang berorientasi terhadap pengembangan kehidupan seseorang, masyarakat, dan bangsa. Sastra memiliki tuntutan bahwa karya yang diberikan harus bernilai dan memiliki tingkat keberpikiran yang sepadan sehingga diharapkan mengembangkan wawasan para pembaca. Dengan adanya sastra, masyarakat mampu menyelami berbagai fenomena yang terjadi dan bisa menghayati dengan prespektif yang berbeda. Pemikiran sastrawan dalam mengolah dan mengelola karya yang begitu apik adalah pertanda bahwa sastra tidak terlepas dari intelektualitas dan kreativitas. Namun, setelah kreativitas dipertunjukkan kemudian timbul peluang yang menuai kontroversi atau polemik maka sastra hadir dan menjelma sebagai popularitas. Setidaknya hal inilah yang terjadi pada esai 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang memunculkan hal-hal kontroversi yang akan menuai popularitas dengan tidak menghilangkan keintelektualitasan para penulisnya, seperti Puisi Esai milik Danny JA atau Novel Saman milik Ayu Utami. Intelektualitas dipahami sebagai bakat untuk mempresentasikan dan mengartikulasikan pesan, pandangan, sikap, atau filsafat kepada publik. Sedangkan, popularitas lahir karena intelektualitas yang berkembang dan mampu menembus batas antara realitas dan khayalan si pengarang dengan disertai bukti-bukti nyata yang mampu merangkul masyarakat dari sisi politik, budaya, dan agama. Dengan demikian, karya sastra yang bermutu hanya dapat diciptakan oleh seseorang yang memiliki tingkat intelektual yang memadai

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    KONFLIK SOSIAL DALAM ANTOLOGI PUISI ESAI: SERAT KEMBANG RAYA KARYA FATIN HAMAMA, DKK (TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA)

    Full text link
    Sastra bersumber dari dalam masyarakat dan akan berdampak pengaruhnya pada masyarakat. Bahkan, adanya hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra, dan masyarakat. Hubungan tersebut berupa konteks sosial pengarang, sastra sebagai cerminan masyarakat, dan fungsi sosial sastra. Puisi esai hadir sebagai genre sastra baru dalam khazanah kesusastraan Indonesia. Tahun 2012 menjadi kontroversi bagi puisi esai, yaitu kemunculan Denny JA sebagai konsultan politik yang menggagas antologi puisi esai Atas Nama Cinta yang sarat diskriminasi sosial. Puisi esai dianggap sebagai jelmaan pemikiran dan pengalaman terhadap kondisi sosial di masyarakat saat ini. Namun, tetap mampu dicerna oleh masyarakat. Adapun puisi esai harus memenuhi tiga syarat, yaitu (1) puisi esai mengeksplor sisi batin individu yang berada dalam sebuah konflik sosial; (2) puisi esai menggunakan bahasa yang mudah dipahami; dan (3) puisi esai adalah fiksi, boleh saja memotret tokoh ril yang hidup dalam sejarah. Namun, realitas tersebut diperkaya dengan aneka tokoh fiktif dan dramatisasi. Serta yang dipentingkan oleh puisi esai ialah renungan atas kandungan moral melalui sebuah kisah. Artikel ini mencoba meninjau dari aspek sosiologi sastra, yaitu hubungan antara pengarang, karya, dan masyarakat. Antologi ini berisi lima puisi esai, kisah yang ditampilkan beragam mulai dari dilema seorang pelajar SMA karena terenggut keperawanannya hingga berdampak kepada masa depannya; kisah seorang gadis desa yang merasa tersakiti hatinya atas kondisi ekonomi dan kisah cinta yang memprihatinkan; kisah seorang perempuan yang diberasarkan melalui kekerasan dalam keluarga; kisah keluarga tanpa sosok ayah, istri dan anaknya harus menelan kerasnya kehidupan; dan situasi sosial yang dialami pengarang yang berhubungan dengan manusia, alam, dan Tuhan. Kata Kunci: konflik sosial, puisi esai, sosiologi sastr

    RAGAM PENGALAMAN PEREMPUAN DALAM CERPEN-CERPEN KOMPAS: KAJIAN EKOFEMINISME TRANSFORMATIF

    Full text link
    This research is motivated by the fact that women have a number of different characteristics compared to men. Women are oriented to feelings while men are to logic. The research method uses content analysis with a qualitative approach. Transformative ecofeminism is based on the theories of Vandana Shiva and Maria Mies with a focus on research on a variety of women's experiences. The research data was obtained from Kompas short stories from 2010-2015. The results showed that women were able to be an inspiration for men. However, in other issues women are not only oriented to feelings but to logic as well as men and the problems of life are able to make women penetrate the limits of her morality by acting discriminatory
    corecore