1,720,958 research outputs found
Implementasi Kriptografi Hybrid Cryptosystem Menggunakan Algoritma Vigenere Cipher dan Algoritma Kunci Publik Rabin-P untuk Pengamanan File BMP
Kehidupan semakin berkembang ke arah serba digital. Dengan adanya teknologi yang memadai memudahkan orang-orang untuk saling mengirim dan menerima informasi. Informasi tidak hanya berupa huruf, angka dan simbol. Informasi juga dapat berupa gambar. Pertukaran informasi yang dilakukan membutuhkan keamanan agar informasi dapat diterima sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Salah satu solusi untuk menjaga keamanan data dalam pertukaran informasi adalah dengan Kriptografi. Kriptografi adalah teknik dalam mengamankan pesan.Dalam kriptografi terdapat teknikHybrid Cryptosystem, yaitu cara yang dapat digunakan untuk mengamankan pesan dengan mengkombinasikan algoritma simetri dan asimetri. Keuntungan menggunakan metode Hybrid Cryptosystem adalah proses enkripsi dan dekripsi yang tidak memakan waktu yang lama dan ciphertext yang dihasilkan tidak memiliki ukuran yang besar. Algoritma Vigenere Cipher adalah algoritma simetri. Algoritma Kunci Publik Rabin-p adalah Algoritma Asimetri. Pengujian dilakukan pada gambar dengan ukuran maksimal 600x600 piksel dalam format *.bmp. Hasil pengujian berupa waktu proses enkripsi rata-rata adalah 0,1664 detik. Selanjutnya, waktu proses dekripsi rata-rata adalah 1,2724 detik. Maka dari itu dapat disimpulkan waktu dekripsi citra lebih lama daripada waktu proses enkripsi citra.Life is growing in the digital direction. With the existence of adequate technology makes it easy for people to send and receive information. Information is not just letters, numbers and symbols. Information can also be in the form of images. The exchange of information carried out requires security so that information can be received in accordance with what is required. One solution for maintaining data security in the exchange of information is with cryptography. Cryptography is a technique in securing messages. In cryptography there is hybrid cryptosystem technique, which is a way that can be used to secure the message by combining the symmetry and asymmetry algorithms. The advantage of using hybrid cryptosystem method is the process of encryption and decryption that does not take a long time and the resulting ciphertext does not have a large size. Vigenere cipher algorithm is a symmetry algorithm. Rabin-p public Key Algorithm is an asymmetry algorithm. The test is performed on images with a maximum size of 600x600 pixels in * .bmp format. The test result is the average encryption process time is 0.1664 seconds. Furthermore, the average decryption time is 1.2724 seconds. Therefore it can be concluded that the image decryption time is longer than the time of image encryption process.Skripsi Sarjan
Implementasi Kriptografi Hybrid Cryptosystem Menggunakan Algoritma Vigenere Cipher dan Algoritma Kunci Publik Rabin-P untuk Pengamanan File BMP
Kehidupan semakin berkembang ke arah serba digital. Dengan adanya teknologi yang memadai memudahkan orang-orang untuk saling mengirim dan menerima informasi. Informasi tidak hanya berupa huruf, angka dan simbol. Informasi juga dapat berupa gambar. Pertukaran informasi yang dilakukan membutuhkan keamanan agar informasi dapat diterima sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Salah satu solusi untuk menjaga keamanan data dalam pertukaran informasi adalah dengan Kriptografi. Kriptografi adalah teknik dalam mengamankan pesan.Dalam kriptografi terdapat teknikHybrid Cryptosystem, yaitu cara yang dapat digunakan untuk mengamankan pesan dengan mengkombinasikan algoritma simetri dan asimetri. Keuntungan menggunakan metode Hybrid Cryptosystem adalah proses enkripsi dan dekripsi yang tidak memakan waktu yang lama dan ciphertext yang dihasilkan tidak memiliki ukuran yang besar. Algoritma Vigenere Cipher adalah algoritma simetri. Algoritma Kunci Publik Rabin-p adalah Algoritma Asimetri. Pengujian dilakukan pada gambar dengan ukuran maksimal 600x600 piksel dalam format *.bmp. Hasil pengujian berupa waktu proses enkripsi rata-rata adalah 0,1664 detik. Selanjutnya, waktu proses dekripsi rata-rata adalah 1,2724 detik. Maka dari itu dapat disimpulkan waktu dekripsi citra lebih lama daripada waktu proses enkripsi citra.Life is growing in the digital direction. With the existence of adequate technology makes it easy for people to send and receive information. Information is not just letters, numbers and symbols. Information can also be in the form of images. The exchange of information carried out requires security so that information can be received in accordance with what is required. One solution for maintaining data security in the exchange of information is with cryptography. Cryptography is a technique in securing messages. In cryptography there is hybrid cryptosystem technique, which is a way that can be used to secure the message by combining the symmetry and asymmetry algorithms. The advantage of using hybrid cryptosystem method is the process of encryption and decryption that does not take a long time and the resulting ciphertext does not have a large size. Vigenere cipher algorithm is a symmetry algorithm. Rabin-p public Key Algorithm is an asymmetry algorithm. The test is performed on images with a maximum size of 600x600 pixels in * .bmp format. The test result is the average encryption process time is 0.1664 seconds. Furthermore, the average decryption time is 1.2724 seconds. Therefore it can be concluded that the image decryption time is longer than the time of image encryption process.Skripsi Sarjan
Pengalaman Mendengarkan Musik Religi dan Emosi Positif pada Mahasiswa
Musik dalam kalangan Generasi Z sudah tidak terasa asing lagi mereka yang lahir pada generasi tersebut yang sudah memasuki dunia digital. Dalam era musik digital seperti saat ini bahkan banyak didengarkan oleh milenial dan Generasi Z, ditujukan dari salah satu data platform musik digital yaitu Spotify Indonesia Consumer Insight pada tahun 2017 yang mengatakan bahwa 84 penggunanya dari usia 15 sampai 34 tahun dengan komposisi 60 perempuan dan 40 laki-laki. Musik religi dan musik non religi memiliki perbedaan, yang menjadi perbedaan dengan musik lain adalah terletak pada lirik dan syair lagu yang dimana pada musik religi mengandung renungan dan mengandung ajaran islam sehingga dapat lebih mendekatkan kita kepada Tuhan. Musik religi dapat mampu membuat seseorang yang mendengarkannya merasakan ketenangan hati sehingga mempengaruhi emosi seseorang secara positif. Ini menjadi hal menarik untuk dilakukan penelitian dan menjadi keunikan penelitian. Subjek dalam penelitian ini yaitu tiga orang mahasiswa yang berusia antara 20-25 tahun yang memiliki pengalaman mendengarkan musik religi. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif untuk mendapatkan data penelitian dengan menggali data secara langsung pada subjek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran bagaimana efek yang didapat ketika mendengarkan musik religi terhadap emosi. Dalam penelitian ini menemukan bahwa musik religi memberikan dampak yang positif dan memiliki efek terhadap perubahan emosi yang mereka rasakan dari pengalaman selama mendengarkan musik religi sehingga tujuan dari penelitian tercapai dengan hasil penelitian yang dilakukan bahwa dari pengalaman subjek, efek yang dirasakan dari mendengarkan musik religi berpengaruh pada diri masing-masing subjek. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa dari pengalaman subjek dalam mendengarkan musik religi adanya efek terhadap subjek pada penelitian ini yang artinya efek tersebut juga berpengaruh positif pada emosi yang subjek alami
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
Sistem Informasi Pelayanan Paket Pernikahan Pada Nirwana Organizer Bekasi
Abstrak: Indonesia dengan berbagai latar belakang adat dan budaya tentu mempunyaikebiasaan yang berbeda-beda dalam melaksanakan dan merayakan pesta pernikahan.Sehingga setiap pasangan niscaya akan melakukan persiapan yang total untuk menghadapipernikahan. Wedding Organizer merupakan jasa yang membantu calon pengantin dan keluargadalam pelaksanaan acara pesta pernikahan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Bisniswedding organizer dapat menjadi peluang yang terus dapat dikembangkan sepanjang waktu.Masalah yang ada pada Nirwana Organizer adalah kesulitan dalam pengolahan datapemesanan paket serta data pembayaran dari klien. Metode pengembangan sistem yangdigunakan pada penelitian ini adalah metode pengembangan sistem perangkat lunak denganproses SDLC (System Development Life Cycle) dengan model waterfall. Penelitian ini mengkomputerisasikan pencatatan pemesanan Paket Pernikahan di Nirwana Organizer denganmembangun sistem informasi pengolahan data konsumen, data karyawan, dan data paket, datapemesanan, data pembayaran dengan tujuan memberikan pelayanan optimal kepada klien. Kata kunci: pernikahan, sistem informasi, waterfall, wedding organizer.
Abstract: Indonesia with different customs and cultural backgrounds certainly have differenthabits in performing and celebrating weddings. So that each pair will undoubtedly makepreparations to face the total wedding. Wedding Organizer is a service that helps brides andfamilies in the implementation of the wedding ceremony in accordance with a predeterminedschedule. Wedding organizer business can be an opportunity to continue to be developed overtime. Problems exist in Nirvana Organizer is the difficulty in data processing package bookingand payment data from the client. System development method used in this research is thedevelopment of software systems with process SDLC (System Development Life Cycle) with thewaterfall model. This study computerize recording booking at Nirwana Wedding PackageOrganizer to build information systems processing customer data, employee data, and packetdata, ordering data, payment data in order to provide optimal service to its clients.
Keywords: information systems, waterfall, wedding, wedding organizer.
 
- …
