1,731,636 research outputs found

    Feedback for Future Learning: Sandhya Anatharaman

    No full text
    Sandhya Anatharaman talks about feedback and why it is important. Part of the GCU Feedback for future learning project

    56-dr.-sandhya-tiwari.pdf

    No full text
     The explosion of approaches and modules is a prominent characteristic of contemporaryEnglish as Second Language and English as Foreign Language teaching. It symbolizes the strength and scope of the profession. Theory is an essential ingredient in practice that guides the way in which language practitioners opine and approach Teaching Learning process. Theory helps to predict, explain and assess situations and possibilities, and provides a rationale to react and intervene language acquisition process. It aids in identifying the feasible approaches have been introduced, experimented and understood. Methods are the specific techniques and approaches that are adopted to implement to accomplish tasks and reach specific goals. Theories often inform of the type of method that is most appropriate for use. It is important that the learners and teachers acknowledge and understand their theoretical framework, rather than just practice from assumptions and beliefs that are guided by their personal or professional experiences and not necessarily from established and researched theories. In certain situations ELT exponents, will put the learners into uncertainty and risk by practicing from assumptions and beliefs versus established theories of the profession.  </p

    Pemaknaan dan Transmisi Mantra Tri Sandhya Pada Remaja Hindu Bali Di Daerah Malang

    Get PDF
    Tulisan ini mengulas makna dan transmisi mantra Tri sandhya. Mantra Tri Sandhyamerupakan salah satu bentuk sastra lisan yang ada di Bali. Mantra Tri Sandhya merupakan mantra yang dimiliki oleh orang Hindu Bali yang dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat ini, mantra Tri Sandya mulai dilupakan dan jarang oleh remaja Hindu Bali. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dilakukan untuk (1) membaca makna mantra Tri Sandhya: (2) mantra transmisi Tri Sandhya pada remaja Hindu Bali yang tinggal di Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengambil data dalam bentuk kalimat bukan angka-angka. Sumber data dari penelitian ini adalah Mantra Tri Sandhya. Penelitian ini menggunakan pendekatan Semiotika dengan teori Riffaterre. Semiotika untuk mengkaji tanda-tanda yang ada dalam mantra, Tri Sandhya, dapat dipahami makna dari mantra Tri Sandhya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mantra makna Tri Sandhya dan mantra transmisi Tri Sandhya pada remaja Hindu Bali di wilayah Malang saat ini

    Fuchs, Sandhya

    No full text

    THE EQUIVALENCE IN TRANSLATION OF PUJA TRI SANDHYA FROM INDONESIAN TO ENGLISH

    Get PDF
    Puja Tri Sandhya is Hindus prayer known in all countries. The original prayer came in Sanskrit language, but every Hindus believer already translate the prayer into their native language. In 1950, Balinese Hindus used Puja Tri Sandhya to get the recognition from the government allowing Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI)—the major reform movement and Hindus organization in Indonesia—to translate Puja Tri Sandhya into Indonesian. This translation aimed to make every Hindus believer in Indonesia knows about the meaning of the mantras. Besides Indonesian, Puja Tri Sandhya is also translated into the universal language that 20 percent of the world spoke, English. English is believed to give the best medium to other people who want to learn more about Hindus or simply just curious. As a reminder, in this paper Indonesian will be the source language (SL) and English will be the result of the translation so we shall call it target language (TL). In translation, equivalency will be the point to show if the translation is well translated or not. In their book The Theory and Practice of Translation (1959), Nida and Taber state two kinds of equivalency that the translator can use as their reference they are: formal and dynamic equivalence. Here, Puja Tri Sandhya in Indonesian and English versions will be analyzed using 2 kinds of equivalences by Nida and Taber

    TRI SANDHYA DALAM AGAMA HINDU (Studi Analisa tentang Pelaksanaan dan Manfaatnya)

    Get PDF
    Skripsi yang penulis angkat dengan judul “Tri Sandhya Dalam Agama Hindu”, merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang dilatar belakangi oleh satu pemahaman bahwa umat Hindu akan melaksanakan Tri Sandhya yaitu ibadah sembahyang tiga kali sehari. Di sini dapatlah kiranya di lihat dari segi hubungan manusia dengan Tuhan Sang Hyang Widhi yang mana setiap manusia seharusnya memuja kebesaran Tuhan. Penulis tertarik melakukan penelitian ini karena didasari atas rasa ingin tahu tentang cara ataupun bagaimana bentuk pelaksanaan dan manfaat Tri Sandhya. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan melihat secara lebih jelas tentang permasalahan pelaksanaan Tri Sandhya dan manfaatnya. Di samping itu bertujuan untuk mengetahui, menganalisa dan menjejaki cara pelaksanaan dan manfaat terhadap rohani dan kesehatan jasmani. Manfaat yang diperoleh dari ibadah ini adalah, merangkumi aspek rohani dan kesehatan jasmani yang bisa menambah rasa syukur manusia pada Tuhan, menenteramkan jiwa manusia serta memelihara kesehatan anggota badan. Dari penjelasan singkat tersebut, penulis merasa kesimpulannya, bahwa hal yang penting untuk dikaji ataupun dianalisa adalah untuk melihat bagaimana bentuk praktek pelaksanaan dan manfaatnya. Praktek pelaksanaan Tri Sandhya mempunyai langkah-langkah yang meliputi aspek luaran dan dalaman. Penulis berharap penulisan skripsi ini bisa memberikan manfaat kepada kita semua, khususnya bagi Mahasiswa jurusan Perbandingan Agama

    Dinamika Kesehatan Mental Mahasiswa Beragama Hindu yang Mengalami Pengurangan Aktivitas Tri Sandhya saat Merantau di Surabaya

    Get PDF
    Dengan banyaknya penelitian maupun literatur yang menunjukkan hubungan positif dari kegiatan spiritual dengan kesehatan mental, penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu dinamika kesehatan mental mahasiswa beragama Hindu yang mengalami pengurangan aktivitas Tri Sandhya saat merantau di Surabaya.Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Melibatkan tiga partisipan dengan kriteria mahasiswa beragama Hindu yang pernah/sedang berkuliah di salah satu universitas di Surabaya dengan status merantau dan mengalami pengurangan pada aktivitas Tri Sandhya. Proses pengambilan data dilakukan dengan menggunakan wawancara semiterstruktur kemudian dianalisis menggunakan teknik interpretative phenomenological analysis (IPA), kemudian kredibilitas data diperoleh melalui member check. Penelitian ini menemukan adanya perbedaan kondisi sosial dan lingkungan sampai perubahan rutinitas pada partisipan, namun ketiga partisipan dapat menyesuaikan diri dengan baik saat merantau. Terdapat kemunculan emosi negatif jika tidak melakukan Tri Sandhya yaitu perasaan tidak enak, merasa aneh, merasa berdosa, merasa tidak bertanggung jawab, dan rasa tubuh yang berbeda. Dengan begitu ketiga partisipan berpendapat bahwa setidaknya dapat melakukan Tri Sandhya satu kali dalam sehari. Ditemukan juga dampak dari Tri Sandhya antara lain membantu menenangkan diri saat menghadapi masalah, membantu memanajemen emosi untuk menjadi lebih sabar, dan memberikan perasaan rileks. Ketiga partisipan juga dapat mengembangkan diri dengan baik dan ini berdampak pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar
    corecore