1,720,954 research outputs found

    Jenis Dan Kelimpahan Bulu Babi (Diadematidae): Coral Bioeroder Pada Kondisi Tekanan Lingkungan Yang Berbeda

    Full text link
    Makroinvertebara (bulu babi) dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini dari suatu lingkungan yang terkena polusi. Organisme air ini telah banyak digunakan oleh para ahli untuk melakukan biomonitoring kualitas perairan. Selama aktivitas makan, beberapa jenis bulu babi menggerus kalsium karbonat dalam proporsi yang besar di samping alga yang tumbuh menempel pada karang, sehingga memiliki peran penting dalam siklus karbon organik dan anorganik di ekosistem terumbu karang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan jenis dan kelimpahan bulu babi di masing-masing lokasi dengan kondisi tekanan lingkungan yang berbeda, serta menganalisis peran bulu babi sebagai bioindikator kualitas perairan tersebut. Penelitian dilakukan di enam lokasi yang dipilih berdasarkan studi literatur yang bertujuan untuk mendapatkan kondisi tekanan lingkungan yang berbeda. Lokasi penelitian yaitu di Pulau Pari, Pulau Menjangan, Pantai Pasir Putih, Pantai Sendang Biru, Pulau Gili Ketapang dan Pulau Mandangin. Variabel yang dinilai dari masing-masing lokasi penelitian yaitu persentase tutupan terumbu karang dan kepadatan bulu babi serta data kuantitatif berupa persepsi masyarakat terhadap kondisi lingkungan di masing-masing lokasi penelitian. Metode yang digunakan untuk menghitung persentase tutupan terumbu karang ialah kick frequency dan timed swim, yaitu metode modifikasi dari point intercept transect dengan cara snorkling dan mencatat jenis tutupan substrat dasar perairan setiap tiga kayuhan kaki, serta dilakukan selama 15 menit. Pengambilan data kelimpahan bulu babi dilakukan dengan mengjitung jumlah bulu babi (Diadema) pada transek atau area pengamatan dan dibagi dengan luasan area pengamatan (±750 m2). Pada penelitian ini juga dilakukan identifikasi bulu babi dengan pendekatan genetik melalui analisa DNA. Persentase tutupan terumbu karang di masing-masing lokasi penelitian yaitu: Pulau Pari sebesar 42,50%; Pulau Menjangan 65%; Pantai Pasir Putih 40%; Pantai Sendang Biru 34,17%; Pulau Gili Ketapang 20,83% dan Pulau Mandangin sebesar 19,17%. Kawasan yang terlindung yaitu Pulau Pari di Taman Nasional Kepulauan Seribu dan Pulau Menjangan di Taman Nasional Bali Barat memiliki nilai persentase tutupan terumbu karang yang cukup baik, sedangkan nilai persentase tutupan terumbu karang semakin rendah di lokasi dengan tekanan lingkungan yang tinggi berupa kawasan pariwisata dan kawasan padat penduduk yaitu di Pulau Gili Ketapang dan Pulau Mandangin yang memiliki kepadatan penduduk sebesar 15.508 orang/km2 dan 11.860 orang/km2. Persentase tutupan terumbu karang berbanding terbalik dengan kelimpahan makroalga di masingmasing lokasi penelitian. Semakin tinggi persentase tutupan terumbu karang maka semakin rendah kelimpahan makroalga di lokasi tersebut, sebaliknya kelimpahan makroalga cukup tinggi pada lokasi dengan persentase tutupan terumbu karang yang rendah. xi Kepadatan bulu babi menunjukan nilai yang berbeda nyata di masing-masing lokasi penelitian, semakin rendah nilai persentase tutupan terumbu karang maka kepadatan bulu babi semakin tinggi. Kepadatan bulu babi di masing-masing lokasi penelitian yaitu: Pulau Pari sebesar 0,32 ind/m2; Pulau Menjangan 0,03 ind/m2; Pantai Pasir Putih 0,31 ind/m2; Pantai Sendang Biru 0,06 ind/m2; Pulau Gili Ketapang 1,25 ind/m2 dan Pulau Mandangi sebesar 1,28 ind/m2. Analisis korelasi antara kelimpahan makroalga dan kepadatan bulu babi menunjukan nilai yang positif sebesar 0,822. Nilai korelasi menunjukan hubungan yang cukup kuat dan berbanding lurus antara kedua variabel tersbut. Hasil identifikasi terhadap jenis bulu babi yang ditemukan di masing-masing lokasi penelitian ialah jenis Diadema setosum dari family Diadematidae. Hasil analisis deskriptif pada masyarakat yang berada di masing-masing lokasi penelitian menunjukan sebagian besar responden menyatakan bahwa lingkungan pesisir saat ini tengah mengalami tekanan dan penuruan kualitas lingkungan yang cukup besar. Dengan skala uji realibilitas dari 18 pernyataan sebesar 0,710; sebanyak 76 dari 120 orang atau sebesar 63% responden menyatakan setuju-sangat setuju terhadap adanya tekanan lingkungan dan penurunan kualitas lingkungan pesisir secara umum dan terumbu karang secara khusus. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada perbedaan jenis bulu babi di masing-masing lokasi penelitian, jenis bulu babi yang mendominasi ialah Diadema setosum. Kepadatan bulu babi sangat dipengaruhi oleh kualitas lingkungan perairan. Perbedaan kualitas lingkungan yang dinilai dari persentase tutupan terumbu karang dan kelimpahan makroalga menjadi faktor utama kepadatan bulu babi di masing-masing lokasi penelitian. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa makroinvertebrata dalam penelitian ini yaitu bulu babi, dapat dijadikan bioindikator kualitas perairan. Semakin buruk kualitas lingkungan perairan ditunjukan dengan tingginya kepadatan bulu babi

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used

    ANALYSIS OF MICROPLASTIC CONTAMINATION ON WATER AND SEDIMENT IN THE BRANTAS SUBWATERSHED OF THE MALANG AREA

    Full text link
    Microplastics are non-degradable contaminants that have been found in many river waters. Microplastics not only pollute water bodies but also become pollutants in river sediments. The Malang area is one of the areas passed by the Brantas River, which is the longest river in East Java and plays an important role for the community. The Brantas River has experienced a decline in water quality related to microplastic contamination. This study aims to analyze the types of microplastics and the abundance of microplastics found in water and sediment in the Brantas Subwatershed Malang Region. This study used a survey method and determined the sampling location point by purposive sampling. Microplastics found in water and sediment samples have the same 3 types, namely fragments, fibers and films. The fragment type was found to dominate in water samples by 38.62% and also in sediment samples by 76.13%. The abundance of microplastics in water was highest at Station 5 at 686.67 particles/m3 and lowest at Station 1 at 396.67 particles/m3. While the abundance of microplastics in the sediment was highest at Station 3 at 2,517.15 particles/kg and lowest at Station 2 at 1,779.93 particles/kg.Mikroplastik merupakan kontaminan yang sulit terurai yang telah banyak ditemukan di perairan sungai. Mikroplastik tidak hanya mencemari badan air tetapi juga menjadi polutan di dalam sedimen sungai. Wilayah Malang Raya merupakan salah satu wilayah yang dilewati oleh Sungai Brantas yang merupakan sungai terpanjang di Jawa Timur dan berperan penting bagi masyarakat. Sungai Brantas telah mengalami penurunan kualitas air terkait dengan cemaran mikroplastik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa jenis mikropastik dan kelimpahan mikroplastik yang ditemukan pada air dan sedimen di Sub DAS Brantas Wilayah Malang. Penelitian ini menggunakan metode survei dan penentuan titik lokasi pengambilan sampel secara purposive sampling. Mikroplastik yang ditemukan pada sampel air dan sedimen memiliki 3 jenis yang sama yaitu fragmen, fiber dan film. Jenis fragmen ditemukan mendominasi pada sampel air sebesar 38,62% dan juga pada sampel sedimen sebesar 76,13%. Kelimpahan mikroplastik di air tertinggi pada Stasiun 5 sebesar 686,67 partikel/m3 dan terendah pada Stasiun 1 sebesar 396,67 partikel/m3. Sedangkan kelimpahan mikroplastik di sedimen tertinggi pada Stasiun 3 sebesar 2.517,15 partikel/kg dan terendah pada Stasiun 2 sebesar 1.779,93 partikel/kg
    corecore