197,790 research outputs found

    Hydrated metal(II) complexes of N-(6-amino-3,4-dihydro-3-methyl-5-nitroso-4-oxopyrimidin-2-yl) derivatives of glycine, glycylglycine, threonine, serine, valine and methionine: a monomeric complex and coordination polymers in one, two and three dimensions linked by hydrogen bonding

    No full text
    Nine hydrated complexes of Group 2 (alkaline earth) cations with organic ligands which are N-substituted amino acids containing the 6-amino-3,4-dihydro-3-methyl-5-nitroso-4-oxopyrimidin-2-yl group have been structurally characterized. The octahydrated calcium glycinate complex, where the six-coordinate Ca cation lies on an inversion centre in the space group P[\bar 1], forms a finite (zero-dimensional) complex. The hexahydrated barium glycinate complex contains eight-coordinate Ba and it is isostructural with the known Sr analogue, and its one-dimensional coordination polymer takes the form of a simple chain. The octahydrated calcium and strontium threonine complexes are isostructural, with eight-coordinate cations lying on twofold rotation axes in the space group C2: the one-dimensional coordination polymers take the form of a chain of spiro-fused rings and a similar chain of spiro-fused rings is found in the heptahydrated barium serine complex, although here the ten-coordinate cation lies in a general position. In the tetrahydrated strontium and barium glycylglycinate complexes, the eight-coordinate cations lie on twofold rotation axes in the space group C2/c, but in the Sr complex the coordination polymer is a chain of spiro-fused rings, while in the Ba complex the coordination polymer forms deeply puckered sheets. There are two types of Ca site in the hexahydrated calcium valine complex: one is eight coordinate and gives rise to a two-dimensional coordination polymer, while the other is seven coordinate forming a finite, zero-dimensional coordination complex. In the heptahydrated barium methionine complex, the coordination polymer is three dimensional. In all of the complexes, the coordination aggregates are further linked by an extensive series of hydrogen bonds

    MORENO SALIDO, José

    No full text
    Letter from Mr. Cutberto Hidalgo, Undersecretary of Foreign Affairs to Gen. Alvaro Obregón informing him that Mr. José Moreno Salido has been appointed Vice-Consul in Callao, Perú. File M-63 / Carta del Dr. Cutberto Hidalgo, Subsecretario de Relaciones Exteriores al Gral. Alvaro Obregón, informándole que el Sr. José Moreno Salido ha sido nombrado Vice-Cónsul en El Callao, Perú. Exp. M-6

    Talempong Anam Salido

    No full text
    Struktur talempong anam salido terdiri atas struktur luar (surface structure) dan struktur dalam (deep structure). Struktur luarnya terdiri atas pola kacimpuang mandi, pola siamang tagagau, pola lenggang karayia, pola katindiak kapalo duo, dan pola pupuik katopong. Sedangkan struktur dalamnya adalah terdiri atas makna, fungsi, dan nilai karakter yang terdapat pada talempong anam salido. Kedua, terdapat tiga makna struktur talempong anam salido yaitu, (a) sepasang makhluk hidup di dunia laki-laki dan perempuan, (b) sistem pemerintahan adat Nagari Salido itu sendiri, dan (c) cara bersosialisasi masyarakat Nagari Salido. Ketiga makna itu merepresentasikan Minangkabau secara keseluruhan yang disebut tungku tigo sajarangan, sistem kepemimpinan kaum bernama urang nan ampek jinih, dan representasi kepercayaan masyarakat Minangkabau. fungsi talempong anam salido sebagai musik iringan koreografi, sebagai musik pengiring pararakan alek nagari di pesta perkawinan dan alek malewakan penghulu, serta sebagai media pendidikan yang diterapkan pada sanggar seni setempat. Nilai karakter talempong anam salido adalah religius, kedisiplinan, toleransi, gotong-royong, dan kemandirian. Ketiga, struktur alek malewakan penghulu terdiri atas tiga unsur pokok yakni, penghulu dan perangkatnya, sepakaik kaum (kesepakatan kaum), dan Kerapatan Adat Nagari (KAN)

    PERENCANAAN PENGAMANAN MUARA DAN PANTAI SALIDO KABUPATEN PESISIR SELATAN

    No full text
    Pantai Salido yang terletak ± 75 km sebelah selatan Kota Padang dengan panjang garis pantai sekitar 5 km, tepatnya di Salido Kecamatan IV Jurai Kabupaten Pesisir Selatan, pantai ini memiliki muara sungai yang selalu berpindah-pindah sepanjang pantai yang merupakan tempat bertemunya muara sungai Salido dengan pantai Salido. maka diperlukan suatu upaya pengamanan pantai Salido dan muaranya dari bahaya erosi dan abrasi yang telah mengancam pemukiman perumahan penduduk di sepanjang muara dan pantai Salido, Pengumpulan data dilakukan untuk merencanakan bangunan pengaman pantai. Dari ananlisis data pasang surut akan didapat elevasi muka air laut yang digunakan untuk menentukan elevasi mercu bangunan pengaman pantai. Dari pengolahan data angin akan diperoleh peramalan gelombang berupa tinggi, periode, dan arah gelombang. Dari hasil analisis data yang telah dilakukan maka dapat dipilih bangunan pengaman pantai dengan mempertimbangkan beberapa aspek, yaitu morfologi pantai, keuntungan dan kerugian masing- masing bangunan pengaman pantai, serta kondisi lingkungan yang ada pada daerah rencana. Berdasarkan hasil perhitungagan dan dengan mempertimbangkan berbagai aspek, maka dipilih bangunan pengaman pantai dengan tipe groin dan jetty untuk pengaman muara. Material yang digunakan adalah coble stone >800kg dan 500- 800kg, dengan panjang 70 m untuk jetty dan 50 m untuk groin sebanyak 32 bh. Kata Kunci : Pantai, Pengaman Pantai, Jetty, Groi

    Inflation persistence and optimal monetary policy in the euro area

    No full text
    In this paper we present supporting evidence of the existence of heterogeneity in inflation dynamics across euro area countries. Based on the estimation of New Phillips Curves for five major countries of the euro area, we find that there is significant inertial (backward looking) behavior in inflation in four of them, while inflation in Germany has a dominat forward looking component. We then present an optimizing agent model for the area emphasizing the hetergeneity in inflation persistence across regions. Allowing for such a backward looking component will affect the evaluation of the degree of nominal rigidities relevant for the monetary policy design. We explore the welfare implications of this circumstance by comparing the adjustment of the economies and the area as a whole in response to terms-of-trade shocks under four monetary policy rules: fully optimal, optimal inflation targeting, HICP targeting and output gap stabilization. JEL Classification: E52, E58currency areas, Inflation Dynamics, optimal monetary policy

    ANALISA PERUBAHAN GARIS PANTAI AKIBAT BANGUNAN PENGAMAN PANTAI (GROIN) DI PANTAI SALIDO PESISIR SELATAN SUMATERA BARAT

    No full text
    Pantai Salido adalah salah satu pantai wisata yang terletak di Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat. Pantai Salido merupakan lidah pasir yang disebabkan oleh sungai batang Salido yang mengalir di belakang garis pantai Salido. Fluktuasi debit sungai batang Salido menyebabkan muara batang Salido berpindah-pindah sehingga bentuk garis pantai Salido menjadi tidak stabil. Pada tahun 2015 pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai V Sumatera membangun bangunan pengaman pantai (groin) dan jetty di pantai Salido untuk menjaga kestabilan garis pantai. Namun pembangunan hanya sebatas pantai Salido, sedangkan posisi pantai Salido bersebelahan dan satu garis pantai dengan pantai Sago yang terletak di sebelah barat laut nya. Dengan panjang garis pantai lebih kurang 3 km pembangunan groin tersebut berpotensi memberikan dampak pada daerah yang tidak terbangun groin terutama pantai Sago. Sehingga penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui apakah pembangunan groin tersebut berdampak pada daerah yang tidak terbangun groin dalam hal ini pantai Sago baik secara positif maupun negatif. Dan apakah groin yang sudah dibangun pada pantai Salido efektif dalam menangani ketidakstabilan garis pantai Salido dengan melakukan simulasi perubahan garis pantai 10 tahun ke depan. Penulis menggunakan modul GENESIS yang terdapat dalam perangkat lunak CEDAS-NEMOS untuk menganalisa perubahan garis pantai. Sedangkan parameter hidrooseanografi seperti pasang surut di analisa dengan perangkat lunak Mike 21. Input data yang dibutuhkan dalam pemodelan adalah data garis pantai yang diperoleh dari Google Earth, data gelombang yang didapat dengan cara hindcasting dari data angin, data batimetri diperoleh dari Gebco tahun 2014, dan data sedimen pantai (D50) yang diperoleh dengan pengambilan sampel langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelombang dominan (longshore transport) datang dari arah tenggara menuju barat laut. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa groin yang sudah dibangun pada pantai Salido efektif dalam menjaga kestabilan garis pantai Salido. Sementara dampak groin pada daerah yang tidak terbangun groin adalah berupa abrasi pada sisi hilir groin terakhir yang bersebelahan dengan garis pantai Sago sepanjang lebih kurang 78 meter dengan kemunduran garis pantai sebesar lebih kurang 18 meter dengan simulasi 10 tahun ke depan. Pada lokasi wisata pantai Sago sebelum adanya groin dalam 10 tahun terakhir (2005-2015) terjadi akresi sebesar lebih kurang 0,5 m/tahun. Sesudah adanya groin lokasi wisata pantai Sago tidak lagi mengalami akresi. Abrasi yang terjadi pada sisi hilir groin terakhir juga cenderung bertambah sehingga pembangunan groin perlu dilakukan sampai sepanjang garis pantai Sago

    Inflation dynamics with search frictions: a structural econometric analysis

    No full text
    Available online 3 May 2008Abstract not availableMichael U. Krause, David Lopez-Salido, Thomas A. Lubi

    Dr. Duane M. Jackson, Morehouse College, July 2011

    No full text
    This video is a conversation with Dr. Duane M. Jackson. Dr. Jackson talks about his paper, "Recall and the Serial Position Effect: The Role of Primacy and Recency on Accounting Students' Performance." Jackie Daniel, AUC Woodruff Library, is the interviewer

    Assessment of mathematical programming and agent-based modelling for off-line scheduling: application to energy aware manufacturing

    No full text
    State-of-the-art approaches to energy aware scheduling can be centralized or decentralized, predictive or reactive. and they can use methods ranging from mathematical programming to agent-based distributed models. In this paper two methodologies are compared for off-line scheduling, for energy intensive manufacturing systems by using a real industrial case, specifically manufacturing by injection moulding. A multi-objective scheduling problem requiring the minimization of the jobs tardiness and energy consumption is faced. A mixed integer programming formulation and a multi-agent approach are proposed and evaluated. Their advantages and drawbacks are pointed out for off-line energy-aware scheduling.Tonelli, F.; Bruzzone, A.; Paolucci, M.; Carpanzano, E.; Nicolò, G.; Giret Boggino, AS.; Salido Gregorio, MA.... (2016). Assessment of mathematical programming and agent-based modelling for off-line scheduling: application to energy aware manufacturing. CIRP Annals - Manufacturing Technology. 65(1):405-408. doi:10.1016/j.cirp.2016.04.119S40540865

    "Reflections on the subject of Emigration from Europe with a view to Settlement in the United States" By M. Carey.

    No full text
    "Reflections on the subject of Emigration from Europe with a view to Settlement in the United States: containing bried sketches of the moral and political character of those states. By M. Carey, member of the American philosophical, and of the American Antiquarian Society, and author of The Olive Branch, Cindiciae Hibernicae, essays on banking, on political economy, and on internal improvement. To which are now added the English editor's comments on the subject; together with Important Advice to Emigrants, and Cautions Against Impositions Practiced in the Outports
    corecore