1,720,978 research outputs found
Model Penduga Kerapatan Tajuk pada Ekosistem Hutan Dataran Rendah Menggunakan Data LiDAR dan Citra Satelit SPOT 7 (Studi Kasus di PT Restorasi Ekosistem Indonesia).
Tutupan tajuk merupakan parameter struktur hutan yang sangat penting untuk
mengetahui banyak aplikasi dalam bidang ekologi, hidrologi, dan pengelolaan
hutan. LiDAR merupakan sebuah teknologi sensor jarak jauh untuk menemukan
jarak dan informasi mengenai karakteristik topografi permukaan tanah dalam posisi
horizontal dan vertikal. LiDAR menjadi pilihan karena dapat menembus tutupan
tajuk hutan menggunakan properti cahaya yang ditransmisikan. Metode yang
digunakan untuk memberikan data tutupan tajuk lebih tinggi berdasarkan
kemampuan penetrasi data LiDAR, yaitu metode First Return Cover Index (FRCI).
Penelitian ini bertujuan menyusun model penduga kerapatan tajuk pada hutan
dataran rendah menggunakan data Light Detection and Ranging (LiDAR) dan Citra
Satelit SPOT 7 di PT Restorasi Ekosistem Indonesia. Model penduga dibangun
dengan menggunakan indeks vegetasi dari Citra Satelit SPOT 7 yang memiliki
korelasi dengan kerapatan tajuk dari data LiDAR, yaitu TDVI, RDVI, SRVI, NDVI,
dan GNDVI. Pemilihan model terbaik berdasarkan R2, simpangan baku (s),
simpangan agregat (SA), dan korelasi antara kerapatan tajuk dugaan dengan
kerapatan tajuk aktual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model terbaik untuk
menduga kerapatan tajuk dari data LiDAR dan Citra Satelit SPOT 7 adalah model
linear dengan persamaan regresi FRCI = - 1.44 + 3.75 GNDVI dengan R2 68.80%,
simpangan baku (s) 0.095, SA 0.00234, dan korelasi (r) 0.425
Model Pendugaan Kerapatan Tajuk pada Hutan Rawa Gambut Menggunakan Data LiDAR dan Citra Satelit Landsat 8 OLI (Studi Kasus: PT Global Alam Lestari, Sumatera Selatan).
Kerapatan tajuk merupakan salah satu parameter penting dalam mengetahui
kondisi hutan. Estimasi kerapatan tajuk dapat dilakukan menggunakan sistem
teknologi penginderaan jauh. Light Detection and Ranging (LiDAR) merupakan
salah satu sistem penginderaan jauh aktif dimana menggunakan laser yang
ditembakkan ke objek-objek di atas permukaan bumi. Penggunaan LiDAR dalam
areal yang luas masih tergolong mahal, sehingga perlu pengumpulan data lain yang
mampu menghasilkan informasi dalam areal yang luas seperti citra satelit Landsat
8 OLI. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk memperoleh model penduga
kerapatan tajuk dari data LiDAR dan Landsat 8 OLI. Hasil menunjukkan bahwa
model pendugaan terbaik di hutan rawa gambut PT Global Alam Lestari adalah
FRCI = - 0.0171 + 8.691 GRVI. Model persamaan tersebut memiliki nilai koefisien
determinasi (R²) sebesar 50.24%, nilai simpangan baku (s) 0.101, nilai simpangan
agregat (SA) sebesar 0.459, dan memiliki nilai koefisien korelasi (r) antara FRCI
aktual dengan FRCI dugaan (model terbaik) sebesar 0.503
Model Pendugaan Kerapatan Tajuk pada Ekosistem Hutan Dataran Rendah Menggunakan LiDAR dan Landsat 8 Oli di PT REKI.
Tutupan tajuk merupakan salah satu variabel yang penting dalam ekologi,
hidrologi dan manajemen hutan serta merupakan dasar dalam penentuan suatu
kawasan termasuk ke dalam hutan atau bukan hutan. LiDAR merupakan
penginderaan jauh dengan sensor aktif yang memiliki informasi mengenai
ketinggian suatu objek. LiDAR dapat menjadi alat yang berguna dalam
pengukuran tutupan tajuk dikarenakan LiDAR dapat melakukan penetrasi ke
dalam kanopi, namun memiliki keterbatasan dalam luasan areal yang diliput.
Intergrasi antara LiDAR dan landsat diharapkan dapat mengatasi keterbatasan
tersebut, dikarenakan landsat dapat menyediakan cakupan areal yang lebih luas
dalam menggeneralisasi informasi mengenai tutupan tajuk. Tujuan penelitian ini
yaitu untuk membangun model pendugaan kerapatan tajuk menggunakan LiDAR
dan landsat 8 oli. Model pendugaan kerapatan tajuk dibangun dengan melakukan
regresi antara nilai kerapatan tajuk dari LiDAR yang diperoleh melalui metode
FRCI dengan nilai indeks vegetasi dari landsat. Validasi dilakukan dengan
menggunakan kriteria korelasi antara nilai aktual dan dugaan, simpangan agregat
serta tampilan raster. Hasil menunjukkan bahwa model terbaik adalah Y = 2.22 +
5.63 LN NDVI dengan R2 sebesar 63.90%, standar error sebesar 0.161, korelasi
antara nilai dugaan dengan aktual sebesar 0.663, dan simpangan agregat sebesar -
0.182 serta error sebesar 56.10%
Optimization of Land Use and Land Cover by Using Geographic Information System at the Watershed of Citamiang
DAS Citamiang merupakan bagian dari Sub DAS Cisadane bagian hulu yang berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1999 tanggal 7 Mei 1999 ditetapkan sebagai wilayah Daerah Aliran Sungai prioritas II yang dinilai mengalami kerusakan lahan dengan prioritas penanganan erosi tinggi dan rawan banjir sehingga perlu segera mendapatkan penanganan / direhabilitasi karena DAS Citamiang mempunyai peranan yang sangat penting sebagai daerah penyangga daerah hilir dan ekosistem di sekitarnya.This study examines the use of linear program and geographic information systems to optimize land use and land cover at the watershed of Citamiang. To obtain the optimum land use and land cover, the factors to consider are land productivity, the degree of erosion and the preference of the community living in the study area. A spatial model of optimal land use and land cover allocation is formulated into the value of PPPL = 0.38 x productivity score + 0.31 x erosion score + 0.31 x community preferences score. The study found that the optimal land use in the study area requires a forest area of 1036.9 ha (58%), mixed plantation of 572.36 ha (32%), fields/moor area of 81.14 ha (5%), settlement area of 13.3 ha (1%), and rice field of 66.3 ha (4%). This optimization will reduce erosion from 339.90 tones/ha/year to 113.32 tons/ha/year. Based on the composite model as described above, the geographic information system could effectively portray the area allocated by the linear progra
“Efektifitas Berbagi Pakai Dalam Infrastruktur Data Spasial Di Indonesia: Studi Kasus Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat”.
Sudah hampir sepuluh tahun sejak diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 85 Tahun
2007 tentang Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) sebagai tonggak berjalannya
kegiatan berbagi pakai data spasial di Indonesia. Bahkan sejak Undang-undang Nomor 4
tahun 2011 tentang Informasi Geospasial diresmikan sebagai payung hukum yang lebih kuat,
pelaksanaan NSDI antar instansi dan daerah belum berjalan dengan efektif, terlihat dari
jumlah partisipan dalam Ina-Geoportal sebagai infrastruktur berbagi pakai. Belum seluruh
instansi dan pemerintah daerah terlibat dalam Ina-Geoportal. Sampai tahun 2016 jumlah
instansi pemerintah dan daerahyang terlibat adalah sebanyak 53 instansi, dengan rincian 24
Kementerian/Lembaga, 16 Provinsi, dan 13 Kabupaten/Kota. Dari jumlah 53 tersebut hahnya
9 Kementerian/Lembaga dan 5 Provinsi yang aktif membagi data dan informasi geospasial
yang diproduksi. Melihat kondisi ini akan dianalisa mengapa kegiatan berbagi pakai sulit
diterapkan di instansi pemerintah dan daerah padahal instansi ini memiliki peran sebagai
simpul jaringan nasional dan daerah yang seharusnya mendukung pelaksanaan berbagi pakai
yang efektif.
Penelitian ini ditulis untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi dan
menyebabkan ketidakefektifan dalam pelaksanaan data sharing di Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Permasalahan akan dianalisa
dalam komponen kebijakan, pengaturan kelembagaan, teknologi, standar, dan sumber daya
manusia. Metode yang dilakukan dalam bentuk interview, kuesioner, analisis konten, dan
deskriptif statistik untuk mengetahui peringkat setiap komponen dalam pelaksanaan berbagi
pakai di tiap instansi. Validasi dilakukan dengan metode triangulasi melalui wawancara untuk
melihat kesesuaian hasil kuesioner.
Analisa kebijakan dilakukan dengan mengkaji setiap pasal dalam undang-Undang
Nomor 4 tahun 2011 tentang Informasi Geospasial, P.28/MenLHK/Setjen/KUM.1/2/2016
tentang Jaringan Informasi Geospasial Lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, dan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat nomor 24 Tahun 2012 tentang Satu
Data Pembangunan Jawa Barat. Kajian regulasi dilakukan dengan pendekatan Analisa Teks
dengan tujuh parameter: situasional, intensional, intertekstualitas, akseptabilitas,
informativitas, kohesi, dan koheren. Analisa fishbone dilakukan untuk mengidentifikasi
kemungkinan permasalahan yang terjadi, mencari tahu mengapa kegiatan berbagi pakai tidak
berjalan dengan efektif melalui sudut pandang responden. Deskripsi statistik dikaji melalui
rerata hasil kuesioner dengan menerapkan skala Likert 1-5.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui kajian regulasi diketahui bahwa
komponen kebijakan sudah mendukung pelaksanaan berbagi pakai di tiga instansi. Dari hasil
perhitungan rerata komponen, persepsi nasional pengguna IDSN di BIG, KLHK, dan
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencapai angka 67%. Menurut pengguna, IDSN masih
memerlukan peningkatan dalam kelima komponennya terutama dalam hal-hal yang terkait
dengan institusional/organisasi dan impelementasi standar. Sementara itu, komponen
teknologi menjadi komponen yang dianggap paling baik, hanya bermasalah di fasilitas Ina-
Geoportal yang dianggap belum memberikan banyak kemudahan dalam hal menemukan,
memvisualisasikan, dan memperoleh data.
Rekomendasi diberikan sebagai solusi untuk setiap permasalahan dalam tiap
komponen, salah satunya yaitu perlu adanya road-map untuk kejelasan pekerjaan di tiap
instansi, menerapkan standar metadata dan katalog unsur geografi indonesia, melengkapi peta
Rupabumi Indonesia sebagai acuan pemetaan, dan komitmen kuat dari seluruh pihak yang
terlibat. Rekomendasi ini diberikan untuk menunjang kegiatan berbagi pakai yang efektif
dalam mendukung perencanaan pembangunan nasional
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
