1,721,034 research outputs found

    Pengembangan Pembelajaran Matematika Menggunakan Metode Multilevel Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas X Pada Pokok Bahasan Trigonometri

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pembelajaran yang dikembangkan melalui Metode Multilevel terhadap hasil belajar di kelas X SMK Taman Siswa Medan, dan (2) respon siswa terhadap pembelajaran yang dikembangkan Metode Multilevel di kelas X SMK Taman Siswa Medan. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Taman Siswa Medan dan sampel dalam penelitian ini adalah kelas X-AP 1 dengan jumlah siswa 31 orang dan kelas X-AP 2 dengan jumlah siswa 29 orang. Objek penelitian ini adalah pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan Tes untuk meningkatkan hasil belajar matematika dengan Metode Multilevel di kelas X SMK Taman Siswa Medan. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan (research and development/ R&D) dengan menggunakan pengembangan model 4-D (Four D model) yang dikemukakan Thiagarajan, Semmel dan Semmel yang telah dimodifikasi terdiri dari tiga tahap yaitu tahap pendefinisian(define), tahap perancangan (design) dan tahap pengembangan (development). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Lembar validasi ahli, tes dan angket respon siswa. Teknik analisis data dalam pengembangan pembelajaran digunakan teknik analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pembelajaran yang dikembangkan menggunakan Metode Multilevel terhadap hasil belajar siswa disimpulkan pada: (a) ketuntasan belajar siswa secara klasikal sebesar 86,21% dan (b) ketercapaian indikator berada pada kriteria pembelajaran; (2) Respon siswa terhadap komponen dan kegiatan pembelajaran menggunakan Metode Multilevel adalah positif

    Komunikasi Interpersonal sebagai Strategi Dakwah Rasulullah (Perspektif Psikologi)

    Full text link
    This paper describes about the psychological perspective on interpersonal communication as one of the strategies the Prophet in preaching. Interpersonal communication is communication btween two or more people in order to achieve the desired objectives. In the context of the history of dakwah of Rasullullah SAW, interpersonal communication has been used as a dakwah strategy of the first when he was newly appointed as an apostle and called on the Islamic religion commanded. Interpersonal communication is done by Rasullullah in psychology perspective is a communication in psychological level. Psychologically interpersonal communication will go well if the two sides are communicating it had known each other, giving each other the attention, support, openness and trust. So the use of appropriate interpersonal communication and effective will affect the success of dakwah Islamiyah.Tulisan ini memaparkan tentang perspektif psikologi tentang komunikasi interpersonal sebagai salah satu strategi Rasulullah dalam berdakwah. Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi yang dilakukan dua orang atau lebih dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam konteks sejarah dakwah Rasullullah SAW, komunikasi interpersonal telah digunakan sebagai strategi dakwah pertama pada saat beliau baru diangkat menjadi rasul dan diperintahkan menyerukan agama Islam. Komunikasi interpersonal yang dilakukan Rasullullah dalam tinjauan psikologi merupakan komunikasi tingkat psikologis. Secara psikologis komunikasi interpersonal akan berjalan dengan baik jika kedua belah pihak yang berkomunikasi itu telah mengenal satu sama lain, saling memberikan perhatian, dukungan, keterbukaan dan kepercayaan. Sehingga penggunaan komunikasi interpersonal yang tepat dan efektif akan mempengaruhi keberhasilan dakwah Islamiyah

    Penerapan metode demonstrasi dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada bidang studi pendidikan Agama Islam Kelas VII di SMP Negeri 1 Bukit Malintang, Kecamatan Bukit Malintang, Kabupaten Mandailing Natal

    Full text link
    Latar belakang penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bukit Malintang, Kecamatan Bukit Malintang, Kabupaten Mandailing Natal belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) yakni 75 karena guru hanya menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam berdasarkan observasi awal. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bukit Malintang, Kecamatan Bukit Malintang, Kabupaten Mandailing Natal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam Kelas VII di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bukit Malintang, Kecamatan Bukit Malintang, Kabupaten Mandailing Natal. Metode penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data melalui observasi, tes dan dokumentasi. Prosedur penelitian tindakan kelas ini adalah perencanaan (Planning), pelaksanaan (Acting), pengamatan (observation) dan Refleks (Reflekting), yang dilakukan dengan dua siklus dan masing-masing siklus dua pertemuan. Hasil penelitian penerapan metode demonstrasi pada bidang studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bukit Malintang, Kecamatan Bukit Malintang, Kabupaten Mandailing Natal dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada tes awal/prasiklus yang diberikan sebelum tindakan yang tuntas hanya 2 siswa (12,5%), sedangkan yang tidak tuntas 14 siswa (87,5%) dengan rata-rata kelas 42,5. Setelah dilakukan tindakan pada siswa yaitu dengan penerapan metode pembelajaran demonstrasi, maka dilakukan tes hasil belajar siswa pada siklus I pertemuan pertama yang memperoleh nilai ketuntasan 3 siswa (18,75%) dan yang tidak tuntas 13 siswa (81,25%) dengan rata-rata kelas 43,75, siklus I pertemuan kedua memperoleh nilai ketuntasan 4 siswa (25%) dan yang tidak tuntas 12 siswa (75%) dengan rata-rata kelas 59,38. Siklus II pertemuan pertama yang memperoleh nilai ketuntasan 6 siswa (37,5%), sedangkan yang tidak tuntas 10 siswa (62,5%) dengan rata-rata kelas 61,25, siklus II pertemuan kedua yang memperoleh nilai ketuntasan 13 siswa (81,25%), sedangkan yang tidak tuntas hanya 3 siswa (18,75%) dengan rata-rata kelas 75 (baik)

    PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran learning cycle terhadap hasil belajar fisika pada siswa kelas X. Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen. Populasi dalam penelitian  adalah seluruh siswa kelas X di SMA N 4 Sungai Penuh yang terdiri dari 5 kelas. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara cluster random sampling dengan mengambil 2 kelas dari 5 kelas secara acak yaitu kelas X-3 sebagai kelas eksperimen yang berjumlah 30 orang dan kelas X-2 sebagai kelas kontrol yang berjumlah 30 orang. Instrumen yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa adalah tes hasil belajar yang telah dilakukan uji validitas isi dan ramalan dalam bentuk essay dengan jumlah 10 soal. Dari hasil penelitian diperoleh kedua kelas berdistribusi normal dan homogen. Berdasarkan analisis  uji-t dua pihak diperoleh thitung = 5,51 dan ttabel = 1,67, sehingga thitung > ttabel, oleh karena itu Ha diterima dan Ho ditolak. Hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran learning cycle dengan hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dalam penggunaan model pembelajaran learning cycle terhadap hasil belajar fisika siswa..  Kata Kunci: Learning Cycle, Hasil Belaja

    Peran Pedagang Perempuan Pasar Terapung Dalam Melestarikan Tradisi dan Kearifan Lokal di Kalimantan Selatan (Perspektif Teori Perubahan Sosial Talcott Parsons)

    Full text link
    Tulisan ini memaparkan tentang pasar terapung sebagai salah satu tradisi dan kearifan lokal masyarakat Banjar. Kearifan lokal Kalimantan Selatan ini lebih banyak digeluti perempuan Banjar. Perjuangan para perempuan dalam mencari nafkah dengan berdagang menjadikan pasar terapung ini tetap ada. Kini aktivitas pasar terapung makin memudar, terutama pasar terapung di Sungai Barito. Perubahan sosial masyarakat yang terjadi secara bertahap melalui penyesuaian terhadap modernisasi, secara perlahan mengurangi aktivitas pasar terapung. Perubahan social ini menurut perspektif Talcott Parsons bersifat evolusioner, dan pasar terapung dipandang sebagai sistem social yang memiliki sejumlah aktor, interaksi, lingkungan, dan budaya. Empat imperatif fungsional bagi sistem “tindakan” yaitu skema AGIL (adaptation, goal attainment, integration, latency) harus diterapkan dalam sistem. Perubahan sosial pasar terapung sebagai sistem harus memperhatikan faktor endogen dan eksogen, karena setiap komponen saling mempengaruhi. Perubahan salah satu sub sistem akan membawa perubahan pada sistem yang lain. Sehingga seluruh sub sistem memiliki peranan yang sama dalam mempertahankan kearifan lokal. Kata Kunci: Pedagang Perempuan, Pasar Terapung, Perubahan Sosial, Kearifan Loka
    corecore