46 research outputs found
Issues of terrorism on the internet in the wave of democratization of post-reform Indonesia: A semiotic analysis
The discourse of terrorism is a global issue but tends to be interpreted as controversial. This study sought to dismantle the controversy of meanings through the analysis of signs and meanings, with a view to explore and demonstrate the wave of democratization that took place in post-reform era in Indonesia. This study was a case study using readers’ responses to terrorism issues provided by cyber media on the Internet. It also rests primarily on the semiotic theory of Peirce and the concept of democratization of Huntington. The results showed that participation, freedom of expression, and equal power relations occurred in the interactive discourse in the cyber news media in the form of a dialogue between the responders, the media, and the debate among the responders. Responders tended to argue that signs and meanings are constructed by the media and to interpret information about terrorism as "political engineering" which was expressed by means of emotive tone. Meanwhile, the media tended to construct a "political imagery" which was expressed in a confrontational way, and the resources tended to understand it as "noise level of political elite ", which was expressed in a persuasive manner. Such differences occurred due to the factors of media context that tended to be "convivial" and the context of the communication situation on the Internet that tends to show "discretion". Based on these findings, this study concluded that interactive discourse in the Internet can be formulated as a democratic forum as the meaning making of the text is no longer dominated by media and the sources of information, but tend to be shared with the public. However, in terms of discourse process, interactive discourse in cyber media tends to be anarchic because the tone of interaction tends to be little, the relationship patterns tend to center on and be dominated by responders, the identities of responders tend to be anonymous, and linguistic expressions of the responders tend to be emotive
PENGEMBANGAN MODEL ANALISIS RELASI BAHASA DAN INTERNET BERBASIS PARADIGMA CMDA (COMPUTER MEDIATED DISCOURSE ANALYSIS)
Dalam dekade terakhir, kajian tentang relasi bahasa, media, dan teknologi komunikasi telah menjadi kajian lintas disiplin yang menarik perhatian para ahli dari berbagai disiplin ilmu. Lebih khusus, dalam kaitannya dengan kajian wacana di Internet, penggunaan bahasa di Internet dipandang sebagai pertanda lahirnya “new genre” sekaligus sebagai the state of the art dalam kajian wacana, yang dikenal sebagai kajian computer mediated discourse analysis (CMDA). Dalam konteks perkembangan itu, kajian ini dimaksudkan untuk merumuskan model analisis relasi bahasa dan Internet berbasis CMDA. Pertanyaannya, “sejauh mana paradigma CMDA dapat dirumuskan sebagai model pengembangan analisis relasi bahasa dan Internet. Kajian ini menemukan, bahwa ragam bahasa di Internet tidak sepenuhnya menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, akan tetapi cenderung menunjukkan ciri-ciri “ragam lisan yang dituliskan”. Di samping itu, ditemukan pula, bahwa konteks media dan konteks situasi komunikasi tampak berpengaruh secara signifikan dalam menentukan makna suatu tuturan di Internet. Dengan demikian, paradigma CMDA dalam kajian wacana di Internet tampak relevan digunakan, terutama untuk mengindentifikasi ragam bahasa dan makna tuturan di Internet.Kata kunci: konteks media; konteks situasi komunikasi; Internet; computer mediated discourse analysis (CMDA)In the last decade, the study of language relations, media, and communications technology has become an interdisciplinary study that attracts the attention of experts from various disciplines. More specifically, in relation to the study of discourse on the Internet, the use of language on the Internet is seen as a sign of the birth of "new genre" as well as the state of the art in discourse studies, known as computer mediated discourse analysis (CMDA). In the context of this development, this study is intended to formulate models of analysis of language and Internet relationships based on CMDA. The question centers on the extent to which the CMDA paradigm can be formulated as a model for the development of language and Internet relation analysis. This study reveals that the variety of languages on the Internet does not fully show the characteristics of writing, but tends to show the characteristics of "written verbal". In addition, the analysis showed that the context of the media and the context of the communication situation seemed to have a significant effect on determining the meaning of a speech on the Internet. Thus, the CMDA paradigm in the study of discourse on the Internet seems relevant to use, especially to identify the variety of languages and meanings of speech on the Internet.Keywords: media context; context of communication situation; Internet; computer mediated discourse analysis (CMDA
Semantik dan dinamika pergulatan makna
Buku ini membahas konsep-konsep dasar semantik bahasa alami untuk kepentingan analisis makna bahasa tingkat lanjut, yaitu mahasiswa tingkat pascasarjana Program Linguistik, Psikologi, Filsafat, Antropologi, Sosiologi, Komunikasi, dan Pendidikan Bahasa. Rujukan utama buku ini adalah buku karya Keith Allan (2001), yang berjudul Natural Language Semantics. Dalam buku ini, gagasan-gagasan Allan tentang semantik bahasa alamiah kemudian dikembangkan aplikasinya dalam bahasa Indonesia dan beberapa bahasa daerah yang ada di kawasan nusantar
Linguistik Forensik di Era Digital
Buku ini membahas peran ilmu linguistik dalam mendukung kajian forensik, khususnya pada ranah hukum dan investigasi di tengah perkembangan teknologi informasi. Penulis menyoroti bagaimana bahasa dapat dijadikan alat bukti dalam proses peradilan, baik melalui analisis teks, ujaran, maupun komunikasi digital seperti media sosial, pesan singkat, dan dokumen elektronikv, 240hlm.; 23c
INTERPRETASI WACANA HUMOR MEME MELALUI KAJIAN TEORI RELEVANSI
Meme (dibaca: mim) dikenal sebagai wacana humor kekinian yang tercipta dan tersebar melalui media-media sosial. Interpretasi humor meme tentu berbeda dengan interpretasi humor verbal mengingat meme berbentuk item digital berupa foto dengan perpaduan aspek verbal dan visual. Studi ini merupakan studi lanjutan dari Floranti dan Saifullah (2016) yang diharapkan mampu melengkapi strategi penciptaan humor meme melalui perspektif teori relevansi Sperber dan Wilson (1986) serta bantuan dari teori multimodalitas Kress dan Van Leeweun (2006). Model ingcongruity – resolution dan teori relevansi menempatkan peranan kognisi pembaca sebagai modal utama dalam menemukan intensi komunikatif kreator dan meraih efek humor. Pembaca harus menggali efek kontekstual dan berusaha menyelesaikan ketidaksejajaran interpretasi sehingga implikasinya ialah usaha pemrosesan akan semakin besar. Berkaitan dengan konsep teori relevansi, meme dapat diinterpretasikan dengan berbagai cara dan tingkatan oleh setiap pembaca yang berbeda
(Im)Politeness and (In)Civility in Social Media: The Case of Pronouns and Propositions in Twitter Comments
Semantik dan dinamika pergulatan makna
Buku ini membahas konsep-konsep dasar semantik bahasa alami untuk kepentingan analisis makna bahasa tingkat lanjut, yaitu mahasiswa tingkat pascasarjana Program Linguistik, Psikologi, Filsafat, Antropologi, Sosiologi, Komunikasi, dan Pendidikan Bahasa. Rujukan utama buku ini adalah buku karya Keith Allan (2001), yang berjudul Natural Language Semantics. KeithAllan adalah seorang pakar linguistik di Monash University dan anggota Australian Academy of Humanities. Ia mengajar di Inggris, Kenya, Nigeria, dan Amerika Serikat. Penelitian dan publikasinya terutama berfokus pada aspek-aspek makna dalam bahasa.Dalam buku ini, gagasan-gagasan Allan tentang semantik bahasa alamiah kemudian dikembangkan aplikasinya dalam bahasa Indonesia dan beberapa bahasa daerah yang ada di kawasan nusantara. Buku ini dimaksudkan untuk membekali para mahasiswa dalam melakukanpenelitian di lapangan yang berkaitan dengan data bahasa alami yang digunakan oleh masyarakat
Linguistik forensik di era digital
Di era digital seperti saat ini, lebih dari seribu kasus kriminal per tahun melibatkan kata-kata, baik lisan, tulisan, atau lisan yang ditulis. Linguistik forensik merupakan bidang ilmu yang berperan dalam menganalisis bahasa sebagai sumber informasi dalam berbagai kasus kriminal, mulai dari pencemaran nama baik hingga ujaran kebencian, dari ancaman verbal hingga penipuan digital. Buku Linguistik Forensik di Era Digital menyajikan materi terstruktur yang akan membawa pembaca memahami fondasi linguistik forensik, mulai dari definisi, dasar ilmu linguistik dalam penelitian forensik, analisis bahasa lisan, hubungan linguistik forensik dan UU ITE, etika dan legalitas dalam praktik linguistik forensik, studi kasus, hingga masa depan dari linguistik forensik. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan contoh kasus-kasus kriminal yang menggunakan linguistik forensik sebagai alat analisis dalam proses penyelidikannya
