1,720,972 research outputs found

    Polimorfisme Gen Luteinizing Hormone Receptor dan Evaluasi Sifat Reproduksi pada Sapi Pasundan

    No full text
    Sapi Pasundan hidup tersebar di sepanjang Pantai Selatan Jawa Barat dan area buffer zone hutan lindung di wilayah Priangan Utara (Arifin et al. 2015). Pada 2013, populasi sapi Pasundan mencapai sekitar 50.000 ekor (Dwitresnadi et al. 2015). Pada tahun 2015, populasi mengalami penurunan 20.96% yang paling umum terjadi di area buffer zone yang disebabkan oleh harga jual yang tinggi dan alih fungsi lahan. Dampak penurunan populasi secara tidak langsung dapat mengakibatkan degradasi genetik seperti penurunan kualitas genetik, populasi efektif, peningkatan inbreeding, dan degradasi kemurnian (BP3IPTEK 2016). Konservasi sapi Pasundan penting dilakukan untuk mengatasi ancaman kepunahannya yang disebabkan oleh pembatasan daerah basis populasinya (Arifin et al. 2015). Sifat reproduksi berperan penting dalam meningkatkan populasi ternak. Potensi reproduksi sapi Pasundan perlu dikaji lebih mendalam melalui pendekatan molekuler yang merupakan metode modern dalam memilih bibit unggul. Menurut Huhtaniemi (2002) salah satu pendekatan dalam meningkatkan informasi genetik adalah dengan mengidentifikasi marka genetik yang memiliki efek langsung pada aspek tertentu dari fertilitas seperti luteinizing hormone receptor (LH). Gen ini mempengaruhi sistem endokrin yang memainkan peran utama dalam mengontrol fungsi reproduksi yang diatur melalui hipotalamus hipofisis-gonad. Mutasi pada gen LHR, mempengaruhi regulasi hormon gonadotropin yang berpotensi terkait dengan fenotipe reproduksi seperti pubertas dini dan calving interval (Milazzotto et al. 2008). Tiga puluh tujuh ekor sapi Pasundan yang memiliki catatan IB digunakan dalam penelitian ini. Gen LHR pada ekson 11 berhasil diamplifikasi dan kemudian dianalisis dengan metode sekuensing. Hasil sekuensing menghasilkan sekuens dengan panjang 303 bp dan bersifat polimorfik. Keragaman berada pada SNP g.1337C>T dan ditemukan tiga genotipe CC, CT, dan TT. Frekuensi alel T (0.527) menunjukkan lebih tinggi dari alel C (0.473). Uji chi square menunjukkan bahwa sapi Pasundan berada dalam keseimbangan Hardy-Weinberg (HWE). Nilai heterozigositas Ho (0.513) menunjukkan bahwa nilai heterozigositas gen LHR tinggi. Catatan reproduksi menunjukkan bahwa service per conception adalah 1.39±0.73, days open adalah 155.54±80.35 hari, calving interval adalah 455.35±75.11 hari, dan lama kebuntingan 284.66±7.08 hari. Disimpulkan bahwa keragaman genetik populasi sapi Pasundan memiliki variasi yang tinggi dan berada dalam keseimbangan HWE. Dan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan awal dalam melanjutkan program seleksi untuk peningkatan kualitas genetik pada sifat reproduksi sapi Pasundan

    Produksi Antibodi Anti-Coxiella Burnetii Untuk Deteksi Q Fever Pada Ruminansia Dengan Metode Imunohistokimia

    No full text
    Q fever merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Coxiella burnetii dan terdistribusi luas di seluruh dunia. Gejala klinis pada hewan ternak bersifat tidak konsisten dan tidak spesifik. Teknik diagnosa yang baik merupakan salah satu langkah pencegahan dan pengendalian penyakit Q fever. Salah satu komponen penting untuk diagnosa adalah antibodi. Produksi antibodi anti-C. burnetii dapat dilakukan untuk menunjang diagnosa baik secara serologis (ELISA, Western blot), immunochromatographic strip (imunostrip) maupun imunohistokimia. Penelitian ini bertujuan memproduksi antibodi poliklonal anti-C. burnetii dan mengkarakterisasinya. Antibodi tersebut kemudian digunakan untuk mendeteksi antigen dengan metode imunohistokimia. Antibodi poliklonal diperoleh dari induksi isolat C. burnetii pada kelinci. Antibodi ini diharapkan mampu mengikat antigen isolat lapang pada organ limpa, paru-paru dan hati sapi dari Rumah Potong Hewan (RPH) di Medan yang sebelumnya telah dikonfirmasi positif C. burnetii. Produksi antibodi poliklonal dilakukan pada dua ekor kelinci New Zealand White (NZW) jantan berumur 10-16 minggu. Kelinci tersebut diinduksi dengan imunogen C. burnetii strain Nine Mile (NM) II. Imunisasi pertama dilakukan dengan mengemulsikan imunogen dengan Complete Freund’s Adjuvant (CFA) untuk menginduksi antibodi secara perlahan. Boosting dilakukan menggunakan imunogen yang sama dan penambahan Incomplete Freund’s Adjuvant (IFA) yang dilakukan pada hari ke-14 pasca induksi. Pemanenan serum dilakukan pada hari ke-24 pasca induksi. Antibodi terhadap C. burnetii dianalisis menggunakan teknik Dot Blot yang menunjukkan adanya reaksi positif warna keunguan dengan penambahan substrat Tetramethylbenzidine (TMB) mengindikasikan bahwa IgG telah terbentuk. Serum yang diperoleh dipurifikasi menggunakan metode presipitasi dengan amonium sulfat saturasi 35 %. Setelah dialisis dengan PBS pH 7.4 dilakukan filtrasi gel dengan matriks Sephadex G-75. Hasil konsentrasi akhir protein yaitu sebesar 11.3 μg μl-1. Profil protein imunogen dan antibodi yang dihasilkan dilihat menggunakan Sodium Dodecyl Sulfate Poly Acrylamide Gel Electrophoresis (SDS PAGE). Pewarnaan Coomassie blue menunjukkan pita pada berat molekul 170 kDa, 100 kDa, 65 kDa, 50 kDa dan 25 kDa. Pita 170 kDa merupakan fragmen IgG yang tidak terdenaturasi, sedangkan pita dengan bobot molekul 50 kDa merupakan antibodi heavy chain (rantai berat) dan bobot molekul 25 kDa sebagai light chain (rantai ringan). Kompatibilitas antibodi dan antigen dianalisis menggunakan Western blot. Adanya pita berwarna keunguan menunjukan adanya reaksi imun positif yang mengindikasikan bahwa serum yang dihasilkan mampu mengikat antigen C. burnetii. Pita tersebut menunjukkan berat molekul 35.5 kDa yaitu outer membrane protein NM II, pita 51.4 kDa merupakan hypothetical membrane protein NM II sedangkan 58.284 kDa sebagai chaperonin (Grol) soluble protein NM II (Kowalczewska et al. 2011). Pengujian antibodi dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan preparasi sampel organ limpa yang telah difiksasi dalam formalin. Isolasi protein dilakukan dengan menginkubasi sampel dalam larutan lisis buffer yang mengandung 2% sodium dodecyl sulfat (SDS) pada suhu 100 oC selama 20 menit dilanjutkan dengan inkubasi pada suhu 60 oC selama 2 jam. Hasil isolasi kemudian dianalisa dengan Dot Blot. Hasil menunjukkan adanya warna keunguan akibat adanya reaksi antara antibodi dan antigen C. burnetii. Pemeriksaan dilanjutkan dengan melakukan SDS PAGE dan Western Blot. Selain itu dilakukan juga pemeriksaan dengan metode imunohistokimia. Sampel yang digunakan berupa limpa, paruparu dan hati sapi asal Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Medan yang sebelumnya telah dikonfirmasi positif Q Fever oleh Nasution et al. (2014). Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 90 % limpa, 100 % paru dan 100 % hati bersifat imunoreaktif. Antibodi yang telah dipurifikasi tersebut mampu mendeteksi antigen C. burnetii pada ruminansia bahkan pada hewan yang asimptomatik Q Fever

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
    corecore