1,720,958 research outputs found
PEMANFAATAN BAKTERI ASAM LAKTAT YANG DIISOLASI DARI SALURAN PENCERNAAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptus altivelis) SEBAGAI BIOKONTROL BAKTERI Vibrio alginolyticus
Dalam upaya memberantas penyakit mulai dipertimbangkan pembatasan penggunaan antibiotik untuk pengendalian penyakit. Hal ini disebabkan penggunaan antibiotik dapat meninggalkan residu pada tubuh ikan dan menimbulkan resistensi pada bakteri patogen jika digunakan dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, alternatif lain yang perlu dilakukan untuk mengendalikan penyakit tanpa penggunaan antibiotik salah satunya adalah pemanfaatan bakteri asam laktat. Zat antimikroba yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menekan pertumbuhan bakteri pathogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri asam laktat pada ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) sebagai hewan uji dan menganalisis pengaruh bakteri asam laktat sebagai pengendali hayati Vibrio alginolyticus. Penelitian dilakukan dalam tiga fase, yaitu fase I bakteri laktat yang diisolasi dari alat pencernaan tikus (Cromileptes altivelis), uji coba fase II bakteri in-vitro bakteri asam laktat Vibrio alginolyticus dan uji klinis fase III bakteri. patogenisitas tes pencampuran bakteri asam laktat dalam makanan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 14 isolat pada ikan kerapu gastrointestinal (Cromileptes altivelis). Isolat bakteri asam laktat berdasarkan uji in vitro terdapat tiga genera yang memberikan zona penghambat terbesar yaitu Lactobacillus sp (1,49 mm), Streptococcus sp (1:29 mm) dan Lactococcus sp (1,15 mm). Uji in-vivo yang memberikan tingkat hidup tertentu Lactobacillus sp (76,66%), Lactococcus sp (63,33%), Streptococcus sp (46,66%) dan kontrol (40%). Bakteri asam laktat Lactobacillus dan Lactococcus sp dapat meningkatkan nilai dan aktivitas lisozim
STUDI PEMBERIAN PAKAN PADA KEDALAMAN YANG BERBEDA TERHADAP PERUBAHAN MORFOLOGI MULUT IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis)
Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) merupakan salah satu jenis ikan laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Mengingat ikan kerapu bebek (C. altivelis) merupakan komoditas ekspor, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pembudidaya salah satunya adalah posisi kedalaman pemberian pakan yang benar dan tepat. Pengalaman pembudidaya ikan kerapu akibat pemberian pakan yang tidak tepat posisinya antara ikan dan pakan menyebabkan perubahan morfologi mulut ikan. Para eksportir ikan kerapu perubahan morfologi mulut ini dianggap ikan cacat, karena dianggap ikan yang cacat menyebabkan nilai jual ikan menjadi rendah. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan kajian tentang posisi kedalaman antara pakan dengan ikan kerapu bebek (C. altivelis).
Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan bertempat di Stasiun Budidaya Laut Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Dayanu Ikhsanuddin. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan yaitu: A (kedalaman 1 m); B (kedalaman 2 m); C (kedalaman 3m/dasar jaring) dan D (kontrol/permukaan perairan) dan tiap perlakuan diulang tiga kali. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA), dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan pemberian pakan dengan kedalaman berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap perubahan morfologi mulut sebesar 34% pada perlakuan D (kontrol/permukaan) dan 27% pada perlakuan A (kedalaman 1 m). Demikian pula terhadap pertumbuhan mutlak dan spesifik berpengaruh nyata. Pertumbuhan mutlak dan spesifik yang tertinggi terjadi pada perlakuan B sebesar 226,33 g dan 3,39%/hari. Data kualitas air masih layak untuk pertumbuhan ikan kerapu bebek (C. altivelis)
Pengaruh Kedalaman Penanaman Rumput Laut Eucheuma Cottonii dengan Metode Rakit Gantung (RATU) Terhadap Prevalensi Serangan Penyakit Ice-Ice
Rumput laut merupakan salah satu komoditi ekspor yang bernilai ekonomi tinggi. Salah satu jenis rumput laut yang bernilai ekonomis penting dan sudah sejak dulu diperdagangkan adalah Eucheuma sp. yang paling banyak dibudidayakan adalah jenis Eucheuma cotonii. Salah satu masalah utama yang menyebabkan rendahnya volume produksi budidaya rumput laut Eucheuma cotonii adalah infeksi penyakit ice-ice. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui prevalensi serangan penyakit ice-ice rumput laut (Eucheuma cottonii) dengan menggunakan metode rakit gantung pada kedalaman yang berbeda. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu rumput laut jenis Eucheuma cotonii yang diperoleh dari petani rumput laut Desa Doda Bahari, Kecamatan Sangia Wambulu, Kabupaten Buton Tengah. Metode budidaya yang digunakan adalah metode rakit gantung (Ratu) yang terbuat dari pipa paralon yang dirangkaikan membentuk persegi panjang dengan ukuran 4 m x 2 m. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), 3 perlakuan kedalaman (A : 0,5 m, B : 1 m, dan C : 2 m), dan 3 kelompok (kelompok I = Lokasi yang dimulai dari batas pantai (surut terendah), kelompok II = 100 meter dari kelompok I, kelompok III = 100 meter dari kelompok II. Untuk mengetahui pengaruh kedalaman dengan metode rakit gantung terhadap prevalensi penyakit ice-ice pada rumput laut Eucheuma cotonii menggunakan Analisis Of Varian (ANOVA) dan jika hasil analisis berpengaruh nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi penyakit ice-ice terendah terjadi pada perlakuan A (kedalaman 0,5 m) dan prevalensi tertinggi terdapat pada perlakuan C (kedalaman 2 m). Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa penempatan rakit gantung pada kedalaman yang berbeda berpengaruh nyata terhadap prevalensi penyakit ice-ice rumput laut (Eucheuma cotonii). Parameter kualitas air berupa suhu, pH, salinitas, kedalaman, kecerahan, kecepatan arus dan nitrat masih layak untuk pertumbuhan rumput laut, kecuali fosfat tidak layak untuk pertumbuhan rumput laut
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Pengaruh Dosis Ekstrak Daun Mengkudu (Morinda citrifolia) Terhadap Serangan Ektoparasit Pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
This study aims to determine the effect of noni leaf extract doses on inhibiting ectoparasitic attacks on tilapia (Oreochromis niloticus). Parasite identification is carried out at the Fish Quarantine Station for Quality Control and Safety of Fishery Products in Baubau. The test fish used were tilapia seeds infected with ectoparasites with a size of 7-10 cm at a density of 12 fish/container. The study used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications, namely soaking noni leaf extract for 30 minutes. Data analysis using Analysis of Variance (ANOVA). The results showed that the administration of noni leaf extract had a significant effect on the intensity (ind/head) and % ectoparasites prevalence but the survival rate (SR) of tilapia (Oreochromis niloticus). From the research results found 7 types of ectoparasites namely Chilodonella sp, Oodinium sp. Gyrodactylus sp, Vorticella sp, Epistilis sp, Argulus sp, and Tricodina sp. Treatment B 20% immersion and C 30% immersion gave the best intensity and prevalence values with intensity values of 1.7 ind/head and 1.8 ind/head. As well as prevalence values of 88.87% and 44.40%
Kandungan Nutrisi dan Bioaktif Rumput Laut (Euchema cottonii) dengan Metode Rakit Gantung pada Kedalaman Berbeda: Nutrition and Bioactive Compound of Seaweed (Euchema cottonii) with Hanging Raft Method at Different Depths
Many manufacture industries such as food, cosmetic, pharmaceutical, textile and agricultural industries utilize raw materials derived from seaweed. Agar, carrageenan, and alginate are often used as stabilizers, manufacturing materials, forming gels and emulsifiers. The nutrient levels and bioactive compounds in seaweeds are generally different depends on species, handling, culture period, and the culture location. This research was aimed to determine the depth of seaweed (Eucheuma cottonii) raft resulting in high nutrient content and bioactive compounds. Three groups were evaluated: Group I (from coastline to the lowest tidal); Group II (100 m from the lowest tidal) and group III (100 m away from group II). E. cottonii rafts were built in each group at 0.5 m, 1 m, and 2 m deep. Nutrient content including protein, lipid, and carbohydrate levels as well as bioactive compounds were determined. The highest nutrient content was found in seaweed growth in the 1 m deep hanging raft with protein of 4.16±0.61%, lipid 0.36±0.23%, and carbohydrate 25,50±6.06%. Phytochemical compounds including flavonoids, phenols hydroquinone, and tannins were identified in seaweed at all depths.Industri makanan, kosmetik, farmasi, tekstil, dan pertanian memanfaatkan bahan baku yang berasal dari rumput laut sebagai sumber agar, karagenan, dan alginat yang digunakan sebagai stabilisator, pengental, pembentuk gel, pengemulsi, dan sebagainya. Kadar nutrisi dan senyawa bioaktif rumput laut bervariasi tergantung jenis, penanganan, umur panen, dan lokasi perairan sebagai tempat budidayanya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kedalaman rakit gantung yang optimal dalam menghasilkan nutrisi dan senyawa bioaktif rumput laut (Eucheuma cottonii). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dan masing-masing kelompok terdri dari tiga perlakuan. Pengelompokan berdasarkan jarak dari garis pantai terdiri atas tiga kelompok yaitu: kelompok I (mulai dari garis pantai sampai surut terendah; kelompok II (100 m dari garis surut terendah) dan kelompok III (100 m dari kelompok II) dengan 3 perlakuan kedalaman yang berbeda yakni kedalaman 0,5 m, 1 m, dan 2 m. Parameter yang diuji adalah kadar protein, lemak, abu, air, dan karbohidrat serta senyawa bioaktif. Kandungan nutrisi yang tertinggi terdapat pada penempatan rakit gantung kedalaman 1 m yaitu protein sebesar 4,16±0,61%, lemak 0,36±0,23%, air 23,22±16,49%, abu 43,49±9,23% dan karbohidrat 25,50±6,06%. Sedangkan senyawa fitokimia pada semua kedalaman dan kelompok mengandung flavonoid, fenol hidrokuinon, dan tanin. Parameter kualitas air semua berada pada kisaran yang layak untuk pertumbuhan E.cottonii, kecuali kadar fosfat yang berkisar 0,0037–0,0041 ppm
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
