77 research outputs found

    Endophytic Bacterial Consortium Originated From Forestry Plant Roots and Their Nematicidal Activity Against Meloidogyne Incognita Infestation in Greenhouse

    No full text
    Yield loss due to root-knot nematode Meloidogyne incognita infection is reported to reach 35%, depends on factors contributing to infection. Application of several endophytic bacterial isolates (bacterial consortium) to control pathogenic infection is reported to be more effective compared to the application of single bacterial isolate. This study was aimed to obtain endophytic bacterial consortium originated from forestry plant that is effective to control root-knot nematode. The study was conducted through bacterial isolation followed by biosafety test. Bacterial isolates that were found to be safe for plants and mammals and compatible with each other were further grouped as the endophytic bacterial consortium. Phenotypic characterization and physiological characteristics including Gram type, ability to produce protease, chitinase, and lipase enzymes as well as HCN volatile compound were also tested. Moreover, the ability to fix nitrogen and dissolve phosphate were also examined. The endophytic bacterial consortium consisted of several bacterial isolates was further tested for its ability to inhibit M. incognita egg hatching and increase J2 of M. incognita mortality in vitro. Furthermore, test on tomato plants infested with 500 J2 of M. incognita was also performed in the greenhouse. Test results showed that 70 bacterial isolates were successfully isolated from Shorea sp., Swietenia sp., Albizia falcataria, Anthocephalus cadamba, and Juglans nigra. However, 34 bacterial isolates were observed to be safe (did not cause hypersensitivity reaction and did not produce hemolytic toxin). According to physiological characteristics, it was found that 25 isolates were able to produce protease enzyme, 26 isolates were able to produce chitinase enzyme, and 14 isolates were able to produce lipase enzyme. Moreover, it was also detected that 11 isolates were able to produce HCN volatile compound, 23 isolates were able to fix nitrogen (N), and 24 isolates were able to dissolve phosphate (P). Endophytic bacterial consortium obtained in this study was also observed to be able to inhibit M. incognita egg hatching up to 81.33% and increase J2 of M. incognita mortality up to 85% compared to control. In addition, the application of endophytic bacterial consortium was 1172 Abdul Munif, Supramana, Elis Nina Herliyana, Ankardiansyah Pandu Pradana also able to increase the growth of tomato plant infected with M. incognita, and suppress the severity of the root-knot disease. This study provided information that endophytic bacterial consortium originated from forestry plants has the potential as a biocontrol agent of M. incognita

    Pengaruh Aphelenchoides besseyi Christie Terhadap Pertumbuhan Vegetatif Padi Varietas IPB 3S

    No full text
    Padi (Oryza sativa L) merupakan komoditas makanan pokok sebagian besar penduduk dunia termasuk Indonesia. Beberapa penyakit dapat menurunkan produktivitas tanaman padi, salah satunya adalah penyakit pucuk putih (white tip). Pucuk putih yang disebabkan nematoda Aphelenchoides besseyi dilaporkan dapat menurunkan pertumbuhan vegetatif dan generatif serta produksi padi hingga 54%. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh infeksi A. besseyi terhadap pertumbuhan vegetatif pada padi varietas IPB 3S di Purwakarta, Jawa Barat. Pengamatan gejala pucuk putih dilakukan terhadap tanaman berumur 60 hari pada empat petak sawah dengan pola tanam yang berbeda, yaitu jajar legowo 2:1, jajar legowo 4:1, tegel, dan tegel minapadi. Jumlah tanaman contoh 50 per petak yang diamati dengan pola diagonal. Peubah yang diamati adalah jumlah tanaman padi bergejala dan tidak bergejala, pengukuran tinggi tanaman padi, dan penghitungan jumlah anakan. Tanaman bergejala pucuk putih lebih pendek dengan jumlah anakan yang lebih sedikit. Tingkat kejadian penyakit pucuk putih pada pola tanam tegel paling tinggi dibandingkan pola tanam lainnya, diikuti berturut-turut jajar legowo 4:1, jajar legowo 2:1, dan tegel minapadi

    Pengaruh Lama Penyimpanan Benih terhadap Populasi Nematoda Aphelenchoides besseyi Christie dan Vigor Bibit Padi

    No full text
    Padi adalah bahan makanan pokok bagi lebih dari separuh penduduk dunia. Salah satu penyakit pada padi adalah pucuk putih yang disebabkan oleh nematoda Aphelenchoides besseyi. Nematoda dapat bertahan hidup pada benih padi selama 2-3 tahun di penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan benih terhadap populasi A. besseyi dan vigor tanaman padi. Penelitian dilakukan pada kultivar Ciherang, Inpari 1, dan Inpari 6 yang disimpan di gudang sejak tahun 2014, 2015, dan 2016. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Peubah yang diamati adalah populasi nematoda, kejadian penyakit pucuk putih, daya berkecambah, tinggi bibit, dan berat kering angin bibit. Lama penyimpanan benih padi menyebabkan penurunan jumlah A. besseyi. Penyimpanan benih padi hingga 3 tahun tidak menyebabkan penurunan viabilitas A.besseyi walaupun mengurangi daya berkecambah

    Tingkat Infestasi Aphelenchoides besseyi pada Benih Padi di Bogor

    Get PDF
    The white tip disease on rice plants have been discovered in the district of Bogor, i.e. in  Sukamakmur, Petir, and Muara Experimental Station areas. The infected plant exhibited symptoms, involving whiten leaf tip 3–5 cm that later  turn to necrosis, twisted and crinkled. The disease is supposed caused by a parasitic nematode, namely Aphelenchoides besseyi, which is known seed borne. Extraction of nematodes based on  ISTA protocols on rice was conducted.  Seeds from eight varieties, SL8SHS, Hybrid Rice (HIPA14), IPB 3S, IR-64, Pertiwi (Pak Tiwi), Inpari 31, Pandan Wangi Bogor (Sintanur) and Ciherang, was obtained from seed vendors in Bogor and Muara Experimental Station. The majority of nematodes recovered were females and only few males with morphological characteristics matching with A. besseyi.  All seed rice varieties tested contained A. besseyi with the average of 3–341 nematodes per 5 g seed.

    Pengaruh Perlakuan Air Panas Terhadap Mortalitas dan Kerusakan Morfologi Nematoda Aphelenchoides besseyi Christie

    No full text
    Aphelenchoides besseyi merupakan nematoda parasit penting padi dan bersifat terbawa benih. A. besseyi dikenal sebagai penyebab penyakit pucuk putih (white tip) dengan gejala batang kerdil dan nekrotik ujung daun berwarna putih. Salah satu pengendalian yang dapat dilakukan yaitu perlakuan secara fisik dengan perendaman benih dalam air panas. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perlakuan air panas terhadap mortalitas dan kerusakan morfologi nematoda. Benih yang digunakan untuk diekstraksi yaitu varietas Pak Tiwi-1. Perlakuan air panas dimulai dengan melakukan uji pendahuluan terhadap suhu 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, dan 59 °C dengan tiga ulangan selama 20 menit tiap perlakuan. Setelah menemukan suhu optimum dilakukan uji waktu optimum dengan masing-masing waktu perlakuan yaitu 5, 10, dan 15 menit dengan ulangan sebanyak 3 kali. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap dengan analisis ragam dan jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Tukey (α=5%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perendaman air panas terhadap nematoda pada suhu 53 °C selama 20 menit efektif dalam menurunkan populasi A. besseyi, dengan mortalitasnya 100% tanpa mengganggu viabilitas benih. Pengaruh perendaman terhadap kerusakan morfologi terlihat meningkat mulai suhu 45 °C hingga 59 °C, terjadi lisis pada dinding tubuh, stilet, bulbus median, saluran esofagus, alat kelamin, anus, dan mukro

    Deteksi dan Identifikasi Nematoda Terbawa Benih Padi Aphelenchoides besseyi Christie di Lampung

    No full text
    tip) yang disebabkan oleh nematoda Aphelenchoides besseyi adalah organisme pengganggu tanaman (OPT) utama tanaman padi yang relatif baru di Indonesia dengan penyebaran terbatas yaitu Organisme Pengganggu Tanaman Karantina Katagori A2 (OPTK A2). Penelitian ini bertujuan melakukan deteksi dan identifikasi A. besseyi pada benih padi yang berasal dari kios pertanian dan yang diproduksi petani lokal di Kabupaten Lampung Barat dan Pesisir Barat Provinsi Lampung. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan delapan perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan tersebut adalah jenis benih padi, enam sampel benih komersil yang didapat dari kios pertanian di daerah Lampung Barat dan Pesisir Barat, serta dua sampel benih perbanyakan petani lokal di Lampung Barat. Sampel diekstraksi dengan metode modifikasi corong Baermann, kemudian dilakukan pengamatan berupa penghitungan populasi dan identifikasi morfologi. A. besseyi ditemukan pada semua varietas padi, baik yang berasal dari kios pertanian maupun hasil perbanyakan petani. Nematoda berhasil diekstraksi dari benih Ciherang, Mekongga, IR-42 di Kabupaten Lampung Barat dan Ciherang, IR-64, Mekongga, di Kabupaten Pesisir Bara

    Hubungan Populasi Awal Dan Tingkat Kejadian Penyakit Nematoda Terbawa Benih Padi (Aphelenchoides Besseyi Christie)

    No full text
    Nematoda Penyebab Penyakit Pucuk Putih (Aphelenchoides Besseyi) Merupakan Salah Satu Parasit Penting Pada Padi Karena Mampu Menurunkan Produksi Hingga 54%. Nematoda Ini Mampu Bertahan Dan Disebarkan Melalui Benih. Oleh Karena Itu, Jumlah Nematoda Yang Terbawa Pada Benih Akan Memengaruhi Kejadian Penyakit Di Pertanaman. Akan Tetapi, Informasi Mengenai Hubungan Antara Jumlah A. Besseyi Dan Kejadian Penyakit Pucuk Putih Pada Padi Belum Dilaporkan Di Indonesia. Penelitian Ini Bertujuan Untuk Mengevaluasi Hubungan Populasi Awal A. Besseyi Dengan Tingkat Kejadian Penyakit Pucuk Putih Pada Lima Kultivar Padi Di Indonesia, Yaitu Pada Kultivar Ciherang, Hipa 14,Ipb 3s, Pertiwi-1, Dan Sintanur. Penelitian Ini Dilakukan Pada Kondisi Rumah Kaca Dan Disusun Dalam Rancangan Percobaan Petak Terbagi Acak Lengkap Dengan Empat Ulangan. Peubah-Peubah Yang Diamati Adalah Tingkat Kejadian Penyakit, Perkembangan Gejala, Daya Kecambah Benih, Dan Pertumbuhan Tanaman. Populasi Awal A. Besseyi Berkorelasi Positif Dengan Tingkat Kejadian Penyakit, Menurunkan Vigor Tanaman, Tetapi Tidak Menurunkan Daya Kecambah Benih

    Identifikasi Nematoda Aphelenchoides fragariae pada Bawang Merah (Allium ascalonicum) dari Pasar Kemang Bogor dan Kabupaten Brebes

    No full text
    Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu penyedap dan obat tradisional. Beberapa genus nematoda parasit, antara lain Ditylenchus dan Aphelenchoides, merupakan nematoda terbawa umbi yang sangat merusak tanaman bawang dan belum banyak dilaporkan keberadaannya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi nematoda Aphelenchoides fragariae yang terdapat pada umbi bawang merah di Pasar TU Kemang Bogor dan Kabupaten Brebes berdasarkan karakter morfologi nematoda. Penelitian dilakukan dengan pengambilan sampel umbi bawang merah dari Pasar TU Kemang Bogor dan empat pengepul/petani di Kabupaten Brebes, pendataan sampel, ekstraksi nematoda, perhitungan populasi nematoda, pembuatan preparat permanen nematoda, dan identifikasi nematoda. Ekstraksi nematoda dilakukan dengan metode perendaman air dingin dan pengabutan (mist chamber) untuk sampel umbi serta flotasi-sentrifugasi untuk sampel tanah. Identifikasi nematoda dilakukan dengan pengamatan ciri morfologi kunci, antara lain morfologi anterior, organ reproduksi, dan posterior terutama bentuk ujung ekor (mucro). Nematoda parasit berhasil dideteksi pada sampel umbi bawang dari Pasar TU Kemang Bogor dengan jumlah rata-rata 217 nematoda/20 g umbi. Berdasarkan ciri morfologi kunci, antara lain bentuk bibir, stilet, esofagus, ujung ekor/mucro, serta bentuk spikula jantan, berhasil diidentifikasi Aphelenchoides fragariae. Nematoda yang sama tidak berhasil dideteksi dari sampel umbi bawang merah dan tanah asal Kabupaten Brebes

    Deteksi dan Identifikasi Spesies Meloidogyne pada Tanaman Wortel dari Dataran Tinggi Malino, Gowa, Sulawesi Selatan

    Get PDF
    Meloidogyne spp. was reported as the cause of branched tuber disease on several carrot production areas in Java, Indonesia and may potentially cause yield loss. This research aimed to use morphological and molecular characters to detect and identify Meloidogyne species on carrot from Malino Highland, Sub-district of Tinggimoncong, District of Gowa, South Sulawesi. Morphological identification was done based on character of the female perineal pattern. Molecular identification was based on amplification of r-DNA by polymerase chain reaction technique using species specific primers (Fjav/Rjav for M. javanica, Far/Rar for M. arenaria, and Finc/Rinc for M. incognita) and multiplex primer (JMV1/JMVhapla/JMV2 for M. hapla, M. chitwoodi, and M. fallax).Two of Meloidogyne species, i.e. M. incognita and M. arenaria were detected associated with the incidence of carrot branched tuber. The specific primers amplified two DNA bands, i.e. ± 999 bp of M. incognita and ± 420 bp of M. arenaria, while multiplex primer was failed to amplify DNA bands. Nucleotide sequence analysis showed M. incognita isolate of Malino was closely related to M. incognita isolate from Bangka-Indonesia, China (isolate JS2), and Malaysia (isolates JIK4, FIK4, JIT19, and FIT19) with homology of 99.2–100.0%. The nucleotide sequences of M. arenaria from Malino was submitted to GenBank with accession number KP234264, which was the first nucleotide sequence data in GenBank

    Deteksi dan Identifikasi Spesies Meloidogyne Penyebab Umbi Berbintil pada Kentang Asal Sulawesi Utara

    Get PDF
    Root-knot nematode (Meloidogyne spp.). is one of the main constraint of potato production in North Sulawesi.  Little is known about Meloidogyne species infecting potatoes in North Sulawesi.  Therefore, research was conducted to identify Meloidogyne spp. on potatoes in North Sulawesi and further study their relationship with related species from other countries.  Infected potato tubers with pimple-like knot symptom were collected from three potato production centers, i.e. Kakenturan (South Minahasa), Purworejo (East Bolaang Mongondow) and Singsingon (…?? Bolaang Mongondow).  Morphological identification was conducted based on the perineal pattern of  the female; whereas molecular identification was conducted by PCR using specific primer for ITS-rDNA, followed by DNA sequencing and phylogenetic analysis. Two Meloidogyne species were identified i.e.  M. javanica (samples form Kakenturan, Purworejo and Singsingon) and M. incognita (samples from Purworejo). M. javanica and M. incognita from North Sulawesi are similar to the related species from China with homology level of 97.5 % and 100 %, respectively
    corecore