1,720,960 research outputs found
Monitoring klasifikasi pembusukan ikan air tawar menggunakan array sensor hidung elektronik berbasis 5 sensor gas
Dalam pengembangannya, teknologi ini mengandalkan metode Principal Component Analysis (PCA) untuk analisis data, memungkinkan pengelompokan sampel ikan berdasarkan waktu pembusukan dengan tingkat akurasi yang tinggi. Proses ini memanfaatkan dimensi data yang direduksi untuk memvisualisasikan pola pembusukan dengan lebih mudah. Penelitian ini berhasil mengembangkan hidung elektronik berbasis sensor gas untuk memonitor kesegaran ikan air tawar. Alat ini dirancang dengan memanfaatkan lima sensor gas tipe MQ dan TGS yang sensitif terhadap senyawa kimia spesifik, memungkinkan deteksi tingkat pembusukan ikan secara lebih presisi dibanding metode konvensional. Penambahan ragi pada sampel ikan mempercepat proses pembusukan, memberikan perbedaan pola yang jelas dalam hasil analisis. Data ini mengindikasikan bahwa hidung elektronik dapat mendeteksi pengaruh bahan tambahan dengan akurasi tinggi, mendukung aplikasi alat dalam berbagai kondisi industri . Sensor-sensor yang digunakan, seperti TGS 822 dan MQ 137, memberikan respons signifikan terhadap senyawa volatil yang dihasilkan selama pembusukan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa dua komponen utama (PC1 dan PC2) berhasil mencakup hingga 99% variansi data, menegaskan keandalan metode yang digunakan
Monitoring klasifikasi pembusukan ikan air tawar menggunakan array sensor hidung elektronik berbasis 5 sensor gas (sertifikat hak cipta)
Penelitian ini berfokus pada pengembangan hidung elektronik (E-Nose) berbasis sensor gas sebagai alat untuk memonitor kesegaran ikan air tawar secara efektif dan efisien. Dengan memanfaatkan lima jenis sensor gas tipe MQ dan TGS, alat ini dirancang untuk mendeteksi senyawa volatil yang dihasilkan selama proses pembusukan ikan. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA), yang mampu mengidentifikasi pola pembusukan berdasarkan komponen utama data.Alat ini digunakan untuk memonitor kesegaran ikan dalam dua kondisi, yaitu dengan dan tanpa penambahan ragi, selama interval waktu hingga 48 jam. Penambahan ragi terbukti mempercepat proses pembusukan dan memberikan pola data yang berbeda, yang dapat terdeteksi secara jelas oleh hidung elektronik. Hasil analisis menunjukkan bahwa PCA mampu mengelompokkan data dengan akurasi tinggi, dengan dua komponen utama mencakup hingga 99% variansi total.
Keunggulan alat ini terletak pada kemampuannya untuk memberikan hasil cepat, akurat, dan murah dibandingkan metode konvensional yang sering membutuhkan waktu dan biaya tinggi. Hal ini menjadikan hidung elektronik solusi yang potensial bagi industri perikanan untuk meningkatkan pengendalian kualitas produk, mencegah kerugian ekonomi, serta menjaga keamanan pangan. Dalam aplikasinya, alat ini tidak hanya relevan untuk mendeteksi kesegaran ikan, tetapi juga berpotensi digunakan dalam evaluasi produk pangan lainnya. Melalui alat ini, konsumen dapat lebih percaya pada kualitas produk, dan produsen dapat menjaga reputasi serta memperluas pasar dengan menjamin kesegaran produk mereka.
Penelitian ini juga memiliki nilai strategis dalam konteks ketahanan pangan nasional, mendukung pengembangan teknologi alternatif yang murah dan cerdas. Sebagai bagian dari roadmap penelitian yang telah berlangsung sejak 2011, pengembangan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan pada peningkatan mutu dan daya saing industri perikanan di Indonesia. Untuk pengembangan selanjutnya, direkomendasikan integrasi teknologi machine learninguntuk analisis data yang lebih kompleks serta peningkatan sensitivitas sensor. Dengan langkah ini, hidung elektronik dapat menjadi alat yang lebih fleksibel dan bermanfaat tidak hanya untuk perikanan tetapi juga berbagai sektor industri pangan lainny
Monitoring klasifikasi pembusukan ikan air tawar menggunakan array sensor hidung elektronik berbasis 5 sensor gas
Dalam pengembangannya, teknologi ini mengandalkan metode Principal Component Analysis (PCA) untuk analisis data, memungkinkan pengelompokan sampel ikan berdasarkan waktu pembusukan dengan tingkat akurasi yang tinggi. Proses ini memanfaatkan dimensi data yang direduksi untuk memvisualisasikan pola pembusukan dengan lebih mudah. Penelitian ini berhasil mengembangkan hidung elektronik berbasis sensor gas untuk memonitor kesegaran ikan air tawar. Alat ini dirancang dengan memanfaatkan lima sensor gas tipe MQ dan TGS yang sensitif terhadap senyawa kimia spesifik, memungkinkan deteksi tingkat pembusukan ikan secara lebih presisi dibanding metode konvensional. Penambahan ragi pada sampel ikan mempercepat proses pembusukan, memberikan perbedaan pola yang jelas dalam hasil analisis. Data ini mengindikasikan bahwa hidung elektronik dapat mendeteksi pengaruh bahan tambahan dengan akurasi tinggi, mendukung aplikasi alat dalam berbagai kondisi industri . Sensor-sensor yang digunakan, seperti TGS 822 dan MQ 137, memberikan respons signifikan terhadap senyawa volatil yang dihasilkan selama pembusukan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa dua komponen utama (PC1 dan PC2) berhasil mencakup hingga 99% variansi data, menegaskan keandalan metode yang digunakan
Monitoring klasifikasi pembusukan ikan air tawar menggunakan array sensor hidung elektronik berbasis 5 sensor gas (sertifikat hak cipta)
Penelitian ini berfokus pada pengembangan hidung elektronik (E-Nose) berbasis sensor gas sebagai alat untuk memonitor kesegaran ikan air tawar secara efektif dan efisien. Dengan memanfaatkan lima jenis sensor gas tipe MQ dan TGS, alat ini dirancang untuk mendeteksi senyawa volatil yang dihasilkan selama proses pembusukan ikan. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA), yang mampu mengidentifikasi pola pembusukan berdasarkan komponen utama data.Alat ini digunakan untuk memonitor kesegaran ikan dalam dua kondisi, yaitu dengan dan tanpa penambahan ragi, selama interval waktu hingga 48 jam. Penambahan ragi terbukti mempercepat proses pembusukan dan memberikan pola data yang berbeda, yang dapat terdeteksi secara jelas oleh hidung elektronik. Hasil analisis menunjukkan bahwa PCA mampu mengelompokkan data dengan akurasi tinggi, dengan dua komponen utama mencakup hingga 99% variansi total.
Keunggulan alat ini terletak pada kemampuannya untuk memberikan hasil cepat, akurat, dan murah dibandingkan metode konvensional yang sering membutuhkan waktu dan biaya tinggi. Hal ini menjadikan hidung elektronik solusi yang potensial bagi industri perikanan untuk meningkatkan pengendalian kualitas produk, mencegah kerugian ekonomi, serta menjaga keamanan pangan. Dalam aplikasinya, alat ini tidak hanya relevan untuk mendeteksi kesegaran ikan, tetapi juga berpotensi digunakan dalam evaluasi produk pangan lainnya. Melalui alat ini, konsumen dapat lebih percaya pada kualitas produk, dan produsen dapat menjaga reputasi serta memperluas pasar dengan menjamin kesegaran produk mereka.
Penelitian ini juga memiliki nilai strategis dalam konteks ketahanan pangan nasional, mendukung pengembangan teknologi alternatif yang murah dan cerdas. Sebagai bagian dari roadmap penelitian yang telah berlangsung sejak 2011, pengembangan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan pada peningkatan mutu dan daya saing industri perikanan di Indonesia. Untuk pengembangan selanjutnya, direkomendasikan integrasi teknologi machine learninguntuk analisis data yang lebih kompleks serta peningkatan sensitivitas sensor. Dengan langkah ini, hidung elektronik dapat menjadi alat yang lebih fleksibel dan bermanfaat tidak hanya untuk perikanan tetapi juga berbagai sektor industri pangan lainny
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
