1,720,990 research outputs found

    Efek Pemberian Calcitriol [1,25(OH)2D3] Terhadap Diferensiasi Dan Produksi Interleukin-12p70 Pada Sel Dendritik Pasien Lupus Eritematosus Sistemik

    No full text
    Latar Belakang: Calcitriol [1,25(OH)2D3] memiliki kemampuan dalam mengontrol penyakit autoimun karena mempunyai efek terhadap regulasi respon imun, diantaranya menurunkan aktivasi sel dendritik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian vitamin D terhadap diferensiasi dan produksi IL-12p70 pada sel dendritik pasien LES dengan hipovitamin D. Metode: Rancangan penelitian bersifat Eksperimental Design dengan menggunakan post test only group design. Sampel berupa sel monosit yang berasal dari 5 orang pasien LES Hipovitamin D. Kelompok penelitian dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu P0 (tanpa 1,25(OH)2D3) sebagai kelompok kontrol dan P1 (1,25(OH)2D3 dosis 1 nM), P2 (1,25(OH)2D3 dosis 10 nM), P3 (1,25(OH)2D3 dosis 100 nM) sebagai kelompok perlakuan. Dilakukan analisa surface activation markers CD40, CD86, dan HLA-DR untuk menilai diferensiasi sel dendritik serta pengukuran kadar IL-12p70 menggunakan metode ELISA untuk menilai produksi sitokin IL-12p70. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p=0.051) antara ekspresi CD40 pada dosis kontrol (42.43±6.32%) dibandingkan dosis 1 nM (36.87±5.60%), 10 nM (31.66±6.43%), dan 100 nM (38.77±9.17%). Terdapat perbedaan bermakna (p=0,018) ekspresi CD86 pada kelompok dosis 10 nM (29.93±7.28%) terhadap kontrol (53.52±13.40%). Terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p=0.550) pada antara ekspresi HLA-DR pada dosis kontrol (39.53±17.74%) dibandingkan dengan dosis 1 nM (34.74±17.45%), 10 nM (27.69±14.77%), dan 100 nM (31.97±17.08%). Terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p=0.081) antara kadar IL-12p70 pada dosis kontrol (57.14±16.90%) dibandingkan dengan dosis 1 nM (44.10+25.13%), 10 nM (28.86±6.77%), dan 100 nM (48.52±15.92%). Terdapat korelasi positif yang bermakna antara ekspresi CD86 terhadap kadar IL-12p70 (p=0.015; r=0.536). Kesimpulan: Calcitriol [1,25(OH)2D3] merupakan metabolit aktif vitamin D yang dapat berperan sebagai imunomodulator pada sel dendritik pasien LES dengan cara menurunkan ekspresi CD86

    GAMBARAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PNEUMONIA DENGAN MENGGUNAKAN METODE GYSSENS DI RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) H. ABDUL MOELOEK TAHUN 2015

    Full text link
    Latar Belakang: Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. Etiologi pneumonia berbeda-beda pada berbagai tipe dari pneumonia, hal ini berdampak kepada antibiotik yang akan diberikan. Gyssens mengembangkan evaluasi penggunaan antibiotik untuk menilai ketepatan penggunaan antibiotik yang meliputi ketepatan indikasi, ketepatan pemilihan berdasarkan efektivitas, toksisitas, harga dan spektrum, lama pemberian, dosis, interval, rute dan waktu pemberian.Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia dengan menggunakan metode gyssens di Instalasi Rawat Inap RSUD H Abdul Moeloek tahun 2015.Metode Penelitian: Non eksperimental dengan rancangan penelitian secara deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah pasien dengan diagnosa pneumonia yang menjalani rawat inap dalam catatan rekam medik selama tahun 2015 di RSUD Abdul Moeloek sebnayak 108 orang, sampel sebanyak 85 orang. Data yang diperoleh dianalisis secara deskripstif non analitik kemudian dibandingkan dengan Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Pneumonia Indonesia tahun 2003Hasil Penelitian: Penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia dengan menggunakan metode gyssens di Instalasi Rawat Inap RSUD H Abdul Moeloek tahun 2015 yang rasional sebesa 44,7%, sedangkan yang tidak rasional adalah sebesar 55,3%.Kesimpulan: Penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia dengan menggunakan metode gyssens di Instalasi Rawat Inap RSUD H Abdul Moeloek tahun 2015 yang rasional sebesa 44,7%, sedangkan yang tidak rasional adalah sebesar 55,3%

    HUBUNGAN LAMA PEMAKAIAN KONTRASEPSI PIL KB DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA WANITA USIA SUBUR DI BPS ADE YULIANTI AMd.Keb DESA PARUNGSARI KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN TAHUN 2015

    Full text link
    Hipertensidijumpaipada 2-4%wanita pemakai pil kontrasepsi, terutama yangmengandung etilestradiol (Zat Steroida yang terkandung dalam hormon estrogen).Kejadianhipertensimeningkatsampai2-3kalilipatsetelah4tahunpenggunaanpilkontrasepsi yangmengandungestrogen.Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan lama pemakaian kontrasepsi pil KB dengankejadian hipertensi pada wanita usia subur di BPS Ade Yulianti AMd.Keb Desa ParungsariKabupaten Lebak Provinsi Banten tahun 2015.Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.Populasi adalah akseptor Pil KB di BPS Ade Yulianti AMd.Keb Desa Parungsari KabupatenLebak Provinsi Banten sebanyak 175 orang, sampel diambil sebanyak 122 orang. Analisis datayang digunakan adalah uji chi square.Hasil Penelitian: Sebagian besar lama pemakaian kontrasepsi pil KB pada wanita usia subur diBPS Ade Yulianti AMd.Keb Desa Parungsari Kabupaten Lebak Provinsi Banten tahun 2015adalah ≤ 2 tahun yaitu sebanyak 62 orang (50,8%). Kejadian hipertensi pada wanita usia suburdi BPS Ade Yulianti AMd.Keb Desa Parungsari Kabupaten Lebak Provinsi Banten tahun 2015sebanyak 45 orang (36,9%). Ada hubungan lama pemakaian kontrasepsi pil KB dengankejadian hipertensi pada Wanita Usia Subur di BPS Ade Yulianti AMd.Keb Desa ParungsariKabupaten Lebak Provinsi Banten tahun 2015 dengan p-value = 0,000 dan OR = 7,280.Kesimpulan: Ada hubungan lama pemakaian kontrasepsi pil KB dengan kejadian hipertensipada Wanita Usia Subur di BPS Ade Yulianti AMd.Keb Desa Parungsari Kabupaten LebakProvinsi Banten tahun 2015Kata Kunci

    HUBUNGAN STATUS ANTROPOMETRI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA SISWI KELAS II MADRASAH ALIYAH DI PERGURUAN DINIYYAH PUTRI KABUPATEN PESAWARAN TAHUN 2014

    Full text link
    Latar Belakang: Salah satu indikator untuk melihat status gizi remaja adalah pengukuran tidak langsungmenggunakan status antropometri untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi, ketidakseimbangan initerlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh. Memahamistatus antropometri penting karena dapat menggambarkan kondisi suplai asupan dan kebutuhan gizi.Tujuan penelitian: Untuk mengetahui hubungan status antropometri dengan kadar hemoglobin pada siswi kelas IIMadrasah Aliyah di Perguruan Diniyyah Putri Kabupaten Pesawaran tahun 2014.Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah analitik korelatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional.Populasi penelitian adalah seluruh siswi kelas II Madrasah Aliyah di Perguruan Diniyyah Putri Kabupaten Pesawaransebesar 66 orang dengan sampel 66 responden. Analisis data bivariat yang digunakan dalam penelitian ini adalah chiSquare dengan uji kemaknaan 95%Hasil Penelitian: Status antropometri termasuk dalam kategori kurang baik yaitu sebanyak 34 orang (51,5%) danyang mengalami anemia sebanyak 40 orang (60,6%). Hasil uji statistik didapatkan ada hubungan status antropometridengan kadar hemoglobin pada siswi kelas II Madrasah Aliyah di Perguruan Diniyyah Putri Kabupaten Pesawaran tahun2014 dengan p-value = 0,000 dan OR = 4,000.Kesimpulan: Ada hubungan status antropometri dengan kadar hemoglobin pada siswi kelas II Madrasah Aliyah diPerguruan Diniyyah Putri Kabupaten Pesawaran tahun 2014

    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TER HADAP KEPATUHAN MINUM OBAT ANTI FILARIASIS DIKABUPATEN BOGOR

    Full text link
    Filariasis (penyakit kaki gajah) adalahpenyakit penular yang disebabkan cacingfilaria yang ditularkan oleh berbagai jenisnyamuk. Penyakit ini bersifat kronik(menahun) dan bila tidak mendapatkanpengobatan menimbulkan cacat menetapberupa pembesaran kaki, lengan dan alatkelamin. Salah satu cara mencegah filariasisadalah dengan cara mengkonsumsi obat DEC3 butir dan 1 butir albendazol setiap tahun.Keefektifan program sangat tergantung padasikap dan prilaku yang menunjukkankepatuhan masyarakat dalam minum obattersebut. Penelitian ini berjutuan untukmengetahui faktor-faktor yang mempengaruhisikap dan prilaku masyarakat terhadapkepatuhan minum obat anti filariasis diKabupaten Bogor Desa Bojong Gede dalamkepatuhan kepatuhan mengkomsi obat AbtiFilaria, sedangkan tujuan khususnya adalahuntuk mengetahui faktor pendidikan,pendapatan, dan penegetahuan. Penelitian inimenggunakan desain crossectional denganpendekatan kuantitatif dan bersifatretrospektif. Jumlah sampel 65 orang (33 lakilakidan 32 perempuan). Teknik pengambilansampel dengan menggunakan total sampling.Analisis data yang dilakukan yang dilakukanadalah univariat, dan bivariat menggunakanperson correlation, sperman correlation danchi square. Berdasarkan hasil univariat diketahui bahwa responden perempuan (49,2%),Dewasa sebesar (69,2%), BerpendidikanMenengah sebesar (50,8%), Berpendapatancukup sebesar (24,6%), dan berpengetahuancukup sebesar (56,9%). Hasil bivariatmenunjukkan bahwa tidak ada faktor yangberpengaruh terhadap sikap dan prilaku.Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankanuntuk masyarakat rw 02 Kabupaten BogorDesa Bojong Gede agar mengubah waktu danpelaksaan program, serta lebih memperluaspendidikan kesehatan kesemua kelompokumur

    GAMBARAN PENGGUNAAN KORTIKOSTEROID SISTEMIK JANGKA PANJANG TERHADAP KEJADIAN KATARAK DI POLI MATA RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN BANDAR LAMPUNG

    Full text link
    Kortikosteroid merupakan anti inflamasi yang identik dengan kortisol, hormon steroid alami pada manusia yang disintesin dan disekresi oleh korteks adrenal.Efek samping dari terapi kortikosteroid ini baik kortikosteroid topikal maupun sistemik dapat timbul akibat pemberian yang terus menerus terutama dalam dosis yang besar diantaranya seperti osteoporosis, katarak, gejala Cushingoid, dan gangguan kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi frekuensi pasien katarak yang memiliki riwayat penggunaan Kortikosteroid sistemik jangka panjang di Poli Mata Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung Februari 2016.Jenis penelitian ini menggunakan metode survey descriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 127 diambil menggunakan proportional random sampling.Hasil penelitian pada distribusi frekuensi karakteristik responden didapatkan (7,10%) responden mengalami jenis katarak Trauma, (18,9 %) responden mengalami jenis katarak yang disebabkan oleh Diabetes Melitus, (0,7 %) responden megalami katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jenis steroid, (73,3 %) responden mengalami jenis katarak yang lainnya. (31,5 %) responden menggunakan kortikosteroid, (68,5 %) responden tidak menggunakan kortikosteroid. (97,5 %). Kesimpulan: Walaupun hanya 31,5% yang menggunakan terapi kortikosteroid pada pasien katarak hal ini harus tetap diperhatikan oleh para klinisi dalam pengelolaan pasien pemakai terapi kortikosteroid jangkan panjang

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Gambaran Klinis Pasien Apendisitis Akut dengan Menggunakan Penilaian Tzanakis Skor dan Alvarado Skor di RSUD DR H Abdul Moeloek Bandar Lampung Tahun 2014

    Full text link
    Kejadian apendisitis di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung pada tahun 2014 setiap bulannya termasuk 10 penyakit tersering.Masalah baru muncul ketika nyeri tekan perut kanan bawah tidak memastikan adanya apendisitis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran klinis pasien apendisitis akut menggunakan penilaian Tzanakis skor dan Alvarado skor di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung tahun 2014. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan studi rekam medik. Populasi adalah seluruh data pasien apendisitis di ruang rawat inap bedah Mawar dan Kutilang RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung Tahun 2014 sebanyak 94 orang. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan menggunakan tabel dalam penyajian data. Hasil penelitian terdapat 76 pasien yang memenuhi kriteria untuk dimasukkan dalam penelitian. Dari 76 pasien tersebut didapatkan gambaran klinis apendisitis akut berdasarkan Tzanakis skor yaitu USG (60.53%), nyeri kuadran kanan bawah(100%), nyeri lepas kuadran kanan bawah(40.79%), dan leukosit >12.000mm3(52.63%). Alvarado skor yaitu nyeri berpindah di kuadran kanan bawah(11.84%), anoreksia(86.84%), mual dan muntah(48.68%), nyeri kuadran kanan bawah(100%), nyeri lepas kuadran kanan bawah(40.79%), peninggian suhu 37.5°C-38°C(30.26%), leukositosis(68.42%), pergeseran sel darah putih ke kiri(65.79%)
    corecore