1,721,103 research outputs found
Penyelesaian Delik Agama secara Partisipatoris
This study doesn’t view religion delict according to government, but the religion delict is understood and solved by citizen. Based on that, this study is on purpose to describe about the forms of religion delict which were happened in Mojokerto regency society and its problem solving. In analysing these two problems, the study uses qualitative approach kind symbolic interactionism. The relevant collecting data technique are documentation, interview, and literary. There are two results. First, there are two parts of religion delict cases. The first part is “delict toward religion” : taking advantage Moslem shelter by non-moslem and doing astray accuse. The second part is “delict which is connected with religion”: establishing beer factory. Second, the form of solution was using three models of mediation techniques: mediation by religious leader, mediation by religious organization, and mediation by religious organization with local government. From the results of this study, the recommendation is the ability of conflict management owned by either religious leader or religious organization. At last, this reseach is needed to be developed, mainly from a civil law side
Analysis of Legal Certainty Aspects in Indonesian Marriage Registration Rule
This paper examines the legal certainty aspects of marriage registration regulations in Indonesia. The controversy over whether or not a marriage is lawful without registration is still ongoing, depending on how Article 2 of Act No. 1/1974 regulating marriage is interpreted. The research method used in writing this paper is a literature study with normative legal research and descriptive analysis. Using the legal certainty aspect approach, the author analyzes various laws and regulations regarding marriage registration objectively. According to the findings of this study, the Marriage Act requires that every marriage be documented or registered by the marriage registration officer. However, Presidential Regulation (PERPRES) Number 96 of 2018 and Minister of Home Affairs Regulation (PERMENDAGRI) Number 9 of 2016 provide an alternative for those whose marriages have not been documented to create various population administrations by attaching a Statement of Absolute Responsibility (SPTJM). These two contradicting requirements have generated legal uncertainty in Indonesian marriage registration
Upaya Pemerintah Daerah Dalam Mengelola Wisata Bahari Guna Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) (Studi Pada Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Malang)
Kabupaten Malang merupakan salah satu Kabupaten yang berada di
Provinsi Jawa Timur yang sebagian wilayahnya memiliki berbagai obyek wisata
yang dapat dioptimalkan. Banyak sekali tujuan wisata Kabupaten Malang yang
menarik pengunjung, mulai dari wisata alam, bahari, agro, budaya, religi, sejarah,
pendidikan, belanja, kuliner, dan buatan. Salah satu tujuan wisata yang paling
banyak menarik turis asing adalah kawasan Bromo-Tengger-Semeru. Disamping
itu kabupaten Malang juga memiliki daya tarik wisata yang lain, seperti pantai
balekambang dan pantai ngliyep serta pantai lainnya yang termasuk dalam wisata
bahari. Dengan banyaknya potensi wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Malang,
seharusnya diimbangi dengan pengelolaan yang maksimal sehingga mampu
meningkatkan pendapatan asli daerah.
Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi lebih mendalam dan
menganalisis upaya pemerintah daerah di bidang pariwisata guna meningkatkan
pendapatan asli daerah. Adapun penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan
pendekatan deskriptif. Pengumpulan data yang digunakan penulis adalah dengan
cara observasi, wawancara, data sekunder dan dokumentasi. Sedangkan teknik
analisa dengan menggunakan model interaktif yang terdiri dari pengumpulan data,
kondensasi data, penyajian data, penggambaran dan penarikan kesimpulan.
Hasil peneliian ini memperlihatkan bawasanya kurang optimalnya upaya
pemerintah daerah serta kurang adanya sinergitas antar pihak dalam mengelola
potensi wisata bahari.Hal ini dapat dilihat dari Pengadaan fasilitas yang kurang
merata untuk wisata bahari di kabupaten malang, Peningkatan keamanan dapat
merata di semua wisata bahari yang ada di kabupaten Malang, Kurangnya
kesadaran wisatawan akan kebersihan lingkungan di lokasi dan situs budaya serta
kurangnya jumlah petugas kebersihan yang ada di wisata bahari, Belum tersedianya
trayek untuk angkutan umum yang membawa wisatawan ke lokasi wisata,
Pemanfaatan hasil alam oleh penduduk lokal untuk dijadikan cinderamata untuh
menambah pendapatan dan juga dapat membuka lapangan kerja baru. Kontribusi
wisata bahari dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten
Malang, pengelolaan pendapatan melalui retribusi objek wisata, pajak hotel dan
restoran, serta pajak hiburan dirasa kurang terkoordinasi dengan baik dan merata
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Ringkasan ekonomi internasional soal dan penyelesaiannya/ Rosyadi
x, 363 hal.: ill.; 21 cm
Peran manajemen perpustakaan dalam peningkatan mutu lembaga pendidikan Islam (studi di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta)
Penelitian ini bertujuan: 1). Mengetahui bagaimana manajemen perpustakaan di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta 2). Mengetahui peran manajemen perpustakaan Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta dalam peningkatan mutu lembaga pendidikan Islam.
Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan metode penelitian kualitatif deskriptif. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif analisis, karena penelitian ini dapat dipandang sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.. Adapun untuk mengumpulkan datanya menggunakan beberapa metode, yaitu metode observasi, dokumentasi, dan wawancara/interview. Metode observasi digunakan untuk memperoleh data tentang manajemen perpustakaan PPMI Assalaam Surakarta. Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang keadaan perpustakaan, jumlah koleksi bahan pustaka, sarana dan prasarana perpustakaan. Sedangkan metode wawancara/interview digunakan untuk memperoleh data tentang tanggapan/pendapat mengenai keadaan perpustakaan PPMI Assalaam Surakarta, pengembangannya serta sejauh mana manajemennya sehingga memberikan konstribusi berharga dalam peningkatan mutu pesantren.
Hasil penelitian menunjukan bahwa; setiap lembaga pendidikan, khususnya pesantren dan madrasah harus memiliki perpustakaan. Hal ini mengingat pentingnya perpustakaan sampai diibaratkan sebagai “jantung pendidikan” dan mempunyai peranan yang penting dalam prose belajar mengajar. Secara keseluruhan keadaan perpustakaan PPMI Assalaam Surakarta sudah memenuhi standar perpustakaan yang baik. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan, diantaranya adalah penambahan refrensi sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, penambahan sarana dan prasarana, peningkatan sumber daya manusia. Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis dapat diketahui bahwa manajemen perpustakaan PPMI Assalaam Surakarta sudah baik. Hal ini salah satunya disebabkan oleh pengelolaan perpustakaan yang menggunakan prinsip-prinsip manajemen, yang meliputi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pergerakan (actuating), pemberdayaan (empowering), motivasi (motivating), fasilitas (facilitating), pengendalian (controlling), dan evaluasi (evaluating). Perencanaan (planning) ditunjukkan dengan menentukan program kerja dan menentukan tenaga yang professional; pengorganisasian (organizing) ditunjukkan dengan membagi tugas dan fungsi kepada masing-masing unit kerja perpustakaan; pergerakan (actuating) ditunjukkan dengan kegiatan layanan di perpustakaan, meliputi layanan peminjaman/sirkulasi dan administrasi; pemberdayaan (empowering) ditunjukkan dengan cara mengoptimalkan SDM perpustakaan, mengoptimalkan sarana dan prasarana perpustakaan, dan mengoptimalkan pengguna/customer perpustakaan; motivasi (motivating), ditunjukkan dengan cara kepala perpustakaan melakukan sacara rutin (harian) lewat pertemuan. Ada sistem penghargaan bagi pustakawan yang paling rajin, dan ada teguran bagi pustakawan yang lupa/melalaikan tugasnya; fasilitas (facilitating) dalam hal ini perpustakaan PPMI Assalaam Surakarta membuka diri kepada pustakawan dan para pengguna perpustakaan dengan cara polling, dengan cara ini perpustakaan PPMI Assalam mengetahui keinginan dan harapan para pustakawan dan pengguna perpustakaan PPMI Assalaam. Untuk pustakawan perpustakaan PPMI Assalaam difasilitasi komputer untuk entri data dan pelayanan sirkulasi; pelatihan penguasaan alat-alat dan lain-lain; pengendalian (controlling), ditunjukkan dengan peran pengelola perpustakaan dalam menertibkan pemakai jasa perpustakaan; dan evaluasi (evaluating) ditunjukkan dengan Evaluasi yang dilakukan secara periodik, yaitu mingguan, semesteran, dan tahunan. Untuk evaluasi mingguan dilakukan dengan cara mengevaluasi diri apakah selama satu minggu apa yang telah kita kerjakan sesuai dengan program yang telah direncanakan. Kalau belum sesuai dibenahi diri para pustakawan dan berusaha untuk menjadi lebih baik. Manajemen perpustakaan dalam rangka peningkatan mutu pesantren diantaranya melalui penyediaan tenaga pengelola yang profesional di bidang ilmu perpustakaan, penyediaan bahan pustaka yang lengkap, dan layanan peminjaman yang memadai dan memuaskan bagi pengunjung. Selain itu perpustakaan PPMI Assalaam Surakarta juga sudah dimanfaatkan untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), tempat membaca siswa di waktu istirahat, serta digunakan sebagai tempat berdiskusi bersama.
Berdasarkan penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengembangan perpustakaan pesantren/sekolah khususnya pada lembaga pendidikan Islam baik negeri maupun swasta. Hal ini dikarenakan belum semua perpustakaan pesantren/sekolah dapat menyelenggarakan perpustakaan dengan baik. Pengelolaan perpustakaan dengan sistem manajemen yang professional akan menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang syarat informasi yang diperlukan oleh santri/siswa dan guru
- …
