142 research outputs found

    From 'ambiguously gay duos' to homosexual superheroes: the implications for media fandom practices

    No full text
    Despite traversing the fine line between homosocial and homosexual (Brooker, 2000) in his controversial text Seduction of the Innocent, Fredric Wertham's (1954) description of Batman and Robin as a 'wish dream of two homosexuals living together' (Lendrum, 2004, p.70) represents one of the first published queer readings of superhero characters. This text can also be interpreted as the commencement of, and subsequent intense interest in the way superhero characters often portray a 'camp' sensibility (Medhurst, 1991) representative of a queer performative identity (Butler, 1993). This is most evident today within comic book fan-communities online where the sexual identity of popular superheroes are continuously explored and debated in discussion forums and expressed through the production of slash fiction and queer-themed fan art. Indeed, the ambiguity inherent in superhero comics has traditionally allowed and encouraged fans to operate as 'textual poachers' (Jenkins, 1992) appropriating these texts for their own means. Today, however, there exist a new generation of comic book superheroes, in the form of the Young Avengers, Uncanny X-Men and The Authority, which contain established 'out' gay characters. This paper will examine the implications of these series on the practice of fandom by analyzing fan reactions and responses to the manner in which the industry has opted to present a gay relationship between its superhero characters Wiccan and Hulkling and, Apollo and The Midnighter. The meaning of the shift from the 'implied' to 'actual' is examined in terms of fans' acceptance, resistance and desire to further appropriate the text

    Batman sebagai Pahlawan Borjuis (Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)

    No full text
    Nama : Shafira Indah MNIM : D2C009036Judul : Batman Sebagai Pahlawan Borjuis(Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)ABSTRAKBatman merupakan salah satu karakter superhero (pahlawan super) yangeksistensinya dalam dunia perfilman Hollywood tidak dapat diragukan lagi. Mengawalikesuksesan melalui komik dan serial TV, Batman telah berhasil menjadi film superheroterbaik dan terlaris sepanjang masa. Namun penelitian ini akan mengkritik sosok pahlawanborjuis yang direpresentasikan dalam karakter Batman sebagai superhero dalam film BatmanReturns. Bruce Wayne dengan latar belakang keluarga milyarder yang memiliki kekuasaandalam masyarakat memanfaatkan kekayaannya untuk menjadi seorang Batman.Tipe penelitian ini adalah deskriptif, di mana penelitian yang dilakukan berusahamengungkapkan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan bertujuan untukmembuat gambaran secara sistematis pada tanda-tanda yang direpresentasikan dalam filmBatman Returns. Metode analisis yang digunakan adalah analisis semiotika Roland Barthesdengan membedah teks melalui dua tataran penandaan, yaitu makna denotasi dan maknakonotasi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dokumentasi, yaitu denganmengumpulkan informasi yang berkaitan dengan penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa tanda yang merepresentasikanBatman sebagai pahlawan borjuis yaitu status sosial Batman sebagai kelas atas, sikap yangmenunjukkan kekuasaan dan pro-kapitalis, dan sosoknya yang individualis. Bertentangandengan Batman, Penguin, yang muncul sebagai musuh Batman justru memegang peransebagai sosok proletariat. Hal ini dapat dilihat dari aspek pakaian, lingkungan, kamera, dansikap Penguin yang memperjuangkan haknya secara revolusioner sebagai bentuk perlawananterhadap ketidakadilan yang diterimanya. Dengan adanya penelitian ini, penulis berharap agarmasyarakat dapat lebih kritis dalam memahami hal-hal yang ditampilkan oleh media. Sosokyang ditampilkan protagonis dalam media tidak selalu dapat dinilai sebagai sosok yanginnocent (polos), namun dapat dilihat sisi lainnya melalui kaitannya dengan nilai-nilai sepertinilai kemanusiaan, kelas sosial, dan kapitalisme. Begitu juga sebaliknya, sosok yangditampilkan media secara antagonis tidak dapat selalu dipahami sebagai sosok yang buruk.Kata kunci: Film, Superhero, Pahlawan BorjuisNama : Shafira Indah MNIM : D2C009036Judul : Batman Sebagai Pahlawan Borjuis(Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)ABSTRACTBatman is a superhero character whose existence in the Hollywood film industry can not bedoubted. Venturing through the success of the comic and TV series, Batman has managed tobe the best superhero movie and best-selling of all time. However, this study will criticizebourgeois hero who represented by Batman as a superhero in the film Batman Returns. BruceWayne with a family background of billionaires who have power in society utilizing hiswealth to become Batman.The type of research is descriptive, where research is done trying to tell a problem orsituation as it is and aims to make a systematic overview on the signs that represented in thefilm Batman Returns. The analytical method used was Roland Barthes semiotic analysis todissect the text through two level tagging, i.e the meaning of denotation and connotations.Techniques of data collection is documentation, which is to gather information related to theresearch .The results showed that there are some signs that represent the bourgeois hero asBatman's status as an upscale social, power, and attitude that shows pro-capitalist andindividualist figure. Contrary to Batman , Penguin , which appears as an villain of Batmanactually holds the role as a figure of the proletariat. It can be seen from the aspect of clothing(dress), environment, camera , and attitudes Penguin fought revolutionary for their rights inthe struggle against injustice is received. Given this research, the author hopes that people canbe understanding the things shown by the media critically. The protagonist figure shown inthe media can‟t always be assessed as being innocent, but can be seen through the other sideof relation with values such as human values, social class, and capitalism . Vice versa , thefigure shown is antagonistic media can‟t always be understood as a bad figure.Keywords: Film, Superhero, Bourgeoise HeroesBatman Sebagai Pahlawan Borjuis(Analisis Semiotika pada Film Batman Returns)SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Shafira Indah MNIM : D2C009036JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANA. Latar BelakangBatman merupakan salah satu karakter superhero (pahlawan super) yang eksistensinyadalam dunia perfilman Hollywood tidak dapat diragukan lagi. Mengawali kesuksesanmelalui komik dan serial TV, Batman telah berhasil menjadi film superhero terbaik danterlaris sepanjang masa (Sofyan, 2012). Film Batman pertama sudah hadir pada tahun1966 dan terus diproduksi sekuelnya oleh beberapa sutradara terkenal di antaranya TimBurton dan Christoper Nolan. Seperti salah satu film masterpiece bikinan Tim Burtonyang diadaptasi dari komik karya Bob Kane dan Bill Finger ini berjudul Batman Returns.Menjadi sekuel dari film Batman (1989), Batman Returns (1992) masih bercerita seputarkehidupan Bruce Wayne (Michael Keaton), milyarder asal kota Gotham yang memilikialter ego sebagai Batman. Bruce Wayne bukanlah manusia atau makhluk khayalan yangdapat terbang di atas awan, menembakkan laser dari bagian tubuhnya, atau dapat berubahmenjadi makhluk kuat selain manusia. Bruce Wayne adalah orang biasa yangmemanfaatkan kekuatan teknologi dan uang untuk memberantas ketamakan dankeserakahan di Gotham City (Wiyoto, 2012).Kehadiran sosok Batman sebagai pahlawan pembela kebenaran yang mengandalkanteknologi, iptek, ilmu bela diri, dan tentunya kekayaan, tentu membuat audiens larutdalam karakter heroik yang mulia dan innocent. Namun jika ditilik melalui sudutpandang Marxisme, karakter Batman sebagai bourgeois heroes merupakan sosokpahlawan pendukung kapitalisme yang memiliki kekuasaan dalam masyarakat. Denganlatar belakang sebagai anak milyarder dan pewaris utama Perusahaan paling berpengaruhdi Gotham, Wayne Enterprise, Bruce/Batman berfungsi untuk mempertahankan statusquo dengan menjajakan ideologi kapitalis dalam bentuk terselubung dan denganmembantu menjaga keinginan konsumen tetap tinggi. Salah satu nilai dijual dalamkonsep pahlawan borjuis adalah individulisme, sebuah nilai yang muncul dalam berbagaibentuk (the self-made man, the American dream, the “me generation”, dan sebagainya)(Berger, 1991: 47-48). The Penguin dalam film ini berperan sebagai villain justru hadirsebagai seseorang pimpinan gang kelas bawah yang mewakili kaum yang ditinggalkan,dibuang, dikucilkan. Penguin di sini mewakili kaum kelas bawah. Kaum kelas bawahmerupakan kaum yang tertindas dimana harapan dan hak mereka dirampas (Magnis-Suseno, 2003:114).B. Perumusan MasalahPenelitian ini akan mengkritisi dan menjelaskan kepada masyarakat mengenai sosokpahlawan borjuis yang digambarkan dalam karakter Batman sebagai superhero dalamfilm Batman Returns. Bruce Wayne dengan latar belakang keluarga milyarder yangmemiliki kekuasaan dalam masyarakat memanfaatkan kekayaannya untuk menjadiseorang Batman. Dari hal tersebut maka dapat membuka permasalahan penelitian yaitubagaimana sosok pahlawan borjuis pada Batman direpresentasikan dalam film BatmanReturns?C. Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana sosok pahlawan borjuis padaBatman direpresentasikan dalam film Batman Returns.D. Kerangka Pemikiran- Sosok Superhero- Stratifikasi Sosial- Film sebagai RepresentasiE. Metodologi Penelitian- Tipe Penelitian: deskriptif-kualitatif. Penelitian deskriptif digunakan untukmendeskripsikan fenomena sosial yang menyajikan gambaran tentang detil spesifikdari situasi, lingkungan sosial, atau sebuah hubungan (Neuman, 2007 : 16). Tujuanutama penelitian kualitatif adalah untuk mengetahui motif yang mendasari perilakumanusia (Kothari, 2004: 3-4)- Pendekatan Penelitian: Teori semiotika Roland Barthes- Subyek Penelitian: Film Batman Returns yang diproduksi Warner Bros pada tahun1992 dan disutradarai oleh Tim Burton.- Sumber Data: Data primer diperoleh langsung dari mengamati dan mengkaji filmBatman Returns. Data sekunder diperoleh dari: internet, kepustakaan, buku, jurnalataupun informasi lain yang mampu membantu penelitian dan relevan denganpermasalahan yang diteliti.- Teknik Pengumpulan Data: Dokumentasi. Yaitu dengan mengumpulkan berbagaiinformasi tentang film tersebut yang berkaitan dengan tema penelitian ini.- Analisis dan Interpretasi Data: Kode-kode sosial “Codes of Television” John Fiskeyang terdiri dari 3 level (Level Realitas, Level Representasi, dan Level Ideologis).PEMBAHASANPada bagian ini dilakukan analisis secara sintagmatik dan paradigmatik yang berisi level“reality”, “representation”, dan “ideology”. Dalam bukunya ”Television Culture” (1987: 7)John Fiske menggunakan Codes of Television untuk menganalisis objek yang bergerak. Levelpertama yakni realitas (reality) meliputi penampilan dan lingkungan dalam film antara lain:penampilan, busana/kostum, tata rias, lingkungan, gaya bicara, dan ekspresi. Tataran keduaadalah representasi (representation) yang dibangun lewat kerja teknis seperti kamera,pencahayaan, musik dan selanjutnya ditransmisikan ke dalam konflik, karakter, dan dialog.Untuk level ketiga yaitu level ideologi (ideology) dianalisis secara paradigmatik denganberusaha mengungkapkan kode-kode ideologi yang tersembunyi dalam suatu objek sepertipatriarki, ras, feminisme, kelas, dan sebagainya.Analisis sintagmatik yang sudah dilakukan sebelumnya pada tokoh Batman, Penguin,dan Max sebagai tiga tokoh yang paling menonjol dalam film membawa beberapa nilai danideologi tersembunyi di antaranya:1. Kemunculan Batman menunjukkan status sosial ekonominya yaitu kelas atas (upperclass). Hal tersebut dapat dilihat pada beberapa elemen yaitu: Pakaian. Menggunakanpakaian tertentu memiliki beberapa alasan, sama halnya saat kita berbicara. Beberapaalasannya di antaranya, „untuk membuat hidup lebih mudah, untuk menunjukkanmaupun menyembunyikan identitas kita, dan untuk menarik perhatian lawan jenis‟(Kuruc, tt:198). Pada Batman, kostum yang digunakan memiliki fungsi untukmenunjukkan identitasnya sebagai seorang superhero sekaligus menyembunyikanidentitas aslinya sebagai Bruce Wayne melalui topeng yang ia gunakan. Pakaianpakaianyang dikenakan oleh Batman, Penguin, dan Max memiliki fungsi secaradenotatif yang sama, yaitu sebagai sumber perlindungan tubuh dalam bertahan hidupyang berupa tambahan bagi rambut (topi) dan ketebalan kulit (baju dan celana) padatubuh yang berfungsi melindungi. Namun, seperti halnya semua sistem buatanmanusia, pakaian akan selalu memperoleh selingkupan konotasi dalam latar sosial(Danesi,2010:257). Pakaian digunakan untuk melegitimasi posisi pemakainya dalamidentifikasi simbolik dengan tradisi yang ada pada masyarakat mereka. Kaum elitperkotaan berpakaian berbeda dari yang lainnya dalam fungsinya sebagai simbol kelasatau peringkat (Kawamura, 2005:24). Dari beberapa pakaian yang dikenakan Bruceseperti tuxedo, setelan jas, kemeja, dan dasi juga pada koleksi kostumnya sebagaiBatman yang melimpah menunjukkan Bruce/Batman sebagai seseorang dengan statusekonomi yang tinggi. Menurut pandangan Spencer, fashion adalah simbol manifestasidari hubungan antara superior dan inferior yang berfungsi sebagai kontrol sosial.Fashion juga merupakan simbol dari peringkat sosial dan status (Spencer 1966[1896]dalam Kawamura,2005:22).2. Batman adalah sosok yang berkuasa dan pro-kapitalis. Sebagai tokoh utama dalamfilm, hampir keseluruhan alur cerita tentu didominasi dengan kemunculanBatman/Bruce. Ditemukan beberapa aspek yang memunculkan tanda yangmenegaskan bahwa Batman merupakan sosok yang memiliki kekuasaan di Gothamnamun sekaligus sosok yang pro-kapitalis, di antaranya: Aspek kamera. Penggunaanbeberapa teknik dalam kamera mengandung beberapa tanda yang kemudian dapatsaling terkait dengan aspek-aspek lain hingga menemukan sebuah ideologi tertentu.Penggunaan framing kamera long-shot pada Batman merupakan petanda yangmemiliki makna sebagai sebuah konteks, ruang lingkup, dan jarak publik. Teknik lowangle memaknai adanya kekuasaan (power) dan wibawa (authority) (Berger,1982:27). Keterlibatan Batman dalam kebijakan pemerintah. Pada kelompok statussosial lapisan atas biasanya juga memiliki beberapa aspek lain yang juga dihargai dandiakui oleh masyarakat. Kekayaan tentu erat kaitannya dengan kekuasaan dankehormatan dari lingkungan sosialnya. Bruce memegang peran sebagai pemilikWayne Enterprises. Sebagai seseorang yang berpengaruh di Gotham, Brucemenunjukkan adanya hubungan dan keterlibatannya dengan pemerintah Gotham.Tanda tersebut dapat terbaca melalui potongan dialog Bruce yang mengungkapkanketidaksetujuannya pada upaya Max membangun pembangkit listrik di Gothammelalui kalimat “I'll fight you. I've already spoken to the mayor and we agree.”(“Aku akan menentangmu. Aku sudah berbicara dengan Walikota dan kitamenyepakati hal ini.”). Bruce menjadi sosok yang memiliki kekuasaan dan pengaruhbagi para kalangan elit Gotham.Meskipun tidak digambarkan secara langsung dalam film ini karena film inimerupakan sekuel kedua kisah Batman namun latar belakang keluarga Batmanmenyebutkan bahwa Bruce menjadi pewaris tunggal dari Perusahaan terbesar diGotham yaitu Wayne Enterprises. Hal itu tentu saja secara otomatis membawaBruce/Batman pada status sosial kelas atas melalui ascribed status, yaitu status sosialyang diberikan berdasarkan jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia,dan lain-lain. Dapat juga merujuk pada posisi secara hierarki dan menandakan prestiseseseorang (Bruce, 2006, 289).3. Individualisme pada sosok Bruce/Batman. Marx dalam menganalisis media jugameliputi hubungannya dengan figur heroik dalam suatu film, drama televisi, bukukomik, dll. Bagi beberapa orang, sosok pahlawan dalam film dapat mencerminkanusia dan masyarakat mereka. Bagi yang lain, sosok pahlawan memberi dampakadanya imitasi yang dilakukan untuk mencapai identitaas. Konsep pahlawan yangborjuis dalam suatu tatanan masyarakat dianggap sebagai sebuah penyimpangan yangdapat mengganggu ekuilibrium masyarakat (Berger, 1982:47). Pahlawan borjuismemiliki fungsi utama untuk menjaga status quo dengan „menjajakan‟ ideologikapitalis dalam berbagai bentuk. Kelas borjuis, secara hakiki berkepentingan untukmempertahankan status quo, untuk menentang segala Perubahan dalam strukturkekuasaan termasuk USAha Perubahan yang dilakukan kelas proletar secararevolusioner. Salah satu konsep yang „dijajakan‟ pahlawan borjuis adalahindiviualisme, di mana hal tersebut juga dapat ditemui pada sosok Batman. Padaanalisis sintagmatik yang telah diuraikan sebelumnya, baik Batman maupun Bruceditampilkan dalam lingkungan sosialnya sebagai sosok yang jarang bersosialisasidengan rekan maupun sahabat terdekat. Hanya Alfred Pennyworth, sebagai pelayandan orang kepercayaan keluarganya saja yang terlihat selalu menemani, melayani, danmembantu aktivitas Batman.PENUTUP1. Status sosial Batman sebagai kelas atas. Dapat dilihat dari cara berpakaian. Gayaberpakaian seseorang juga berfungsi untuk menunjukkan simbol dari peringkat sosialdan status seseorang dalam masyarakat. Beberapa jenis pakaian yang digunakanBruce/Batman seperti tuxedo, kostum berteknologi Batman yang terdiri dari basicsuit, topeng, jubah, dan sepatu boots merupakan pakaian dan aksesoris yang seringdigunakan oleh masyarakat kelas atas untuk menandai kedudukan sosialnya dimasyarakat. Kostum Batman yang hi-tech (berteknologi tinggi) tentunya memerlukanbiaya yang sangat besar dalam pembuatannya dan Batman merupakan salah satusuperhero dengan kapabilitas tersebut.2. Batman adalah sosok yang berkuasa dan pro-kapitalis. Dilihat dari aspek kameradengan framing long-shot merupakan petanda yang memiliki makna sebagai sebuahkonteks, ruang publik, dan jarak pubilk. Sedangkan teknik low-angle memaknaiadanya kekuasaan (power) dan wibawa (authority). Selain itu ditemukan pula ideologikapitalis yang dilihat dari kepemilikan modal (uang dan alat-alat produksi) Batmandalam Perusahaan yang dikelolanya dan keterlibatan Batman dalam suatu kebijakanpemerintah, hal ini ditunjukkan melalui dialognya dengan Max Schreck yangmengungkapkan pertentangannya dan Walikota Gotham terhadap rencanapembangunan pembangkit listrik Power Plant di Gotham.3. Nilai individualisme yang ditemukan dalam sosok Batman menegaskan sosoknyasebagai pahlawan borjuis. Menurut Marx, salah satu konsep yang „dijajakan‟pahlawan borjuis adalah individualisme. Hal ini dapat dilihat dari analisis mengenailingkungan pada analisis sintagmatik. Bruce/Batman ditampilkan dalam lingkungansosialnya sebagai sosok yang jarang bersosialisasi dengan rekan maupun sahabatterdekat. Hanya Alfred Pennyworth, sebagai pelayan dan orang kepercayaankeluarganya yang terlihat selalu menemani, melayani, dan membantu aktivitasBatman.4. Bertentangan dengan Batman, Penguin, yang hadir sebagai musuh Batman justrumemunculkan tanda-tanda yang dapat dibaca sebagai sosok proletariat. Proletariatmemegang peranan sebagai strata terbawah dari masyarakat. Sebagai kelas termiskindari sebuah masyarakat yang tidak memiliki alat-alat produksi. Pada aspek gayaberpakaian Penguin digambarkan pakaian yang digunakan hanya berupa longunderwear(pakaian dalam berbentuk terusan) sebagai pelindung tubuh dari udaradingin dan sebuah sepatu boots bertali dan berbahan kulit. Aksesori lain seperti topitinggi (top hat) yang digunakan merupakan topi untuk semua kalangan kelas sosialyang menjadi populer di Abad ke-19. Lingkungan tempat tinggal Penguin adalahgorong-gorong, pipa pembuangan untuk limbah atau air permukaan yang terletak dibawah tanah. Aspek kamera dengan teknik high-angle memberikan kesan inferioritas,ketidakberdayaan, dan lemah.5. Penguin melakukan perlawanan secara revolusioner untuk memperjuangkan haknyasebagai rakyat Gotham yang telah dirampas karena dampak kapitalisme. Dengankeadaan fisiknya yang cacat juga membuat Penguin menjadi sosok yang terbuang dandikucilkan. Hal tersebut dapat dilihat pada dialog-dialog yang digunakan dankemunculannya di Gotham dengan cara revolusioner seperti membuat kekacauandengan kawanan sirkusnya Red Triangle Circus.DAFTAR PUSTAKABuku:Berger, Arthur Asa. (1991). Media Analysis Techniques. New Delhi: Sage Publications Ltd.Bruce, Steve, and Yearley, Steven. (2006). The SAGE Dictionary of SOCI OLOGY .London:Sage Publications Ltd.Danesi, Marcel. (2010). Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotikadan Teori Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.Kawamura, Yuniya. (2005). Fashion-ology. Berg: New York.Kothari, R. C. (2004). Research Methodology. New Delhi: New Age International Ltd.Magnis-Suseno, Franz. (2003). Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis kePerselisihan ke Revisionisme. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Neuman, Lawrence W. (2007). Basic of Social Research. Amerika: Pearson Education.Internet:Sofyan, Eko Hendrawan. (2012). Ini Dia, 10 Film Terlaris di Tahun 2012. Dalamhttp://entertainment.kompas.com/read/2012/12/27/16341739/Ini.Dia.10.Film.Terlaris.di.Tahun.2012%20Sofyan%2027%20desember%202012. Diunduh pada 1 April pukul20.15 WIB.Wiyoto (2012). 10 Fakta Batman Yang Tidak Anda Ketahui. Dalamhttp://uniqpost.com/49215/10-fakta-batman-yang-tidak-anda-ketahui/. Diunduh pada 1April pukul 21.00 WIB.Jurnal:Kuruc, Katarina.tt. Fashion as Communication: A semiotic Analysis of Fashion on „Sex andthe City

    KURTUBÎ TEFSİRİ BAĞLAMINDA HZ. İSA’NIN (A.S) MUCİZELERİ

    No full text
    Jesus (pbuh) has been the subject of revelation in many places in the Holy Quran. In addition to being referred to as "Ruhullah", "the Word of Allah", it is emphasized that he is a "servant". Subjects such as this important person giving the good news of the prophet who will come after him, resurrecting the dead, and leaving the earth are discussed in several places in the Holy Quran. In this study, the verses about the miracles of Prophet Jesus (pbuh) in Qurtubî's work named al-Câmi? li-Ahkâmi'l-Kur'an, which is one of the most important works written in the field of exegesis, are discussed.. After giving general information about the concept of miracle, Kurtubi's evaluations of the verses on the subject are discussed. The originality of Kurtubi's comments has been discussed; An attempt was made to determine its different aspect. It is possible to say that the author generally follows the line of Ahl al-Sunnah. Although he is affiliated with the Maliki sect, it is seen that he also highly values the opinions of other sect scholars. While interpreting the verses, Qurtubi sometimes contented himself with stating the existing opinions on the subject, and sometimes expressed his preferred opinion by stating the reason. Since Qurtubi's Tafsir is a commentary on provisions, it is seen that it does not go into much detail on matters related to theology. Therefore, while evaluating the verses in this study, other commentaries were also consulted and Qurtubi's position was tried to be determined. At the same time, it was tried to determine the thoughts of Christians and Muslims about Prophet Jesus (pbuh) by comparing the holy books of Christians and the verses in the Holy Quran.Hz. İsa (a.s), Kur’ân-ı Kerim’in birçok yerinde vahyin konusu olmuştur. “Ruhullah”, “Allah’ın Kelimesi” olarak anılmasının yanında “kul” olduğuna vurgu yapılmıştır. Bu önemli şahsiyetin kendisinden sonra gelecek olan peygamberi de müjdelemesi, ölüleri diriltmesi, yeryüzünden ayrılışı gibi konular, Kur’ân-ı Kerim’in birkaç yerinde ele alınmaktadır. Bu çalışmada tefsir alanında yazılmış en önemli eserlerden biri olan Kurtubî’nin el-Câmi? li-Ahkâmi’l-Kur’ân isimli eserinde Hz. İsa’nın (a.s) mucizeleri ile ilgili var olan âyetler ele alınmıştır. Mucize kavramı hakkında genel bilgilere yer verildikten sonra Kurtubî’nin konu ile ilgili âyetlere yapmış olduğu değerlendirmeler ele alınmıştır. Kurtubî’nin yapmış olduğu yorumların özgünlüğü tartışılmış; onun farklı olan yönü tespit edilmeye çalışılmıştır. Müellifin genel olarak Ehl-i Sünnet çizgisini takip ettiğini söylemek mümkündür. Kendisi Mâlikî mezhebine bağlı olmakla beraber diğer mezhep âlimlerinin görüşlerine de son derece değer verdiği görülmektedir. Kurtubî, âyetleri tefsir ederken bazen konu hakkında var olan görüşleri belirtmekle yetinirken, kimi zaman da tercih ettiği görüşü sebebini de söyleyerek ifade etmiştir. Kurtubî Tefsiri ahkâm tefsiri olduğundan dolayı kelâm ile ilgili konularda fazla ayrıntıya girmediği görülmektedir. Bundan dolayı bu çalışmada âyetlerin değerlendirilmesi yapılırken diğer tefsirlere de müracaat edilmiş, Kurtubî’nin konumu belirlenmeye çalışılmıştır. Aynı zamanda Hıristiyanların kutsal kitapları ile Kur’ân-ı Kerim’deki âyetler karşılaştırılarak Hıristiyanlar ve Müslümanların Hz. İsa (a.s) hakkındaki düşünceleri belirlenmeye çalışılmıştır

    Static, Yet Fluctuating: The Evolution of Batman and His Audiences

    No full text
    The Batman media franchise (comics, movies, novels, television, and cartoons) is unique because no other form of written or visual texts has as many artists, audiences, and forms of expression. Understanding the various artists and audiences and what Batman means to them is to understand changing trends and thinking in American culture. The character of Batman has developed into a symbol with relevant characteristics that develop and evolve with each new story and new author. The Batman canon has become so large and contains so many different audiences that it has become a franchise that can morph to fit any group of viewers/readers. Our understanding of Batman and the many readings of him gives us insight into ourselves as a culture in our particular place in history.Master of Arts (MA)Englis

    Static, Yet Fluctuating: The Evolution of Batman and His Audiences

    No full text
    The Batman media franchise (comics, movies, novels, television, and cartoons) is unique because no other form of written or visual texts has as many artists, audiences, and forms of expression. Understanding the various artists and audiences and what Batman means to them is to understand changing trends and thinking in American culture. The character of Batman has developed into a symbol with relevant characteristics that develop and evolve with each new story and new author. The Batman canon has become so large and contains so many different audiences that it has become a franchise that can morph to fit any group of viewers/readers. Our understanding of Batman and the many readings of him gives us insight into ourselves as a culture in our particular place in history

    Dark Knights to Remember: A Developmental Analysis of The Batman

    No full text
    abstract: Batman is one of the most iconic characters in the history of popular culture. Ever since his creation in 1939, the character and his stories have gone through several changes. In my thesis, I explore and analyze the character within the nearly 20-year period in which he went through the most significant changes (1968-1986). Overall, these changes can be summarized as a shift from a lighthearted superhero consistently placed in campy situations to a dark and brooding vigilante who brutally dispatches his enemies. While analyzing the different versions of this character in this period of time, I reference the conclusions of two scholars: Travis Langley and Chuck Tate. Langley wrote a general psychological analysis of Batman by considering the essential characteristics of the character found in all forms of media. Tate concluded that Batman only uses hostile aggression for the sake of deriving pleasure form the pain he causes to criminals. After analyzing the comics as my primary sources, I have concluded that the general findings of Tate and Langley actually ignore the subtle details of changes in the humanity and self-awareness of the character through time. The lighthearted version of Batman in the late 60's is actually a self-obsessed narcissist, but as time passes, the darker mood of the character can be attributed to an increased acknowledgment of the destructive nature of his unique lifestyle. As the character grows more accepting of himself and his own reasons for continuing this lifestyle, his motivations become less self-centered. Overall, the central change of the character throughout time can be traced back to the status of his inner conflict between normal, human desires and the pure desire for constant vengeance

    School of Batman - David Graeber

    No full text
    This week, we're unpicking the societal and anthropological tones in the Nolan Batman trilogy with our special guest, David Graeber!David is currently Professor of Anthropology at the London School of Economics with a Masters and Doctorate from the University of Chicago. He is an award-winning author of many works including "The Democracy Project", “Bullshit Jobs”, and "Debt: The First 5,000 Years".You can find out more about David on Twitter at https://twitter.com/davidgraeber.__________________Impact Moderato by Kevin MacLeod is licensed under a Creative Commons Attribution license (creativecommons.org/licenses/by/4.0/)Source: incompetech.com/music/royalty-fre…isrc=USUAN1100618Artist: incompetech.com/</div

    Masks of Batman. The Costume as an Element of Superhero Narratives in Comics

    No full text
    Tomasz ŻaglewskiDepartment of Culture StudiesAdam Mickiewicz Unversity in PoznańPoland Masks of Batman. The Costume as an Element of Superhero Narratives in Comics The main goal of the article is to present the theme of mask and costume in the superhero comic’s narratives as a key element not only for visual aspects of superheroes but also theirs psychological background.  Using an example of Darwyn Cooke’s “Batman: Ego” comic book, the author presents  a mask and  a costume as “subjectified” creations in Cooke’s work.  They become a starting points for a comic book’s stories which concentrate on the multilayered dependence between the mask-ed and un-mask-ed personality of a hero.Keywords: theory of comics, history of comics, text analysisCelem artykułu jest zaprezentowanie problematyki maski oraz kostiumu w komiksowych narracjach superbohaterskich, jako kluczowego elementu nie tylko w zakresie konstruowania wizualnego aspektu superbohaterów, ale także ich psychologicznego tła. Posługując się wybranym przykładem tego typu narracji – komiksem „Batman: Ego” Darwyna Cooke’a – autor stara się przedstawić figurę maski oraz kostiumu jako „upodmiotowione” w dziele Cooke’a twory, które mogą stać się punktem wyjścia dla konstruowania konkretnych fabuł komiksowych, stawiających w swoim centrum niejednoznaczne zależności pomiędzy za-maskowaną a zde-maskowaną osobowością wybranego bohatera. Masks of Batman. The costume as an element of a superhero narratives in comics The main goal of the article is to present the theme of mask and costume in the superhero comic’s narratives as a key element not only for visual aspects of superheroes but also theirs psychological background.  Using an example of Darwyn Cooke’s “Batman: Ego” comic book, the author presents  a mask and  a costume as “subjectified” creations in Cooke’s work.  They become a starting points for a comic book’s stories which concentrate on the multilayered dependence between the mask-ed and un-mask-ed personality of a hero

    Translation Shift of Verb Phrases on Batman Vs Superman: Dawn of Justice Movie

    No full text
    This research focuses on the translation shift on verb phrases in Batman vs Superman: Dawn of Justice subtitle. The objectives of this research are (1) to classify type of translation shift found in Batman vs Superman: Dawn of Justice movie subtitle and (2) to describe the equivalence of the translation shift of verb phrase found in Batman vs Superman: Dawn of Justice movie. This research belongs to descriptive-qualitative research. The object of this research is subtitle of movie entitled Batman vs Superman: Dawn of Justice. In collecting data, the researcher uses documentation of content analysis. This study found 350 data consisting verb phrase. In order to find the data, the author uses Catford’s translation theory to compare source language and target language text. This study shows there are two kinds of translation shift of verb phrase found in Batman vs Superman: Dawn of Justice, namely level shift and structural shift. As in level shift, the data found are 157 data or 44.86%. There are 4 types of level shift including translation shift of verb phrase into verb (124 data or 35.42%), verb phrase into noun (9 data or 2.57%), verb phrase into adjective (13 data or 3.71%), and verb phrase into adverb (11 data or 3.14%). On the other hand, the author found 193 data or 55.14% of structural shift, consisting of verb phrase translated into another verb phrase of 174 data or 49.71%, verb phrase into noun phrase of 5 data or 1.43%, verb phrase into adjective phrase of 10 data or 2.85%, and positive verb phrase into negative verb phrase of 4 data or 1.14%. The equivalence of the data shows that 248 data or 99.43% are equivalent, whereas the rest 2 data or 0.57% data are non-equivalent

    The superhero, icon of popular culture and intertext in Carlos Cortes' La última aventura de Batman

    No full text
    La Literatura y la Historia Universal han estado llenas de diversos personajes heroicos. Uno de estos personajes es el Hombre Murciélago, quien a muy joven edad es testigo del asesinato de sus padres y, por ello, dedica su vida a la lucha contra los malhechores. Batman es un ícono de la cultura popular y, en este cuento, es intertexto directo del imaginario de Ciudad Gótica y su héroe enmascarado. En La última aventura de Batman, del escritor costarricense Carlos Cortés, el autor utiliza la figura de Batman como un medio para desentrañar el misterioso origen del protagonista. De este modo, tal cual detectives de la noche, protagonista y Hombre Murciélago se internan en la oscuridad de la noche y lo desconocido para emprender su última aventura.Literature and Universal History have been full of diverse heroic characters. One of these characters is the Bat Man, who at a very young age witnesses the murder of his parents and, therefore, devotes his life to the fight against evildoers. Batman is an icon of popular culture and, in this story, it is a direct intertext of the imaginary of Gotham City and its masked hero. In The Last Adventure of Batman, by the Costa Rican writer Carlos Cortés, the author uses the figure of Batman as a means to unravel the mysterious origin of the protagonist. In this way, such detectives of the night, protagonist and Bat Man go into the darkness of the night and the unknown to undertake their latest adventure.UCR::Vicerrectoría de Docencia::Ciencias Básicas::Sistema de Educación General::Escuela de Estudios Generale
    corecore