1,720,966 research outputs found

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    No full text
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Ikan Hias Koki Sebagai Ide Dasar Penciptaan Karya Seni Keramik Fungsional

    No full text
    Setiap jenis ikan hias memiliki karakter, keistimewaan, dan keunikan yang berbeda-beda, yang pada dasarnya memberikan nilai estetika melalui bentuk, susunan sisik, sirip, ekor, dan variasi warnanya. Selain memberikan kesan alami, nilai estetis sangat penting dalam proses penciptaan sebuah karya seni. Ikan hias koki menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni keramik fungsional Penelitian ini menggunakan metode penelitian kreatif. Dalam penelitian ini, penciptaan karya seni dilakukan dengan merujuk pada permasalahan, teori, dan ide yang diwujudkan melalui kreasi karya-karya baru. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Gustami yang terdiri dari tiga tahap, diantaranya eksplorasi, Perancangan, dan perwujudan. Penelitian ini menghasilkan empat karya seni keramik fungsional yang terinspirasi oleh bentuk dan gaya ikan hias koki. Karya-karya tersebut meliputi satu set teko dan cangkir, lampu dinding dengan karakter dua ikan hias koki yang unik dan menarik. Selain itu, ada juga karya seni keramik dalam bentuk jam dinding dan vas bunga yang berbentuk ikan hias. Secara umum, karya keramik fungsional ini memiliki beberapa elemen yang menjadi spesifikasi dalam pembuatannya, yaitu aspek fungsi, bentuk, dan estetis. Karya ini mempunyai dua tujuan, diantarannya dijadikan barang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (fungsional) dan dijadikan objek hiasan di dalam ruangan rumah (estetik fungsional)

    Transformasi Estetik Keramik Kasongan dalam Konteks Perubahan Sosial Budaya

    No full text
             Transformasi estetik keramik Kasongan tumbuh seiring berjalanya waktu. Perubahan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat perajin keramik Kasongan merupakan suatu gambaran yang dapat diinterpretasikan sebagai pengarah dalam transformasi estetik keramik Kasongan. Penelitian ini bertujuan mengkaji transformasi estetik keramik Kasongan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan model interpretatif, yaitu memahami dan mendeskripsikan fenomena transformasi estetik keramik Kasongan dalam konteks perubahan sosial budaya masayarakat perajin.         Produk yang dihasilkan dari seni kerajinan keramik Kasongan merupakan suatu produk budaya yang dilestarikan oleh para perajin sebagai pembuatnya. Perubahan seni kerajinan keramik Kasongan semula sebatas barang-barang untuk keperluan rumah tangga dengan desain yang semula sebatas lingkaran, membulat, silinder, berubah menjadi bentuk binatang dengan teknik dekorasi tempel, guci-gucian dengan teknik finishing cat ataupun mozaik kaca, serta patung Loroblonyo dengan teknik finishing glasir. Desain keramik yang semula berfungsi sebagsi pemenuhan kebutuhan sehari-hari telah mengalami perubahan desain, yaitu kearah disain keramik yang tidak hanya fungsional praktis (tradisional). Akan tetapi lebih ke arah desain produk seni (hiasan) atau seni praktis (hiasan yang fungsional). Perubahan sosial budaya dengan masyarakat luas berpengaruh terhadap variasi produk yang dihasilkan perajin keramik di Kasongan

    Variations on the Author

    No full text
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    IKAN HIAS KOKI SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI KERAMIK FUNGSIONAL

    No full text
    Permasalahan yang diangkat dalam pembuatan karya ini adalah: 1). Pengembangan bentuk ikan hias koki ke dalam bentuk karya seni keramik fungsional, 2). Teknik pembuatan karya seni keramik fungsional yang dimodifikasi dari bentuk ikan hias koki, 3). Teknik mewarnai dan pewarna yang tepat untuk menciptakan bentuk pengembangan ikan hias koki dalam karya seni keramik fungsional. Tujuan perwujudan karya ini adalah: 1). Untuk merangsang kreatifitas dan inovasi dalam mengembangkan karakter ikan hias koki kedalam bentuk karya seni keramik fungsional. 2). Sebagai usaha dalam mengembangkan seni keramik dan mengetahui teknik pembuatan dengan mengembangkan bentuk ikan hias koki dalam karya seni keramik fungsional yang lebih bervariatif. 3). Menghasilkan karya seni keramik fungsional dengan warna yang lucu dan menarik. Penciptaan karya keramik fungsional ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa Inggrisnya Research and Development dengan langkah-langkah eksplorasi, eksperimentasi, dan pembentukan. Dalam kegiatan eksplorasi dilakukan penjelajahan atau penyelidikan untuk mendapatkan tema yang akan dijadikan dasar penciptaan. Adapun kegiatan eksperimentasi dimulai dengan pencarian bentuk, teknik dan pengglasiran. Sedangkan pembentukan yaitu proses perwujudan karya melalui pembuatan model, mendekorasi dan setelah kering diakhiri dengan pembakaran biskuit atau glasir. Karya yang dihasilkan berupa 14 karya seni keramik fungsional berupa 1). Piring, 2). Mangkuk, 3). Teko dan cangkir, 4). Nampan, 5). Toples, 6). Tempat tisu, 7). Vas bunga, 8). Lampu dinding, 9). Lampu duduk, 10). Jam dinding, 11). Tempat gula, kopi dan teh, 12). Tempat lilin, 13). Tempat bumbu masak, dan 14). Wastavel dari pengembangan bentuk ikan hias koki. Pengembangan tersebut menekankan pada pengolahan bentuk ikan, penerapan warna glasir dan aplikasi bahan seperti tanah liat serta glasir sebagai bahan pokok dengan rotan, kayu lempeng dan kawat besi, pelengkap lampu, kran, politur, lem Alteco sebagai bahan pendukung tanpa meninggalkan karakter ikan

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    No full text
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    No full text
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    الأفعال الكلامية التوجيهية في خطبة طارق بن زياد عند فتح الأندلس: دراسة تحليلية تداولية

    No full text
    مستخلص البحث أفعال الكلامية هي نطق أو معنى يعني أيضًا القيام بشيء ما. الجملة في أفعال الكلام لا تعمل فقط على نقل المعلومات، ولكن في حالات معينة تعمل أيضًا على تنفيذ إجراء مقصود من فعل الكلام نفسه. الأفعال الكلامية لها ثلاثة أنواع، وهي: الأفعال الكلامية القولية، الأفعال الكلامية المتضمنة في القول، والأفعال الكلامية الانتاجية عن القول. الأفعال الكلامية التوجيهية هي نوع من أنواع الموجودة في الأفعال الكلامية المتضمنة في القول. الأفعال الكلامية التوجيهية هي نوع فعل الكلام المستخدم من قبل المتكلم لجعل شريك الكلام يفعل شيئًا يعمل كمنظم للسلوك وكمراقب لشريك الكلام في التمثيل. في خطبة الطارق بن زياد عند فتح الأندلس، هناك خمسة أنواع من الأفعال الكلامية التوجيهية وهي الأفعال الكلامية التوجيهية للطلبات والأوامر والأسئلة والمحظورات والأفعال الكلامية النصيحة. أهداف هذا البحث هي: (1) لمعرفة أنواع الأفعال الكلامية التوجيهية في خطبة طارق بن زياد عند فتح الأندلس، (2) لمعرفة وظائف الأفعال الكلامية التوجيهية في خطبة طارق بن زياد عند فتح الأندلس، (3) لمعرفة المعاني المقصودة من وظائف الأفعال الكلامية التوجيهية في خطبة طارق بن زياد عند فتح الأندلس. استخدم الباحث في هذا البحث المنهج الوصفي النوعي. مصدر البيانات الأساسية المستخدمة هو نص خطبة طريق بن زياد عند فتح الأندلس ومصادر البيانات الثانوية المستخدمة هو الكتب والمجلات والأطروحة المتعلقة بهذا البحث. بينما تستخدم طريقة جمع البيانات للمؤلفين طريقة القراءة وطريقة تدوين الملاحظات. استخدم الباحث طريقة التحليل نظرية الأفعال الكلامية التوجيهية وفقًا لمنظور سيرل الذي يوجد في خطبة طريق بن زياد عند فتح الأندلس خمسة أنواع من الأفعال الكلامية التوجيهية. والنتائج من هذا البحث هي: (1) وجد الباحث خمسة أشكال من الأفعال الكلامية التوجيهية في خطبة طارق بن زياد عند فتح الأندلس واستنتج الباحث أن فيها ثمانية وعشرين عبارة وهي: الأفعال الكلامية التوجيهية الطلبات ثلاث عبارات، الأفعال الكلامية التوجيهية الأوامر إثنى عشرة عبارة، الأفعال الكلامية التوجيهية الأسئلة عبارة واحدة، الأفعال الكلامية التوجيهية المحظورات عبارتين، وكذلك الأفعال الكلامية التوجيهية النصيحة عشرة عبارات. (2) ثم وجد الباحث خمس الوظائف من الأفعال الكلامية التوجيهية في خطبة طارق بن زياد عند فتح الأندلس هي وظيفة للطلب والأمر وتقديم السؤال والحظر أو المنع ولتقديم النصيحة. (3) واستنبط الباحث أن المعاني المقصودة من خمس وظائف الأفعال الكلامية التوجيهية المذكورة وهي معنى الطلب من طارق لجيوشه بأن يعمل شيئا، والأمر، و قدم طارق السؤال إلى جيوشه كي يختاروا اختيارا جيدا في الحرب، ووجد الباحث معنى الحظر أو المنع أو النهي من طارق كقائد الجيوش بأن لا يعمل ما قد نهاهم في الحرب، وكذلك وجد الباحث من تلك الوظائف هناك معنى النصيحة، فقدم طارق نصيحة للجيوش قبل الحرب أهدافها لإضاعة أخوافهم لحرب الأعداء الكثيرة وكذلك لتشجيع حماسة الجيوش راجيا أن يحربوا بالجهد تمام الجهاد. ABSTRACT Speech act is saying something that also means doing something. The utterance in speech acts not only serves to convey information but, in some instances, even functions to perform an action that is intended from the speech act itself. Speech acts have three kinds, namely: locus speech acts, illocutionary speech acts, and perlocutionary speech acts. The directive speech act is one of the types contained in illocutionary speech acts. The directive speech act is the type of speech act used by the speaker to make the speech partner do something both functions as a regulator of behavior and as a controller of the speech partner in acting. There are five kinds of directive speech acts, such as directive speech acts of requests, commands, questions, prohibitions, and directive speech acts of advice. The objectives of the study are: (1) To find the form of directive speech acts contained in Thoriq bin Ziyad’s sermon in the conquest of Andalusia. (2) To know the function of directive speech acts carried in Thoriq bin Ziyad's sermon in the conquest of Andalusia. (3) To identify the meaning of the directive speech act function contained in Thoriq bin Ziyad's sermon in the conquest of Andalusia. In the present study, the researcher used a descriptive qualitative research method. The primary data source used is the text of the thoriq bin ziyad sermon in the conquest of Andalusia and secondary data sources used are books, journals, and thesis related to this research. The author uses reading techniques and note-taking techniques while collecting the data. The analysis technique uses directive speech act theory according to Searle's perspective. The results of this study are as follows: (1) 28 utterances from the data were taken from Thoriq bin Ziyad sermon are consisting of 5 kinds of directive speech acts according to Searle. 3 data of request directive speech acts, 12 data of directive speech acts command, 1 data of directive speech acts question, 2 data of directive speech acts prohibition, and 10 data of directive speech acts advice; (2) There are 5 kinds of directive speech act functions, they are request function, ordering, asking questions, prohibiting and giving advice; (3) The researcher deduced that the intended meanings of the five functions of directive speech acts that mean asking Thariq for his armies to do something, and Thariq presented the question to his armies to make a good choice in the war, and the researcher found the meaning of the prohibition, ban or forbidding Thariq as the leader of the armies that no he does what he forbade them in the war, and the researcher also found from these jobs the meaning of advice. Thariq gave advice to the armies before the war, their goals to waste their fear of the war of the many enemies, as well as the enthusiasm of the armies, hoping that they would fight with full effort. ABSTRAK Tindak tutur adalah suatu ujaran atau perkataan yang berarti juga melakukan sesuatu tersebut. Kalimat dalam tindak tutur tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi saja, melainkan dalam hal-hal tertentu juga berfungsi untuk melakukan suatu tindakan yang dimaksud dari tindak tutur itu sendiri. tindak tutur memiliki 3 macam, yaitu: tindak tutur lokusi, tindak tutur ilokusi dan tindak tutur perlokusi. tindsk tutur direktif merupakan salah satu jenis yang terdapat dalam tindak tutur ilokusi. tindak tutur direktif adalah adalah jenis tindak tutur yang digunakan oleh penutur untuk membuat mitra tutur melakukan sesuatu baik berfungsi sebagai pengatur tingkah laku maupun sebagai pengontrol mitra tutur dalam bertindak. dalam khutbah thoiruq bin ziyad ketika penaklukan andalusia, terdapat 5 macam tindak tutur direktif yaitu tindak tutur direktif permintaan, perintah, pertanyaan, larangan, dan tindak tutur direktif nasihat. Adapun tujuan Penelitian ini yaitu: (1) Untuk menemukan bentuk tindak tutur direktif yang terdapat dalam khutbah Thoriq bin Ziyad ketika penaklukan Andalusia. (2) Untuk mengetahui fungsi tindak tutur direktif yang terdapat dalam khutbah Thoriq bin Ziyad ketika penaklukan Andalusia. (3) Untuk mengidentifikasi makna fungsi tindak tutur direktif yang terkandung dalam khutbah Thoriq bin Ziyad ketika penaklukan Andalusia. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. sumber data primer yang digunakan adalah teks khutbah thoriq bin ziyad ketika ketika penaklukan andalusia dan sumber data sekunder yang digunakan adalah kitab, jurnal dan skripsi yang berkaitan dengan penelitian ini. Sedangkan teknik pengumpulan data penulis menggunakan teknik baca dan teknik catat. Adapun teknik analisisnya menggunakan teori tindak tutur direktif menurut perspektif Searle yang mana didalam khutnah thoriq bin ziyad terdapat lima macam tindak tutur direktif. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Terdapat 28 tuturan yang terdiri dari 5 macam tindak tutur direktif menurut Searle dalam khutbah Thoriq bin Ziyad yaitu tindak tutur direktif permintaan ada 3 data, tindak tutur direktif perintah 12 data, tindak tutur direktif pertanyaan 1 data, tindak tutur direktif larangan 2 data dan tindak tutur direktif nasihat 10 data; (2) Terdapat 5 fungsi tindak tutur direktif yaitu fungsi permintaan, memerintah, mengajukan pertanyaan, melarang dan memberikan nasihat; (3) Peneliti menyimpulkan bahwa makna yang dimaksudkan dari lima fungsi tindak tutur direktif yaitu permintaan Tariq kepada pasukannya untuk melakukan sesuatu, dan Thariq bin ziyad mengajukan pertanyaan kepada pasukannya sehingga mereka dapat memilih pilihan yang baik dalam peperangan tersebut, dan peneliti menemukan makna sebuah larangan dari Thariq bin ziyad sebagai pemimpin pasukan agar mereka tidak melakukan sesuatu yang dilarang olehnya dalam perang, dan peneliti juga menemukan makna nasihat yang mana panglima Thariq memberikan nasihat kepada tentaranya sebelum perang bertujuan yntuk menghilangkan rasa ketakutan mereka dalam perang melawan musuh yang sangat banyak serta memotivasi keberanian mereka untuk bertarung dengan upaya penuh dan sungguh-sungguh
    corecore