5 research outputs found
Pengaruh Naungan Terhadap Indeks Stomata Empat Varietas dan Satu Genotipe Kedelai [Glycine max (L.) Merill]
Atmaja, Rohmat Priya. 2009. “Pengaruh Naungan Terhadap Indeks Stomata Empat Varietas dan Satu Genotipe Kedelai [Glycine max (L.) Merill]” Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Endang Kartini A. M., Dra., M. S., Apt. (II) Dr. Titik Sundari, M. P. Kata Kunci: Naungan, Indeks stomata, Kedelai Naungan dapat mengurangi intensitas cahaya yang diterima olah tanaman. Intensitas cahaya yang berkurang berpengaruh terhadap hasil fotosintesis dan morfogenesis. Salah satu contoh bentuk morfogenesis yang dipengaruhi oleh intensitas cahaya adalah stomata. Intensitas cahaya yang berkurang tidak hanya mengurangi jumlah stomata tetapi juga sel epidermis. Indeks stomata menyatakan persentase jumlah stomata dari jumlah total sel epidermis bersama dengan stomata. Indeks stomata memberikan informasi tentang kerapatan stomata. Penelitian bertujuan untuk mengetahui: pengaruh naungan, varietas-genotipe, dan interaksi antara naungan dengan varietas-genotipe terhadap indeks stomata permukaan abaksial daun. Informasi kerapatan stomata dapat digunakan untuk menentukan laju fotosintesis, transpirasi, serta peluang masuknya patogen ke dalam jaringan. Penelitian dilakukan di empat tingkat naungan: 0%, 25%, 50%, dan 75% dengan menggunakan empat vaietas (Pangrango, Tanggamus, Wilis, Lokon) dan satu genotip (IAC-100). Penelitian dilakukan dengan menghitung indeks stomata permukaan abaksial daun. Data perubahan bentuk sel epidermis dan stomata dipaparkan secara deskriptif, sedangkan indeks stomata dianalisis dengan Anava dalam rancangan penelitian petak terbagi. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa naungan tidak mengubah bentuk sel epidermis dan tipe stomata. Hasil uji Anava menunjukkan bahwa penambahan tingkat naungan menyebabkan indeks stomata bertambah besar. Naungan 75% berpengaruh lebih besar dalam peningkatan indeks stomata bila dibandingkan dengan tiga naungan yang lain. Indeks stomata dipengaruhi oleh varietas-genotipe. Kedelai genotipe IAC-100 memiliki indeks terbesar sedangkan varietas Wilis memiliki indeks terkecil. Indeks stomata tidak dipengaruhi oleh interaksi antara naungan dengan varietas-genotipe. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengukur faktor lingkungan selain intensitas cahaya dan mengukur luas daun. Penelitian lanjutan sebaiknya mengambil sampel daun di bawah daun no. 3 dari tunas terminal batang pokok atau daun yang sudah dewasa
Pengembangan Modul Biologi Berbasis Sains Teknologi Masyarakat (STM) untuk SMA/MA Kelas XI pada Materi Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan
ABSTRAK Atmaja, Rohmat Priya. 2010. “Pengembangan Modul Biologi Berbasis Sains Teknologi Masyarakat (STM) untuk SMA/MA Kelas XI pada Materi Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan” Skripsi, Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Hadi Margono, (II) Drs. Sulisetijono, M. Si. Kata Kunci: pengembangan modul, Sains Teknologi Masyarakat (STM) Pengembangan modul didasarkan pada prinsip pelaksanaan kurikulum KTSP, yaitu prinsip keberagaman, keterpaduan, menyeluruh dan berkesinambungan. Melalui modul, materi pembelajaran yang beragam dapat disusun secara sistematis dan terarah. Modul yang dikembangkan juga memperhatikan tuntutan dalam Standar Kompetensi, yaitu pada Standar Kompetensi (SK) 2.1 siswa dituntut untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam konteks Salingtemas. Modul yang dikembangkan bertujuan untuk menghasilkan produk berupa modul biologi yang berbasis Sains Teknologi Masyarakat (STM) untuk SMA/MA kelas XI pada Kompetensi Dasar (KD) 2.1: mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan mengkaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan; dan mengetahui validitas modul yang dikembangkan berdasarkan hasil validasi untuk digunakan dalam pembelajaran Biologi pada materi Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan di SMA/MA kelas XI. Prosedur pengembangan modul mengikuti langkah-langkah yang dikembangkan oleh Sugiyono yang telah dimodifikasi. Langkah pengembangan modul dibatasi sampai pada tahap uji coba modul. Data yang diperoleh dalam pengembangan modul ini berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa skor angket penilaian dari validator dan siswa, sedangkan data kualitatif berupa tanggapan dan saran yang diberikan oleh validator dan deskripsi keterlaksanaan uji coba modul. Berdasarkan hasil penelitian dapat diinformasikan bahwa modul yang telah dikembangkan dinilai: (1) cukup valid (68,42%) dan tidak memerlukan revisi apabila dilihat dari segi karakteristik modul; (2) cukup valid (77,67%) dan tidak memerlukan revisi apabila dilihat dari segi kerangka modul; (3) valid (86,45%) dan tidak revisi apabila dilihat dari segi kedalaman dan keterbacaan materi; (4) valid (88,60 dan 96,68 %) apabila dilihat dari segi bentuk kegiatan. Data kualitatif yang diperoleh dari validator digunakan untuk menyempurnakan modul meskipun modul yang disusun dinilai tidak memerlukan revisi. Pengembangan lanjutan disarankan untuk dilakukan pengembangan modul pada materi yang berkaitan dengan struktur jaringan tumbuhan serta penyusunan lembar kerja siswa. Penyusunan modul pada materi yang berkaitan dengan struktur jaringan tumbuhan bermanfaat untuk pembelajaran modul yang berkelanjutan. Lembar kerja yang perlu dikembangkan berisi kegiatan-kegiatan yang lebih fokus pada teknologi yang dapat diterapkan siswa. Contoh kegiatan yang dapat diterapkan siswa di antaranya teknologi pembuatan serbuk jahe instan, teknik menyambung dan menempel untuk memperbaiki sifat tanaman. Pengembangan lanjutan juga perlu memperhatikan sarana dan prasarana sekolah, sebaiknya perlu dikembangkan media belajar yang dapat diterapkan di semua sekolah
PENGOLAHAN CHOCO CHIP BERBAHAN DASAR TEPUNG JEWAWUT (Setaria italica)
PENGOLAHAN CHOCO CHIP BERBAHAN DASAR TEPUNG JEWAWUT HARLYS SATRIAWAN P.P1 ROHMAT PRIYA ATMAJA, M.Sc2 ABSTRAK Tepung dalam pembuatan choco chip umumnya berasal dari tepung terigu berprotein rendah. Penggunaan tepung terigu dalam pembuatan choco chip dapat digantikan dengan tepung lain. Tepung dari biji jewawut memiliki potensi untuk digunakan dalam pembuatan choco chip. Penelitian bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan choco chip berbahan dasar tepung jewawut, karakteristik organoleptik dan kimiawi, serta analisis ekonomi pembuatan choco chip jewawut. Penelitian dimulai dengan membuat tepung dari biji jewawut yang dilanjutkan dengan pembuatan choco chip. Uji organoleptik dilakukan pada 20 responden sedangkan uji kimiawi dilakukan dengan analisis Kjeldahl. Responden memberikan nilai agak suka terhadap warna, tekstur, rasa, dan aroma choco chip jewawut; masing-masing dengan rata-rata skor 4,05; 3,75; 3,7; dan 3,8. Hasil analisis kimia dapat diketahui bahwa dalam cocochip jewawut mengandung protein sebesar 9,29%.Analisis ekonomi pada pembuatan choco chip jewawut dilakukan untuk mengetahui biaya produksi yang diperoleh dari penjumlahan biaya tetap dengan biaya tidak tetap adalah sebesar Rp. 52.700,00. Dengan harga pokok penjualan sebesar Rp. 13.175,00 per kemasan dengan penetapan harga jual Rp. 15.000,00 per kemasan. Dan titik impas (BEP) ketika penjualan mencapai 3 kemasan atau penjualan mencapai nilai Rp. 13.175,00. Kata kunci: jewawut, tepung jewawut, choco chip jewawut Keterangan: 1. Mahasiswa jurusan Teknologi Hasil Pertanian Akademi Komunitas Kabupaten Madiunpendidikan Diluar Domisili (PDD) Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan NIM H2114014. 2. Dosen bembimbing Teknologi Hasil Pertanian Akademi Komunitas Kabupaten Madiun Pendidikan Diluar Domisili (PDD) Universitas Sebelas Maret Surakart
EVALUASI MUTU KOPI ROBUSTA DI KECAMATAN KARE KABUPATEN MADIUN JAWA TIMUR
ABSTRACT
Coffee is a leading commodity in Madiun Regency, East Java, the area of coffee plantations in 2018 is 1,432 Ha with an average productivity of 769.63 kg / ha /year. This study aims to provide information on the physical, chemical, and microbiological quality characteristics of rice coffee, roasted coffee beans and evaluate the primary processing procedures for Mugi Lestari Farmer Group's coffee in Kare Village, Kare District, Madiun Regency. Evaluation of the quality of coffee rice is based on general and specific quality equirements according to SNI 01-2907: 2008. Organoleptic and chemical analysis of rice coffee and roasted coffee beans was carried out to see the state (smell, taste), moisture content, ash content, ash alkalinity, caffeine content, sugar content (reducing), insoluble solids, metal contaminants (Pb and Cu). Assessment of the physical quality of coffee beans shows that the robusta rice coffee produced at Poktan Mugi Lestari has quality according to SNI 01-2907-2008, especially for the parameters of the presence of insects, moisture content, impurities, and no found odor/mold. Physical quality of roasted coffee beans from Poktan Mugi Lestari when compared to SNI standards has a normal condition, both in terms of smell, taste, and appearance. Chemical parameters of roasted coffee bean samples are also in accordance with the general requirements for roasted coffee (SNI 01-2983-1992). The number of bacteria and molds is less than the maximum limit set. Assessment of physical, chemical, and microbiological quality of packaged coffee powder has a value in accordance with the SNI quality requirements, both for caffeine content, the amount of mold, and bacteria (ALT value), and water content. The primary coffee processing process at Poktan Mugi Lestari has been able to produce rice coffee in accordance with SNI requirements.
Keywords: coffee, robusta, quality, kare madiun
ABSTRAK
Kopi merupakan komoditas unggulan di Kabupaten madiun Jawa Timur, Luas areal perkebunan kopi tahun 2018 di Kabupaten Madiun 1.432 Ha dengan produktivitas rata rata 769,63 kg/ha/tahun. Penelitian ini bertujuan memberikan informasi karakteristik mutu fisik, kimiawi, dan mikrobiologis dari kopi beras, kopi biji sangrai dan mengevaluasi prosedur pengolahan primer kopi Kelompok Tani Mugi Lestari di desa Kare, Kecamatan Kare, Kab Madiun, agar dihasilkan produk dengan mutu yang baik. Evaluasi mutu kopi beras didasarkan pada syarat mutu umum dan khusus sesuai SNI 01-2907:2008. Analisa organoleptik dan kimiawi kopi beras dan kopi biji sangrai dilakukan untuk melihat keadaan (bau, rasa), kadar air, kadar abu, kealkalian abu, kadar kafein, kadar gula (pereduksi), padatan tak larut dalam air, cemaran logam (Pb dan Cu). Penilaian mutu fisik biji kopi diketahui bahwa kopi beras robusta yang dihasilkan di Poktan Mugi Lestari memiliki mutu sesuai dengan SNI 01-2907-2008, khususnya untuk parameter keberadaan serangga, nilai kadar air, pengotor, dan tidak ditemukannya bau busuk/kapang. Keadaan mutu fisik biji kopi sangrai dari Poktan Mugi Lestari jika dibandingan dengan SNI 01-2983-1992 memiliki keadaan yang normal, baik dalam hal bau, rasa, dan penampakan. Parameter kimiawi biji kopi sangrai dalam penelitian juga sesuai dengan syarat umum kopi sangrai (SNI 01-2983-1992). Jumlah bakteri dan kapang kurang dari batas maksimum yang ditetapkan. Penilaian mutu fisik, kimiawi, dan mikrobiologis bubuk kopi yang dikemas memiliki nilai sesuai dengan persyaratan mutu SNI, baik untuk kadar kafein, jumlah kapang, dan bakteri (nilai ALT), dan kadar air. Proses pengolahan primer kopi di Poktan Mugi Lestari sudah mampu menghasilkan kopi beras yang sesuai dengan persyaratan SNI.
Kata kunci: Kopi, Robusta, Mutu, Kare Madiu
IDENTIFIKASI GOLONGAN SENYAWA TOKSIK DARI EKSTRAK METANOLIK DAUN Piper spp.TERHADAP SEL KANKER PAYUDARA T47D
Several species of Piper spp. has know for cytotoxic activities. The
activity come from compounds that belong to secondary metabolite. Cis-yagonin
and flavokavain B compounds isolated from P. methysticum are having cytotoxic
activities to leukemia and ovary cancer cell. The ethanolic extract of P. crocatum
has cytotoxic activity to breast cancer T47D cell line. The metabolites content
from ethanolic extract P. crocatum are alkaloids, saponin, tannin, and flavonoids.
The purposes of the research to analyses cytotoxic activity of Piper spp. and the
compound class which has cytotoxic property are identified. Soxhletation method
with methanol as a solvent was selected for the extraction procedure. The leaves
from 10 species of Piper spp. were collected from Bogor Botanical Garden. MTT
assay was used for cytotoxic assay to cell line T47D. The component from the
extract which had a highest cytotoxicity, was separated by vacuum liquid
chromatography (VLC). The fractions from the VLC with highest cytotoxic
activity was separated by preparative thin layer chromatography (PTLC). TLC
was selected to monitor the constituent from the whole extract, fraction from VLC
and PTLC. The compounds class from part of PTLC with highest cytotoxic
activity are determinated by spray reagents. The highest cytotoxic activity came
from P. porphyrophyllum extract (IC50= 667,5 μg/ml). Cytotoxic activity from the
constituent of the whole extract P. porphyrophyllum less active than the whole
extract and doxorubicin (IC50 VLC fraction= 1.389,14 μg/m
