1,720,979 research outputs found
ANALISIS KEBIJAKAN PERDA KOTA SEMARANG NOMOR 7 TAHUN 2000 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN
Dengan diberlakukannya Undang-Undang No.22 'Tabun 1999 Tentang Pemerintahan DactaIt dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan • Pawl dan Daerab, tnemberikan kewenangan atm' otonomi kepada daerah untuk mengelola pembangtinan bagi daerahnya. Kota Semarang dalam rangka menggali pendapatan ash daerah clibidang retribusi jasa mnum menerbitkan Peratiaan Daerah Kota Semarang Nomor 7 Tabun 2000 tentang Retnibusi Pelayanan Kesehatan, Intl dart Perda tersebut adalah penerbitan tarif baru untuk selurtih jasa pelayanan kesehatan yang diberikan kepada seltinth masyarakat di Puskesmas / Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling dan Rumah Sakii Umum Daerah. Pemberlakukan tarif baru dari Rp 500 menjadi Rp. 3000 sangat dilematis bagi pemerintah Kota Semarang yang dituntut untuk memberikan jasa pelayanan kesehatan yang semakin baik dan merata disaat beban perekonomian masyarakat umum pengguna jasa kesehatan ini semakin berat, ciengan tuntutan perbaikan dan pembangunan infra struktur sena peningkatan kualitas pelayanan yang membutuhkan biaya yang lebih tiuggi.
Meriting Grindle (Samodra; 1994; 22) menyatakan bahwa basil dart suatu kebijakan dapat dilihat dari dim sudut pandang, yaitu 1) Dampaknya terhadap masyarakat, individu dan kelompok. 2)Perubahan dan penerimaan oleb masyarakat. Sedangkan hasil dart suatu kebijakan akan sangat ditentukan oleh Isi Kebitakan, yang terdiri dart: kepentingan yang mempengaruhi, tipe manfaat, derajat pentbahan yang diharapkan, letak pengambilan keputusan, pelaksana program dan sumberdaya yang dilibatkan.
Penelitian ini tnerupakan penelitian diskriptif yang didasarkan atas studi knalitatif yang diharapkan dapat mambetikan gambaran yang mendalain terhadap isi kebijakan yang diambil pemeritah tentang kenaikan retribusi pelayanan kesehatan int. thank inendapatkan data dilakokan dengan wawaneara terhadap pengelola puskesmas sebagai salah sant pusat pelayanan kesehatan dan dengan masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan. Berdasarkan pendapat responden dan studi pustaka yang dilakukan konudian ditarik suatu kesimpulan untuk memperoleh pernalmman terhadap pennasataltan yang diteliti.
Dad hasil penelitian kit dapat disimpulkan bahwa kebijakan pemerintah telab berjalan dengan baik, meskipun sebagian dad masyarakat menyatakan bahwa kenaikan tersebut terlalu banyak namun hal inn tidak menjadi persoalan yang berarti jika diimbangi dengan pelayanan yang balk. Ketemahasi dad kebijakan ini adalab adalah justru pada saat pengambilan keputusan dilakukan karena tanpa melalui dengar pendapat masyarakat tertebill dahuln
PEMANFAATAN TELUR RAJUNGAN DALAM PEMBUATAN KERUPUK SEBAGAI ALTERNATIF GIZI DI MASYARAKAT
Waste from crab meat product have more procentase than crab meat is about 75- 80%. The beginning this waste from picking crab product in the whole island in Indonesia. One of this waste can be resulted is crab egg. The Crab egg contain a lot of nutrient have not to used for processing product can fulfill in the comunity. This research make crab chip from the egg crab that can fulfill nutrient and income in the comunity.
The destination of this research is make crab chip depend on diferrent treatment with to equel crab egg and tapioka flour. The second is know the quality of crab chip whith the subjective test (hedonik) dan proximate analysis ( water content, protein content, lipid content, dust content, and carbohydrate content ).
Materials to be used make crab chip with 3 different treatment to equel crab egg and tapioka flour are : (TL I : 28% : 68%); (TL II : 48%: 48%); (TL III : 38% : 58%). Test to be done laboratories metode contains subjective test (hedonik) dan proximate analysis ( water content, protein content, lipid content, dust content, and carbohydrate content ).
The result of the observation laboratories test are proximate test crab egg : water content : 67,778%, lipid content : 5,802 %, protein content : 20,063 %, dust content : 2,252 %, carbohydrate content 4,105 %. The result of hedonik test crab chip with the sun drying are STL I : 5,57-c gc7,70, STL 11 : 6,17<p<7,70, STL III : 5,47< Ki6,92; Mechanical Myer drying MTL I : 6,80c g<7,54; MTL 11 : 6,38‹ pS7,42; MTL III :
5,60‹ g<7,53. The result of proximate test with sun drying STL I : 8.26; 6.98; 1.13;
2.28;81.32; STL II : 8.58; 10.76; 1.68; 3.23; 75.75; STL : 8.62; 13.77; 2.59; 3.44;
71.57. Mechanicel dryer drying mud I : 7.33; 7.06; 1.106; 2.70; 81.79; MTL 11 : 8.049; 10.66; 1.79; 3.19; 76.29; MTL III : 7.51; 13.87; 2.15; 3.47; 72.98.
Limbah dad basil pengolahan rajungan prosentasenya lebih besar jika dibandingkan daging rajungan sebesar 75 — 80 %. Limbah ini berasal dari industri pengupasan rajungan yang berada di seluruh kepulauan Indonesia. Salah satu limbah yang dihasilkan yaitu telur rajungan. Telur rajungan tersebut mernpunyai banyak kandungan gizi yang belum dimanfaatIcan untuk diolah menjadi suatu produk yang dapat memenuhi gizi di masyarakat. Pada penelitian ini telur rajungan dapat diolah menjadi kerupuk yang diharapkan mampu memenuhi gizi dan sumber pendapatan di masyarakat.
Penelitian ini bertujuan melakukan teknik pembuatan kerupuk telur telur rajungan dengan perlakuan perbandingan tepung tapioka dan telur rajungan yang berbeda-beda, mengetahui kualitas kerupuk telur rajungan dengan uji subyektif (organoleptik dan hedonik) dan Uji kimiawi ( kadar air, protein, lemak, abu). Manfaat yang dihasilkan yaitu dapat memberikan infonnasi kandungan gizi kerupuk rajungan kepada masyarakat.
Materi yang digunakan pembuatan kerupuk telur rajungan dengan 3 perlakuan perbandingan telur rajungan dengan tepung tapioka yang berbeda yaitu : (TL I : 28% : 68%); (TL II : 48%: 48%); (TL III : 38% : 58%). Sedangkan uji yang dilakukan secara laboratoris meliputi uji subyektif (hedonik) dan Uji kimiawi ( kadar air, protein, lemak, abu).
Hasil pengujian secara laboratoris dihasilkan yaitu untuk uji proksimat telur rajungan : kadar air : Air : 67,778%, Lemak : 5,802 %, Protein : 20,063 %, Abu : 2,252 %, Karbohidrat 4,105 %. Hasil uji hedonik kerupuk rajungan pengeringan Sinar matahari STL 1 : 5,57< ps7,70, STL II : 6,17<us.'7,70, STL III : 5,475 p56,92; pengeringan Mechanical Dryer MTL I : 6,805 g57,54; MTL II : 6,38<p<7,42; MTL III : 5,605 p57,53. Pengujian Proksimat pengeringan Sinar Matahari STL I : 8.26; 6.98; 1.13; 2.28;81.32; STL II : 8.58; 10.76; 1.68; 3.23; 75.75; STL III : 8.62; 13.77; 2.59; 3.44; 71.57. Pengeringan Mechanicel dryer MTL I : 7.33; 7.06; 1.106; 2.70; 81.79; um, u : 8.049; 10.66; 1.79; 3.19; 76.29; MTL III : 7.51; 13.87; 2.15; 3.47; 72.98
PEMANFAATAN TELUR RAJUNGAN DALAM PEMBUATAN KERUPUK SEBAGAI ALTERNATIF GIZI DI MASYARAK4T
Waste from crab meat product have more procentase than crab meat is about 75¬80%. The beginning this waste from picking crab product in the whole island in Indonesia One of this waste can be resulted is crab egg The Crab egg contain a lot of nutrient have not to used for processing product can fulfill in the comunity. This research make crab chip from the egg crab that can fulfill nutrient and income in the comunity.
The destination of this research is make crab chip depend on diferrent treatment with to equel crab egg and tapioka flour. The second is know the quality of crab chip whith the subjective test (hedonik) dan proximate analysis ( water content, protein content, lipid content, dust content, and carbohydrate content }.
Materials to be used make crab chip with 3 different treatment to equel crab egg and tapioka flour are : (11, 1 : 28% : 68%); (T1. 11 : 48%: 48%); 111: 38% : 58%). Test to be done laboratories metode contains subjective test (hedonik) dan proximate analysis ( water content, protein content, lipid content, dust content, and carbohydrate content ).
The result of the observation laboratories test are proximate test crab egg : water content : 67,778%, lipid content ; 5,802 %, protein content : 20,063 %, dust content : 2,252 %, carbohydrate content 4,105 %. The result of hedonik test crab chip with the sun drying are STL I : 5,57< STL II : 6,17<p<7,70, STL Iii : 5,4715..
Adechanical Dryer drying MTL I : 6,80< ps7,54; MTL 6,38< MTL III :
5,605:" p.5.7,53. The result of proximate test with sun drying STL I : 8.26; 698; 1.13;
—2.28;8_L32; STL II : 8.58; 10.76; L68; 3.23; 75.75; STL III : 8.62; 13.77; 2.59; 3.44; 71.57. Mechanicel dryer drying MTL I : 7.33; 7.06; 1.106; 2.70; 81.79; MTL II : 8.049; 10.66; 1.79; 3.19; 76.29; ma m : 7.51; 13.87; 2.15; 3.47; 72.98.
Limbah dad basil pengolahan rajungan prosentasenya lebih besar jika dibandingkan daging rajungan sebesar 75 — 80 %. Limbah ini berasal dari industri pengupasan rajungan yang berada di seluruh kepulauan Indonesia. Salah satu limbah yang dihasilkan yaitu telur rajungan. Telur rajungan tersebut mempunyai banyak kandungan gizi yang belum dimanfaatkan untuk diolah menjadi suatu produk yang dapat memenuhi gizi di masyarakat. Pada penelitian ini telur rajungan dapat diolah menjadi kerupuk yang diharapkan mampu memenuhi gizi dan sumber pendapatan di masyarakat.
Penelitian ini bertujuan melakukan teknik pembuatan kerupuk telur telur rajungan dengan perlakuan perbandingan tepung tapioka dan telur rajungan yang berbeda-beds, mengetahui knalitas kerupuk telur rajungan dengan uji subyektif (organoleptik dan hedonik) dan Uji kimiawi ( kadar air, protein, lemak, abu). Manfaat yang dihasilkan yaitu dapat memberikan infonnasi kandungan gizi kerupuk rajungan kepada masyarakat
Mated yang digunakan pembuatan kerupuk telur rajungan dengan 3 perlakuan perbandingan telur rajungan dengan tepung tapioka yang berbeda yaitu (TL I : 28% : 68%); (IL II : 48%: 48%); (TL III : 38% : 58%). Sedarigkan uji yang dilakukan secara laboratoris meliputi uji subyektif (hedonitc) dan Uji kimiawi ( kadar air, protein, lemak-, abu).
Hasil pengujian secara laboratoris dihasilkan yaitu untuk uji proksimat telur rajungan : kadar air : Air : 67,778%, Lemak : 5,802 %, Protein : 20,063 %, Abu : 2,252 %, Karbohidrat 4,105 %. Hasil uji hedonik kerupuk rajungan pengeringan Sinar matahari STL I : 5,57< p,s7,70, STL II : 6,17<p:<7,70, STL III : 5,47< p56,92; pengeringan Mechanical Dryer MTL I : 6,805_ p.5.7,54; MTL II : 6,38<g57_ ,42; MTL III : 5;60_fl,-S7-53:Pengujian-Prolcsimat pengeringan Sinar_Marahari STL I : 8.26; 6.98; 1.13;
2.28;81.32; STL II : 8.58; 10.76; 1.68; 3.23; 75.75; STL III : 8.62; 13.77; 2.59; 3.44;
71.57. Pengeringan Mechanical dryer MTL I : 7.33; 7.06; 1.106; 2.70; 81.79; MTL II :
8.049; 10.66; 1.79; 3.19; 76.29; ivm, HI : 7.51; 13.87; 2.15; 3.47; 72.98
PENGOLAHAN KERUPUK TERIPANG SEBAGAI SALAH SATU PEMANFAATAN KEKAYAAN LAUT DI PERAIRAN KEPULAUAN KARIMUNJAWA
Pemanfaatan potensi sunberdaya laut melalui diversifikasi basil pengolahan merupakan suatu usaha yang perlu dikembangkan. Pemanfaatan teripang di Karimunjawa mempunyai prospek yang entail) baik disamping yang telah dilakukan oleh pengolah setempat. Diharapkan basil penelitian ini dapat dimanfaadcan oleh penduduk Kepulauan Karimunjawa dalam rangka peningkatan pemanfa.atan sumber daya perairan yang ada.
Panetitian dilaksanakan pada bulan Jab sampai Oktober 2004 bertempat di Kepulauan Karimunjawa dan Laboratorium THP, junisan Perikanan, Universitas Diponegoro.
Bahan meliputi teripang pasir yang diperoleh dari perairan Kepulauan Karimunjawa, pasir pantai, dan minyak kelapa. Mat yang digtmalcan adalah ember, penggorengan, timbangan, dan tempat penjemuran. Sedangkan prosedttmya mengacu pada Supamo et aL (1993). Kemudian dilakukan analisa subyektif (organoleptik) untuk mengukur kesukaan terhadap kerupuk teripang dan analisa proksimat (kadar air, protein, lemak, abu, dan garam).
Basil dan uji kesukaan didapat nilai selang kepercayaan 6,17 < p < 7,43 yang berarti produk kerupuk teripang tersebut disukai oleh konsumen. Sedangkan basil analisis proksimat (prosentase) yang terdiri dan protein 43,19 %, air 2,58 %, lemak 32,33 % dan abu 14, 58 %
PERFORMA IKAN ‘SI DULANG’ (IKAN ASIN KHAS KEDUNG MALANG JEPARA) PASCA PENERAPAN RAK PENGERING IKAN PEHI_LING
Ikan asin merupakan salah satu produk olahan ikan yang diawetkan dengan garam dan sangat digemari masyarakat sebagai lauk pauk. Pengolahan ikan asin yang cenderung mengabaikan unsur sanitasi dan higienitas serta penggunaan formalin memberikan potensi berbahaya jika dikonsumsi manusia. Penerapan rak pengering ikan dengan konsep PEHI_LING (Praktis Ekonomis dan Higienis yang berwawasan Lingkungan) diharapkan menjadi solusi bagi pengolahan ikan asin yang lebih terjamin kualitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performa ikan asin pra dan pasca penerapan rak pengering ikan PEHI_LING pada ikan Petek, Layur dan Teri di sentra ikan asin Desa Kedungmalang Kabupaten Jepara. Uji yang digunakan antara lain uji bebas formalin, uji mikrobiologis dan analisis proksimat. Hasil pengujian menunjukkan ikan asin yang diproduksi masyarakat Kedungmalang 70 % mengandung formalin, sisanya bebas formalin. Ikan Asin dengan penerapan PEHI_LING 100% bebas formalin. Tidak ditemukan cemaran bakteri patogenic (Escherichia coli dan Salmonella spp) pada ikan asin Pra dan pasca PEHI_LING. Uji Proksimat menunjukkan rata-rata protein ikan asin pasca penerapan PEHI_LING lebih tinggi daripada sebelum penerapan PEHI_LING. Sedangkan lemak ikan asin pasca penerapan PEHI_LING lebih rendah daripada sebelum penerapan PEHI_LING
Mutu dan Keamanan Produk Ikan Asap di Kota Semarang
Ikan asap di Semarang dilaporkan mempunyai kualitas dan keamanan produk yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keamanan dan mutu ikan asap dikota Semarang. sampel berasal dari pengolah asap di 3 sentra pengolahan ikan asap di kota Semarang. Penelitian ini menggunakan studi kasus dengan subyek penelitian unit pengolahan ikan asap. Uji mutu produk yang dilakukan adalah uji organoleptik dan mikrobiologi (air proses, bahan baku dan ikan asap). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai organoleptik bahan baku di Sentra I 7,95 sentra II 6,27 dan sentra 3 6,48. Nilai TPC dan E coli (air, bahan baku dan ikan asap) pada semua sentra melebihi baku mutu SNI. Sedangkan rerata nilai organoleptik ikan asap pada semua sentra di Semarang sesuai dengan SNI
- …
