1,720,993 research outputs found

    Deteksi Spesies Mamalia Menggunakan DNA Lingkungan dari Kubangan Garam Alami Adudu, Suaka Margasatwa Nantu, Gorontalo, Sulawesi.

    No full text
    Deteksi keberadaan spesies mamalia merupakan langkah penting dalam penilaian keanekaragaman hayati dan pengelolaan populasi satwaliar di habitat alami. Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan keberhasilan pendekatan metabarkoding eDNA dalam mendeteksi keberadaan spesies-spesies mamalia. Sebagian mamalia terestrial diketahui memanfaatkan kubangan garam alami sebagai sumber mineral di dalam diet dan meninggalkan material genetik yang dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan spesies mamalia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan mengevaluasi keandalan metode metabarcoding eDNA menggunakan primer MiMammals dari penanda 12S rRNA dalam mendeteksi spesies mamalia endemik Sulawesi dari sampel air kubangan garam alami Adudu. Penelitian ini dilakukan di kubangan garam alami Adudu, Suaka Margasatwa Nantu, Gorontalo, Indonesia. Kerja lapangan dilakukan pada pertengahan September 2017. Prosedur metabarkoding eDNA telah dilakukan untuk mendeteksi keberadaan mamalia dari kubangan garam alami ini. Sampel air dari kubangan garam alami tersebut difilter dan kemudian DNA lingkungan diekstraksi menggunakan DNeasy Blood and Tissue kit. Kemudian pustaka amplikon disusun melalui amplifikasi PCR dan sekuensing menggunakan platform MiSeq Illumina. Pengolahan data sekuen dan penentuan taksonomi dilakukan menggunakan dua platform bioinformatika, PipeCraft-1.0 dan OBITools-1.2.13. Tiga sampel DNA berhasil diekstraksi dan digunakan untuk penyusunan pustaka amplikon. Proses penyaringan kualitas dan penggabungan R1 dan R2 menghasilkan 131.275 urutan basa dengan panjang minimum 161 pb, panjang maksimum 252 pb, dan panjang rata-rata 232 pb. Pemrosesan reads menghasilkan urutan basa yang akan dikelompokkan untuk menyusun tabel OTU, penentuan taksonomi mencari urutan basa yang sangat mirip di dalam database referensi untuk menentukan identitas mamalia Sulawesi hingga tingkat spesies. Dua spesies mamalia Sulawesi berhasil dideteksi, yaitu anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan babirusa (Babyrousa babyrussa). Reads yang teridentifikasi sebagai babirusa Buru (Babyrousa Babyrussa, Linnaeus, 1758) kemungkinan besar adalah false-positive, karena lokasi studi tidak termasuk ke dalam range distribusi alami dari spesies ini. Kemungkinan urutan basa tersebut seharusnya teridentifikasi sebagai babirusa Sulawesi Utara (Babyrousa celebensis, Deninger, 1910). Keakuratan identifikasi spesies mamalia menggunakan metabarcoding eDNA dipengaruhi oleh prosedur metabarkoding eDNA, ketersediaan database referensi, dan perilaku mamalia

    Keanekaragaman Udang Air Tawar di Sungai Kampar Provinsi Riau

    No full text
    Udang air tawar merupakan anggota subfilum Crustacea, kelas Malacostraca, ordo Decapoda, infraordo Caridae, famili Palaemonidae, Atyidae dan Alpheidae. Genus Macrobrachium dari famili Palaemonidae memiliki persebaran paling luas di dunia. Lebih dari 240 spesies sudah terdeskripsi, 100 spesies diantaranya tersebar di Asia Timur dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keanekaragaman udang air tawar di Sungai Kampar Provinsi Riau. Penelitian ini dilakukan pada lima stasiun di Sungai Kampar dengan metode convenience sampling. Setiap sampel difoto dan disimpan dalam alkohol 70% untuk selanjutnya diidentifikasi dengan buku identifikasi Freshwater Invertebrates of the Malaysian Region. Udang air tawar yang didapatkan sebanyak 119 individu. Sampel yang didapatkan merupakan famili dari Palaemonidae genus Macrobrachium yang terdiri dari tiga spesies, yaitu: Macrobrachium malayanum, Macrobrachium lanchesteri dan Macrobrachium rosenbergii. Spesies yang paling banyak ditemukan di lima stasiun penelitian adalah Macrobrachium lanchesteri

    Somatotypes of Bekasi Children and Adolescent Aged 3-20 Years

    No full text
    Salah satu metode kuantitatif untuk mendeskripsikan bentuk dan komposisi tubuh adalah somatotipe. Somatotipe dinyatakan dalam tiga urutan angka yang masing-masing mewakili endomorf, mesomorf, dan ektomorf. Indonesia memiliki suku, sosiokultur, dan latar belakang sosio-ekonomi yang beragam sehingga penting untuk mempelajari variasi bentuk dan komposisi tubuh menggunakan metode kuantitatif di setiap kotanya. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan somatotipe anak dan remaja usia 3-20 tahun di Bekasi. Pengukuran somatotipe menggunakan metode yang diperkenalkan Carter dan Heath. Komponen somatotipe berubah seiring pertambahan usia. Pada usia 3 tahun perempuan memiliki somatotipe mesomorf-endomorf. Somatotipe berubah dari endomorf menjadi mesomorf dan ektomorf yang seimbang setelah usia 12 tahun. Somatotipe laki-laki pada usia 3 tahun adalah mesomorf-ektomorf. Somatotipe lalu berubah menjadi endomorf berimbang pada usia 13 tahun. Pada usia 20 tahun, somatotipenya tetap endomorf berimbang. Secara umum, komponen endomorf perempuan naik sedangkan laki-laki turun. Komponen mesomorf dan ektomorf laki-laki lebih tinggi daripada perempuan di setiap tingkat usia

    Morfometri Wajah Suku Baduy, Banten, Indonesia.

    No full text
    Morfometrik adalah metode untuk menggambarkan dan membandingkan bentuk sampel suatu organisme secara statistik. Morfometrik dibagi menjadi dua kelompok yaitu morfometrik tradisional dan morfometrik geometrik. Salah satu variasi objek morfometrik yang mudah diamati yaitu wajah. Variasi bentuk wajah merupakan salah satu karakter yang dapat membedakan kelompok suku di Indonesia. Indonesia memiliki beragam suku dan budaya, salah satu suku yang unik yaitu suku Baduy. Suku Baduy adalah masyarakat tradisional yang terisolasi di Desa Kanekes, Provinsi Banten, Indonesia. Suku Baduy terdiri atas dua kelompok, yaitu Baduy dalam dan Baduy luar. Keunikan adat dan budaya yang ada di suku baduy menjadikan suku ini ideal untuk dilakukannya analisis wajah. Penelitian ini dilakukan di wilayah suku Baduy luar. Penelitian ini bertujuan mempelajari variasi bentuk wajah dan mengidentifikasi karakteristik wajah suku Baduy luar menggunakan metode geometric morfometrik. Citra wajah orang Baduy luar terdiri atas 116 pria dan 74 wanita dengan rentang usia 19 hingga 65 tahun. Variasi bentuk wajah orang Baduy luar dikelompokkan menjadi empat tipe wajah depan pria, tiga tipe wajah depan wanita, empat tipe wajah samping pria, dan tiga tipe wajah samping wanita

    Identifikasi DNA pada Barang Bukti Kasus Pembunuhan untuk Keperluan Forensik

    No full text
    Kasus kejahatan terutama pembunuhan kerap terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini membuat ilmu forensik semakin berkembang sebagai bukti ilmiah yang menerapkan ilmu sains dengan melakukan identifikasi DNA. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi DNA pada barang bukti kasus pembunuhan untuk keperluan forensik. Identifikasi DNA menggunakan metode Short Tandem Repeat (STR) atau mikrosatelit dengan 21 marka STR, satu marka penentu jenis kelamin, satu marka Y STR, dan satu marka Y indel. Barang bukti yang di identifikasi diambil dari dua kasus pembunuhan yang berbeda (18098 dan 18101) dengan total tujuh barang bukti dan dua materi biologis tersangka. Konsentrasi DNA terbesar pada sampel buccal swab tersangka 2,78%.Profil DNA yang dihasilkan dari materi biologis pada barang bukti kemudian dicocokkan dengan profil DNA korban dan tersangka. Hasil penelitian ini menunjukkan profil DNA pada barang bukti identik dengan profil DNA korban dan tersangka. Keakuratan kecocokan profil DNA dilihat dari banyaknya kesamaan profil pada 24 marka STR dengan presentase 99,9959696216967% pada kasus 18098 dan 99,99999999999999999% pada kasus 18101. Pada sampel barang bukti kasus 18098 (bercak darah pada botol sabun mandi cair dan mata pisau)dan kasus 18101 (baju korban, tali merah dan tali hitam) ditemukan adanya mixture DNA yang berarti sampel tersebut menghasilkan profil DNA lebih dari satu individu. Terdeteksinya profil DNA bergantung pada cara penyimpanan dan lama penyimpanan barang bukti. Kondisi barang bukti sangat dipengaruhi oleh lingkungan, kontaminasi dan proses pembusukan

    Variasi Wajah Suku Melayu Riau

    No full text
    Wajah merupakan bagian dari tubuh manusia. Wajah masyarakat di Indonesia sangat bervariasi karena terdiri berbagai macam etnis salah satunya Etnis Melayu Riau yang mendiami daerah Riau daratan dan Riau Kepulauan. Penelitian mengenai variasi wajah, khususnya pada etnis Melayu Riau, masih belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui variasi wajah Suku Melayu di Riau. Deskripsi dan analisis variasi bentuk wajah dilakukan menggunakan morfometrika geometri berdasarkan 26 titik anatomi wajah depan dan 16 titik anatomi wajah samping melalui formula thin plate spline. Formula ini mampu menggambarkan pergerakan titik-titik anatomi dari suatu bentuk ke bentuk lainnya. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan tiga tipe wajah depan dan tiga tipe wajah samping, baik pada pria maupun wanita. Hasil analisis tersebut menunjukkan adanya variasi wajah dan pola penyebaran tipe yang terjadi secara acak berdasarkan wilayah yang ditempatinya antara kelompok Sedinginan dan kelompok Kepulauan Riau

    Comparative Study of DNA Identification on Two Different Sexual Assault Cases

    No full text
    Sexual assault or rape is one of many criminal cases that still occur daily in alarming numbers. Regarding in resolving many of these rape cases, forensic DNA testing has a major role in exonerating or convicting an individual deemed as suspect. Current DNA testing provides the DNA profile of evidence and reference through STR markers-based and lineage markers of Y chromosome and mitochondrial DNA approach. STR can distinguish an individual from another individual. There are two sets of STR markers complying with the standards requested by criminal databases around the world. These STR markers are mainly incorporated into commercial kits such as GlobalFiler™ Kit. This study aims to compare the processes and results of forensic DNA identification on two different rape cases. All samples were examined and extracted by chelex extraction method. The DNA extracted from these samples was quantified then amplified in 24 markers with GlobalFiler™ Kit and followed by capillary electrophoresis. Lastly, the DNA profile was compared and matched. Different samples from both cases yield a different amount of DNA concentrations with a very low level of male DNA concentrations in the vaginal swab. Therefore, it failed to produce any DNA profile. Full DNA profile on 24 markers of some samples was successfully obtained and compared, with one sample obtained a partial DNA profile. Two samples of each case are found to be biologically related because of the similarity in half of their DNA profile. One of the cases regarded as inconclusive because of the absence of the perpetrator’s DNA profile in the evidence. Thus, making it impossible to compare

    Perilaku Harian Kucing Domestik Non Liar dengan Pola Rambut Dua Warna.

    No full text
    Kucing domestik merupakan salah satu hewan peliharaan yang digemari oleh masyarakat karena perilaku yang unik dan morfologi yang beragam. Penelitian tentang perilaku harian kucing domestik sangat penting untuk acuan penanda kualitas kesejahteraan hidup mereka sebagai hewan peliharaan. Penelitian bertujuan menganalisis perilaku harian kucing domestik non liar dengan pola dua warna yang akan memberikan informasi dasar. Penelitian ini menggunakan kucing pola rambut dua warna dengan metode focal animal sampling dan scan sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kucing memiliki kategori perilaku pemeliharaan diri yang dominan dibandingkan kategori pertemuan negatif dan affiliatif. Frekuensi tidur merupakan perilaku yang dominan diikuti oleh perilaku menjilati anggota tubuh sendiri, makan, minum, buang air besar dan buang air kecil pada kategori pemeliharaan diri. Kategori perilaku pertemuan negatif memiliki frekuensi lebih dominan dibandingkan kategori affiliatif. Kategori perilaku pertemuan negatif yang dominan yaitu waspada atau siap siaga diikuti bertatapan dan mencakar kucing lain. Bertatapan dengan manusia merupakan perilaku yang dominan pada kategori perilaku affiliatif. Perilaku bermain pada semua individu cenderung rendah dan hanya individu jantan yang melakukan perilaku bermain

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore