1,720,956 research outputs found

    KONSEKUENSI YURIDIS AKTA JAMINAN FIDUSIA YANG DIBUAT SECARA SENTRALISTIK

    Get PDF
    ABSTRAK Akta Jaminan Fidusia yang dibuat secara sentralistik akan membuat seorang Notaris yang mengerjakannya diduga dan terindikasi melakukan pelanggaran dan hal tersebut akan menimbulkan akibat hukum serta mempengaruhi kekuatan pembuktian aktanya. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana akibat hukum tersentralistiknya pembuatan Akta Jaminan Fidusia, bagaimana akibat hukum pendaftaran Akta Jaminan Fidusia yang dibuat notaris yang didaftarkan oleh ritel serta bagaimana cara mengatasi akibat tersentralistiknya pembuatan Akta Jaminan Fidusia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis empiris. Berdasarkan hasil penelitian akibat hukum tersentralistiknya pembuatan Akta Jaminan Fidusia adalah terjadinya pelanggaran terhadap Undang-Undang Jabatan Notaris, Undang-Undang Jaminan Fidusia, Kode Etik Notaris dan PerDKP INI No. 1 tahun 2017, dengan konsekuensi yuridis terhadap Akta Jaminan Fidusia yang dapat terdegradasi menjadi akta dibawah tangan atau batal demi hukum. Seluruh sertifikat Jaminan Fidusia yang terbit dari pendaftaran Akta Jaminan Fidusia yang dilakukan Ritel seharusnya dinyatakan batal demi hukum, dikarenakan Ritel tidak diatur di dalam peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia dan tidak termasuk kepada subjek hukum, karena itu Ritel tidak berhak untuk melakukan perbuatan hukum, dalam hal ini pendaftaran Akta Jaminan Fidusia. Cara mengatasi tersentralistiknya pembuatan Akta Jaminan Fidusia, yang dilakukan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia berupa melakukan himbauan, konsultasi dan sosialisasi kepada lembaga keuangan non bank untuk menggunakan jasa Notaris di daerah. Otoritas Jasa Keuangan tidak melarang perbuatan sentralisasi Fidusia karena tidak ada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan yang melarang. Dewan Kehormatan Pusat masih melakukan penilaian dan pembahasan terkait pembuatan Akta Jaminan Fidusia secara sentralistik agar tidak terjadi kekeliruan nantinya. Majelis Pengawas Pusat Notaris dalam mengatasi perbuatan permbuatan akta jaminan Fidusia secara sentralistik yaitu melakukan pemeriksaan, melakukan pembinaan terhadap Notaris melalui himbauan-himbauan, konsultasi dan sosialisasi agar tidak mengerjakan pembuatan akta yang melebihi batas kewajaran akta yang mana akan terindikasi adanya dugaan pelanggaran, dan melakukan perancangan dan pembuatan Peraturan Menteri bersama dengan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia yang akan menghapuskan syarat adanya laporan atau pengaduan dari masyarakat agar dapat dilakukan pemeriksaan mendalam dan membawa Notaris yang diduga atau terindikasi melakukan dugaan pelanggaran untuk diadili oleh Majelis Pengawas Wilayah. Kata Kunci : Konsekuensi yuridis, Akta Jaminan Fidusia, Sentralisti

    PENYELESAIAN DUGAAN PELANGGARAN PASAL 36 UNDANG – UNDANG NOMOR 42 TAHUN 1999 TENTANG JAMINAN FIDUSIA (Study Pada PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk. Cabang Padang)

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian mengenai Penyelesaian Dugaan Pelanggaran Pasal 36 Undang - Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia (Study Pada PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk. Cabang Padang) bertujuan untuk mengetahui langkah-langkah yang ditempuh Penerima Fidusia dalam penyelesaian kasus dugaan pelanggaran Pasal 36 Undang - Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia yang dilakukan oleh Pemberi Fidusia, serta untuk mengetahui dasar pertimbangan Penerima Fidusia dalam penyelesaian kasus dugaan pelanggaran Pasal 36 Undang - Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia yang dilakukan oleh Pemberi Fidusia pada PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk. Cabang Padang. Penelitian mengenai Penyelesaian Dugaan Pelanggaran Pasal 36 Undang - Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dilakukan dengan menggunakan pendekatan hukum yuridis sosiologis. Teknik pengumpulan data primer dilakukan melalui penelitian lapangan dengan cara wawancara langsung kepada responden dengan alat berupa pedoman wawancara. Responden yang diwawancarai adalah Head of Litigation PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk. Untuk melengkapi data, dilakukan juga penelitian kepustakaan, teknik yang digunakan dalam pengumpulan data sekunder adalah studi dokumen dengan alat berupa bahan-bahan tertulis, dan analisa data dilakukan secara kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa langkah-langkah Penerima Fidusia dalam penyelesaian kasus dugaan pelanggaran Pasal 36 Undang - Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia yang dilakukan oleh Pemberi Fidusia adalah pemberian tenggang waktu untuk pelunasan hutangnya, melakukan eksekusi atas objek jaminan fidusia yang dilakukan oleh pihak eksternal, apabila objek tidak ditemukan dan atau ditemukan tetapi pihak ketiga tidak bersedia menyerahkan objek tersebut, maka PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk. Cabang Padang akan membuat laporan kepada pihak kepolisian setempat atas dugaan tindak pidana jaminan Fidusia. Dasar Pertimbangan Penerima Fidusia dalam penyelesaian kasus dugaan pelanggaran Pasal 36 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia yang dilakukan oleh Pemberi Fidusia pada PT. Adira Dinamika Multi Finance Tbk. Cabang Padang adalah pertimbangan untuk menyelesaikan dengan cara musyawarah (perdata) berupa Pemberi Fidusia memiliki itikad baik dalam penyelesaian kasus pengalihan objek jaminan fidusia, Pemberi Fidusia bersedia melunasi seluruh hutangnya. Pertimbangan untuk menyelesaikan dengan laporan kepada pihak kepolisian berupa tidak adanya itikad baik dari Pemberi Fidusia maupun dari pihak ketiga, Pemberi Fidusia tidak bersedia melunasi seluruh hutangnya, dan objek jaminan fidusia tidak ditemukan

    Konsekwensi Yuridis Akta Jaminan Fidusia Yang Dibuat Secara Sentralistik

    No full text
    ix.; 137 hlm.; ill.; 19 c

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Get PDF
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado
    corecore