34 research outputs found

    Penggunaan Lumatan Daun Bunga Sepatu (Hibiscus Rosa-Sinensis L) Untuk Penyembuhan Luka Insisi Pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus Strain Wistar)

    No full text
    Luka merupakan gangguan kontinuitas kulit, membran mukosa atau organ tubuh lain. Penggunaan bahan herbal daun bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) mempunyai khasiat antiseptik. Oleh karena itu dapat digunakan untuk membantu mempercepat proses penyembuhan luka. Tujuan Penelitian untuk mengidentifikasi penggunaan Lumatan daun bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) dan penggunaan Normal Salin 0,9 % dalam lama penyembuhan luka insisi pada tikus putih (Rattus Norvegicus strain Wistar). Metode penelitian true ekperimental dengan pendekatan deskriptif dengan sampel hewan coba tikus putih (Rattus norvegicus strain wistar) sebanyak 15 ekor yang dilakukan pembuatan luka insisi yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok perlakuan (Lumatan daun bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.), kelompok Normal Salon 0,9 %, dan kelompok kontrol (tanpa perlakuan). Perawatan luka dilakukan setiap hari dan dievaluasi sampai luka sembuh. Penelitian di lakukan di Laboratorium Universits Muhammadiyah Yogyakarta. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan rumus statistik persentase.Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kesembuhan luka insisi pada kelompok Lumatan daun bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) adalah 4,2 hari dan kelompok Normal Salon 0,9 % 5,2 hari. Sedangkan pada kelompok kontrol (tanpa perlakuan) 7,2 hari. Simpulan Daun bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) mengandung flavonoid dan saponin berfungsi sebagai antibakteri dan berpengaruh pada fase proliferasi maka disarankan penggunaan lumatan daun bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) dalam memberikan perawatan luka. Kata Kunci : Lumatan, daun, bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.), penyembuhan luka, luka insisi</jats:p

    IDENTIFIKASI GEJALA PASCA VAKSINASI COVID-19 DOSIS KE-3 (BOOSTER)

    No full text
    Objective:. COVID-19 is a type of disease that infects the human respiratory tract. Transmission of the COVID-19 virus is fast and aggressive. Vaccination is one of the preventive measures that is of concern to inhibit the spread of Covid-19. Booster doses of vaccination are carried out to maintain the effectiveness of the vaccine. AEFI is any medical event that is not expected to occur after immunization where the events are varied, because everyone experiences different symptoms. .Methods: The research design used a quantitative descriptive study with a population of 211 students and a sample of 138 using a purposive sampling technique. Data analysis using descriptive analytic.Results: The results showed that the AEFI symptoms that often appeared after the AstraZeneca, Moderna, Pfizer, and Sinovac booster doses of vaccination were Headache, Fever, Pain accompanied by weakness at the injection site, Muscle aches, Swelling at the injection site, Lethargy, Weakness/numbness throughout the body, Weakness on the muscles of the arms and legs, Cough/runny nose, other symptoms (local rash (swelling/red/itchy) on: skin, lips and eyes).Conclusion: KIPI is an effect caused after vaccination. By knowing these symptoms, it is hoped that the community can prevent and prepare for appropriate management in dealing with KIPI

    Tekanan Interface Pasien Tirah Baring (Bed Rest) Setelah Diintervensi dengan metode Hospital Corner Bed Making

    No full text
    Pasien tirah baring jangka lama berisiko mengalami gangguan integritas kulit. Gangguan tersebut dapat diakibatkan oleh tekanan yang lama, iritasi kulit atau imobilisasi (bed rest) yang berakibat timbulnya luka dekubitus. Pasien tirah baring membutuhkan intervensi yang difokuskan pada life support atau organ support yang membutuhkan observasi intensif. Upaya pencegahan luka tekan dilakukan sedini mungkin antara lain dengan pemberian dukungan permukaan (interface pressure). Nilai tekanan interface tinggi berisiko timbulnya ulkus tekanan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tekanan interface pada pasien tirah baring. Metode penelitian eksperimental kuasi dengan pre-post test design. Jumlah sampel 48 responden terdiri dari 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan diintervensi menggunakan metode hospital corner bed making dan kelompok kontrol diintervensi dengan metode bed making tali sudut. Kedua kelompok dilakukan evaluasi selama 3 hari. Instrumen yang digunakan adalah Portable Interface Pressure sensor: Palm Q. Hasil menunjukkan bahwa perubahan tekanan interface pre dan post pada kelompok kontrol cukup tinggi dan mengalami naik-turun yang bervariatif sehingga lebih berisiko mengalami luka tekan, sedangkan pada kelompok perlakuan cenderung mengalami penurunan dan atau stabil. Disimpulkan bahwa tekanan interface pada metode hospital corner bed making tampak lebih rendah daripada metode bed making tali sudut

    Hubungan Lokasi Terapi Intravenus Dengan Kejadian Plebitis

    No full text
    Terapi intravena (IV) merupakan cara yang digunakan untuk memberikan cairan dan memasukkan obat, vitamin dan transfuse darah ke tubuh pasien. Dalam terapi intravena dapat terjadi komplikasi salah satunya flebitis. Salah satu factor yang mempengaruhi terjadinya phlebitis adalah lokasi penusukan vena. The aim penelitian ini untuk mengetahui hubungan lokasi terapi intravenus dengan kejadian phlebitis. Desain Penelitian menggunakan Analisis Correlation dengan purposive sampling technique, sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 16 pasien (responden) yang di pasang terapi intravenous. Instrument menggunakan lembar observasi yang dimodifikasi dari the V.I.P (Visual Infusion Phlebitis) score dari United Lincolnshire Hospital NHS Trust Infection Control Manual (RCN, 2005).  Penelitian dilakukan di ruang rawat inap penyakit dalam lantai 6, 8, 11, 12 di Rumah Sakit Husada Utama Surabaya. Uji statistik non parametrik dengan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan lebih dari 62,50% terpasang infus pada vena metacarpal,  dan sisanya terpasang infus pada vena cephalika 31, 25%  dan vena basilica 6,25%. Sedangkan untuk kejadian phlebitis menunjukkan menunjukkan responden yang Plebitis sebanyak 56.25%, dan yang tidak Plebitis sebanyak 43.75%. Uji statistic Chi Square menunjukkan nilai p = 0,002, artinya terdapat hubungan lokasi terapi intravenus dengan kejadian phlebitis. Simpulan Plebitis merupakan peradangan vena yang disebabkan iritasi kimia, bakterial, dan mekanis pada pemasangan terapi intravena yang ditandai dengan kemerah, nyeri dan pembengkakan di daerah penusukan vena. Pemilihan vena pada pemasangan infus diantaranya adalah  vena yang besar tidak bercabang, dan tidak terletak dipersendian.</jats:p

    Manajemen Airway, Breathing, Circulation (ABC) dan Dampaknya terhadap Early Warning Score (EWS) dalam Layanan Gawat Darurat: Mengevaluasi Efektivitas Intervensi Fundamental dalam Meningkatkan Hasil Pasien dan Pengambilan Keputusan Klinis

    No full text
    Objective: &nbsp;to determine the implementation of Airway, Breathing, and Circulation (ABC) management interventions and their impact on the Early Warning Score (EWS) in the Emergency Installation of the Haji Hospital, East Java Province. Methods: &nbsp;Quantitative research design: pretest experimental one group pretest and posttest design. The population was patients aged ≥13 years with ABC disorders. The sample size was 80 people, according to the inclusion and exclusion criteria, by taking non-probability sampling with the consecutive sampling technique. Statistical tests using the Wilcoxon test. Results: The results of the study using the Wilcoxon test obtained an Asymp.sig value (2-tailed) = 0.000 or ρ value ≤ 0.05, indicating that airway, breathing, and circulation (ABC) management has an impact on better changes in early warning score (EWS) Conclusion: &nbsp;EWS is a systematic process to evaluate and measure early risk used to take preventive measures in emergencies that aim to minimize poor prognosis in the body system. The Airways, Breathing, and Circulation (ABC) method can be done for handling emergency conditions Keywords: &nbsp;Early warning Score(EWS), Manajemen Airway, Breathing dan&nbsp; Circulation(ABC) &nbsp;Tujuan: &nbsp;untuk mengetahui pelaksanaan intervensi manajemen Airway, Breathing, and Circulation (ABC) dan dampaknya terhadap Early Warning Score (EWS) di Instalasi Gawat Darurat RS Haji Provinsi Jawa Timur. Metode: &nbsp;Desain penelitian kuantitatif: pretest experimental one group pretest and posttest design. Populasi adalah pasien berusia ≥13 tahun dengan gangguan ABC. Besar sampel 80 orang, sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi, dengan pengambilan sampel non-probability sampling dengan teknik sixth sampling. Uji statistik menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian menggunakan uji Wilcoxon diperoleh nilai Asymp.sig (2-tailed) = 0,000 atau nilai ρ ≤ 0,05, yang menunjukkan bahwa manajemen airway, breathing, and circulation (ABC) memberikan dampak terhadap perubahan early warning score (EWS) yang lebih baik. Kesimpulan: EWS merupakan suatu proses sistematis untuk mengevaluasi dan mengukur risiko dini yang digunakan untuk mengambil tindakan pencegahan pada keadaan darurat yang bertujuan untuk meminimalkan prognosis yang buruk pada sistem tubuh. Metode Airways, Breathing, and Circulation (ABC) dapat dilakukan untuk penanganan kondisi darurat. Kata kunci: Early warning Score(EWS), Manajemen Airway, Breathing dan Circulation(ABC

    IDENTIFIKASI FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RUMAH SAKIT UMUM HAJI SURABAYA

    No full text
    Objective:   This study aims to to determine the risk factors for coronary heart diseaseMethods:   The study used a descriptive research design with a population of all coronary heart disease patients in the Cardiac Inpatient Room at the Haji General Hospital in Surabaya. The population is 108 RM of CHD patients using Simple Random Sampling of 85  patient data with CHD. Data collection was taken from Medical Records by taking data: Age, Gender, Education, Occupation, Height, Weight, History of Hypertension, History of Diabetes Mellitus.Results:   The results showed Coronary Heart Disease based on age Demographic Factors, most were aged 48-55 years, 22 patient data (25.9%), based on gender, most were male, 43 patient data (50.6%) and female, 42 patient data (49 ,4 %). Based on the history of coronary heart disease, the majority did not have a history of CHD 54.10%, had a history of hypertension 74.10%, had a history of diabetes mellitus 61.20% and obesity 63.50%.Conclusion:  Coronary heart disease is caused by atherosclerosis which is caused by the accumulation of lipids in the walls of the coronary arteries. Lipid deposits can form a thrombus that can block blood flow

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN VAP (VENTILATOR ASSOCIATED PNEUMONIA) PADA PASIEN YANG TERPASANG VENTILASI MEKANIK DI RUANG ICU RSU HAJI SURABAYA

    No full text
    VAP adalah pneumonia nosokomial pada pasien yang telah dipasang ventilasi mekanik dengan pipa endotrakeal tube dan trakeostomy selama sedikitnya 48 jam.  Angka kejadian VAP di dunia cukup tinggi, bervariasi antara 9-27% dan angka kematiannya bisa melebihi 50%.Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi Faktor-faktor yang berhubungan dengan ventilator associated pneumonia (VAP) pada pasien yang terpasang Ventilasi Mekanik di ruang ICU RSU Haji Surabaya.Metode penelitian adalah kuantitatif dengan pendekatan cros sectional.Jumlah populasi 30 responden dengan tehnik pengambilan sampel purposive sampling.Hasil analisis penelitian menunjukan bahwa ada hubungan faktor Usia dengan kejadian VAP dengan Nilai Pearson Chi-Square Asymptotic Significance (2-sided) sebesar 0,001. Ada Hubungan  faktor oral hygiene dengan kejadian VAP dengan Nilai Pearson Chi-Square Asymptotic Significance (2-sided) sebesar 0,02.Ada hubungan faktor Lama Terpasang ventilasi mekanik dengan kejadian VAP dengan Nilai Pearson Chi- Square Asymptotic Significance (2-sided) sebesar 0,015. Tidak Ada Hubungan faktor penyakit penyerta dengan kejadian VAP dengan Nilai Pearson Chi-Square Asymptotic Significance (2-sided) sebesar 0,554.Kesimpulanya faktor umur,Oral hygiene, lama penggunaan ventilasi mekanik,sangat berpengaruh dengan kejadian VAP

    Efektifitas Penggunaan Aplikasi E-Course di Masa Pandemi Terhadap Persiapan Mahasiswa Menghadapi Uji Kompetensi Ners Indonesia

    No full text
    Objective: This study aims to identify the effectiveness of the E-Course in preparing students for the Indonesian Nurse Competency Test Methods: The design used in this study was a pre-post test one group design. The sample of this study were students participating in the Nursing Professional Education Study Program, University of Muhammadiyah Surabaya, who would be prepared to take part in the nurse competency test. This research instrument uses the average standard of Try Out Nurses Competency Test. Before the Nurses Competency Test was carried out, it measured the preparation of students in the Indonesian Nurses Competency Test. The tryout was carried out by AIPNI in September 2019 with a total of 6,379 partic- ipants, the average correct answer was 92.91 out of 180 questions and then processed using the t-test test data analysis technique. Results: there is a significant effect of providing interventions carried out by researchers related to the effectiveness of the use of e-courses on student preparation in facing the competency test with a significant value of p &lt; 0.01 Conclusion: The use of the E-Course for the preparation of the Nurse Competency Test during the pandemic for Nursing Professional Education Study Program students, University of Muhammadiyah Surabaya contributes to the quality of Higher Education Graduate

    Pentingnya Peran Keluarga Pada Anggota Keluarga Mengalami Stroke Di Posyandu Lansia Kalijudan

    No full text
    keluarga memiliki peran yang sangat krusial dalam proses rehabilitasi pasien stroke. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga dapat mempengaruhi hasil rehabilitasi secara signifikan. Namun faktanya masih banyak dari keluarga pasien yang belum mampu memberikan perawatan secara optimal dikarenakan kurangnya pengetahuan terkait teknik perawatan pada pasien stroke. Oleh karena itu, pemberian edukasi dan pendampingan kepada keluarga pasien stroke penting. Tujuan: meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam merawat pasien stroke di Posyandu Lansia Kalijudan, Surabaya. Metode: metode pendekatan yang digunakan pada pengabdian ini yaitu metode partisipatif dengan sasaran keluarga dari pasien stroke dan masyarakat setempat di Posyandu Lansia Kalijudan sebanyak 27 orang. Kesimpulan: pemberian edukasi pada keluarga pasien stroke di Posyandu Lansia Kalijudan, Surabaya, memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dukungan emosional, dan kemampuan memberikan motivasi kepada pasien. Pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang meningkat menunjukkan bahwa intervensi berbasis edukasi mampu menjembatani kesenjangan pemahaman dan keterampilan keluarga dalam mendukung pasien stroke

    Community Perspectives On Employing Herbal Plants Betel Leaves, in Hypertension

    No full text
    Background : Treatment for hypertension sufferers is not only medical but can also use natural ingredients in the form of standardized herbs and herbal therapy. This encourages hypertension sufferers to try traditional treatment. In fact, there are still many people who do not know about existing herbal treatments. This is because people are not exposed to information. It was found that this wrong perception arose due to a lack of good communication from authorities such as health workers to convince the public about the effectiveness of herbal plant management. Objective: This study aims to determine the people’s perception of the use of betel leaf plants in hypertensive patients in East Kalianget Village. Method: This research uses a descriptive method. The total population was 196 respondents. The sampling technique used was purposive sampling. With a sample of 131 respondents suffering from hypertension. The data collection technique is in the form of a questionnaire. Data processing uses the SPSS program with Descriptive Analysis. Results: This research shows that as many as 107 people (81.7) have positive perceptions about the use of betel leaf plants in East Kalianget Village, Sumenep. In conclusion, there is a positive public perception that supports the application of betel leaf plants by individuals suffering from hypertension. Both medical and non-medical approaches can be used to treat and prevent hypertension. It is said that using traditional medicine—especially using betel leaves—is safer than using modern treatment
    corecore