1,721,486 research outputs found
Les activites du Centre de francais Rene Descartes
A propos des travaux du Centre francais Rene Descartes
Ibn Rusyd dan Rene Descartes : studi komparatif tentang rasionalitas
Rasionalitas, merupakan sarana untuk memberikan penjelasan atau pandangan secara umum mengenai cara berfikir untuk memecahkan suatu masalah yang sangat komplek dan menemukan kebenaran. Rasionalitas berfungsi mengidentifikasi mana yang benar dan mana yang keliru, bahkan rasionalitas menjadi satu-satunya tolak ukur penilaian bagi sebagian proposisi agama, terutama dalam lingkup hukum fiqih dan syariat yang bersifat partikular. Rasionalitas juga bisa mengantarkan peradaban lebih maju, baik ilmu pengetahuan maupun peradaban manusia. Penulis menyadari perlu adanya pembahasan perbandingan dua tokoh dalam konsep rasionalitas. Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui apa persamaan dan perbedaan rasio menurut Ibn Rusyd dan Rene Descares, apa kelebihan dan kelemahan pemikiran Ibn Rusyd dan Rene Descartes dan Bagaimana peran rasio dalam diskursus keagamaan menurut Ibn rusyd dan Rene Descartes .
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Research) sehingga jenis penelitian kualitatif. Sumber data diperoleh dari sumber data primer Ibn Rusyd, Fashl al-Maqol fi Ma Baina al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal, dan Rene Descartes, Discourse on Method and Meditations on First Philosophy, dan Rene Descartes, Diskursus on Metode, terj, Ahmad Faridl Ma’ruf, dan sumber data sekunder diperoleh dari data-data yang berhubungan dan mendukung penelitian seperti buku yang terkait, ensiklopedi, makalah, majalah, artikel, dll. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode induktif, deduktif, komparatif, dan Hermeneutik.
Penelitian ini menghasilkan kesimpulan. Persamaan pemikiran Ibn Rusyd dan Rene Desacrtes dalam memandang Rasio terletak bagaimana keduanya menganggap rasio adalah hal penting yang digunakan untuk mencapai kebenaran. Kedua tokoh tersebut merupakan tokoh pelopor renaissance yang membuktikan teori ketuhanan yang bersifat rasional. Perbedaan pemikiran keduanya terletak pada penyusunan teori rasio Ibn Rusyd yang menggunakan akal dan wahyu sedangkan Rene Descartes menyusun Teori rasio melalui meditasi
Kelebihan pemikiran Ibn Rusyd terlihat dari bagaimana beliau dapat menyelaraskan antara filsafat dan agama sehingga Ibn rusyd mendapat julukan Averroisme, namun filsafat Ibn Rusyd yang mengagungkan akal menjadi nilai kelemahan bagi Ibn Rusyd yang merupakan Filosof Islam. Kelebihan pemikiran Rene Descartes terletak pada metode keragu-raguannya yang memunculkan jargon “Cogito Ergo Sum” yang menjadikannya mendapat julukan Bapak Filsafat Moderen. Kelemahan pemikiran Rene Descartes terletak dalam pembahasan masalah eksistensi Tuhan.
Dalam pembahasan diskursus keagamaan antara Ibn Rusy dan Rene Descartes, keduanya sama-sama menempatkan rasio dalam posisi penting dalam sisi kehidupan manusia. Namun, dalam filsafat Ibn Rusyd terdapat peran wahyu untuk mencapai kebenaran
Komparasi geometri rene descartes dengan geometri lain Ditinjau dari metode, penggunaan aljabar dan mazhab
Latar belakang penelitian ini berawal dari penggunaan metode dalam menyelesaikan permasalahan geometri oleh ahli geometri, penggunaan aljabar dalam geometri dan mazhab dalam geometri. Rene Descartes merupakan salah satu tokoh
geometri pada zaman pra-moderen yang memiliki kontribusi. Karyanya yang berpengaruh dalam geometri adalah La Geometrie yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris The Geometry.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metode yang digunakan Rene Descartes dalam memecahkan masalah geometri, penggunaan aljabar dalam geometri Rene Descartes dan Kategori mazhab geometri Rene Descartes. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode intrepretasi, deduksi-induksi dan komparasi yang biasa digunakan dalam metodologi penelitian filsafat.
Hasil penelitian ini meyatakan bahwa Rene Descartes dalam menyelesaikan permasalahan geometri menggunakan metode analitik, dengan penggunaan aljabar yang dominan serta masuk dalam kategori mazhab intusionisme
Kontribusi Filsafat Jiwa Ibnu Sina terhadap Pemikiran Rene Descartes
Hasil penelitian ini menunjukkan tiga pokok bagian. Pertama, penelitian ini
menunjukkan latar belakang kehidupan Ibnu Sina dan Rene Descartes, kedua tokoh
tersebut adalah tokoh besar dalam sejarah ilmu pengetahuan. Sehingga Ibnu Sina
dijuluki sebagai bapak kedokteran, adapun Rene Descartes disebut sebagai bapak
filsafat modern. Kedua, pemikiran filsafat jiwa Ibnu Sina dan Rene Descartes samasama mengembangkan pemikiran terdahulu Aristoteles dan Plato. Namun Ibnu Sina
dalam mengkajinya menggunakan dasar Islam, jadi tidak keluar dari ranah Islam itu
sendiri. Descartes mendasarkan pada pengetahuan rasio. Kendati demikian, mereka
sepakat bahwa jiwa dan jasad merupakan substansi yang berdiri sendiri, hancurnya
jasad tidak membuat hancurnya jiwa (kekal). Ketiga, kontribusi filsafat jiwa Ibnu
Sina terhadap pemikiran Descartes, yaitu mengenai keterpisahan antara jiwa dan
badan. Descartes sama halnya dengan Ibnu Sina yang mengatakan jiwa bersifat kekal.
Hanya saja kekekalan jiwa tidak dijelaskan lebih detail oleh Descartes, itu
dikarenakan pemikirannya yang rasionalis. Bahkan kontribusi Ibnu Sina juga dapat
dilihat dari argumen alam mimpi (cogito ergo sum) Rene Descartes yang sama
dengan dalil manusia terbang Ibnu Sina yang secara tekstual memiliki persamaan.
Implikasi penelitian ini, yaitu mengkaji persoalan jiwa yang merupakan salah satu
cara untuk menemukan hakekat manusia. Jiwa harus diseimbangkan, antara akal dan
wahyu. Perlunya menjaga jiwa dalam keadaan sehat untuk keselamatan dunia akhirat,
namun sungguh rugi orang yang tidak menjaga jiwa dan akan celaka dunia akhirat
Petualangan rasionalisme menuju Tuhan : studi perbandingan Zakaria Al-Razi dan Rene Descartes
Akal (rasio) merupakan substansi sangat penting yang terdapat dalam diri manusia sebagai cahaya (nur) dalam hati. Cahaya ini menurut Zakaria al-Razi dan Rene Descartes, bersumber langsung dari Tuhan yang Maha Sempurna, sebagai utusan untuk menyadarkan manusia dari kebodohannya. Zakaria al-Razi dan Rene Descartes adalah seorang rasionalis murni, yang mempercayai bahwa pengatahuan diperoleh dengan cara berfikir, alat dalam berfikir itu ialah kaidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika. Al-Razi dan Descartes menunjukkan bahwa manusia dengan akal (rasio) nya mampu mendapatkan pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi manusia, lebih jauh akal (rasio) juga mampu menjangkau wilayah ketuhanan (membuktikan adanya Tuhan yang Maha Sempurna). Oleh karena itu rumusan masalahnya adalah bagaimana peran akal (rasio) dalam pandangan Zakaria al-Razi dan Rene Descartes dalam menjangkau wilayah ketuhanan, serta apa persamaan dan perbedaan peran akal (rasio) dalam pandangan Zakaria al-Razi dan Rene Descartes dalam menjangkau wilayah ketuhanan. Untuk mengurai gagasan dan sajian data yang obyektif dari problematika tersebut, maka penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat riset kepustakaan (liberary research), sedangkan metode yang digunakan adalah metode dokumentasi yang kemudian dianalisis. Sumber data diperoleh dari sumber data primer karya Zakaria al-Razi: al-Thibb ar-Ruhani (Pengobatan Ruhani) yang diterjemahkan oleh M.S.Nasrullah dan Dedi Mohamad dan karya Sarah Stroumsa: Para Pemikir Bebas Islam (Mengenal Pemikiran Teologi Ibn Ruwandi dan Abu Bakar al-Razi), serta karya Rene Descartes: Discourse on Method and Meditations on First Philosiphy dan Diskursus & Metode (mencari kebenaran melalui ilmu-ilmu pengetahuan). Sedangkan untuk sumber data sekunder diperoleh dari data-data yang berhubungan dan mendukung penelitian seperti buku-buku yang terkait, penelitian ilmiah, ensiklopedi, artikel dll.
Secara khusus, peneliti berusaha menjawab pertanyaan mendasar yang menjadi rumusan masalah. Pertama, Zakaria al-Razi dan Rene Descartes memberikan kedudukan yang sangat tinggi terhadap akal, selain itu mereka juga meyakini bahwa akal pikiran manusia bersumber langsung dari Tuhan Yang Maha Sempurna, menyakini bahwa manusia dengan akal (rasio)nya mampu menjangkau wilayah ketuhanan. Kedua, bahwa secara esensial Zakaria al-Razi dan Rene Descartes sama-sama menggunakan akal dalam menjangkau wilayah ketuhanan. Perbedaan di antara keduanya terletak pada metode yang digunakan. Zakaria al-Razi menggunakan dalil penciptaan untuk membuktikan kemampuan rasio dalam menjangkau wilayah ketuhanan. Sedangkan Rene Descartes membuktikan kemampuan akal dalam menjangkau wilayah ketuhanan dengan meditasi. Meskipun Zakaria al-Razi dan Rene Descartes sangat mengutamakan akal (rasio), bukan berarti keduanya menganjurkan untuk meninggalkan agama. Hanya saja mereka ingin membuktikan bahwa Tuhan bisa dijangkau dengan hal-hal yang rasional, bukan dengan hal-hal yang irrasional
Rene Descartes dan logika baru
Tulisan ini menitikberatkan kajiannya pada logika baru Rene Descartes. Setelah mengkaji logika baru dalam beberapa karya Descartes, tulisan ini menunjukkan bahwa Descartes telah berhasil membangun pondasi kepastian bagi pengembangan ilmu pengetahuan, sebuah dasar yang belum pernah ditemukan oleh para pendahulunya. Oleh karena itu, orang dapat melihat kejelasan dan kepastian itu dalam aturan-aturan logikanya. Descartes telah menemukan sesuatu yang takterpikirkan oleh filsafat klasik, sebuah cara penalaran baru yang dapat menjamin kebenaran dirinya sendiri secara pasti. Memang sejak awal, Descartes ingin mencari yang pasti dalam filsafat dan hal itu sudah ia temukan dan terapkan sehingga dunia filsafat hingga sekarang ini tidak mungkin melupakan dirinya sendiri sebagai the founder of modern philosophy
DOĞUŞTAN DÜŞÜNCELER ÜZERİNE RENE DESCARTES, JOHN LOCKE VE GOTTFRJED WILHELM LEİBNİZ
DOĞUŞTAN DÜŞÜNCELER ÜZERİNE RENE DESCARTES, JOHN LOCKE VE GOTTFRJED WILHELM LEİBNİ
EPISTEMOLOGI RASIONALISME RENE DESCARTES DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENAFSIRAN AL-QUR`AN
This article discusses about rationalism epistemology by Rene Descartes—modern philosopher—and his relevance to the Qur`anic exegesis. A study about epistemology is the perspective which is urgent in developing science in the future. The meaning of epistemology is the science methodology to express the rasionalism by Rene Descartes from the source, methods, and validity. This study found that the sources of rationalism by Rene Descartes is rationality; the methods of rasionalism is doubtful, intuition and deduction; the validity is measured by coherence theory. The result of this study has relevance to the Qur`an exegesis. The relevance is in the rationality, or in Qur`anic exegesis it is called tafsīr bi al-ra`yī or tafsīr bi al-‘aqlī. This interpreting isn’t only answer the issue which is up to date, but also as a new way in approaching the Qur`an through modern social sciences, like hermeneutica, stilistica, antropology, sosio-linguistic, and fenomenology
Rene descartes, un nuevo método y una nueva ciencia.
This article is about the philosopher and French mathematician Rene
Descartes, his life and work is taken as reference to show the birth of the
effective Cartesian method in many areas of the scientific knowledge, as well as
the geneses of a science from three that until the time of the philosopher was
considered disconnected and a reflection is made on its insolvent attempt by the
creation of a universal science.En este artículo se toma como referencia la vida y obra del filósofo y matemático
francés Rene Descartes, para mostrar el nacimiento del método cartesiano
vigente en muchas áreas del saber científico, así como también la génesis de una
ciencia a partir de tres que hasta la época del filósofo se consideraban ajenas y se
presenta una reflexión sobre su fallido intento por la creación de una ciencia
universal
- …
