39 research outputs found
Identifikasi Kekritisan Air untuk Perencanaan Penggunaan Air Agar Tercapai Ketahanan Air di DAS Bengawan Solo
Fakta menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan produksi air sungai dibeberapa DAS utama di Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh perubahan karakteristik DAS. Perubahan terbesar terjadi akibat alih fungsi lahan. Dengan perubahan karakteristik DAS dan peningkatan kebutuhan berbagai sektor (rumah tangga, pertanian, industri dan lingkungan) akan meningkatkan persaingan pemanfaatan sumberdaya air. Disisi lain perubahan iklim di wilayah Indonesia ditunjukkan dengan telah terjadi dampak terhadap ketersediaan air dengan terjadinya penurunan curah hujan tahunan pulau Jawa bagian selatan periode 1931‐1960 dan 1968‐1998 yang mencapai 1000 mm. Penurunan ketersediaan air dan peningkatan peningkatan kebutuhan air akan memicu peningkatan kekritisan air. Indeks kekritisan air (IKA) untuk pertanian dihitung melalui pendekatan aspek klimatologis menurut karakteristik lama masa tanam (LGP, length of growing period). Kriteria kekritisan ditetapkan menurut jenis tanaman padi dan palawija berdasarkan analisis neraca air lahan sawah yang dihitung pada kondisi masa tanam eksisting (1, 2 dan 3 kali tanam). IKA merupakan rasio antara total kebutuhan dengan ketersediaan air. Nilai IKA kurang dari 0,50 menunjukkan kondisi yang belum kritis, nilai IKA antara 0,50-0,75 mendekati kritis, nilai IKA antara 0,75-1,00 kritis, dan lebih dari 1,00 sangat kritis. Ketersediaan air ditentukan oleh kondisi neraca air yang direpresentasikan dalam komponen curah hujan, evapotranspirasi, aliran permukaan, perkolasi, dan simpanan air tanah. Sedangkan kebutuhan air ditentukan oleh kebutuhan air penduduk, kebutuhan air industri, dan kebutuhan air untuk pertanian. Hasil analisis IKA untuk saat ini di wilayah DAS Bengawan Solo menunjukkan bahwa telah terjadi indikasi mendekati kritis air untuk sekali tanam, dua kali tanam, dan tiga kali tanam dengan nilai rata-rata berturut-turut 49,3%-69,8%. Untuk proyeksi tahun 2030 nilai IKA untuk sekali tanam dan dua kali tanam mendekati kritis yaitu sebesar 62,8% dan 74,6, sedangkan untuk tiga kali tanam telah terjadi indikasi kritis dengan nilai IKA 90,1%. Terjadinya indikasi kritis air menuntut pengelolaan sumberdaya air yang lebih cermat, lebih hemat, dan lebih bijak. Selain itu perlu pengelolaan DAS secara terpadu, optimalisasi penggunaan air (menghidupkan budaya hemat air, efisiensi penggunaan air di jaringan irigasi dll)
Inventarisasi anggrek di beberapa pulau kecil di Pulau Abang dan sekitarnya, Batam, Kepulauan Riau
Model Optimasi Surplus Beras Untuk Menentukan Tingkat Ketahanan Pangan Nasional
Makalah ini menyajikan pendekatan penghitungan surplus beras melalui optimasi dan proyeksi menggunakan model matematika. Surplus beras dihitung menggunakan ukuran rasio antara jumlah surplus beras selama setahun dengan jumlah konsumsi beras seluruh penduduk pada tahun yang sama. Proyeksi kebutuhan beras nasional dihitung dengan memperhatikan pertambahan penduduk Indonesia yang dihitung menggunakan model Verhults dengan merujuk pada data hasil sensus Badan Pusat Statistik. Model Verhults dapat menampilkan akurasi dengan baik dan menghasilkan koefisien korelasi mendekati 1. Hasil analisis menunjukkan bahwa untuk mencapai target 10 juta ton beras dengan asumsi tidak ada beras impor dan konsumsi beras penduduk sebesar 139 kg/kapita/tahun dicapai pada tahun
2025 dengan persentase surplus 28,63%, jika konsumsi beras 130 kg/kapita/tahun, target surplus dicapai pada tahun 2012 dengan persentase 33,32%, untuk konsumsi beras sebesar 120 kg/kapita/tahun, target surplus dicapai pada tahun 2005 dengan persentase 38,71%, jika konsumsi beras 102 kg/kapita/tahun,target surplus dicapai lebih cepat lagi yaitu pada tahun 1997 dengan persentase 51,26%. Hasil optimasidan proyeksi surplus beras menunjukkan bahwa dengan konsumsi beras 139 kg/kapita/tahun, mulai tahun 2000-2024 Indonesia masih kurang dalam mencapai target surplus yaitu berkisar antara 0,18 - 9,95 juta
ton beras. Target surplus 10 juta ton beras diproyeksikan tercapai pada tahun 2025.Pada kurun waktu 2025 sampai dengan 2030 diproyeksikan Indonesia telah melebihi target surplus yaitu mencapai 10,14 juta – 10,41 juta ton. Indonesia akan tercapai ketahanan pangannya apabila konsumsi beras penduduk dipertahankan antara 100-120 kg/kapita/tahun. Untuk itu perlu penurunan konsumsi beras melalui kebijakan pemerintah dengan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal melalui
dukungan kebiasaan masyarakat untuk mengurangi konsumsi beras
Alokasi Optimum Kebutuhan Air Untuk Pertanian Dengan Inovasi Teknologi Irigasi Berselang (Intermittent Irrigation): Studi Kasus DAS Citarum, Jawa Barat
Tulisan ini menggambarkan pendekatan dalamupayamencapai pembagian air secara optimal (optimal
water sharing) berdasarkan prioritas untuk mencapai swasembada beras dan alokasi optimum kebutuhan
air pertanian di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Jawa Barat.DAS tersebut sampai saat ini memiliki
masalah kelangkaan air karena adanya perubahan penggunaan lahan yang sangat cepat dan penurunan
ketersediaan air akibat berkurangnya curah hujan tahunan dari waktu ke waktu. Analisis optimal water
sharing bertujuan untuk menentukan alokasi optimum guna memenuhi kebutuhan air untuk domestik,
industri, dan pertanian.Optimal water sharing diprediksi dengan pendekatan optimasi kebutuhan air dan
ketersediaan air dengan mengembangkan modelOptiWaSh. Analisis optimal water sharing dapat
memberikan kepastian dan jaminanuntuk semua pengguna air bahwaair akan tersedia dalam jangka
waktu lama. Hasil analisis menunjukkan bahwa apabila dilakukan sekali tanam padi maka sumber daya air
di wilayah tersebut masih tersedia sampai dengan 2030 tapi setelahnya mulai terjadi persaingan ketat
antarpara pengguna air, sehingga diperlukan tindakan preventif dalam waktu yang tepat. Salah satu upaya
penting yang dilakukan adalah dengan menerapkan efisiensi penggunaan air sehingga dengan sumber
daya air yang terbatas memberikan hasil panen yang lebih banyak. Upaya efisiensi sumber daya air di
lahan sawah dilakukan dengan menerapkan irigasi berselang (intermittent irrigation). Solusi dalam
mengamankan pasokan airuntuk jangka waktu lebih lama perlu dilakukan dengan,menerapkan dua
metode irigasi yang berbeda (penggenangan terus-menerus dan irigasi berselang) dalam proporsi yang
optimal. Melalui penerapan metode irigasi ini, pasokan air dapat memenuhi permintaan hingga tahun
2030, dimana sawah dengan penggenangan terus menerus menggunakan air 38,49%, sedangkan sawah
dengan irigasi berselang hanya menggunakan 11,55%
Capturing the Benefit of Groundwater for Water Resources Sustainability
Groundwater is the water contained in soil or rock layer below the surface. Ground water is one of the limited water resources and the damage can give a broad impact, whereas its recovery is difficult. In addition to river water and rain water, ground water also has a very important role, especially in maintaining the balance and availability of raw water for domestic or industrial purposes. In some areas, dependency on fresh water and ground water supplies has reached ± 70%. Lack of understanding on groundwater condition that occurred in the community, arises problems that become the lost and threaten to life sustainability of the community itself. It is necessary for planning the utilization of groundwater that environmentally oriented based on the stage that includes an inventory of potential groundwater, utilization planning, licensing, monitoring and controlling, and conservation of groundwater. Inventoring of potential groundwater utilization planning, licensing, monitoring and controlling should be based on existing procedures so that utilization can be optimized without causing negative impacts
Institutional Development of Irrigation Management Based on the Local Wisdom in Indonesia
During 1980-1997, the management of water resources was done with a supply-driven approach. This approach results in the expensive maintenance of water resources and the disregarded resources utilization of environmental sustainability. Since 1998, The Government of Indonesia began to reform institutional irrigation with the financing supported by the World Bank. However, the institutional reforms of the irrigation have not yet reflected the exact changes as expected. Therefore, it is necessary to study the process of strengthening the institutional management of irrigation based on the local wisdom through the inventory of history series of irrigation management policy and empowerment of capacity building and institutional program of irrigation management. This paper presents an effort to develop the institutional irrigation management by exploring the local wisdom in the community. It can be used as a guide for future sustainable management of irrigation
INSTITUTIONAL DEVELOPMENT OF IRRIGATION MANAGEMENT BASED ON THE LOCAL WISDOM IN INDONESIA
During 1980-1997, the management of water resources was done with a supply-driven approach. This approach results in the expensive maintenance of water resources and the disregarded resources utilization of environmental sustainability. Since 1998, The Government of Indonesia began to reform institutional irrigation with the financing supported by the World Bank. However, the institutional reforms of the irrigation have not yet reflected the exact changes as expected. Therefore, it is necessary to study the process of strengthening the institutional management of irrigation based on the local wisdom through the inventory of history series of irrigation management policy and empowerment of capacity building and institutional program of irrigation management. This paper presents an effort to develop the institutional irrigation management by exploring the local wisdom in the community. It can be used as a guide for future sustainable management of irrigation. Keywords: agriculture, Subak, Ulu-ulu, water resources, farmers’ unionJEL Classification: B30, Q15, Q25</jats:p
PENGARUH SIFAT HUJAN DAN KERAKTERISTIK BIOFISIK DAS TERHADAP DEBIT BANJIR DAS KALIGARANG, SEMARANGEFFECT OF WATERSHED RAINFALL AND BIOPHYSICS CHARACTERISTIC TOWARD FLOOD DEBIT OF KALIGARANG WATERSHED, SEMARANG
Abstract is available in the full text (pdf format
KONTRIBUSI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PANEN AIR TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN DAN KESEJAHTERAAN PETANI
Pembangunan infrastruktur panen air (embung dan bangunan air lainnya) merupakan upaya mengatasi permasalahan penyediaan air irigasi di lahan pertanian di Indonesia. Sesuai Direktif Presiden RI pada acara Rakernas Pembangunan Pertanian di Hotel Bidakara, Jakarta tanggal 5 Januari 2017 dan Pekan Nasional Petani Nelayan ke-15, di Aceh tanggal 6 Mei 2017, Presiden mengamanatkan untuk membangun embung dan penampung air lainnya sebanyak 30.000 unit. Direktif tersebut ditindaklanjuti dengan rencana diterbitkannya Inpres tentang percepatan pembangunan embung kecil dan bangunan penampung air lainnya tahun 2017. Pembangunan ditujukan untuk tanaman padi sangat bermanfaat dan menguntungkan karena tidak membutuhkan investasi besar. Pembangunan infrastruktur panen air dengan layanan seluas 4 juta ha akan diperoleh keuntungan kotor Rp 81,7 T, sehingga pendapatan bersih mencapai Rp. 59,1 T. Tanaman jagung diperoleh keuntungan kotor Rp 72,96 T dan pendapatan bersih mencapai Rp. 50,37 T. Demikian pula manfaatnya untuk bawang merah akan menghasilkan penerimaan kotor sebesar Rp. 324,25 T sehingga pendapatan bersih mencapai Rp. 301,67 T. 
PANEN HUJAN DAN ALIRAN PERMUKAAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS LAHAN KERING DI NYATNYONO, DAS KALIGARANG SEMARANGRAINFALL AND RUNOFF HARVESTING TO INCREASE UPLAND PRODUCTIVITY IN NYATNYONO, KALIGARANG WATERSHED SEMARANG
Abstract is available in the full text (pdf format
