1,720,959 research outputs found
Kepadatan Tanah Pasca Tambang Batu Bara Setelah di Revegetasi: Studi Kasus Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara PT. Nan Riang
Penelitian tinjauan kepadatan lahan paska tambang batu bara yang sudah direveggetasi dilaksanakan di lahan bekas tambang batubara milik PT. Nan Riang, di Kota Muara Tembesi, Provinsi Jambi. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Fisika Tanah dan Mineralogy Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dari bulan Juni 2016 sampai November 2016. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode survey dan data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif analitik pada lahan bekas tambang yang telah ditanami vegetasi reklamasi (jabon umur 6 tahun, jambu umur 5 tahun , rambutan umur 4 tahun, dan karet umur 2 tahun). Contoh tanah utuh diambil pada kedalaman 0-20 cm dengan menggunakan ring sample (core samplers), lalu ditutup pada kedua sisinya agar air di dalam sampel tidak mengalami penguapan selama disimpan. Pada saat bersamaan, resistensi penetrasi tanah, yakni suatu variabel yang menggambarkan besarnya hambatan penetrasi akar ke dalam tanah, diukur pada kedalaman 0-5 cm, 5-10 cm, 15-20 cm dengan menggunakan penetrometer. Contoh tanah utuh digunakan untuk menganalisis berat volume, porositas total, dan kadar air tanah pada kondisi lapangan, sdangkan contoh tanah komposit digunakan untuk analisis kandungan bahan organik tanah. Data dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan interval variabel kualitas tanah timbunan bekas tambang pada setiap umur vegetasi reklamasi. Interval variabel tersebut selanjutnya dibandingkan dengan kebutuhan tanaman pangan berdasarkan beberapa hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revegetasi lahan paska tambang mempengaruhi kepadatan tanah. Kepadatan tanah berkurang dengan semakin bertambah umur tanaman revegetasi yang digunakan (jabon umur 6 tahun, jambu umur 5 tahun , rambutan umur 4 tahun, dan karet umur 2 tahun). Semakin dalam tanah kepadatan semakin meningkat, namun semakin berkurang pada tanaman yang lebih tua. Reklamasi lahan paska tambang batubara dengan tanaman jabon, jambu, rambutan dan karet mempengaruhi iklim mikro. 
Pengaruh Pemberian Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sungkai (Peronema canescens Jack) Di Lapangan: The Effect of Compost of Palm Oil Empty Fruit Bunches for Growth of Sungkai (Peronema Canescens Jack) In the Field
ABSTRACT
Sungkai (Peronema canescens Jack) is a locally significant commercial species whose wood production is currently declining. Therefore, it is essential to implement development and cultivation measures to enhance the production of roundwood, which can be achieved through the development of plantation forests. Palm Oil Empty Fruit Bunch Compost (TKKS) is an organic fertilizer that can be applied to ultisol land designated for planting sungkai. TKKS compost contains essential nutrients required by the soil and plants, specifically N 15%, P 0,5%, K 7,3%, and Mg 0,9%. This study employed a Randomized Block Design (RBD) based on a slope gradient of 9%. The design consisted of six treatments with four experimental groups, resulting in a total of 24 experimental plots. Each plot contained nine plants, three of which were designated as samples. The treatments tested included varying doses of TKKS compost: b0: no TKKS compost, b1: 2 kg per planting hole, b2: 4 kg per planting hole, b3: 6 kg per planting hole, b4: 8 kg per planting hole, and b5: 10 kg per planting hole. The results indicated that the application of TKKS compost improved the physical and chemical properties of the soil, including pH, organic carbon, bulk density, and soil total nutrient content. Furthermore, the application of TKKS compost significantly enhanced the growth parameters of sungkai, such as height, diameter, leaf count, dry weight of the canopy, and dry weight of the roots, with the best treatment being b2 (4 kg per planting hole).
Keywords: compost, Peronema canescens Jack., ultisol
ABSTRAK
Sungkai (Peronema canescens Jack) merupakan salah satu jenis komersial lokal yang saat ini produksi akan kayunya semakin menurun, sehingga perlu dilakukannya pengembangan dan tindakan budidaya untuk meningkatkan kembali produksi kayu bulat yang dapat ditempuh melalui pengembangan hutan tanaman. Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) merupakan salah satu pupuk organik yang dapat diberikan pada lahan ultisol yang akan ditanami sungkai. Kompos TKKS sendiri memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanah dan tanaman yaitu N 15%, P 0,5%, K 7,3% dan Mg 0,9%. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang didasarkan atas tingkat kelerengan dengan total 9%. Rancangan ini terdiri dari 6 perlakuan dengan 4 kelompok percobaan, sehingga terdapat 24 petak percobaan. Masing-masing petak percobaan ditempatkan sebanyak 9 tanaman yang diantaranya terdapat 3 tanaman sebagai sampel. Perlakuan yang dicobakan adalah dosis kompos TKKS yang terdiri atas b0: tanpa kompos TKKS, b1: 2 kg/lubang tanam, b2: 4 kg/lubang tanam, b3: 6 kg/lubang tanam, b4: 8 kg/lubang tanam dan b5: 10 kg/lubang tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos TKKS dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah berupa pH, C-organik, BV dan TRP tanah, selain itu pemberian kompos TKKS juga dapat meningkatkan pertambahan tinggi, diameter, jumlah daun, berat kering tajuk dan berat kering akar tanaman sungkai dengan dosis b2 (4 kg/lubang tanam) sebagai perlakuan terbaiknya.
Katakunci: kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS), Peronema canescens Jack., ultiso
Analisis Kemantapan Agregat Ultisol Pada Beberapa Tingkat Kemiringan Lereng Dan Umur Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) yang Berbeda
Penelitian bertujuan untuk menganalisis kemantapan agregat yang memiliki tingkatt kemiringan lereng dan umur tanaman kelapa sawit yang berbeda di PT Mekar Agro Sawit Kecamatan Bathin XXIV, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Penelitian dilakukan dengan metode survei deskriptif dan eksploratif dan pengambilan sampel tanah dengan metode purposive sampling (sesuai tujuan). Pengambilan sampel tanah ditentukan berdasarkan satuan lahan homogen (SLH). Jumlah titik pengamatan ditentukan secara proporsional berdasarkan luas pengamatan. Satu titik pengambilan sampel tanah mewakili luas lahan ± 25 ha. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif. Pengambilan sampel tanah berdasarkan kemiringan lereng 0-8%, 8-15%, 15-25%, >25% dan umur tanaman 8 tahun, 5 Tahun, 3 Tahun dan 1 tahun. Kondisi Tanah di lokasi penelitian terdiri tergenang dan bebas tergenang. Tingkat Kemantapan agregat lokasi penelitian tergolong sedang seluas 207,35 ha, dan agregat tanah yang kurang mantap 322,79 ha. Perbedaan tingkatan kemantapan agregat Ultisol pada berbagai tingkat kelerengan dipengaruhi kandungan bahan organik tanah dan kandungan liat tanah yang mempengaruhi pembentukan struktur tanah, nilai BV dan TRP. Aktivitas pengelolaan lahan pada berbagai tingkat umur tanaman Kelapa Sawit menyebabkan nilai kemantapan agregat Ultisol kurang manta
Pemberian Kompos Campuran Kotoran Ayam dan Ara Sungsang (Asystasia Gangetica L.T) Terhadap Kemantapan Agregat Ultisol dan Hasil Kedelai
Ultisol salah satu ordo tanah marginal dalam hal pengolahan tanaman pangan memiliki tekstur liatyang tinggi, kemantapan agregat dan permeabilitas tanah rendah dan kandungan bahan organik yangrendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompos campuran kotoranayam dan ara sungsang (Asystasia gangetica L.T) terhadap kemantapan agregat Ultisol dan hasilkedelai. Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan, Fakultas Pertanian Universitas Jambi, DesaMendalo Indah, Kabupaten Muaro Jambi dari bulan Mei hingga September 2020. Penelitian inimenggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 perlakuan antara lain k0 = TanpaPemberian Kompos (Kontrol), k1 = 5 ton/ha kompos pupuk kandang dan ara sungsang, k2 = 10 ton/hakompos pupuk kandang ara sungsang, k3 = 15 ton/ha kompos pupuk kandang dan ara sungsang, k4 =20 ton/ha kompos pupuk kandang dan ara sungsang. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kalisehingga terdapat 25 petak percobaan. Parameter yang diamati yaitu persen agregat terbentuk,kemantapan agregat, bahan organik tanah, bobot volume tanah, total ruang pori, tinggi tanaman, danhasil tanaman kedelai. Hasil penelitian menunjukkan pemberian kompos kotoran ayam dan arasungsang sebanyak 20 ton/ha memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan persen agregat,kemantapan agregat, total ruang pori, tinggi tanaman dan hasil kedelai. serta menurunkan bobotvolume tanah
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
PENGARUH PEMBERIAN KOMPOS KULIT KOPI TERHADAP ERODIBILITAS TANAH DAN HASIL TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogea L) PADA ULTISOL.
Pemberdayaan Masyarakat yang Mengalami Musibah Kebakaran Lahan Dalam Meningkatkan Pendapatan Keluarga dan Menyelamatkan Lingkungan di Desa Catur Rahayu Kecamatan Dendang Kabuten Tanjung Jabung Timur
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk membantu pemulihan ekonomi masyarakat melalui upaya peningkatan pendapatan rumah tangga petani yang terkena dampak kebakaran lahan dan hutan. Kegiatan dilaksanakan di Desa Catur Rahayu Kecamatan Dendang Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. Pertimbangan utama pemilihan lokasi dan masyarakat adalah di samping merupakan wilayah terkena dampak karlahut 2015 juga merupakan petani kelapa sapi sawit yang sedang menghadapi kegiatan replanting sawit sehingga perlu pengembangan ekonomi alternatif untuk menjadi persiapan bagi rumah tangga dalam menghadapi kehilangan pendapatan sementara (temporary loss income) selama masa replanting sampai kelapa sawit menghasilkan. Metode pelaksanaan adalah : (1) penyuluhan dan pendidikan kepada masyarakat tentang kepedulian terhadap pencegahan kebakaran lahan hutan, (2) pembelajaran masyarakat mengenai replanting pada lahan pasca kebakaran, (3) demplot sebagai percontohan penerapan teknologi yang ditawarkan khususnya dalam upaya revegetasi lahan pasca kebakaran dan terdampak kabut asap. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa : (1) Pemberdayaan kelompok tani melalui kegiatan pelatihan dan praktek lapang (demplot) mampu meningkatkan ketrampilan anggota dalam menerapkan teknologi, (2) Introduksi teknologi pengomposan kotoran sapi telah mendorong tumbuhnya usaha pengomposan skala rumah tangga, ditandai dengan telah diadopsinya teknologi pengomposan oleh 9 orang petani. Penguasaan teknologi pengomposan kotoran sapi dapat memicu tumbuhnya usaha agroindustri, khususnya pengomposan di lingkungan kelompok tani Desa Catur Rahayu, (3) Penerapan teknologi biokompos pada usaha tani mentimun dapat mengurangi biaya produksi, meningkatkan hasil tanaman, serta meningkatkan pendapatan dengan R/C masing-masing 4,12. Dapat dikatakan bahwa teknologi trichokompos yang diterapkan pada kelompok masyarakat sangat layak untuk dilanjutkan, (4) Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, dari keseluruhan petani yang terlibat maka sekitar 70% petani telah memiliki kemampuan membuat dan mengaplikasikan pupuk organik, (5) Pelatihan pembuatan pupuk organik cair dari limbah ternak dan limbah pertanian. Petani mampu dan terampil membuat pupuk kompos dan POC dari limbah rumah tangga, Petani memiliki pengetahuan tentang berbagai limbah rumah tangga, limbah ternak dan limbah pertanian yang dapat digunakan sebagai bahan pupuk organik, serta berdasarkan observasi yang telah dilakukan, dari keseluruhan petani maka lebih dari 80% petani telah memiliki kemampuan melakukan pembuatan POC dan kompos dengan benar dari bahan sampah rumah tangga, (5) Sikap positif dan motivasi yang tinggi dari para petani selama mengikuti kegiatan PP
- …
