40 research outputs found
Growth and Production Response of Cayenne Pepper to Phosphate-Solubilizing Bacteria (BPF) and Arbuscular Mycorrhizal Fungi (FMA) in Alfisol Soil in Tuban Regency
The majority of Tuban Regency is predominantly low fertility alfisol soil with low P nutrient availability for plants. Therefore, it requires BPF to convert insoluble phosphate into available P, supported by the application of FMA to maximize nutrient uptake through the hyphae formed on chili plant roots. This study aims to determine the growth response of cayenne pepper when applied with BPF and FMA planted in alfisol soil. The research used a randomized block design (RBD) with 8 treatments replicated 3 times, resulting in a total of 24 experimental plots. The treatments include Control; P Fertilizer; BPF; FMA; P Fertilizer + BPF; P Fertilizer + FMA; BPF + FMA; and P Fertilizer + BPF + FMA. The observed plant growth parameters include flowering time, growth vigor, plant height, leaf count, and stem diameter measured at the onset of flowering and early harvest. The results showed that the application of BPF and FMA, individually or in combination, was able to enhance the growth of cayenne pepper plants. The best treatment in this study was P Fertilizer + BPF + FMA with the respective average parameters such as flowering time of 48.333 days after planting (DAP), growth vigor of 1.000, plant height at the onset of flowering of 51.750 cm and at early harvest 60.500 cm, leaf count at the onset of flowering of 57.333 leaves and at early harvest 115.333 leaves, and stem diameter at the onset of flowering of 8.1833 cm and 12.3000 cm at early harvest
Aplikasi Komposisi Media Tanam dan Dosis Pupuk NPK terhadap Pertumbuhan Tanaman Sedap Malam (Polianthes tuberosa L. CV. Roro Anteng)
Bunga sedap malam (Polyanthes tuberosa L.) merupakan tanaman hias bunga potong yang banyak digemari oleh masyarakat sekitar. Produksi sedap malam di Indonesia dari tahun 2014 hingga 2018 berfluktuasi. Hingga saat ini masih terdapat kendala dalam budidaya sedap malam, salah satunya adalah rendahnya produktivitas tanaman sedap malam. Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui perbaikan media tanam dan pemupukan pada fase vegetatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan komposisi media tanam terbaik, dosis pupuk NPK terbaik, dan pengaruh interaksi aplikasi komposisi media tanam dengan dosis pupuk NPK terbaik untuk pertumbuhan tanaman sedap malam. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2020 hingga Desember 2020 di Desa Berat Kulon, Kemlagi, Mojokerto. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAK). Faktor pertama adalah perlakuan media tanam yang terdiri dari kotoran sapi, sekam, tanah dengan perbandingan 3:1:1, 4:1:1, dan 5:1:1. Faktor kedua adalah dosis pupuk NPK yaitu 0 g/tanaman, 7,5 gr/tanaman, 15 gr/tanaman, dan 22,5 gr/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan komposisi media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap semua variabel pengamatan. Pemberian pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap variabel yang diamati. Interaksi antara komposisi media tanam 4:1:1 dengan dosis pupuk NPK 7,5 g/tanaman mampu meningkatkan berat basah tajukBunga sedap malam (Polyanthes tuberosa L.) merupakan tanaman hias bunga potong yang banyak digemari oleh masyarakat sekitar. Produksi sedap malam di Indonesia dari tahun 2014 hingga 2018 berfluktuasi. Hingga saat ini masih terdapat kendala dalam budidaya sedap malam, salah satunya adalah rendahnya produktivitas tanaman sedap malam. Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui perbaikan media tanam dan pemupukan pada fase vegetatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan komposisi media tanam terbaik, dosis pupuk NPK terbaik, dan pengaruh interaksi aplikasi komposisi media tanam dengan dosis pupuk NPK terbaik untuk pertumbuhan tanaman sedap malam. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2020 hingga Desember 2020 di Desa Berat Kulon, Kemlagi, Mojokerto. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAK). Faktor pertama adalah perlakuan media tanam yang terdiri dari kotoran sapi, sekam, tanah dengan perbandingan 3:1:1, 4:1:1, dan 5:1:1. Faktor kedua adalah dosis pupuk NPK yaitu 0 g/tanaman, 7,5 gr/tanaman, 15 gr/tanaman, dan 22,5 gr/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan komposisi media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap semua variabel pengamatan. Pemberian pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap variabel yang diamati. Interaksi antara komposisi media tanam 4:1:1 dengan dosis pupuk NPK 7,5 g/tanaman mampu meningkatkan berat basah taju
Respon Pemberian Jenis Zpt Dan Lama Perendaman Yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Stek Batang Tanaman Anggur (Vitis vinifera L.)
The formation of roots (adventive) and shoots as well as a slow dormancy period is an inhibiting factor for the successful implementation of cuttings. Increasing the slow growth of roots and shoots and accelerating plant dormancy is an effort to overcome this. The purpose of this study was to determine the growth response of grape stem cuttings (Vitis vinifera L.) to the immersion time on several types of PGR. This research was carried out for 3 months from January to April 2021 at the yard of Jurangsapi Village, Tapen District, Bondowoso Regency, East Java at an altitude of 226 meters above sea level. This study used a factorial randomized block design (RAK) with the first factor being the type of PGR (Z), with 3 levels, namely: Z1: Rootone-F 300 mg/liter of water, Z2: onion extract 800 ml/liter of water, Z3 : extract of bean sprouts 300 ml/liter of water, and the second factor is the long immersion (L) for 3 levels, namely: L1: 0.25 hours, L2: 6 hours, L3: 12 hours. The results showed that a single factor of PGR had an effect on increasing shoot length (8,10, and 12 WAP), shoot diameter (6 WAP), and number of leaves (10 and 12 WAP) of grape plants with the best PGR of Rootone-F. The long immersion treatment had a significant effect on the percentage of success in planting grape cuttings with the best soaking time of 6 hours. While the interaction between PGR type treatment and long immersion significantly affected shoot length (6,8,10, and 12 WAP), number of leaves (4, 8,10, and 12 WAP), and canopy wet weight of grape cuttings with the best treatment on PGR Rootone-F and 0.25 hours of long immersion.
Keywords: auxins; long immersion; stem cuttings; Vitis vinifera L. var. prabu bestari.Pembentukan akar (adventif) dan tunas serta masa dormansi yang lambat merupakan faktor penghambat keberhasilan pelaksanaan stek pada tanaman anggur. Meningkatkan pertumbuhan akar dan tunas yang lambat serta mempercepat masa dormansi tanaman adalah upaya untuk mengatasi hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan stek batang tanaman anggur (Vitis vinifera L.) terhadap lama perendaman pada beberapa jenis ZPT. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan pada bulan Januari sampai bulan April 2021, bertempat di halaman rumah Desa Jurangsapi, Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur pada ketinggian 226 meter di atas permukaan laut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan faktor pertama adalah jenis ZPT (Z), sebanyak 3 level, yaitu: Z1: Rootone-F 300 mg/liter air, Z2: ekstrak bawang merah 800 ml/liter air, Z3: ekstrak tauge 300 ml/liter air, dan faktor kedua adalah lama perendaman (L) sebanyak 3 level, yaitu: L1: 0,25 jam, L2: 6 jam, L3: 12 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tunggal jenis ZPT berpengaruh terhadap peningkatan panjang tunas (8,10, dan 12 MST), diameter tunas (6 MST), dan jumlah daun (10 dan 12 MST) tanaman anggur dengan ZPT terbaik Rootone-F. Lama perendaman memiliki pengaruh yang nyata terhadap persentase keberhasilan tumbuh tanaman dengan perlakuan terbaik lama perendaman 6 jam. Sedangkan interaksi antar perlakuan jenis ZPT dan lama perendaman berpengaruh nyata terhadap panjang tunas (6,8,10, dan 12 MST), jumlah daun (4, 8,10, dan 12 MST), dan bobot basah tajuk stek batang anggur dengan perlakuan terbaik ZPT Rootone-F serta lama perendaman 0,25 jam.
Kata kunci : auksin; lama perendaman; stek batang; Vitis vinifera L. var. prabu bestari
Respon Pertumbuhan Bibit jeruk JC (Japansche citroen) dengan Pemberian Pupuk Organik Dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR)
Jenis jeruk yang biasa digunakan petani sebagai batang bawah adalah jeruk JC (Japansche citroen), karena jenis ini lebih tahan penyakit dan tahan kekeringan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk organik dan konsentrasi PGPR serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit jeruk JC. Pemberian pupuk organik seperti pupuk kascing, pupuk guano, pupuk kompos pada bibit jeruk JC mampu meningkatkan parameter pertumbuhan jumlah daun secara nyata (8, 12, 16, dan 20 WAP) dengan perlakuan terbaik adalah P₁ (pupuk kascing) dan P₃ (pupuk kompos) serta belum mampu meningkatkan pertumbuhan bibit jeruk JC secara nyata pada parameter pengamatan tinggi tanaman, diameter batang, bobot basah akar, bobot kering akar, panjang akar dan volume akar. Pemberian PGPR konsentrasi 0 ml/L, PGPR konsentrasi 30 ml/L, dan PGPR konsentrasi 60 ml/L pada bibit jeruk JC mampu meningkatkan parameter pertumbuhan volume akar secara nyata dengan perlakuan terbaik pada konsentrasi K₃ PGPR 60 ml /L dengan jumlah rata-rata 86,67 dan belum mampu meningkatkan pertumbuhan bibit jeruk JC secara nyata pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat basah akar, berat kering akar, dan panjang akar. Interaksi Pemberian pupuk organik dan berbagai konsentrasi PGPR belum mampu meningkatkan pertumbuhan bibit jeruk JC secara nyata.Jenis jeruk yang biasa digunakan petani sebagai batang bawah adalah jeruk JC (Japansche citroen), karena jenis ini lebih tahan penyakit dan tahan kekeringan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk organik dan konsentrasi PGPR serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit jeruk JC. Pemberian pupuk organik seperti pupuk kascing, pupuk guano, pupuk kompos pada bibit jeruk JC mampu meningkatkan parameter pertumbuhan jumlah daun secara nyata (8, 12, 16, dan 20 WAP) dengan perlakuan terbaik adalah P₁ (pupuk kascing) dan P₃ (pupuk kompos) serta belum mampu meningkatkan pertumbuhan bibit jeruk JC secara nyata pada parameter pengamatan tinggi tanaman, diameter batang, bobot basah akar, bobot kering akar, panjang akar dan volume akar. Pemberian PGPR konsentrasi 0 ml/L, PGPR konsentrasi 30 ml/L, dan PGPR konsentrasi 60 ml/L pada bibit jeruk JC mampu meningkatkan parameter pertumbuhan volume akar secara nyata dengan perlakuan terbaik pada konsentrasi K₃ PGPR 60 ml /L dengan jumlah rata-rata 86,67 dan belum mampu meningkatkan pertumbuhan bibit jeruk JC secara nyata pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat basah akar, berat kering akar, dan panjang akar. Interaksi Pemberian pupuk organik dan berbagai konsentrasi PGPR belum mampu meningkatkan pertumbuhan bibit jeruk JC secara nyata
Penerapan Less Contact Economy Model Untuk Peningkatan Pendapatan Di Era Pandemi Covid
Kabupaten Jember memiliki beberapa komunitas hidroponik, salah satunya dikelola oleh Rumahku Hidroponik Jember. Permintaan sayur hidroponik tergolong tinggi, namun Rumahku Hidroponik Jember sendiri hanya mampu mensuplai kurang lebih 30an persen dari total keseluruhan yang dapat disuplai komunitas. Adanya berbagai permasalahan ini, menuntut dibutuhkannya berbagai upaya agar kegiatan hidroponik yang telah dilakukan sebelumnya dapat berjalan lebih baik lagi dengan aplikasi teknologi yang berbasis Contactless technology. Metode dan tahapan dalam penerapan teknologi meliputi (1) Pemberdayaan SDM dan pengembangan keterampilan Teknologi Smart Greenhouse Berbasis IoT, (2)Pembuatan dan penerapan Teknologi Smart Greenhouse Berbasis IoT, (3) Pelatihan, pendampingan dan transfer teknologi dalam penggunaan sistem informasi terintegrasi berbasis aplikasi Android dan aplikasi e-commerce, (4) Pendampingan dan monitoring penerapan teknologi oleh mitra sebagai tindak lanjut keberlangsungan kegiatan. Hasil dari program ini diketahui dapat meningkatkan produktivitas tanaman sebesar 50%, menurunkan biaya produksi sebesar 40%, serta effisiensi kerja sebesar 80%.
Respon Pemberian Konsentrasi Gula dan Paclobutrazol Pada Pengumbian Kentang Secara In Vitro
Peningkatan produktivitas kentang masih mengalami beberapa kendala yang disebabkan karena benih yang tidak bersertifikat dan jumlah ketersediaan benih yang terbatas. Salah satu alternatif terbaik guna mengatasi permasalahan tersebut adalah memproduksi benih melalui umbi mikro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, UPT Pengembangan Benih Hortikultura Sidomulyo Batu yang terletak pada ketinggian 1100 mdpl. Waktu yang dibutuhkan adalah 4 bulan, dimulai sejak Oktober 2021 sampai Januari 2022. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh tunggal pemberian konsentrasi gula dan konsentrasi paclobutrazol dan mengetahui pengaruh interaksi pemberian konsentrasi gula dan konsentrasi paclobutrazol pada media pengumbian kentang melalui teknik kultur in vitro. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi gula 30 g/l, 60 g/l, 80 g/l, 100 g/l, dan faktor kedua adalah konsentrasi paclobutrazol 0 mg/l, 0,2 mg/l, 0,4 mg/l, 0,7 mg/l, 1 mg/l. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tunggal konsentrasi gula 60 g/l memberikan hasil optimum pada parameter persentase tumbuh umbi, waktu muncul umbi mikro, jumlah umbi mikro dan bobot umbi mikro. konsentrasi paclobutrazol 0,2 mg/l mampu memberikan hasil optimum pada parameter persentase tumbuh umbi, waktu muncul umbi mikro, jumlah umbi mikro dan bobot umbi mikro. Interaksi pemberian konsentrasi gula 30 g/l dan konsentrasi paclobutrazol 0 mg/l mampu meningkatkan parameter pengamatan tinggi tanaman, konsentrasi gula 100 g/l dan paclobutrazol 0,7 mg/l memberikan hasil optimum pada jumlah daun, perlakuan konsentrasi gula 100 g/l dan paclobutrazol 0,2 mg/l memberikan hasil optimum pada parameter jumlah tunas, dan perlakuan konsentrasi gula 60 g/l dan paclobutrazol 0,2 mg/l mampu memberikan hasil optimum pada parameter jumlah akar.
Kombinasi Pupuk Kandang Sapi, Asam Humat Dan Mikoriza Terhadap Infeksi Akar Bermikoriza Tanaman Cabai Dan Ketersediaan Unsur Hara Tanah Udipsamments
This research is an experimental study that aims to examine the combination of cattle manure, humic acid, and mycorrhizae to increase mycorrhizal infections in the roots of chili plants in the Udipsamments soil in Puger District, Jember Regency, which was carried out in May-November 2018. The research design used was a factorial complete randomized block design with 3 factors that were repeated 3 times. The first factor is cattle manure (0 tons / ha, 10 tons / ha, 20 tons / ha), the second factor is humic acid (0 ppm / ha, 200 ppm / ha), and the third factor is mycorrhiza (0 g / plant , 30 g / plant). The results showed that the combination of cattle manure, humic acid, and mycorrhiza inoculants to chili plant roots was able to increase the root mycorrhizal infection of chili plants and increase the nutrients available in the soil by 191.84% for nitrogen and 392.93% for phosphorus
Peningkatan Kemampuan Petani Dalam Pemenuhan Standar Pasar Ekspor Mangga Melalui Penerapan GAP di Kelompok Tani Margi Mulyo Kecamatan Wuluhan
The Margi Mulyo farmer group is one of the farmer groups in Wuluhan District, Jember Regency. The high potential for mango production in Wuluhan District is the main background for the implementation of service with the aim of increasing the capacity of human resources in cultivating mangoes to produce mangoes that can meet national and export market standards through the implementation of good agricultural practices (GAP). The main problem that occurs at the activity location is that mango cultivation is still not standardized by members of farmer groups so that the mango fruit produced does not fully meet market standards. Mangoes are only marketed in a slash system so farmers cannot get high returns on the fruit sold. So the high interest in mangoes as national fruit consumption is not accompanied by mango production according to market standards. The method used in this activity is the active participatory method, in three main activities, namely counseling, implementation, and mentoring. This activity was carried out from August to September 22024. The results of the service activity included an increase in the knowledge of members of the Margi Mulyo farmer group regarding the application of GAP, an increase in farmers' ability to apply mango flowering induction and the use of certified seeds
Kombinasi Pupuk Kandang Sapi, Asam Humat dan Mikoriza Terhadap Infeksi Akar Bermikoriza Tanaman Cabai dan Ketersediaan Unsur Hara Tanah Udipsamments
This research is an experimental study that aims to examine the combination of cattle
manure, humic acid, and mycorrhizae to increase mycorrhizal infections in the roots of chili
plants in the Udipsamments soil in Puger District, Jember Regency, which was carried out in
May-November 2018. The research design used was a factorial complete randomized block
design with 3 factors that were repeated 3 times. The first factor is cattle manure (0 tons /
ha, 10 tons / ha, 20 tons / ha), the second factor is humic acid (0 ppm / ha, 200 ppm / ha),
and the third factor is mycorrhiza (0 g / plant , 30 g / plant). The results showed that the
combination of cattle manure, humic acid, and mycorrhiza inoculants to chili plant roots
was able to increase the root mycorrhizal infection of chili plants and increase the nutrients
available in the soil by 191.84% for nitrogen and 392.93% for phosphorus
Pengembangan Produk Olahan Labu Kuning Bagi Petani Benih Labu Kuning di Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi
Desa Tegalrejo merupakan salah satu kabupaten penghasil labu kuning terbesar di Banyuwangi. Masyarakat Desa Tegalrejo sebagian besar merupakan petani labu kuning yang memproduksi benih labu kuning untuk dijual. Penjualan bibit labu kuning telah bekerjasama dengan PT. Panah Merah Jember. Bibit yang dibutuhkan disediakan oleh PT. Panah Merah Jember sedangkan tanah, alat-alat produksi dan pekerja disediakan oleh petani. Limbah produksi biji labu kuning adalah daging buah labu kuning segar. Asalkan dibuang begitu saja oleh petani jika saat panen labu kuning. Bahkan bisa digunakan untuk pakan sapi, kambing dan ayam. Metode: Program Kemitraan Masyarakat yang dilaksanakan oleh tim Politeknik Negeri Jember bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis labu kuning dengan memproduksi aneka olahan eggroll labu kuning, bolu kukus, roti tawar, foodbar, cookies dan minuman jelly drink. Jenis pelatihan yang diberikan adalah pelatihan tahapan produksi aneka olahan labu kuning, pelatihan pengemasan produk labu kuning, pelatihan strategi pemasaran, pendampingan dan monitoring serta evluasi PKM. Hasil: Peserta terdiri dari istri petani berjumlah 20 orang. Hasil dari kegiatan ini adalah mereka dapat membuat varian produk dari buah labu kuning antara lain kue kukus, eggroll, cookies, food bar, roti dan minuman jelly. Setelah mereka membuat aneka produk labu, mereka bisa jualan di e-commere layaknya shopee, sehingga mendapat penghasilan tambahan. Monitoring dilakukan dengan mengunjungi beberapa peserta pengabmas. Proses pendampingan dan pemantauan telah menghasilkan dokumen pengarsipan PIRT dan hasil PIRT adalah PIRT nomor 206-3510021110-23. Kesimpulan: Meningkatnya pengetahuan peserta dalam menghasilkan varian produk labu kuning. Produk labu kuning ini bisa dijual di ecommere dan mereka mendapat penghasilan tambahan.Desa Tegalrejo merupakan salah satu kabupaten penghasil labu kuning terbesar di Banyuwangi. Masyarakat Desa Tegalrejo sebagian besar merupakan petani labu kuning yang memproduksi benih labu kuning untuk dijual. Penjualan bibit labu kuning telah bekerjasama dengan PT. Panah Merah Jember. Bibit yang dibutuhkan disediakan oleh PT. Panah Merah Jember sedangkan tanah, alat-alat produksi dan pekerja disediakan oleh petani. Limbah produksi biji labu kuning adalah daging buah labu kuning segar. Asalkan dibuang begitu saja oleh petani jika saat panen labu kuning. Bahkan bisa digunakan untuk pakan sapi, kambing dan ayam. Metode: Program Kemitraan Masyarakat yang dilaksanakan oleh tim Politeknik Negeri Jember bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis labu kuning dengan memproduksi aneka olahan eggroll labu kuning, bolu kukus, roti tawar, foodbar, cookies dan minuman jelly drink. Jenis pelatihan yang diberikan adalah pelatihan tahapan produksi aneka olahan labu kuning, pelatihan pengemasan produk labu kuning, pelatihan strategi pemasaran, pendampingan dan monitoring serta evluasi PKM. Hasil: Peserta terdiri dari istri petani berjumlah 20 orang. Hasil dari kegiatan ini adalah mereka dapat membuat varian produk dari buah labu kuning antara lain kue kukus, eggroll, cookies, food bar, roti dan minuman jelly. Setelah mereka membuat aneka produk labu, mereka bisa jualan di e-commere layaknya shopee, sehingga mendapat penghasilan tambahan. Monitoring dilakukan dengan mengunjungi beberapa peserta pengabmas. Proses pendampingan dan pemantauan telah menghasilkan dokumen pengarsipan PIRT dan hasil PIRT adalah PIRT nomor 206-3510021110-23. Kesimpulan: Meningkatnya pengetahuan peserta dalam menghasilkan varian produk labu kuning. Produk labu kuning ini bisa dijual di ecommere dan mereka mendapat penghasilan tambahan
