1,720,964 research outputs found

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    SISTEM PEMASYARAKATAN (PERGESERAN PARADIGMA PEMBINAAN NARAPIDANA DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA DI INDONESIA)

    Full text link
    Pentingnya peran lembaga pemasyarakatan dalam sistem peradilan pidana yang menyeluruh, disebabkan lembaga pemasyarakatan merupakan salah satu sub sistem dari sub sistem-sub sistem lainnya seperti kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. Namun dalam perkembangan selanjutnya masih terdapat fakta kesenjangan antara harapan dan kenyataan, seperti masih tingginya angka residivis dan reconviction serta banyaknya kekerasan yang menyebabkan victimisasi terhadap narapidana/pelaku kejahatan dalam lingkaran sistem peradilan pidana. Permasalahan di dalam penulisan disertasi ini di awali dengan mengkaji dan menganalisis implikasi teoretik pergeseran paradigma perlakuan terhadap narapidana dalam sistem peradilan pidana. Kemudian apakah implementasi pola pembinaan terhadap narapidana mempunyai kontribusi keberhasilan, serta bagaimanakah pencapaian tujuan pelaksanaan sistem pemasyarakatan di masa datang. Paradigma penelitian yang dipergunakan dalam alur kerja penelitian disertasi ini adalah paradigma struktural fungsional dan teori bekerjanya hukum dalam masyarakat. Adapun metode penelitian yang dipergunakan adalah pendekatan secara doktrinal dan nondoktrinal. Untuk data sekunder yang mengarah pada kajian-kajian teoretik dalam bentuk konsepsi-konsepsi, pandangan-pandangan dan dokumen-dokumen hukum, dianalisis secara kualitatif, sedangkan data primer yang bersifat kuantitatif dianalisis secara kuantitatif. Studi ini secara khusus membahas serta bermaksud mengungkapkan proses pengambilan kebijakan terhadap narapidana setelah adanya pergeseran paradigma dalam sistem peradilan pidana di Indonesia, khususnya proses pembinaan terhadap narapidana di lembaga pemasyarakatan serta prospek sistem pemasyarakatan di masa datang. Temuan studi menunjukkan bahwa implikasi teoretik dari adanya pergeseran paradigma tersebut dalam sistem peradilan pidana dari sistem kepenjaraan ( Retributive Justice ) ke sistem pemasyarakatan ( Restorative Justice ) adalah perubahan pada aspek keadilan (filosofis) yang mendasari konsep-konsep lainnya yang tampak pada proses pemidanaan dan perlakuan terhadap narapidana. Fakta empirik terungkap, bahwa implementasi pola pembinaan terhadap narapidana tidak mempunyai kontribusi keberhasilan, dikarenakan apa yang diamanatkan oleh Surat Keputusan Menteri Kehakiman Nomor : M.02-PK.04.10 Tahun 1990 Tentang Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan, tidak semuanya dipenuhi. Di masa depan, berkait dengan restorative justice, maka terdapat banyak sekali hal yang terdapat dalam ketentuan internasional ataupun nasional yang terkait dengan penahanan/pemenjaraan sebagai kegiatan terminal yang harus memiliki kontribusi pada kehidupan yang lebih baik, minimal sama, pada diri pelanggar hukum pasca penghukuman. Dengan kata lain, penghukuman tidak lagi merupakan instrumen retributif ataupun rehabilitatif tetapi juga restoratif. Kata Kunci : Sistem Pemasyarakatan, Pergeseran Paradigma, Keadilan Restoratif, Keadilan Retributif, Sistem peradilan Pidana, Narapidana

    KEBIJAKAN PENAL DAN NON PENAL DALAM PENANGGITLANGAN KEJAHATAN YANG DILAKUKAN PELAJAR

    Full text link
    Sebagaimana diketahui bahwa kedudukan seorang pelajar dalam suatu bangsa merupalcan sumber daya terdidik yang dipersiapkan untuk menghadapi tantangan kehidupan bangsa di masa-masa yang alcan datang. Sebagai manusia terdidik mereka menjadi tumpuan dan harapan bagi suatu bangsa. Narnun demikian, dalam kaitannya dengan studi tentang kejahatan, status pelajar sebagai masyaralcat yang terdidik, tidalc selamanya akan memberikan jarninan bahwa ia dapat rnenjadi tauladan bagi warga masyarakatnya, dimana seorang pelajar dapat terlibat didalam suatu jahat, dimana kejahatan yang dilalculcan oleh pelajar tersebut pada umumnya jarang ditemui motif lchusus kenapa mereka melakukan kejahatan, serta mengingat sifat usia, karakter serta kausa kejahatan tidak sama dengan kejahatan yang dilakukan oleh orang dewasa, maka perlalcuan terhadap kejahatan yang dilakukan pelajar dengan melihat sifat, karalcter serta kausa kejahatan tersebut akan mengakibatkan adanya keterpaduan upaya penanggulangan kejahatan dengan sarana penal dan non penal. Dari hasil penelitian terungkap ada dua hal yang merupakan titik tolalc timbulnya kejahatan yang dilalc-ukan oleh pelajar, yaitu : ' 1 Problema khas remaja/pelajar yang bersifat universal pada kehidupannya yang berkaitan dengan perkembangan kejiwaan yang terjadi dimanapun juga. 2. Problema remaja/pelajar yang timbul karena keadaan tertentu dilingkungan sosial baik yang terjadi dilingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Bertitik tolak dari kondisi diatas, maka kebijakan penanggulangan yang dilaksanakan oleh POLRI bailc dengan sarana penal maupun non penal, membawa konselcwensi bahwa kebijalcan tersebut merupakan suatu hal Srang sangat mendasar mengingat kedudukan pelajar tersebut. Hal inipun tergambarkan dalam kebijalcan yang telah dilaksanakan oleh POLRI C.q. Polwiltabes Bandung terhadap pelajar yang melalcukan kejahatan, dimana peran normatif polisi (vvujudnya lebih menekankan pada sarana hulcurn pidana) tidalc sepenuhnya melalcsanakan tugas dan wewenangnya sebagaimana diatur didalam UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana dan UU No. 28 Tahun 1997 tentang Kepolisian Negara RI, karena adanya kesenjangan antara yang ditangkap, ditahan dan diajukan ke penuntut umum, serta adanya seleksi perkara melalui wewenang dislcresi

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
    corecore